Agromatika – Jembatan ke Nusantara Hari Esok

17 Oct Agromatika – Jembatan ke Nusantara Hari Esok

Perekonomian kita saat ini ibarat lingkaran kebuntuan. Bagaimana tidak? Bukan saja produk teknologi yang harus impor, beras pun impor dari negara lain. Padahal konon negeri kita ini negara agraris dan maritim. Kenapa beras saja impor? Bawang juga impor. Kedelai juga impor. Daging sapi juga impor. Negeri sebesar ini ternayata menjadi pasar hebat bagi bangsa lain. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, lah wong kita ini konsumen raksasa kok diremehkan sama penjual. Saya cukup kaget ketika beberapa berita TV menyiarkan bahwa Australia melarang jualan sapi ke negeri kita gara-gara orang kita suka menyiksa sapi. Saya kira glonggong… ternyata sapi dipukul. Mungkin meniru Matsutatsu Oyama ketika pertama kali turun gunung seteleh 18 bulan menggodog jurus tangan kosong kyokushinkai. Wah.. yang tadinya malu berubah jadi jengkel. Ini pasti rekayasa! Yang aneh, konsumen kan raja! Apalagi kita, konsumen besar. Mestinya dirayu dan dihormati, bukan difitnah dan dilarang membeli. Lebih aneh lagi jika kita ternyata merengek-rengek “memohon” agar tetap “diperkenankan” membeli sapinya. Wah sungguh keterlaluan.

Betulkah peternak Australia sudah tidak butuh pembeli? Banyak kalangan yakin bukan itu maksudnya. Itu adalah strategi untuk mengatur kita agar belanjanya langsung daging, bukan hewan. Dengan demikian keuntungan yang didapat lebih besar. Tapi kok kasar amat caranya ya? Apakah tidak takut pembelinya ngambek? Pasti karena mereka yakin si pembeli tidak akan mundur walaupun dimaki dan dicerca. Mereka yakin soal daging, kita sangat tergantung mereka. Mereka yakin kita nggak bakalan makan daging jika mereka berhenti menjual. Artinya, mereka yakin kita tidak becus memproduksi daging sendiri. Artinya, mereka yakin kita ini bodoh dan “rai gedheg”.

Perlakuan Australia soal daging sapi ini merupakan bukti bahwa kita ini meskipun pasar besar tapi bisa diatur, karena mereka yakin kita tidak mungkin menjadi produsen. Mungkin sudah bukan rahasia umum lagi bahwa iklim perekonomian kita ini ekonomi biaya tinggi. Jarang atau bahkan tidak ada yang berani bermain di hulu. Yang ada hanya pedagang alias pemain hilir. Apa yang kita konsumsi sehari-hari sudah melalui puluhan tangan. Barangnya tetap tapi harganya mahal untuk overhead setiap tangan yang dilaluinya. Tapi yang aneh, memproduksi sendiri malah tidak untung. Padahal harga tenaga kerja kita konon murah. Dimana lagi errornya? Pasti karena ada sebagian bahan baku atau bahan penunjang yang harganya tidak wajar. Di dunia pertanian, harga-harga yang tidak wajar adalah pupuk dan bahan-bahan kimia lainnya. Sementara ancaman hama (misalnya wereng dan tikus) tidak memberi kesempatan petani untuk bebas dari bahan-bahan kimia. Irigasi adanya di musim hujan. Di luar musim hujan, giliran diperlukan, petani harus menambang air sendiri yang memerlukan biaya untuk memutar pompa. Akhirnya kita ini menjadi lingkaran ekonomi mati.

Upaya pemberdayaan UKM belum efektif

Sejak jaman Orba, pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM) sudah sudah dilakukan. Tetapi efektifitasnya sangat rendah. Karena industri kecil pun masih banyak yang mengandalkan bahan baku impor. Nggak usah jauh-jauh… tahu dan tempe yang kita makan sehari-hari kedelainya impor dari Amerika. Sup, soto, gule dan bakso yang kita makan juga dari sapi impor   Bawangnya juga kadang dari impor. Sistem plasma sutra tidak jalan karena pemintalan sutra kebanyakan mengandalkan bahan baku impor yang memang lebih bagus dan lebih murah.  Aktivitas ekonomi memang meningkat. Tetapi kehidupan tidak menjadi lebih baik. Karena iklimnya menjadi masyarakat konsumtif. Memang ada beberapa pihak yang merasa diuntungkan, tetapi harus dengan tumbal di lingkaran yang sama.

Lebih menyolok lagi di era neolib sekarang ini. Indomart, Alfamart dan mart-mart lain menjamur hingga ke pelosok-pelosok. Selain mendesak dan menghabisi peran pasar basah, juga menjadi corong yang sangat baik untuk meningkatkan debit panah merah impor.

Ancaman Pasar Bebas e-Global

Pasar bebas era e-Global merupakan kesempatan emas dalam dunia bisnis. Konsumen berbelanja tidak perlu capek-capek mengarungi kemacetan menuju mall atau pasar tanpa ada jaminan barang yang dicarinya pasti ada. Belanja cukup di layar LCD sambil tiduran atau nonton TV di rumah. Jangan dibayangkan koneksi byar pet 256 Kbps yang bikin stres. Di era e-Global, infrastruktur “e” tentu sudah nuys semua.

Tetapi berita bagus ini tentu saja bagi para pemain utama. Pemain pembonceng tidak selalu diuntungkan.. Mungkin perbedaannya ada di permodalan dan biaya operasi. Biaya proses presales lebih rendah karena liwat jalur “e” yang meminimumkan aktivitas fisik. Biaya delivery juga lebih murah, tergantung kecerdikan menyusun voorraad stelsel di wilayah-wilayah konsumen.

Yang lebih malang adalah pedagang tengah. Ringkasnya jalur “e” sangat memungkinkan e-toko atau e-showroom yang ada di e-pasar langsung dari e-produsen. Khususnya untuk komoditas sekunder seperti hape, komputer, kamera, TV, sepeda dll. Konsumen akan lebih puas masuk ke e-showroom di situs e-produsen, karena varian dan penjelasannya lebih lengkap. Sehingga untuk komoditas gituan, pengecer atau dealer tidak diperlukan lagi. Yang diperlukan adalah sistem penyebaran pergudangan untuk menyingkat panjangnya perjalanan delivery.

Konsumen pun dininabobokan dengan kemudahan dan kenyamanan. Harga komoditas pun menjadi lebih murah karena beberapa biaya aktivitas fisik diminimalkan. Tapi apa jadinya jika sebuah negara hanya dihuni oleh konsumen saja. Pengangguran meningkat karena aktivitas fisik direduksi total. Ikutan berdagang eceran di e-pasar juga hanya sebatas komoditas yang tidak ditangani sendiri oleh produsennya. Untuk sektor perdagangan, kesempatan yang tersisa hanya komoditas yang tidak mungkin masuk e-pasar, seperti sembako dan rokok. Alangkah sialnya jika sembako pun harus beli dari produsen asing. Malahan dengan dikikisnya hambatan expor/impor, kecendrungan membeli sembako dari produsen asing akan meningkat karena lebih murah dari produk lokal.

Upaya jitu untuk bertahan

Satu-satunya cara untuk bertahan dalam persaingan pasar bebas era e-Global adalah merevolusi mental rakyat dengan memberdayakan sumberdaya yang ada untuk menjadi produsen. Rakyat harus dirangsang untuk menjadi produsen. Caranya adalah:

  1. Kikis habis mafia yang menyebabkan overhead dalam permodalan dan biaya produksi.
  2. Diberikan berbagai sarana penunjang yang memadahi
  3. Diselenggarakan mekanisme jitu untuk membangun ekonomi mandiri dengan lingkaran supply-demand yang seimbang.

Sebagai negara agraris-maritim, tentu sumberdaya utama yang kita miliki adalah agro yang di dalamnya termasuk pertanian, peternakan, kelautan dan kehutanan. Tentu yang harus diutamakan kita geber agro. Kita harus menjadi produsen untuk semua komoditas yang terkait agro. Kalo bisa kita menjadi produsen bagi negara-negara lain. Setidaknya kita harus mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk itu, sehubungan adanya perdagangan bebas, produk-produk agro kita harus menang bersaing di pasar lokal. Itu adalah kunci mutlak yang membuat kita berminat menjadi produsen agro. Namun bagaimana caranya sektor ini jangan dicaplok oleh cukong besar dimana rakyat hanya menjadi buruh saja.

Untuk itu, mafia penyebab mahalnya pupuk dan kimia pertanian lainnya harus ditumpas. Kemampuan irigasi harus dinormalkan kembali. Jangan hanya kalo ada hujan saja saluran tersier mengalir tapi giliran kemarau kering kerontang. Riset-riset bidang proteksi tanaman dan rekayasa genetika untuk menciptakan bibit-bibit unggul harus dipacu serius.Penyuluhan dan pengarahan untuk membangun industri untuk memproduksi bahan jadi dan setengah jadi digiatkan agar produsen agro tidak berkutet cuman memproduksi hasil panen atau hasil tangkap.

Selain itu, harus diselenggarakan sistem yang mendukung tersenggaranya lingkaran supply-demand yang seimbang antar kita sendiri. Jika di negeri ini disepakati bahwa sentra kedelai adalah Jember, sistem harus mensiasati bagaimana caranya agar semua kebutuhan kedelai dari Sabang hingga Meraoke bisa dipenuhi oleh Jember. Sebaliknya, jangan sampai ada kedelai Jember yang tidak laku karena surplus. Jika Brebes disepakati sebagai sentra bawang, maka sistem harus mensiasati bagaimana caranya agar semua kebutuhan bawang se Tanah Air bisa dipenuhi oleh Brebes. Sentra kedelai tidak harus Jember saja. Sentra bawang juga tidak harus cuman Brebes. Yang harus adalah terjadinya sebuah kesepakatan bahwa sentra mampu menyediakan komoditas sesuai kebutuhan dengan harga sesuai pasar dan konsumen juga sepekat untuk membeli komoditas yang disediakan oleh sentra dengan semangat dan kesadaran berkebangsaan sehingga tidak goyah oleh rayuan-rayuan gombal dari penyedia luar yang akan merusak lingkaran sistem yang kita bangun bersama. Sejumlah metoda dan teknologi diterapkan untuk menjaga stabilitas lingkaran ini, dan selanjutnya kita namakan Agromatika.

Gagasan konsep Agromatika

Pada posting terdahulu sudah dipaparkan perihal Agromatika secara komprehensif. Pada kesempatan ini satu demi satu akan dibahas lebih rinci.Pada dasarnya Agromatika adalah sebuah sistem rekayasa agro-ekonomi untuk mewujudkan tersenggaranya lingkaran supply-demand yang seimbang antar kita sendiri.melalui panduan e-forum yang memadahi. e-Forum atau rural cyberforum (RCF) ini terdiri dari perwakilan masyararakat dari seluruh daerah se Tanah Air dan himpunan database yang memuat informasi berjalan dan statistik aktivitas ekonomi yang disertai rencana dan forcast ke depan.

Perwakilan masyarakat adalah orang-orang yang dipilih oleh daerahnya untuk diutus maju ke forum guna menyampaikan skala supply-demand komoditas apa saja di daerahnya, baik yang sudah fakta maupun yang masih rencana. Mirip DPD tapi ini lebih ke arah ekonomi nyata. Mereka harus berada di daerah yang diwakilinya agar bisa melihat dengan mata kepala sendiri perkembangan sehari-harinya. Bukan di gedung DPD di ibukota. Setiap saat mereka harus berembug dengan para tokoh masyarakat formal maupun informal buay menggali sebanyak-banyaknya tentang aktivitas ekonomi di daerahnya dan mengetahui berbagai macam kendala yang ada. Informasi tersebut yang harus dibawa ke e-forum.

Di e-forum, semua informasi yang telah digali dari daerahnya dimasukkan ke database guna dianalisa lebih jauh untuk mendapatkan penyimpulan statistik yang akurat. Informasi serupa dari seluruh daerah se Tanah Air dianalisis tergabung guna mendapatkan kantung-kantung supply dan demand se Tanah Air, lantas dikonfrontir dengan informasi GIS guna mendapatkan informasi semua kemungkinan transportasi dari kantung supply ke kantung demand yang paling optimal dari sisi biaya maupun waktu. Diharapkan setiap kantong demand ketutup oleh kantong-kantong supply yang ada dengan transportasi yang optimal. Jika situasi seperti ini tercapai, maka masing-masing perwakilan dalam e-forum lantas membuat kesepakatan kantung mana mensuplai kantung mana. Kesepakatan bersama tersebut adalah sebuah deal bisnis profesional sehingga tidak akan ada keculasan apalagi pengkhianatan. Bahkan masing-masing perwakilan harus selalu menyadari bahwa apa yang dilakukannya seutuhnya demi bela negara.

Dalam pelaksanaan transaksi, setiap wakil berperan seperti pengurus koperasi, bukan tengkulan yang mencari untung. Oleh karena itu kelembagaan setiap perwakilan harus formal untuk mempersempit terjadinya mafia tengkulak terselubung. Memang memilih SDM perwakilan daerah ini merupakan titik yang palilng kritis, mengingat mental bangsa kita sudah sedemikian hancur. Oleh karena itu perangkat hukum juga harus dipersiapkan secara seksama untuk membuat rel sekokoh mungkin demi kelancaran penyelenggaraan Agromatika ini.

Bila titik optimum tidak tercapai, misalnya ada kantung demand yang tidak terpenuhi, atau ada kantong supply yang surplus, maka e-forum menggelar rembug nasional untuk membuat kantong-kantung supply baru guna memenuhi kantong demand yang telantar dan/atau merubah jenis komoditas yang memungkinkan bagi kantong-kantong supply yang surplus. Rembug dalam e-forum artinya tidak perlu ngumpul di satu tempat yang hanya memancing foya-foya dan memakan dana SPJ. Masing-masing hanya berhadapan dengan layar komputer di kantornya. Setiap kesimpulan hasil rembug langsung masuk database dan dicerna dengan sejumlah formula optimasi guna mendapatkan angka yang optimal dan akurat.

Rembug nasional bisa berkali-kali karena setiap anggota forum mungkin saja harus rembug ulang di kalangan mereke masing-masing untuk mendapatkan kesepakatan atas perubahan yang dibawa dari rembug nasional. Misalnya, Karawang yang semula hanya supply beras ternyata rembug nasional mengharapkan Karawang juga mensupply cabe. Tentu kan harus menunggu persetujuan petani yang akan melakukannya.

Sanksi bagi yang menerobos sistem

Dampak dari kesepakaran hasil rembug nasional, sekilas dirasakan seperti program tanam paksa dan beli paksa. Padahal Agromatika bukan program tanam paksa seperti jaman Van den Bosch. .Jadi tidak bolah ada paksaan baik pada produsen maupun konsumen. Yang ada hanyalah sanksi ekonomi yang diciptakan oleh sistem Agromatika. Misalnya, berdasarkan kesepakatan e-forum, kebutuhan gula dearah Sumenep dipenuhi dari Pemalang. Jika masyarakat Sumenep mau mencoba-coba beli gula dari daerah selain Pemalang pasti lebih mahal, karena melalui tengkulak. Supaya harganya sama dengan supply dari Pemalang, mereka harus datang sendiri ke lokasi produsen, dan itu pun rugi di tenaga dan waktu. Produsen gula yang didatangi pun belum tentu memberikan gulanya karena mungkin sudah dikirim ke semua konsumen yang ditargetkan e-forum, atau karena kesadaran pemain gula tersebut dalam mendukung Agromatika untuk bela bangsa.

Tengkulak juga tidak dilarang karena menjadi tengkulak adalah pekerjaan yang tidak menyalahi hukum. Tetapi apa yang dikulaknya akan sangat sulit dijual kecuali dia tidak mengambil untung sama sekali. Karena saingan mereka adalah tim perwakilan Agromatika yang memang tidak mengambil keuntungan sama sekali. Akhirnya para tengkulak mendingan ikutan jadi produsen saja ketimbang kapiran. Nah inilah yang kita harapkan. Memperbanyak aktivitas hulu dan mengurangi aktivitas hilir yang redundant guna mereduksi biaya ekonomi.

Peta dan organisasi Agromatika

Dalam peta Agromatika, negara dibagi menjadi himpunan daerah. Dalam lembar paparan di posting terdahulu disebut distrik atau lengkapnya distrik ekonomi. Idealnya, distrik adalah wilayah yang menampilkan secara signifikan perannya sebagai produsen dan/atau konsumen dalam e-forum. Namun ketimbang nantinya sulit menentukan batas-batas geografisnya, maka lebih baik disesuaikan dengan kewilayahan administratif pemerintahan. Sehingga distrik disini bisa kabupaten/kota maupun propinsi, mana-mana yang lebih optimal untuk dilaksanakan.

Organisasi Agromatika terdiri dari tim utama dan tim pendukung. Tim utama adalah tim distrik atau perwakilan daerah. Dalam gambar sebelah berwarna biru dan disebut juru info atau wakil distrik. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar memahami daerah yang diwakilinya, baik dari sisi ekonomi maupun budayanya. Mereka orang-orang yang memiliki kemampuan pendekatan kepada masyarakat dari segala lapisan dan memiliki jiwa berkebangsaan yang tinggi. Sehingga dalam membela kepentingan ekonomi daerahnya, mereka mengedepankan semangat memajukan bangsa bukan suku atau daerahisme. Mereka juga memiliki pemahaman intelektual yang cukup di bidang agro, ekonomi dan statistika dan ketrampilan IT. Karena baik dalam rembug lokal di wilayahnya maupun rembug nasional di e-forum, ketiga bidang intelektual tersebut akan selalu digunakan secara bersama-sama. Sedangkan IT memang sudah menjadi sarana baku dalam e-forum. Sehingga yang memenuhi persyaratan menjadi anggota tim utama jika pengalaman kerjanya kurang dari 5 tahun di bidang yang memiliki kemiripan dengan Agromatika, maka minimal harus sarjana agribisnis dengan minor statistika (+IT) atau sarjana agroindustri dengan minor statistika (+IT) atau sarjana statsitika (+IT) dengan minor agribisnis atau agroindustri. Namun istilah agro ini harus disesuaikan dengan wilayahnya. Untuk wilayah yang didominasi nelayan, tentu agro yang dimaksud adalah perikanan atau kelautan. Untuk wilayah yang didominasi oleh peternak, agronya tentu peternakan. Sedangkan wilayah yang didominasi tanaman hutan, maka agro disini berarti kehutanan.

Jabatan mereka adalah pegawai yang digaji cukup. Dalam menunaikan tugasnya, mereka tidak boleh mengambil keuntungan satu sen pun. Selisih harga dari produsen dan konsumen benar-benar hanya karena biaya transportasi dan penggudangan dan sudah diprediksi sejak kesepakatan diputuskan di e-forum, sehingga tidak mungkin disaingi oleh tengkulak. Biaya operasional selain transportasi dan penggudangan ditanggung snediri oleh organisasi Agromatika sebagai sebuah instansi formal pemerintah.

Tim pendukung adalah tim pusat yang terdiri dari pakar-pakar di semua bidang yang diperlukan Agromatika, seperti agribisnis, agroindustri, agroteknik, agroklimatologi, kelautan, perikanan, peternakan, kehutanan, statistika dan IT yang sudah cukup dewasa pengalaman dan pola pikirnya. Mereka adalah pemikir dan penyelenggara sistem Agromatika. Perannya sehari-hari dalam e-forum sebagai penasihat dan moderator.

Mekanisme kerja Forum Daerah

Setiap wakil daerah secara reguler mengadakan rembug dengan para produsen dan kosumen di daerah yang diwakilinya guna menyusun rencana apa saja yang akan diproduksi dan dikonsumsi berikut skala volumenya. Rembug yang paling awal karena belum melihat gambaran di e-forum perihal kesetimbangan antara keseluruhan produsen dan konsumen dalam skala nasional, maka agendanya hanya mendengarkan apa yang dinyatakan dan diusulkan masyarakat. Lantas dibawa ke e-forum untuk dikonsolidasikan dengan informasi serupa dari seluruh daerah. Dari sana dapat diperoleh gambaran secara nasional.

Rembug-rembug selanjutnya, sudah berupa interaksi timbal balik. Masyarakat mengemukakan rencananya. Wakil daerah juga menyampaikan penyuluhan himbauan sesuai hasil konsolidasi di e-forum. Kadang semacam tawar-menawar. Namun semua harus menyadari, apapun yang dilakukan, tujuannya adalah demi kebaikan mereka bersama tanpa mengorbankan daerah lain. Semua harus menyadari bahwa sistem ini adalah untuk kemajuan nyata bersama, bukan kemajuan semu sepotong-sepotong hanya daerah-daerah tertentu.

Hasil kesepakatan yang dicapai oleh setiap wakil daerah menjadi sebuah usulan/rencana daerah.  Usulan/rencana setiap daerah kemudian dikoleksi kedalam database penampungan untuk dikonsolidasikan secara nasional oleh sistem Agromatika. Koleksi ini dilakukan langsung oleh wakil daerah di depan masyarakat melalui aplikasi berbasis web dan hasil sementara konsolidasi pun bisa dilihat bersama.

Masyarakat yang memiliki akses internet juga bisa melihat sendiri setiap perkembangan konsolidasi meskipun tidak bisa merubahnya. Sepanjang masa koleksi usulan rencana daerah, tentu informasi konsolidasi akan berubah setiap ada usulan/rencana yang masuk. Konsolidasi ini dilakukan otomatis oleh program komputer. Sepanjang ini pula konsolidasi dikatakan sementara sambil menunggu semua daerah memasukkan usulan/rencananya. Setelah semua daerah memasukkan usulan/rencananya, lantas digelar rembug nasional melalui e-forum membahas hasil konsolidasi sementara.

Mekanisme kerja Forum Nasional

Forum nasional adalah untuk rembug antar seluruh para wakil daerah. Rembug ini tidak lagi fisik seperti forum daerah, melainkan sepenuhnya melalui e-forum. Agenda utamanya adalah untuk membahas hasil konsolidasi sementara dari seluruh usulan/rencana daerah. Konsolidasi ini menggunakan analisis optimasi statistik untuk menentukan daerah mana mensuplai apa ke daerah mana dengan transort paling efisien. Mengingat konsolidasi tersebut dilakukan oleh program komputer yang mutlak berdasarkan data yang ada tanpa ada inisiatif, maka hasilnya bisa saja pas, bisa saja ada surplus maupun demand yang tidak tersuplai. Karena kerja Agromatika mengandalkan IT, maka harus disepakati manakala hasil konsolidasi pas, tidak boleh diperdebatkan lagi. Oleh karena itu seluruh yang terlibat dalam sistem Agromatika diharapkan memahami betul etos kerja berbasis teknologi. Tidak bertele-tele seperti rembugnya para politikus.

Manakala terjadi ketimpangan, maka masing-masing wakil harus kembali mengadakan rembug forum daerah untuk merubah usulan/rencana sesuai keterkaitannya dengan ketimpangan yang ada. Misalnya dalam usulan rencana, daerah Brebes sudah mencanangkan untuk mensuplai bawang 1000 ton. Ternyata dari hasil konsolidasi, total kebutuhan bawang yang harus disuplai Brebes hanya 700 ton. Maka harus ada petani yang mengalah untuk tidak menanam bawang agar tidak surplus. Tentu mereka harus dicarikan alternatif tanaman apa yang bisa ditanam di Brebes yang hasilnya tidak jauh berbeda dengan bawang.

Hasil rembug ulang ini dikoleksi kembali untuk konsolidasi ulang dan e-forum juga dibuka lagi untuk rembug ulang. Demikian terus berputar sampai tidak ada ketimpangan lagi. Sementara masa tanam, masa produksi dan pengasilan harian para petani, para produsen agro tidak mungkin ditunda. Disinilah kecerdikan seluruh tim Agromatika untuk berpacu dengan waktu dan menghindari pengulangan terus-menerus.

Sistem penyimpulan dikawal dengan knowledge-base (KB) guna mempelajari karakteristik tiap daerah. Pada putaran-putaran awal, KB belum berperan, karena masih belajar. Setelah sekian putaran, KB akan membantu memberi inisiatif berdasarkan empiris manakala terjadi ketimpangan. Ini bisa menyingkat looping forum daerah dan forum nasional.

Kaitannya dengan e-Gov

Sistem Agromatika adalah sistem pengendalian aktivitas ekonomi berbasis IT yang didominasi komputasi statistik yang cukup komplex. Sistem ini juga dikawal dengan KB yang mempu mengkoleksi empiris. KB akan lebih optimal lagi jika didukung dengan database sumberdaya alam (SDA) yang mencakup informasi iklim dan informasi kependudukan berdasarkan database warganegara (WN). Sehingga dalam mencarikan solusi manakala terjadi ketimpangan, selain berdasarkan empiris juga mengacu kepada potensi alam dan SDM yang ada. Misalnya manakala Brebes yang harus mengurungkan rencananya memproduksi bawang 1000 ton menjadi 700 ton, KB bisa mencari petunjuk dari DB-SDA dan DB-WN bahwa Brebes juga punya potensi memekarkan lahan tambak air payau di daerah yang sering kebanjiran. Dari contoh ini sangat jelas kaitan antara Agromatika dengan e-Gov karena DB-SDA dan DB-WN adalah properti utama e-Gov.

Agromatika juga sangat memungkinkan untuk mengupdate informasi ekonomi setiap warga negara di DB-WN dan perubahan potensi alam di DB-SDA, dan ini tidak akan terlalu overhead karena selain update ini tidak setiap hari, juga kedua database sama-sama terpusat. Manfaat sangat jelas. Update data ekonomi yang dilakukan oleh Agromatika adalah realtime berbasis transaksi aktual. Ini jelas lebih akurat dibanding survei yang dilakukan BPS yang hanya berbasis wawancara dan pengisian angket. Bukan berarti BPS harus tutup. Tidak semua individu terkait dalam Agromatika dari awal, mengingat Agromatika hanya fokus pada masyarakat produsen dan konsumen di bidang agro. Tugas BPS menjadi lebih ringan karena bisa fokus pada komplomennya.Toh yang diupdate sama-sama DB-WN dan DB-SDA milik e-Gov, sehingga tidak perlu ada redundancy yang mahal dan bodoh.

Bersambung …

Topik-topik terkait

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
No Comments

Post A Comment