Mensiasati Instabilitas Sistem Suspensi Per-Daun Konvensional

05 Feb Mensiasati Instabilitas Sistem Suspensi Per-Daun Konvensional

Pernahkah anda mengemudikan Toyota Land Cruiser seri 40 atau Jeep seri lama (CJ-7 atau yang lebih tua) atau Land Rover seri tua? Bagaimana rasanya? Bukan di medan offroad lhoh… Di medan offroad tentu mereka jauh lebih nyaman dari mobil 4×2 meskipun sekelas Fortuner VNT maupun Pajero Sport Dakkar. Kali ini di jalan raya dengan kecepatan normal. Adakah rasa limbung, oleng atau “ayug-ayug”? Rasakan terutama pada kecepatan tinggi atau pas di tikungan? Atau sedikit zig-zag misalnya ketika menyalip kendaraan lain, setir diulir ke kanan dan cepat kembali lurus ke depan.

Anda akan merasakan dorongan sentrifugal yang mengangkat mobil anda. Akan semakin mudah merasakan jika anda biasa membawa mobil baru. Karena ada pembanding. Tahu kenapa? Penyebab utamanya adalah sistem suspensi per-daun (leaf spring), terlebih depan belakang. Kenapa demikian?

Sebelum beranjak lebih jauh membahas kelemahan per-daun, kita perlu tahu lebih jelas kenapa disebut per-daun. Bahan dasarnya bukan daun, tetapi plat baja keras agar tidak bisa bengkok. Untuk menjamin kelenturan, per-daun disusun dari beberapa lembar plat baja tipis dan diikat mati dengan rumah as roda di tengah. Panjang setiap lembarnya tidak sama. Yang paling panjang (umumnya) berada di lapisan paling atas dan makin ke bawah makin pendek. Yang paling pendek berada di lapisan paling bawah. Dengan tumpukan model seperti itu maka sifat per-daun makin ke ujung makin lentur. Lembaran-lembaran tersebut mungkin mirip daun tertentu, sehingga disebut per-daun.

Setiap lembarnya (umumnya) dibikin lengkung seperti busur. Kedua ujungnya dikait dengan rangka sasis. Salah satu kaitan dengan anting (shackle) supaya bisa bergerak. Lihat gambar pertama. Kenapa anting? Ketika melentur, kelengkungan busur per berubah, sehingga jarak kedua ujung berubah. Makin lengkung makin pendek. Sehingga jika kaitan kedua ujungnya statik, maka per tidak akan melentur.

Pada roda belakang, anting selalu di ujung belakang. Hal ini untuk mengurangi efek melar-mingkusnya panjang kopel atau jarak antara roda dan transmisi. Sedangkan pada roda depan ada yang di depan dan ada yang di belakang. Kendaraan 4×2 RWD umumnya anting per depan di belakang. Karena roda depan hanya ngikut sehingga jika kaitan depan statik, roda depan langsung ketarik ketika roda belakang mendorong. Tetapi untuk kendaraan 4×4 umumnya anting per depan di depan. Hal ini untuk mengurangi tunda ayunan disebabkan roda depan juga menarik kendaraan.

Gambar pertama dan kedua menampilkan model konstruksi per-daun yang paling lazim, dilihat dari samping dan dari depan atau belakang. Per-daun diikat di bawah rumah as roda. Ada model lain dimana per-daun diikat di atas rumah as roda. Biasanya untuk kendaraan berrangka sasis lurus seperti truk dan bus.

Suspensi per-daun lazim untuk kontruksi rigid-axle seperti truk, bus maupun sejumlah pikup dan SUV lama. Selain ketika itu mungkin belum ditemukan alterntifnya yang sepadan, suspensi per-daun diyakini lebih kuat ketimbang model lain. Perawatannya juga lebih mudah dan murah. Kalau sudah lempeng, dicopot dan dipres lagi. Kalau sudah terlalu lemes, beberapa lembar diganti dengan yang baru, atau sekedar ditambah jumlah lembarnya juga bisa.

Per-daun rentan efek ayunan horizontal membujur

Fungsi utama sistem suspensi kendaraan adalah untuk bersesuai dan meredam gelombang permukaan jalan yang dilaluinya. Supaya semua roda menapak di jalan, tidak ada yang menggantung, dan kejutan-kejutan akibat jalan tidak rata diredam. Sehingga per pada sistem suspensi diharapkan mampu berayun dengan langkah vertikal sesuai dengan kebutuhan. Ayunan horizontal, kemana pun arahnya tidak diharapkan. Karena akan mempengaruhi stabilitas kendaraan.

Meskipun dianggap paling kuat menahan beban, suspensi model per-daun sangat rentan terhadap efek oleng, limbung maupun ayug-ayug. Hal ini disebabkan konstruksi per-daun selain untuk berayun vertikal, juga sangat memungkinkan untuk berayun horiontal, baik membujur ke depan dan belakang, juga melintang ke kanan dan kiri.

Gambar sebelah menunjukkan ayunan horizontal membujur. Memang per-daun dipasang dengan kaitan statik pada salah satu ujungnya. Namun karena sifat per-daun itu sendiri yang makin ke ujung makin lentur, maka setiap ayunan vertikal selalu disertai dengan ayunan horizontal membujur. Entah seberapa mili pasti ada perubahan jarak antara poros roda dengan kaitan statik per-daun. Makin lengkung per-daun makin pendek jarak tersebut. Ini yang menimbulkan efek ayug-ayug.

Ayunan horizontal membujur akan lebih terasa ketika ada dorongan kejut, entah karena pedal gas digentak maupun direm mendadak. Karena bisa jadi bukan sekedar efek melar-mingkus akibat ayunan vertikal saja, melainkan juga efek “ujung melipat” seperti pada gambar di atas. Akibat gentakan torsi yang kuat ketika mobil tiba-tiba digeber, bisa jadi ujung statik per-daun pada roda pendorong bila berada di depan poros roda akan melipat sesaat karena tenaga dorongan roda. Akibat hambatan rem mendadak, maka bisa jadi ujung statik per-daun yang berada di belakang poros roda akan melipat sesaat karena ayunan bobot kendaraan. Keduanya mengakibatkan ayunan horizontal membujur yang cukup terasa.

Per-daun rentan efek ayunan horizontal melintang

Lebih parah lagi ayunan horizontal melintang. Ayunan ini bisa karena efek sentrifugal ketika kendaraan belok, atau karena kemiringan landasan karena salah satu sisi menginjak lobang atau menaiki gundukan. Per-daun rentan terhadap jenis ayunan ini. Hal ini disebabkan oleh sifat dari bahan dan konstruksi sistem suspensi per-daun itu sendiri. Dan stabilizer bar atau sway bar tidak menjawab bersoalan ini. Karena sway bar hanya menjaga agar langkah ayunan per kanan dan kiri cenderung sama. Sway bar tidak mengunci pergeseran badan kendaraan ke kanan atau ke kiri.

Lembaran plat per-daun yang lebarnya hanya beberapa cm itu tidak menjamin bidangnya selalu ortogonal terhadap ayunan vertikal. Sambil melentur vertikal, bidang plat bisa saja melintir karena pergeseran melintang titik berat kendaraan. Kendaraan akan terasa limbung. Makin lentur per-daunnya, makin terasa limbungnya. Keadaan ini bila melebihi toleransi bisa berakibat kendaraan terguling. Oleh karena itu harus berhati-hati membawa kendaraan dengan suspensi per-daun manakala melaju di tikungan. Juga di badan jalan yang miring tapi tidak rata, atau gelombang sebelah. Tidak ada indikator yang jelas kapan limbung akan berakibat terguling. Disini mutlak peranan feeling sang pengemudi.

Bahaya menceperi kendaraan dengan mengurangi lembar per-daun

Sebagian dari pecinta otomotif ada yang suka menceperi kendaraan. Entah dimana enaknya yang jelas ada sebagian dari kita yang suka. Yang pasti, kendaraan jadi tidak nyaman. Maunya di jalan yang rata saja. Manakala ada jalan yang rusak, sang ceper menjadi tidak nyaman. Dan sayangnya kendaraan lain yang ada di belakangnya juga ikut tidak nyaman terhambat oleh sang ceper yang sedang kesulitan.

Saya pernah melihat di kampung ada anak muda menceperi Daihatsu Feroza miliknya. Susunan per-daunnya dikurangi, hanya disisakan 2 lembar yang paling panjang saja. Lantas dipres supaya lurus. Sehingga begitu terpasang membentuk busur terbalik melengkung ke atas, dan sang Feroza bener-bener ceper. Nah ini pertanda bahwa dia tidak tahu sifat per-daun.

Makin tipis per-daun makin rentan terhadap ayunan horizontal, baik membujur maupun melintang. Sang ceper memang sepertinya mati tanpa suspensi. Karena rumah poros roda benar-benar mentog pada rangka sasis. Sepertinya kelenturan mutlak mengandalkan karet pengganjal saja. Tetapi manakala membawanya kurang hati-hati, badan kendaraan akan dengan mudah bergeser ke kanan atau ke kiri ketika melintasi badan jaan yang miring, meskipun sebelum diceperi tidak masalah. Efek ayunan horizontal membujurnya pun semakin dahsyat. Karena yang melipat sesaat ketika digentak gas atau direm mendadak bukan hanya ujung per, melainkan seluruh lonjoran per.

Solusi untuk menahan ayunan horizontal

Ayunan horizontal membujur bisa diatasi dengan memasang penahan di ujung statik per-daun. Penahan bukan untuk mematikan lenturan. Oleh karena itu harus dibikin sedemikian rupa agar masih ada kelonggaran bagi per-daun untuk melentur, tetapi tidak extrim. Bahannya dari plat baja yang lebih tebal dan di lengkapi dengan 2 atau lebih baut klem seperti pada gambar sebelah. Baut klem ini lebih kuat dari klip pengikat antar lembaran plat per-daun.

Penahan ini biasanya dibikin dari bahan per-daun juga, tapi yang lebih tebal dan sedikit lebih lebar. Klem paling ujung dibaut ketat supaya status. Klem yang lain dibikin sedikit longgar. Meskipun ada kelonggaran, tentu per-daun akan sedikit lebih kaku ketimbang sebelumnya. Tapi ya itulah yang harus dibayar untuk membeli keamanan.

Sedangkan untuk menahan ayunan horizontal melintang, solusinya adalah track-bar seperti pada gambar di samping. Track-bar adalah batang baja keras yang dipasang untuk mengubungkan batang rangka sasis di satu sisi dengan rumah poros roda di sisi lain. Sambungannya dengan bushing karet atau teflon seperti pada ujung per-daun. Pengait di kedua ujung statik. Kendaraan dengan sistem suspensi per-daun yang sudah dilengkapi track-bar dari pabriknya antara lain Jeep Wrangler YJ dan Cherokee XJ segenerasi. Oleh karena itu meskipun per-daun depan belakang, stabilitas Jeep YJ terasa jauh lebih stabil ketimbang kakaknya, Jeep CJ-7 maupun CJ-8.

Meskipun track bar dikatakan untuk menahan ayunan horizontal melintang, tetapi track-bar juga memberi efek pergeseran badan kendaraan melintang. Makin tinggi ayunan vertikal makin bergeser badan kendaraan ke arah ujung track-bar yang di poros roda. Bayangkan gambar di atas, jika ayunan vertkalnya bisa mencapai posisi sedemikian rupa sampai track bar-nya tegak vertikal. Tentu batang rangka sasis yang di ujung track-bar akan berada di atas ujung poros roda di sisi lain. Sehingga konstruksi kaki menjadi jajaran genjang 🙂 Itulah sebabnya track bar tidak dari dulu ada.

Meskipun demikian, track bar adalah satu-satunya solusi untuk menahan gejala ayunan horizotal melintang. Bahkan menjadi wajib setelah muncul sistem suspensi per-ulir atau keong untuk rigid exle. Makanya sering disebut 5-link suspension karena masing-masing ujung poros roda dipegang oleh 2 lengan membujur dan salah satu ujung poros roda dipegang oleh track bar melintang. Tanpa track bar, kendaraan dijamin roboh ke kanan atau ke kiri meski hanya didorong anak kecil dari salah satu sisinya.

Merekayasa kenyamanan suspensi per-daun

Yang paling mudah adalah merenovasi semua sistem suspensi dari basis per-daun ke per-ulir (coil spring). Jika berhasil, seperti yang pernah saya lakukan, tentu akan sangat menyenangkan. Tetapi jika ada bagian yang gagal, renovasi total seperti ini sulit untuk kembali ke sistem semula. Rumah poros roda dirobah. Penahan per-daunnya dikerok habis dan diganti dengan pengait lengan ayun. Bentuk dan posisi sway-bar juga dirobah. Batang utama rangka sasis juga dirobah untuk mencangkok pengait per-ulir di keempat titik roda. Jika semua perubahan sudah dilakukan dan hasilnya tidak memuaskan, maka akan sama mahal dan sulitnya jika harus kembali semula.

Saya membuat solusi yang lebih murah dan memungkinkan kembali semula lebih mudah. Pada dasarnya solusi saya ini adalah mengganti anting di setiap ujung per-daun dengan per-ulir. Tidak ada perubahan konstruksi dasar.

Bicara soal kenyamanan, tentu keamanan tidak boleh dilupakan. Oleh karena itu memasang track-bar dan penahan lipatan adalah wajib, menjadi persyaratan dasar. Terlebih karena anting akan diganti dengan per-ulir, maka jika track-bar tidak dipasang, sistem suspensi akan gagal total. Baru setelah semua persyaratan dasar itu melangkah ke tahap selanjutnya.

Tahap persiapan

Pada tahap ini dipersiapkan kit yang akan dipasang seperti tampak paeda gambar di samping, antara lain topi atau penahan per bagian atas (A), per ulir (B), penahan per bagian bawah atau alas (C) beserta pengaitnya (D, E, F dan G), serta penahan lipatan ujung per-daun (H) dan track bar (tidak ada di gambar). Bentuk-bentuk kit tersebut harus disesuaikan dengan kendaraannya.

Mengingat per-daun sudah lentur, maka per-ulir (B) yang kita pilih harus lebih lembut ketimbang per-daunnya. Diharapkan ketika berayun vertikal, yang pertama melentur adalah per-ulir. Per-daun baru melentur setelah langkah lenturan per-ulir mencapai titik tertentu. Dengan demikian lembutnya per-ulir bisa dirasakan.

Untuk memperpajang langkah ayunan ujung dinamik per-daun, maka posisi rol atau mata penahan bushing dibalik seperti pada gambar di atas. Syukur-syukur ada bahan lembar plat per-daun yang rolnya berseberangan seperti itu. Jika tidak ada terpaksa dibikin sendiri. Bisa juga model potongan, sepotong ke ujung statik rol atau matanya menghadap ke atas dan sepotong ke ujung anting matanya menghadap ke bawah. Toh di tengah ada penahan tusuk yang dipres oleh baut klem yang sangat kuat dengan rumah poros roda, sehingga tidak mungkin lolos.

Tahap pemasangan

Sebenarnya tidak perlu ada las di rangka sasis. Yang dicangkok ke rangka sasis hanya kit A dan track-bar. Paling-paling ngebor rangka sasis untuk pencangkokan kit A dengan baut tembus. Pencangkokan kit lainnya cukup dengan klem yang kuat. Demikian pula pencangkokan ujung track-bar di rumah poros roda, cukup dengan klem. Sedangkan kit C dan pendukungnya dikait ke ujung dinamik per-daun pengganti anting. Setelah per-ulir (B) dan penahan ujung statik per-daun (H) dipasang, maka dari samping akan tampak seperti gambar sebelah kiri.

Sebenarnya batang D pendukung kit C mirip batang penghubung statik antar penahan C kanan dan C kiri. Selain menjaga jarak ujung dinamik per-daun kanan dan kiri supaya tetap, juga menetralisir gejala ungkit karena per-ulir berada di samping per-daun, bukan persis di atasnya. Sehingga ujung per-daun tidak menyebar atau ngumpul dan tidak melintir karena pinggirnya dipancal per-ulir. Dari depan akan tampak seperti pada gambar di sebelah kanan. Namun demikian, batang D tidak harus lurus seperti yang tampak pada gambar. Di tengahnya bisa jadi perlu ada lekukan sesuai dengan ruang yang dilaluinya. Misalnya pada Jeep CJ-7, batang D harus belok menghindari gearbox setir. Yang penting posisi ujung harus simetris kanan dan kiri.

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana menahan jarak langkah maximum per-ulir agar tidak lepas. Yang paling afdol tengahnya dipasang shock-absorber seperti per-ulir pada umumnya. Fungsinya selain meredam ayunan berulang, juga sebagai pembatas langkah. Dan tentunya karena per-ulir ini hanya pengganti anting per-daun, tentu langkah ayunannya tidak boleh terlalu panjang. Mungkin cukup 0-20cm. Namun karena per-ulir ini kecil, maka shock breaker-nya pun harus kecil dan hanya bermain sekitar 15-20cm. Hambatannya pun juga harus lembut, agar keseluruhan per-ulir tetap lebih lembut dari per-daunnya. Nah, jika shock breaker yang dimaksudkan tidak ada, maka penahan langkah alternatif yang paling efektif adalah tali sling. Tali ini mengikat antara komponen C dengan batang rangka sasis.

Yang lebih penting lagi dicermati adalah perbandingan kelenturan/ketegangan antara per-ulir dan per-daun. Jangan sampai langkah lenturan per-ulir habis baru disusul lenturan per-daun. Karena ketika per-daun melentur, per-ulir akan berfungsi sebagai anting, dimana alas C akan maju-mundur sesuai kelengkungan lenturan busur per-daun. Gerak maju-mundurnya alas C akan merusak kedudukan per-ulir jika kondisinya sudah rapat mentog.

Jika mencari perbandingan tegangan/kelenturan sulit, maka kit A, B dan C harus dipilih model yang mampu mengadopsi fungsi anting seperti pada gambar sebelah. A bukan lagi model payung atau topi dan C bukan lagi model alas. Dua-duanya model as atau poros. Per-ulir B harus bermata rol di kedua ujungnya. Baut penahannya dibuat sedemikian rupa agar per-ulir tidak bergeser menyenggol dinding A maupun C dan loncer (dengan bushing). Dengan demikian, per-ulir dalam kondisi apapun akan mampu berfungsi sebagai anting tanpa efek samping.

Kekurangan dari model ini, andaikan ada shock breaker kecil seperti yang dimaksudkan di atas, tidak bisa dipasang di tengah per-ulir. Disinilah perlunya kecermatan dalam memilih model disesuaikan dengan komponen-komponen yang tersedia di pasar. Assessment dan survei pasar perlu dilakukan sebelum memulai proyek. Jangan sampai proyek terbengkalai di tengah jalan atau selesai tapi dengan teknologi yang gagal.

Mungkin anda bisa bayangkan kelembutan dan kenyamanan yang akan dihasilkan dari rekayasa saya ini.
Anda akan ditopang oleh 2 tingkat suspensi. Suspensi pertama adalah per-ulir yang lembut. Kejutan-kejutan yang melebihi kapasitas per-ulir akan disampaikan kepada per-daun. Suspensi kedua adalah per-daun yang melanjutkan kejutan-kejutan yang lolos dari per-ulir. Kejutan-kejutan berat yang biasanya lolos dari tahanan per-daun dalam konstruksi asli memungkinkan masih tertahan dalam kontruksi rekayasa saya ini, karena telah terlebih dulu terkurangi oleh per-ulir. Dengan demikian, hasil rekayasa ini diharapkan akan menghasilkan kelembutan dan kenyamanan suspensi yang terbaik untuk kendaraan rigid-axle. Tidak seperti kendaraan rigid axle modern yang menggunakan stock coil spring yang hanya mengandalkan 4 per-ulir bawaannya saja, dimana kejutan-kejutan yang melebihi kapasitas per-ulir hanya mentog nubruk ganjel karet. .

Menjawab pertanyaan “sakel lepas”

Kali ini saya mencoba menjawab pertanyaan dari pembaca yang dikirim japri pada tanggal 22 Juli 2013. Sudah lama banget ya? Maklum, selain kesibukan, saya agan aras-arasen menggambarnya. Pertanyaan ini didapat dari membaca artikel berjudul “sakel lepas”. Berikut ini cuplikan artikel yang dia kirim ke saya, dan mohon maaf saya cantumkan disini, bila mana dianggap melanggar hak seseorang, saya akan segera menghapusnya.

Karena cupilkan, saya tidak tahu informasi lengkapnya. Sekilas dari penampakannya mirip track-bar tetapi di pasang di posisi anting. Disana ada 2 bar, yang satu statis untuk menjaga jarak antar ujung per dan yang satu dinamis untuk berayun menyesuaikan medan. Dari penampakannya, sepertinya 2 bar ini sekaligus berfungsi sebagai anting juga 🙂

Gagasan ini sangat bagus karena biayanya mungkin paling murah dibanding teknik modifikasi alternatifnya. Pekerjaan pemasangannya pun sangat sederhana. Manfaatnya adalah memperpanjang langkah suspensi, terutama manakala salah satu roda naik atau turun melebihi langkah per. Sudut track-bar akan mengap menyesuaikan medan dan menjaga kemiringan mobil kompromi dengan pasangan roda lainnya.

Dari gambar maupun uraian tidak menjelaskan di bawah sana ada apa lagi selain 2 track-bar tersebut. Maklum cuplikan. Gagasan bagus ini sangat disayangkan jika hanya mengandalkan 2 bar tersebut. Karena posisi roda terhadap badan mobil menjadi tidak stabil. Berikut ini penjelasannya.

Secara sederhana, sistem ini (sakel lepas???) diilustrasikan seperti gambar sebelah. Katakanlah itu untuk roda belakang. Track-bar biru statis dan merah dinamis. Diharapkan bar biru menahan jarak kedua ujung per agar lebih stabil ketimbang anting biasa. Sedangkan bar merah diharapkan hanya mengayun ka atas dan ke bawah untuk mengejar langkah suspensi. Dengan demikian mobil akan tetap stabil hanya langkah suspensinya lebih leluasa. Benarkah harapan ini terkabul?

Dengan asumsi tidak ada piranti lain selain bar merah dan biru, harapan di atas tidak mngkin terkabul, terlebih jika pernya dibikin empuk. Dua track-bar tersebut akan berperan menjadi anting tunggal yang panjang banget yang tidak mungkin memampu menahan tarikan atau dorongan ujung per. Perhatikan gambar selanjutnya. Ketika salah satu roda terhambat, misal selip sebelah atau memang sedang belok dengan kecepatan yang cukup tinggi, salah satu per melengkung di pangkal dan yang lain lurus. Maka posisi as roda akan mencong yang ditandai dengan anak panah. Untuk per yang cukup kaku, lengkungan pangkal tidak seberapa, sehingga efeknya hanya limbung, lebih limbung ketimbang sebelum dimodifikasi. Tetapi jika pernya lemes (empuk), lipatan pangkal per lebih extrim dan kemecongan as roda juga lebih parah. Hal ini sangat berpotensi mobil menjadi oleng dan roboh terguling.

 

Solusinya adalah melengkapinya dengan penahan lipatan yang ditandai garis merah di pangkal per pada gambar sebelah ini. Sehingga ketika ada ketidak setimbangan gerak roda, pangkal per tetap dijaga tidak melipat. Tentu hal ini dibayar dengan berkurangnya keempukan. Mudah-mudahan si penggagas sistem sakel lepas sudah mengimplementasikannya.

Penahan lipatan tidak 100% menahan jarak as roda ke pangkal per seperti lengan ayun pada per ulir. Gejala melengkung tetap harus ada meski sekecil mungkin sekedar supaya tidak mencongkel klem rumah as roda.

Topik-topik terkait otomotif

 

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
163 Comments
  • senirupaku
    Posted at 05:45h, 22 June Reply

    maaf pak, mau tanya neh, saya pengguna jimny long, yang notabene pengguna per daun juga, karena kesulitan memahsmi gambar bisakah dibantu untuk gambar pemasangan per ulirnya dengan lebih detil. maaf jika merepotkan. terima kasih

  • Deru Sudibyo
    Posted at 19:21h, 22 June Reply

    Insya Allah mas. Tapi maaf tidak sekarang, karena saya sedang sangat sibuk,

  • senirupaku
    Posted at 00:25h, 24 June Reply

    ya pak. saya tunggu, terima kasih

  • ajat lands
    Posted at 08:36h, 30 June Reply

    mo nanya, udah di uji try n error nya gak mas bro? kl buat pemakaian offroad gimana? efek ke mekanisme yg lainnya apakah ada yg rubah gak? makasih sblmnya…..

  • Deru Sudibyo
    Posted at 17:14h, 30 June Reply

    Tentu ada plus minus karena namanya juga coba-coba dan berakhir belum tuntas. Maklum bukan lembaga ristek. Plusnya, langkah suspensi panjang sehingga mirip Jeep Rubicon sekarang ketika disconnect sway bar.

    Minusnya, ketika lari di atas 120kpj di tol cikampek ketemu dg aspal bergelombang, mobil ngayun beberapa kali cukup mengerikan. Tapi saya yakin ini bukan kegagalan konsep. Melainkan galat implementasi yang tentu dg bahan dan ukuran yang kurang memadahi.

    Oleh karena itu akhirnya saya ganti lagi menjadi murni per keong 5-link mirip LC VX. Dg lengan ayun yg kaku tentu lebih stabil. Tetapi pernya pendek shg langkahnya terbatas. Utk offroad kalah nyaman dg yg sebelumnya.

    • Hadi
      Posted at 15:10h, 14 September Reply

      mas mesan produk sampean dimana ya?

      • mm
        Deru Sudibyo
        Posted at 12:16h, 18 September Reply

        Saya nggak / belum jualan produk mas 🙂

  • iwan ridwan
    Posted at 10:49h, 29 July Reply

    Mas Deru, suspensi per daun Feroza SL sy pengen juga divermak ala konsep mas deru, ijin mas dimana work shop nya dan kisaraan berapa cost nya ?…trimakasih mas

  • Deru Sudibyo
    Posted at 12:00h, 29 July Reply

    Konsep yg mana yg mau dibikin. Konsep saya adalah yg per daun antingnya diganti per keong dan dipasangi track bar. Yg ini cost-nya juga susah di-audit. Makin banyak keterlibatan bengkel bubut makin besar ongkosnya. Kerjanya juga lumayan repot karena gak punya workshop sendiri. Yg saya lakukan adalah bikin gambar dan mondar-mandir ke bengkel yg mau ngikutin gambar saya. Kadang harus bikin maket dg kardus atau apa saja untuk membantu manakala si bengkel nggak bisa mbaca gambar.

    Sedangkan yg 5-link bukan konsep saya. 5-link adalah telknologi standar untuk rigid axle dg coil sprung. Untuk merobah ke 5-link ketika itu saya ke workshop miliknya distributor ALL-S di Kebon Jeruk. Sebenarnya mereka hanya menyediakan kit cangkokan yg terdiri dari lengan ayun, per (keong) dan track bar. Pangkal lengan ayun menggantikan kaitan statik per daun. Ujungnya dg klem untuk mengait rumah as persis seperti klem pada per daun. Per keongnya duduk di lengan ayun, bukan di rumah as.

    Saya tidak suka model seperti itu. Ketika saya minta model 5-link seperti TLC VX 80, direspon positif oleh bosnya ALL-S. Saya gak usah bikin gambar apapun karena dia sudah jago soal 5-link. Saya cuman ngoreksi itungan kekuatannya di beberapa simpul saja.

  • Mas_ Tiwul
    Posted at 04:26h, 27 November Reply

    pak,,, bila anting digantikan sockbeker/per motor gimana…? misal kita pilih sock beker tipe monosock/cukup pendek

  • Deru Sudibyo
    Posted at 10:53h, 27 November Reply

    Mungkin bisa saja.. Yg penting dalam kondisi normal per itu mampu menahan bobot ujung mobil sehingga pegasnya efektif, dan pada kondisi ketarik per itu juga mampu menahan sehingga tidak putus kebetot.

  • yudha Yudhistira
    Posted at 13:42h, 03 April Reply

    kira kira cost nya sampai berapa kalau mengganti perdaun dengan per keong..
    terimakasih

  • Deru Sudibyo
    Posted at 14:29h, 03 April Reply

    Waah saya bukan pemain bisnisnya mas. Tapi saya rasa tegantung konfigurasi dan fitur2nya. Konfigurasi bisa 3 link (trekbar + 2 arm paten), 4 link (trekbar + 2 lower arm + 1 upper arm) atau 5 link (trekbar + 2 lower arm + 2 upper arm). Makin banyak dan/atau tinggi kualitas bahannya tentu makin mahal. Tapi kenyamanannya juga makin bagus. Tapi kadang tidak bisa dipaksakan 5 link untuk as depan karena tidak ada tempatnya.

    Fitur misalnya ada yang cukup dengan bushing karet di setiap cangkok. Ada pula yang di beberapa titik atau bahkan semua titik menggunakan johnny joint agar ayunan arm lebih leluasa.

    Juga per nya, apakah per keong konvensional atau ingin coil-over shock yang lebih sederhana, langkahnya jauh dan harganya selangit.

    Paling ideal 5link dengan coil-over shock dan setiap joint di arm menggunakan johnny. Namun yg harus diwaspadai, untuk 5link atau 4link, efek castor cardan tidak ada. Jika langkahnya terlalu jauh, kopel bisa lepas. Terutama cardan depan yang selalu di pinggir, akan lebih mudah lepas jika kurang teliti menghitung.

  • Yoyo Punya
    Posted at 18:16h, 15 July Reply

    Pak deru.. alamat bengkelnya dimana

  • Deru Sudibyo
    Posted at 19:37h, 15 July Reply

    Maaf pak Yoyo, saat ini saya belum punya bengkel 🙁

  • imam muhajir
    Posted at 02:29h, 14 November Reply

    Pak Deru saya mau tanya.. saya ingin beli mobil baru panther touring. tapi saya masih ragu, sebab panther touring menggunakan per daun, sedangkan teman2 saya bilang cari mobil yang menggunakan per keong. jadi lebih baik mana, Per daun atau per keong untuk jalan lintas timur sumatera yang kebanyakan berlobang.Thanks…

  • Deru Sudibyo
    Posted at 16:35h, 14 November Reply

    Per daun masih lebih diandalkan, baik dari sisi daya tahan maupun biaya perawatan. Kalahnya pada kenyamanan. Ini kan roda belakang yg rigid, bukan independent. Per daun maupun keong tak masalah. Soal stabilitas, terutama efek limbung, per keong menang karena adanya track bar. Artinya, per daun pun akan stabil jika dipasangi track bar seperti Jeep YJ.

    Persoalan Pak Imam adalah untuk melawan jalan yg banyak berlobang. Hemat saya yang berpotensi masalah justru model supensi independent pada roda depan (IFS) panther. Tapi jika hati-hati, tidak menabrak lobang dalam kecepatan tinggi, IFS pun aman-aman saja. Toh bukan offroad. Ada baiknya melihat kebanyakan mobil disana … seberapa banyak yg mengalami apa yg anda kuatirkan.

    IFS umumnya ringkih dan travel ayunannya pendek, kecuali IFS yg dirancang khusus untuk SUV beneran. Sayangnya mobil sekarang semuanya dg IFS, termasuk SUV. Jadi jika situasi anda sedemikian serius, hemat saya solusinya SUV, meski banci 4×2, yg penting bukan minibus spt panther, kijang, avanza dll.

  • Endro Noviyantoro
    Posted at 15:08h, 18 January Reply

    Bang….klo suzuki jimny saya biar empuk gimana ya….

    • Deru Sudibyo
      Posted at 17:18h, 18 January Reply

      Sesuaikan lembar bilahnya dg beban yg ditanggungnya. Atau ganti per keong yg sesuai. Per daun juga bisa lebih empuk dari per keong jika total tegangan pegas keseluruhannya lebih seimbang dengan bobot bodi + sasis (termasuk mesin). Makin tegang makin keras bantingannya. Makin lembek juga makin keras karena mentog menghantam karet penahan. Makin pendek langkah ayunnya, efeknya sama dengan per lembek.

      Kelebihan per keong, untuk langkah dan ketegangan yg sama, per keong lebih stabil. Hal ini dikarenakan adanya track bar yang meniadakan ayunan limbung (horizontal) kanan-kiri dan control arm yg meniadakan ayunan depan-belakang. Per daun juga bisa dipasangi track bar untuk menetralisir ayunan kanan-kiri. Tetapi ayunan depan-belakang tetap ada.

  • Endro Noviyantoro
    Posted at 14:55h, 25 January Reply

    trims…info nya good luck..

  • achmad Faizin
    Posted at 23:45h, 02 June Reply

    Pak Deru, kalo lembar per daun disisakan 1 lembar saja no.1 tanpa melepas shackle atau anting dan ditambah dengan coil spring di atas rumah roda yg terikat dengan per daun bgaimana? Tentu harus dimodifikasi utk dudukan coil spring atas dan bawah terlebih dahulu. Saya ada ide ini tetapi masih ragu dengan coil spring apa yg mau saya pakai…kiranya pak Deru bisa bantu utk menganalisa dan kalo memang system ini bisa dipakai coil spring mobil apa yg bisa dipakai. Thks

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 07:00h, 03 June Reply

      Hemat saya itu bahaya. Coil sprung untuk rigid axle sangat mengandalkan control arm dan track bar. Control arm untuk menjaga ayunan maju-mundur dan track bar untuk mencegah ayunan kanan-kiri. Sehingga tinggal ayunan vertikal yg dibolehkan. Sementara, satu lembar per daun tentu sangat lemas. Tentu ayunan kanan-kiri dan maju-mundur akan sangat terasa. Bahkan saking lemasnya bisa melipat seperti huruf “S” dan akan menyebabkan mobil jungkir balik kesandung as-nya sendiri 🙂

  • royan wafa
    Posted at 22:02h, 19 June Reply

    bos, jual anting per ulir buat panther gak??

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:12h, 21 June Reply

      Gak boz 🙂

  • Abdul Rahman
    Posted at 04:01h, 03 August Reply

    Sy sudah disign hartop diesel mesin 14 BT
    Per sudah olmen Emu ban 33 velg xd ring 20
    Tapi masih oleng kira2 langkah apa supaya bisa stabil stirx
    Mash mas

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:10h, 03 August Reply

      Pasang track bar pasti sembuh, seperti palang yg merah pada gambar ini track bar

      • heri
        Posted at 21:26h, 11 March Reply

        pak DB apakah trac bar seperti di atas juga bisa di aplikasikan di taft, makasih sebelumnya

        • mm
          Deru Sudibyo
          Posted at 04:16h, 12 March Reply

          Bisa mas. Saya pernah lihat feroza pakai track bar. Yg penting bikinnya tepat. Taft yg sudah IFS, hanya roda belakang yg perlu track bar 🙂

  • Abdul Rahman
    Posted at 03:48h, 06 August Reply

    Makasih atas infonya tapi Sy mau mendapatkan yang jadi apakah Sy bisa pesan langsung tinggal Sy pasang berapa duit dengan ongkos Kirimx Sy di Papua barat (Manokwari ) Sy tunggu infox

  • alberto
    Posted at 20:47h, 28 September Reply

    mau tanyak gan, jika pir daun dilengkung kan lalu di kurangi per daun nyaa apa kah bahaya gan! biar mobil terasa nyaman dan tidak atos

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:33h, 29 September Reply

      Sebaiknya jangan lakukan itu. Mengurangi lembar per daun bisa berujung maut. Per daun, makin dikurangi lembarnya makin lembek, dan bisa kena efek “wrapping” yang bikin mobil jungkir balik. wrapping

  • alberto
    Posted at 06:45h, 29 September Reply

    terus gmana gan biar empuk dan nyaman ? kalau tidak dikurangi tapi di lengkungkan ?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 13:01h, 29 September Reply

      Kalo kondisinya sudah lempeng atau lengkung ke atas, memang terasa lebih atos karena langkah ayunnya pendek. Karena terlalu dekat dengan karet stopper. Terasa atosnya karena per nabrak stopper. Dan solusinya memang harus di-press lagi supaya lengkungnya normal kembali. Sebaiknya dicoba dinormalkan saja, siapa tahu empuk yg diinginkan terjawab.

  • alberto
    Posted at 16:45h, 29 September Reply

    gan apa pengaruh jika anting per daun di ganti lebih tinggi menjadi lebih nyaman dan lebih empuk?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 17:00h, 29 September Reply

      Anting standar tentu sudah dihitung matang oleh insinyurnya di pabriknya. Menambah tinggi anting sepertinya menambah langkah ayun suspensi. Tentu “diharapkan” menjadi lebih empuk. Sayangnya tidak ada ukuran pastinya, selain perasaan kita sendiri. Namun tak bisa dipungkiri, efek limbungnya juga makin terasa. Solusinya, pasang track bar, seperti pada Jeep Wrangler YJ. Lihat gambar pada reply saya 3 agustus lalu.

      • Rendra
        Posted at 02:57h, 05 May Reply

        Saya kira kalo menambah panjang anting per maka semakin keras bukannya lebih empuk.Karena per secara tidak langsung ditambah tekanan seberapa cm dari per standartnya sudah membuat agak keras kinerja per itu sendiri.Kalo buat ngebut jalan datar atau tikungan enak tinggal belok(bisa juga mengurangi limbung?tapi efeknya kalo jalanan jelek terasa banget gak enaknya

  • alberto
    Posted at 07:45h, 30 September Reply

    menurut gan biar lebih tinggi mobil taft saya biar kelihatan gagah di apa kan gan? dan biar juga empuk dan nyaman digunakan dijalan tidak enak mau pun enak dan tidak membahayakan penumpang yang didalam mobil?

    • Rendra
      Posted at 03:00h, 05 May Reply

      Saran saya di bodylift jadi gak merubah sektor kaki2 sehingga masih tetep nyaman digunakan.

  • alberto
    Posted at 15:12h, 07 October Reply

    mau tanyak gan beli per daun empat2 nyaa itu kira2 berapa gan?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:47h, 08 October Reply

      Maaf mas, soal harga saya kurang update. Mungkin ada rekan lain yg bisa menjawab 🙂

  • lothar tulangi
    Posted at 13:13h, 25 October Reply

    Bang mo nanya cara bikin feroza ane biar nggak keras per ayunan perdaunya gimana ya ? Soalnya klo lewat di jalan berlubang terasa keras banget perdaunya. Trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:16h, 24 January Reply

      Mungkin diganti dg per keong. Dulu ada yang jual kit tinggal pasang. Gak tau sekarang apa masih ada. Feroza memang bantingannya keras karena mobilnya enteng tapi pernya setara taft yg lebih berat. Bahkan taft pun masih termasuk keras.

      Maaf telat menjawab karena kesibukan jarang buka blog 🙂

    • Rendra
      Posted at 03:02h, 05 May Reply

      Saran saya ganti anting per yg lebih pendek om,sesuai dengan selera anda saja

  • felik
    Posted at 10:56h, 27 December Reply

    Pak Deru bisa saya beli track bar untuk hardtop tahun 76 ? minta kontaknya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:36h, 03 January Reply

      Maaf saya tidak jualan dan bukan bengkel. Kayaknya perlu nih usaha otomotif 🙂

  • Syamdika
    Posted at 17:03h, 18 January Reply

    Kalau untuk mobil katana, bisa pake trackbar mobil apa? Karena kan dari pabriknya gak ada yg pake trackbar. Trus penahan per itu apakah ada di tukang per daun pinggir jalan?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:13h, 24 January Reply

      Katana tidak ada trackbar. Jadi harus bikin sendiri. Caranya, dimal dulu dg pipa paralon dan setiap tekukannya dipanasi biar membentuk seperti bangunan trackbar. Setelah fix, bawa ke bengkel bubut dan minta dibikinkan dengan baja sekelas stabilizer.

      Maaf telat menjawab karena kesibukan jarang buka blog 🙂

  • alberto
    Posted at 19:53h, 05 February Reply

    Gan saya mau tanyak biar empuk taft gt saya kan shock absorbernya mati terus diganti apa ya gan biar empuk dan enak dipakai?

  • Amri
    Posted at 00:42h, 14 March Reply

    Mas Deru. Gimana caranya supaya mobil cj7 sy yg masih per daun supaya lebih stabil pada kecepatan tinggi dan menikung. soalnya kami pake buat balap speed offroad. Takutnya kl ganti per keong jadi lebih parah. Skrg mobil sdh di buat ceper. Posisi per daun dibawah gardan. Gardannya pake cherokee punya. Kalo kecepatan tinggi mobilnya kaya goyang dumang mas hehe.. Tlg penjelasan mas. Makasih ya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:22h, 14 March Reply

      Per keong sebenarnya lebih stabil dari per daun asal jangan salah rancang dan/atau salah pasang. Meskipun lebih lenting, gerak perkeong hanya vertikal saja. Sama sekali tidak ada gerak horizontal. Karena dijaga oleh arm (lower + upper) yg mematikan gerak horizontal maju-mundur, dan track bar yang mematikan gerak horizontal kiri-kanan. Sedangkan per daun, gerak horizontal kiri-kanan bisa dimatikan dg track bar (modif). Tapi ayunan maju-mundurnya tetap ada selama ada anting. Lagi pula pada kondisi tertentu, bisa jadi per daun membentuk leter ‘S’ kena efek “wrapping”.

      Penyebab limbung pada Jeep CJ7 saya rasa bukan hanya suspensi. Posisi rangka sasis juga menjadi faktor utama. Sasis terlalu lembek karena kekurangan cross member dan kurang lebar dibanding bodi dan sumbu roda. Masih mending jika per diganti keong, tumpuan suspensi lebih melebar keluar, tidak mingkus ke tengah seperti per daun, terutama roda depan, karena harus memberi ruang roda ketika berbelok.

      Hemat saya, untuk mengurangi instabilitas yang disebabkan oleh rangka sasis, perlu rekayasa ulang seperti pada gambar ini
      Markup CJ7 frame

  • felic
    Posted at 11:21h, 17 March Reply

    Salam saya newbie, tidak bermaksud menggurui, namun dari ilmu yang saya dapat bahwa suspensi leafspring sebenarnya tidak membutuhkan trackbar (panhard) bar seperti yang ada di tulisan diatas, track bar hanya digunakan secara signifikan pada suspensi per keong bukan pada per leaf spring. Bagaimana jika per leaf spring dipasang track bar ? tidak akan berpengaruh banyak antara uang yang dikeluarkan dengan efeknya tidak seimbang, suspensi leaf spring tidak bisa bergerak horizontal melintang, kecuali bushingnya longgar (bushing di anting). Ketika semua sudah terset dengan benar, track bar tidak digunakan pada system leaf spring.

    Yang benar untuk mengatasi body roll adalah anti roll bar alias sway bar, bentuknya huruf U, dimana ketika salah satu shock bergerak, shock lawannya juga ikut bergerak sehingga terjadi keseimbangan, selain itu juga bisa memperbaiki gejala oversteer dan understeer.

    Salam otomotif Indonesia

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 13:00h, 17 March Reply

      Betul sekali menurut teori. Namun pada tahun 1987, ketika merek “Jeep(R)” alih tangan ke Chrysler, jeep engineering team bikin kejutan. Mereka implemen trackbar pada Jeep Wrangler YJ yang masih per daun. Dan hasilnya cukup signifikan dibanding Jeep CJ7 yang belum pakai track bar. Silakan simak printilannya di toko berikut ini:
      http://www.morris4x4center.com/jeep-suspension-parts/wrangler-yj.htm
      http://www.4wheelparts.com/hardparts/HP_PartList.aspx?hpDID=114

      Soal sway bar yg juga sering disebut stabilizer, rupanya Jeep engineers juga berpendapat lain. Di medan offroad, menurut mereka justru mengganggu karena bisa bikin rolling. Maka mereka bikin fitur “swaybar disconnect” pada Jeep Wrangler JK varian Rubicon. Temuan tsb rupanya diamini banyak aftermarket vendors.

      Sayangnya banyak sekali engineering updates (bidang apapun, termasuk IT) yang belum dibukukan. Sehingga belum bisa masuk dalam kurikulum pendidikan.

  • felic
    Posted at 12:20h, 17 March Reply

    tambahan : bagi yg ingin memasang track bar tolong didesain supaya track bar dalam posisi horizontal rata air Dan posisinya sebisa mungkin sejajar dg axle roda. contoh pemasangan track bar yg keliru adalah track bar yg miring membentuk sudut. kalau salah satu roda naik turun. roda itu akan mengikuti lengkung lintasan track bar yg miring itu Dan justru akan menekan axle bergerak horizontal ke kanan kiri. jadi harus diperhatikan betul posisi sudut track bar sebisa mungkin harus horizontal rata air utk menghindari gerakan axle mengikuti alur lengkung langkah track bar.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 22:13h, 17 March Reply

      Itu juga agak mustahil. Karena ujung yang satu ke rangka sasis dan yang lain ke axle tube, jelas tidak mungkin horizontal. Karena rangka sasis pas di atas as roda harus melengkung ke atas untuk memberi ruang langkah suspensi. Tapi justru karena sudah miring itulah maka ketika naik-turun efek jajaran genjangnya tidak terlalu signifikan. Karena dengan posisi yang miring, bar sudah lebih panjang ketimbang jarak ortogonal yg diperlukan.

      Membahas soal suspensi, sebenarnya sampai hari ini belum ada yang 100% perfect. Suspensi independent yang dijamin tidak ada efek jajaran genjang, juga tidak sempurna. Selain langkahnya terbatas, track-nya pun melar-mingkus. Track terlebar dicapai pada posisi home. Ketika sayap naik atau turun, track menjadi mingkus. Roda terseret ke tengah.

  • felic
    Posted at 18:46h, 17 March Reply

    Terima kasih atas pencerahannya, saya juga sedang ada project dan masalah yang sama dengan topik pembahasan ini, saya jadi ingin bereksperimen untuk memasang track bar juga, ingin mencoba sendiri bagaimana hasilnya, nanti akan saya share lagi hasil pemasangan track bar tersebut.

    Untuk pemasangan sway bar pada medan yang tidak rata , akan menambah penderitaan, bukan nya lebih nyaman malah lebih remuk, itu sebabnya tidak disarankan untuk jalan off road atau jalan berpaving, sway bar akan sangat signifikan di jalan aspal halus sedikit lubang, dan high speed cornering, akan jauh sekali perbedaanya dengan mobil tanpa sway bar.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:47h, 17 March Reply

      Ditunggu sharing-nya mas 🙂

  • roymanroe
    Posted at 16:32h, 25 March Reply

    Salam… sebelumnya terima kasih atas artikel yg sudah mas Deri sharing. dan itu menambah pengetahuan saya yang buta masalah otomotif. kebetulan saya punya teranno K3 2005 dan pick up toyota hilux 2010. yang ingin saya tanyakan adalah,
    1. bagaimana mengatasi masalah body goyang/limbung pada terano. apakah cukup memasang track bar saja?
    2. untuk hilux, apakah bisa jg menggunakan per ulir agar bantingannya lebih empuk sperti teori mas Deri di artikel ini. krna hilux saya memang tidak diperuntukkan membawa beban yang terlalu berat.
    3. untuk gambar penahan per daun apakah kupingan/dudukan untuk baut klem itu menyatu dengan plat penahan atau dilas? sehingga saya hanya cuma membeli baut klem saja?
    mohon pencerahannya mas.. trims.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 17:13h, 25 March Reply

      Suspensi Nissan Terrano yg depan independent (IFS) dan yang belakang rigid dg per keong dalam konfigurasi 5-link (4 arm + 1 track bar). Ini sama dg Furtuner maupun Pajero. Suspensi macam ini tidak memungkinkan ada ayunan horizontal. Sehingga efek limbung dari suspensi seharusnya tidak ada, kecuali karet-karet bushingnya maupun ball joint dan bearing roda sudah mulai longgar. Jika terbukti semua bushing, joint dan bearing masih ketat, maka efek limbung bisa dipastikan bukan dari suspensi.

      Kendaraan yang menganut konfigurasi “body on frame” (badan mobil nangkring di atas rangka sasis), selalu ada efek limbung. Karena bodi dikait dengan rangka sasis dengan baut berganjal karet. Ganjal karet inilah yang bikin kelenturan sehingga ketika belok, menggandakan efek centrifugal. Terlebih jika karetnya sudah tua dan mengempis dan mengeras. Kaitan menjadi longgar, maka efek limbung makin besar. Jika diketatkan, karena karet sudah mengeras, maka bagian tertentu bodi akan tertarik. Efeknya bodi tidak balance dan kadang malah menambah getaran. Maka sebaiknya karet bodi tsb diganti baru semua. Jika ada dudukan yang sudah keropos, dilas dulu sebelum karet baru dipasang. Jika semua sudah direhabilitasi tuntas, maka mobil akan terasa seperti baru. Limbungnya masih ada, tapi limbung standard karena “body on frame”.

      Soal Hilux diganti per ulir, bisa saja, asal tahu cara memasangnya. Mungkin sebaiknya nyontek Fortuner atau Terrano. Jika menggunakan per Fortuner, saya kira hasilnya paling bagus. Tapi tidak akan seempuk Fortuner. Karena buritan Hilux lebih ringan (bak).

  • alberto
    Posted at 11:46h, 27 March Reply

    Gan cara mengetahui shock absorbernya tidak fungsi atau tidak berkerja dengan baik itu cara memeriksanya gimana gan tau apa edak?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 20:59h, 27 March Reply

      Jika shock absorber tidak fungsi, umumnya mejadi kopong alias tidak lagi ada hambatan. Sehingga suspensi terasa melenting-lenting karena murni pantulan pegas per. Per yang terlalu lembut malah terasa jadi kasar karena tube roda menghantam karet penahan langkah. Dalam kecepatan tinggi terasa limbung.

      Karena melenting-lenting terus-menerus, maka tanpa terasa ketika direm pun pada kondisi mumbul-mumbul. Akibatnya ban seperti diamplas tidak merata, mirip pepaya dikupas.

      Namun ada juga shock absorber yang tidak fungsi malah menjadi macet. Ini lebih sadis, karena mobil terasa seperti tanpa suspensi.

      Untuk suspensi jenis independent, ketika roda tidak pada posisi home atau netral, posisi roda tidak benar-benar tegak di atas landasan. Jika keseringan pada posisi semacam ini, maka ban akan banyak kemakan di sisi tertentu saja (luar atau dalam).

  • Jimmy Marten
    Posted at 12:19h, 01 April Reply

    Minta izin buat ikutan diskusi pak. Kebetulan mobil saya taft f50 (peer daun). Kalau karet penahan yang ada di anting2 depan juga sudah aus apa itu juga mempengaruhi oleng atau enggaknya mobil ya pak?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 16:59h, 01 April Reply

      Jelas jika karet-karet bushing rusak, stabilitas terganggu. Dalam kondisi parkir digoyang juga terasa bedanya.

  • alberto
    Posted at 15:26h, 19 April Reply

    1) Terus shock absorber mati tidak fungsi itu kemungkinan pada jalan berlubang terasa atos atau tidak ada ayunan yang empuk itu juga dikatakan shock absorber mati apa gan?
    2) terus shock absorber bisa diperbaik ki lagi edak gan?
    minta Tolong dijelaskan gan… soalnyaa saya belum tahu ciri2 tertentu yang dikatakan shock absorber tidak berfungsi lagi atau tidak berfungsi dengan baik…

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:47h, 20 April Reply

      Intinya, shock absorber adalah peredam goncangan atau ayunan pada per atau pegas dalam sistem suspensi. Tanpa absorber, sekali menendang gundukan atau lobang di jalan, suspensi akan berayun beberapa kali. Sehingga kendaraan akan melenting-lenting dan bisa berakibat fatal jika dalam kecepatan tinggi. Terlebih jika ayunan belum berhenti sudah kesusul tendangan berikutnya.

      Dengan absorber, ayunan suspensi dihambat. Sehingga yang mestinya 10 kali cukup sekali atau 2 kali saja. Idealnya sekali saja. Empuknya tetap sesuai dengan tegangan pegas. Hanya ayunannya saja yang direduksi.

      Absorber yang rusak (kadang disebut “mati”) umumnya daya redamnya menurun atau hilang sama sekali. Sehingga suspensi terasa seperti tanpa absorber, melenting-lenting anjrut-anjrutan. Tapi ada jenis kerusakan tertentu dimana absorber menjadi keras. Sehingga kendaraan terasa seperti gerobak tanpa suspensi. Keras maupun kopong sama bahayanya. Namun keras lebih tidak nyaman dan merusak kendaraan.

  • angga handika jaya
    Posted at 08:53h, 17 May Reply

    salam sejahtera pak,pak mobil saya L300 pick up,untuk nambah per daun agar mobil untuk muat lebih kuat,urutan per nomer berapa ya yang harus di tambah?dan kira2 harus nambah berapa per,ukuran muatan seringnya 3 ton.trimakasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 10:30h, 17 May Reply

      L300 muat 3 ton? Mau bunuhdiri atau bunuh orang nih? L200 Strada saja paling 1 ton. Ban strada kekuatannya 1 ton per ban. Total 4 ban hanya 4 ton. Bobot kosong L200 strada 2 ton. Jika muatannya 2 ton pas-pasan dan pasti secara teknis dilarang.

      Nah … apakah ada ban ukuran L300 yang mampu 1 ton per ban? Bukankah ban L300 mirip ban angkot, 600KG per ban? Total 4 ban hanya 2.4 ton. Untuk muatan 3 ton, gak usah ada mobilnya juga kurang .. 🙂

  • ricky
    Posted at 16:46h, 22 May Reply

    ada contoh aplikasi di nissan evalia ga om?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:25h, 24 May Reply

      Apa evalia menggunakan per daun?

      • m.faisal
        Posted at 21:34h, 11 December Reply

        betul, cuma selembar lg..om
        memang kerasa limbung sekali saat

  • Gibran
    Posted at 22:53h, 13 June Reply

    Mas deru mohon masukan nya mobil saya Feroza 95 ban belakang sebelah kanan agak turun dibanding yg sblh kiri penyebab nya apa ya? Apakah per daun nya udah lemah?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:21h, 13 June Reply

      Mungkin mas. Coba saja bawa ke bengkel per dipres disamain kanan-kiri. Jika ketebalan dan jumlah lembar kanan dan kiri sama, coba shock absorbernya dirukir kanan dan kiri. Ada sedikit penasaran, mestinya yang ambles duluan yang kiri, karena pinggir jalan biasanya lebih jelek. Kecuali bobot badan anda cukup berat dan mobil biasa dibawa sendirian 🙂

  • Mochamad alfian
    Posted at 23:50h, 16 June Reply

    Napa sih susah2x ngrombak dengan sistem yang belum tentu benar insinyur jepang itu lulusan Sarjana S6 g cuman S1 aja jualnya. Kalau emang sistem yang diatas effektif tentu sudah diciptaka duluan sama pembuat mobil angkutan berat. Kalau Kalau mendi jiplak sistem di alat berat. Joknya , yang di kasih per. Di j joss. G ad pengaruh dengan muatan juga.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:26h, 17 June Reply

      Sah-sah saja pendapat lugu seperti pak Alfian. Cuman faktanya banyak produk2 kit aftermarket sebagai stock/OEM replacement, bahkan enhancement yang beredar di pasaran dan diakui konsumen. Insinyur S6 Toyota, Mitsu, Honda di Jepang mungkin juga sudah tahu “flexible connector” pada knalpot mengurangi hampir 90% imbas guncangan knalpot (terutama mobil diesel). Tapi kenapa mereka tidak implemen itu pada produk2nya? Insinyur S7 Jeep, Chevy, GMC, Ford dll di Amerika Sarengat juga mengakui kit-kit aftermarket spt Mophar, Summer Brother dll untuk modifikasi produk ciptaannya.

      Bahkan Jeep sales dengan bangganya menyatakan salah satu kelebihan produk Jeep varian Wrangler adalah “easy to customize”. Apanya yg bisa dikastem? Banyak! Suspensi. Pernah dengar istilah “lift kit”? As roda, termasuk cardan. Pernah dengar “full floater kit”? Transmisi dan mesin pun bisa dikastem. Bisa jadi sebuah mobil tongkrongannya masih Jeep tapi yang benar-benar Jeep hanya bodinya saja. Tak heran para Jeep extremist ada yg suka bilang “Jeep is built, not bought”. Saking sewotnya he he he 🙂

      Ternyata budaya kastem ini tidak hanya otomotif. Di dunia IT lebih gila lagi. Microsoft sudah menyediakan protektor sendiri untuk Windows diberi merek Defender dan jika anda beli Windows, benda itu sudah termasuk dalam paket. Tapi kenapa McAfee, Enigma, Norton dll masih laku? Bahkan beberapa produk AV bikinan anak bangsa juga masih dipakai.

      Barangkali jawabanya, OEM doesn’t always meet our requirement.

  • Jhon
    Posted at 06:11h, 01 July Reply

    Pak DB,ada gambarnya kah yg phanther touring pakai per keong belakang,klu ada tolong dipasang ya.trma kasih

  • S. Yusuf
    Posted at 21:12h, 14 July Reply

    L 300 saya
    mampu lo Om bawa barang sampai 3ton..saya sendiri sering bawa keramik 250 kotak (1 kotak 13kg) dgn nambah per daun 3 lembar.. Meskipun kalo muatan kosong mobil terasa keras.. Dengan makai ban standard 8 ply rating..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:22h, 15 July Reply

      Military M35A2 Jeep Corporation 2-1/2 ton cargo truck
      Mas, tolong perhatikan gambar Jeep M35A2 di atas. Kira2 kuat mana dibanding L300? Jeep tsb dikatakan 2 1/2 ton military truck. Sekekar itu dirancang hanya untuk membawa beban 2.5 ton. Kalau sampeyan yang bawa, pasti 15 ton naik.

      Sayang sekali di negeri kita, selama tidak ambruk, ya namanya kuat he he :

      • Eko Putranto
        Posted at 10:37h, 24 May Reply

        MASTER…

  • Sarif anugrah
    Posted at 08:32h, 25 July Reply

    Mas saya mau modif depan setrada l200 thun 2006 di pasang per daun depan gmna ya mas…soalnya medan dkalimantan berat
    Buat bgkut barabg dpedalaman mas..trms

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 09:35h, 25 July Reply

      Strada (L200) kan suspensi depannya IFS, tentu bukan pasangannya dg per daun. Harus dimodif dulu menjadi rigid. Kalo bukan 4×4 sih gak terlalu sulit. Cukup (1) copotin aja semua komponen kaki depan, (2) bikinin solid beam untuk pegang knuckle dan (3) pasang per daun yang sesuai.

      Tapi kalo 4×4, lumayan sulit nyari tube gardan depan yang sesuai. Bikin tube sendiri dikawinin dengan gardan bawaan juga ngeri presisi dan kekuatannya. Mending ganti gardan komplit depan belakang dengan punya hardtop (land cruiser seri 40) atau nissan patrol tua. Tentu dudukan per di sasis harus disesuaikan dengan bentang per daun donor sepresisi mungkin supaya mobil tetep lempeng.

  • Rudy laban
    Posted at 22:52h, 01 August Reply

    Salam mas deru.saya mempunyai feroza thn 94.belakangan ini jalannya limbung dan oleng,serta goyanganya keras dan sering nyeret kekiri kemaren org bengkel udah ganti king pen as tarik sama laharnya madih tetap sama,bahkan lebih parah,memang jarak antara roda belakang dengan body agak tinggi,kurang lebih 30 – 40cm.bagaimana solusinya mas deru,terimakasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:04h, 02 August Reply

      Per daun memang tidak lepas dari gejala limbung. Karena suspensi yang idealnya hanya bergerak vertikal, namun bentang plat flexibel memberi peluang gerakan horizontal, bahkan ke segala arah. Meski tidak kasat mata, gerak horizontal inilah yang menyebabkan gejala limbung. Gejala limbung ini makin terasa jika anting makin ditinggikan. Terlebih jika karet2 bushing sudah pada kendor, limbung makin terasa. Maka sebagai terapi awal, ketatkan dulu seluruh karet bushing.

      Terapi berikutnya adalah memastikan seluruh roda tidak ada goyang horizontal, dg cara didongkrak, lantas pegang ban pada posisi paling atas dan paling bawah dan coba digoyang2. Jika ada yang goyang, koplak, bararti lager (bearing) kendor atau rusak. Untuk roda depan, tidak hanya lager, boleh jadi ball joint atau king pin. Yang koplak harus diketatkan atau ganti baru.

      Roda yang goyang/koplak tentu sangat mempengaruhi rem. Karena aktuator rem nempelnya di bagian statik, sedangkan target rem (cakram atau tromol) nempel di roda (dinamik). Jika roda koplak, maka ketika direm, target bisa nyamber duluan. Ini akan terasa di setir, terutama jika yang koplak roda depan. Bahkan ketika koplaknya sudah parah, tidak direm pun ngerem karena tromol menindih sepatu rem atau cakram mengungkit jepitan kaliper.

  • dody
    Posted at 00:25h, 24 September Reply

    inovatif sekali mas heru, salam
    kalau teori diatas diaplikasikan ke gran max pickup yang sudah saya ceperkan dan tidak lagi saya fungsikan sebagai pengangkut barang, memungkinkan tidak?

    thank’s

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:32h, 24 September Reply

      Trims mas Dody,
      Maaf hampir salah jawab. Grandmax suspensi depan independen, ga perlu diapa2in lagi. Yang memungkinkan hanya per belakang jika dirasa perlu. Soal sudah ceper, mungkin perlu dikembalikan ke kondisi standard dulu supaya bisa diperhitungkan 🙂

  • gusno
    Posted at 20:56h, 24 December Reply

    punya resep untuk avansa 2011 yg depan keras sekali bantingannya.

  • theo
    Posted at 10:31h, 07 January Reply

    Saya mau tanya mas deru.
    1. Saat ini saya menggunakan panther gt yg sudah diganti anting yg lebih panjang dan memutar baut torsi depan karena diganti ban lebih besar 235/75/15 dan pasti limbung. Kedepan mau diganti ban 30″ tetapi efek limbung pasti lebih terasa karena rutenya banyak belokan. Tanpa mengubah leaf ke coil spring apa menggunakan track bar bisa mengurangi limbung? Ada contohnya?
    2. Mau ambil jimny tapi kira-kira yg lebih gampang jimny yg pendek atau yg panjang untuk mengubah suspensi ke coil spring. Ada gambarnya untuk jimny? Rencananya mau pakai ban 30″ atau 31″.
    Maaf banyak tanya.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:44h, 07 January Reply

      (1) Panther suspensi depan IFS, berarti sumber kelimbungan hanya suspensi belakang (rigid). Satu2nya solusi memang dengan track bar. Meski tetap dengan leaf sprung, track bar pasti mereduksi kelimbungan cukup signifikan, karena goyangan horizontal kanan-kiri benar2 dihentikan. Tetapi karena per daun memiliki efek wrapping, maka goyangan horizontal depan-belakang masih ada. Sehingga tidak akan sepadat jika per keong yang pakai control-arm.

      Namun, saya sarankan tidak menggunakan ban terlalu besar dari standardnya. Karena kekuatan as, balljoint maupun bearing roda tidak dirancang untuk roda terlalu besar. Pather bukan SUV, yang memang dari sononya dirancang untuk medan berat.

      (2) Ngrobah per daun ke per keong juga tidak mudah. Umumnya main cangkok si per keong langsung menopang sasis. Model ginian sekilas OK. Padahal konyol. Karena tentunya per terlalu pendek sehingga travelnya juga sangat pendek. Akibatnya mobil hanya empuk di jalan rata saja. Begitu memasuki jalan berlobang dan gajlugan, mobil serasa kebanting-banting. Nah.. hati-hati ngrobah Jimny ke per keong. Lihat dulu apa ada ruang cukup untuk mencangkok dudukan per keong di sisi sasis. Per depan di sisi luar sasis dan per belakang, tergantung ruang yang mungkin, di sisi dalam atau luar sasis. Jika tidak memungkinkan, lebih baik tetap per daun.

  • Rika ies wakhidayanto
    Posted at 15:57h, 22 March Reply

    Salam kenal mas daru, mohon info untuk track bar bagian atas di clamp ke sasis apa di las? Yang bawah kalo ga salah diikat bareng sama u-clamp pada per daun. Terus apa bener tack bar itu bentuknya lurus? Kalo perlu dibengkokkan kira kira berapa persen dari panjang track bar itu sendiri. Mobil saya katana 94. Trimakasih pencerahannya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:53h, 22 March Reply

      Ujung atas yang ke sasis, jika memungkinkan dengan clamp, kayaknya lebih baik. Lagi pula trackbar untuk per daun kan tidak harus sekuat pada per keong. Tapi jika tidak memungkinkan ya terpaksa las. Saya dulu dengan las.

      Ujung bawah yang ke kaki, jika memungkinkan dirangkai dengan U-clamp. Jika tidak, maka ditempatkan di ujung seumbung as (axle tube), baik dengan clamp maupun las. Clamp selalu diutamakan jika memungkinkan.

      Masalah lurus atau bengkok tergantung situasi lapangan. Kaki depan agak sulit untuk lurus karena banyak keterbatasan ruangan.

  • antonbrc
    Posted at 08:23h, 31 March Reply

    salam sejahtera.
    mas mohon pencerahanya sock jeep cj7 depan dan belakang ukuranya sama ndak ?, rencananya mau ganti ban 31 dan apakah pernya harus ditinggihkan atau antingnya yang diganti lebih tinggi.trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:34h, 01 April Reply

      Lebar daunnya beda. Belakang lebih lebar. Spakbor belakang tidak mentolerir ban besar. Dengan ban 31 sih masih OK, meski ditinggikan jauh lebih aman.

  • SANIKO jaya putra
    Posted at 23:48h, 25 May Reply

    Saya mau tanya Ni..
    Kalo kita ganti ban besar ukuran 33 pada taft Rocky. Kita perlu ganti apa aja pada kaki2nya ya. Suspensi dan lainnya bagaimana..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:15h, 26 May Reply

      Ukuran ban, secara umum dimensi lingkar dan lebar roda, sebuah kendaraan bermotor, sebenarnya sudah dirancang oleh pabriknya untuk tidak dirobah. Yang boleh dirobah hanya bentuk kembangnya. Namun pada kenyataannya, untuk memenuhi kebutuhan maupun selera, dimensi roda justru paling banyak menjadi sasaran modifikasi. Berikut ini 4 hal utama yang perlu diperhatikan jika dimensi roda diperbesar:

      (1) SPEEDOMETER TEKOR. Roda yang lebih besar cukup dengan putaran yang lebih rendah untuk mencapai KPH atau MPH yang sama dengan yang dicapai oleh roda standard. Padahal sensor kecepatan berpatokan pada putara poros transmisi. Sehingga KPH atau MPH yang tampak pada speedometer lebih rendah dari kecepatan yang sebenarnya. Misalkan diameter roda standard Taft adalah 28″. Ban diganti dengan 33″. Maka, ketika mobil melaju dimana speedometer menunjukkan angka 100 KPH, kecepatan yang sebenarnya adalah 33″/28″ x 100 KPH = 117.86 KPH.

      (2) TORSI poros roda TEKOR. Ini akan sangat terasa untuk kendaraan yang torsi mesinnya pas-pasan (Taft termasuk). Tarikan akan terasa berat seperti ada beban tambahan. Jika bobot Taft 1800 KG, maka beban fiktif yang ditambahkan oleh ban 33 sebesar (33-28)/28 x 1600 KG = 321.4 KG. Mirip dengan 4 atau 5 penumpang dewasa ya?

      (3) KEKEKARAN AS roda MELEMAH. Terutama jika dibawa ke jalan yang banyak lobang, ayunan kekanan-kiri akan lebih cepat merusak komponen poros roda, termasuk as, lager dll.

      (4) KEMUNGKINAN ARTIKULASI roda MENABRAK bodi. Suspensi dilengkapi dengan stopper untuk menghalangi ban menabrak bodi ketika roda terdesak naik ke atas, baik sebelah maupun kanan-kiri. Namun dari pabrikan umumnya hanya diperhitungkan untuk roda standard. Jika roda diperbesar, tidak ada jaminan aman, terlebih stoppernya sudah lembek atau tumpul.

      Namun demikian, umumnya kita mencari solusi supaya modifikasi kita berhasil. Dari 4 hal utama di atas, hanya nomor 3 yang tidak ada solusinya kecuali total ganti sumbu dari mobil lain yang lebih kekar. misalnya punya LC40.

      SOLUSI (1) dan (2) adalah ganti final gear dengan rasio yang sebanding. Saya tidak tahu rasio FG standard Taft. FG yang dibutuhkan adalah 33/28 x FG standard. Umumnya aftermarket menyediakan berbagai FG untuk modifikasi mobil offroad. Mungkin bisa cari di ebay untuk Daihatsu Rugger.

      SOLUSI (4) adalah kaki ditinggikan. Ini banyak caranya, dan akan dibayar dengan meningkatnya kelimbungan mobil. Untuk itu perlu pengukuran pasti sehingga tinggi mobil hanya naik sesuai kebutuhan. Caranya, angkat roda depan sebelah setinggi mungkin dan ukur setiap jarak kritis antara ban dengan bodi dan sasis sambil belok-belokan setir ke kanan habis dan ke kiri habis. Turunkan roda dan lepas per/pegas suspensinya untuk mensimulasi ketika roda kanan dan kiri naik. Ukur lagi semua jarak kritis sambil setir dibelok-belokan (manual dan hati-hati).

      Dari semua jarak kritis tersebut lantas diperhitungkan jika ban diganti 33″ apakah masih cukup. Jika tidak cukup, hitung kekurangannya untuk mendapatkan angka terbaik untuk nambah tinggi. Jangan lupa stopper juga harus disesuaikan. Jika masih cukup, maka tidak perlu ditinggikan. Jika masih cukup tapi kurang yakin, coba pasang ban 33 dan ulangi treatment ini.

      Roda belakang caranya sama, hanya tidak ada membelok-belokan setir.

      Semoga manfaat 🙂

  • Ewin
    Posted at 01:11h, 28 May Reply

    Saya banyak dapat pengetahuan dari penjelasan mas deru…. maaf ya mas…. mau nanya sedikit nih…. sepertinya mas deru bisa jelasin pada saya….. gini mas…. saya punya kijang kapsul LGX tahun 2002… sudah ganti tie rood…ball joint dan lahar…. komplit kanan dan kiri….serta sudah dispooring ….pada bagian per daunnya antingnya sdh lebih panjang (bukan anting standar)… mobil kalau diajak lari rasanya macam oleng ke kiri dan ke kanan…. kira-kira penyebabnya apa ya mas….apa karena spooring yang kurang tepat…atau perlu di balancing…. atau antingnya yg jadi masalah….?…saya coba searching penyebab mobil limbung terasa oleng banyak faktornya…. salah satunya kondisi mesin yg kurang sehat akibat setting yg salah…kondisi per yg sudah kurang baik….dan keadaan ban yang tidak rata….mohon penjelasannya mas…. saya takut juga bawa itu mobil dalam kecepatan tinggi… pada kecepatan 60 km/jam oleng dan limbungnya terasa…. kesannya mobil jadi liar dikendalikan…. troms ya mas…. saya di pekanbaru…..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:35h, 28 May Reply

      Oleng atau limbung ini sejak kapan? Sejak ganti anting tinggi? Ataukah pernah kena musibah dan sejak itu oleng?

      Saya pertanyakan itu karena kita umumnya “menerima” sifat bawaan mobil kita, terlebih jika kita miliki sejak baru. Umumnya kita baru “mengeluh” manakala mobil kita menjadi lebih buruk dari sifat bawaannya.

  • Ewin
    Posted at 01:19h, 28 May Reply

    Jadi bagian belakang mobil agak lebih tinggi dari bagian depan karena antingnya diubah oleh pemilik lama…..mobil terlihat menungging….he…he…he….apa yg hrs saya koreksi mas…? …dibuat standart lagi antingnya….atau koreksi ulang pemasangan komponen kaki-kaki yg diganti ? Spooringnya sdh 2 kali saya lakukan…. tapi blm dibalancing….kalau diajak lari setir tidak getar kok…. mesin rasanya oke saja…. nggak nyendat ….cuma terasa tak stabil karena limbung dan olengnya terasa……trims lagi ya mas…. saya masih awam utk urusan mobil ….harap maklum mas…. saya blm banyak pengalaman utk urusan mobil…. trims mas deru utk penjelasannya…..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:53h, 28 May Reply

      Oh, jadi oleng ini anda rasakan sejak mobil jadi milik anda? Ini ada beberapa kemungkinan. Suspect paling utama suspensi, yaitu anting yang ditinggikan. Tapi tidak menutup kemungkinan ada hal lain, misal sasis tidak balance atau sumbu roda depan dan belakang tidak sejajar karena pernah kena musibah. Namun sebelum menganalisa lebih jauh, ada baiknya anda jelaskan:
      (1) Apakah anda yakin oleng yang anda rasakan bukan sifat bawaan Kijang LGX?
      (2) Apakah anda pernah merasakan Kijang LGX yang masih normal?

      Mohon maaf saya pertanyakan 2 hal di atas, karena jika selama ini yang anda rasakan Mercedes atau BMW seri mewah, tentu semua jenis Kijang akan terasa salah he he he 🙂 Saya yang biasa bawa Jeep CJ7 lari 100KPH di tol, tentu Kijang LGX (standar) berani di atas 100KPH.

      O iya… setir tidak spoor (sejajar) memang bikin oleng dan merusak ban, lager, rem dll. Roda tidak balance juga lebih parah, bisa lepas di perjalanan. Namun roda tidak balance rasanya lain, ada guncangan yang mengerikan.

  • Ewin
    Posted at 04:28h, 28 May Reply

    Trims mas atas respon tanggap cepatnya… sebelumnya saya tidak tau normalnya apakah kijang kapsul memang punya bakat bawaan seperti yang mas deru sebutkan… apakah memang demikian?…apakah kijang kapsul punya bakat lahiriah limbung dan oleng?….dan bagaimana rasa normal bawa kijang kapsul lgx saya juga tidak tau… mas deru mungkin punya pendapat utk ini….kalau sampai menimbulkan guncangan mengerikan rasanya tidak sampai seperti itu mas….. trims…..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:57h, 29 May Reply

      Maaf terjeda mas Ewin. Maklumlah.. ada kesibukan lain. Oh iya, saya tanyakan 2 hal tempo hari, sebenarnya hanya bermaksud apakah anda yakin Kijang anda ini oleng yang tidak wajar. Karena pada dasarnya semua mobil bersuspensi per daun ada gejala limbung. Makin tinggi antingnya makin terasa limbungnya. Kijang hanya belakang yang per daun, depan IFS, tentu kalah oleng dibanding mobil yang depan dan belakang per daun. Pernah ada kawan mengeluhkan kelimbungan Jeep CJ7 nya. Setelah kopidarat, saya coba jeepnya, ternyata normal. Dia lebay karena seumur-umur baru kali itu bawa CJ7.

      Nah, jika mas Ewin yakin oleng Kijang anda tidak wajar, maka langkah pertama kembalikan dulu suspensinya ke standarnya. Antingnya diganti ke ukuran standard dan coba rasakan. Bila perlu coba rasakan Kijang yang sama milik teman atau siapa saja yang mungkin. Jika ternyata olengnya masih belum wajar, bisa dipastikan ada struktur yang tidak beres. Mungkin dulunya pernah kena musibah dan sasisnya menjadi tidak balance. Atau sumbu roda depan/atau belakang tidak lagi tegak lurus dengan arah hadapnya mobil.

  • ps cumplung
    Posted at 00:16h, 07 June Reply

    maaf saya gak sengaja liat thread agan, tp menrt saya suspensi perdaun emng udah d rancang sedemikian rupa jd gak perlu khawtr terjadiny geser” oleng atau andut” seperti yg sdr khawatrkn . jika sdr pernh bongkar per pasti paham yg saya katakan karena dasarny per daun itu di kunci di 5 titik. jauh beda ama shock axle. di kuncinya di dekat antr ujung per setiap ujung 1 klok gak salah di per nomer 5atau 4 kunciannya terus sepasang begol per yg buat ngunci per dengan selumbung dan terakhir 1 di tengah antar begol per yg buat ngunci agar per gk geser walau terguling sekalipun. jadi menrt saya buat apa di kasih kuncian kecuali sdr pny jeep yg hobby guling”an itu wajar tp as per itu susah bengkoknya kecuali sdr pke jeep terguling dg beban 7 ton itu mngkn atau terguling dr jurang. karena saya selama terguling jarng tuh as per sampe bengkok pdhl beban 9 smpe 10 ton. terus untuk penambhn anting” mnrt saya itu mlah berbahaya. karena sistim kerja per daun itu sangt berpengrh pda anting” jd anting” itu adalah stabiliser. saat per mndptkn tekanan anting” akan bergerak kebelkg tp saat per tanpa tekanan dia akan tegak terus agar per tidak bergerak ke kanan dan kekiri itu menrt saya jd pasti tau donx apa yg terjadi jika di ganti spring per. kemudian untuk shock per daun mnggunkn sistm yg lbh baik drpd spring axle krna shok per daun posisi mainnya di tengah jd saat miring ke kanan shock kanan akan mendorong agar tidak terguling dan shok kiri menarik untuk membantu shok knan beda dg spring axle yg hny mendorong semua jd menrt saya jika ingin mobil pny shok daun pngn empuk tp kekar bisa pke cara saya yaitu dg pngrn per inti tp memodifikasi dg pemasangn per ekstra jd saat mobil tnpa bebn mobil tetap empuk wlau tdk kyx mpv tp saat ad bebn per ekstra lh yg bekerja. mnrt saya kekurng per daun hanya 1 yaitu saat terjadi mobil keadaan miring kanan maupun kiri roda bergeser kebelkng sebelh untuk mngimbangi anting” tp jngn coba” membuat fungsi anting” mati karna yg terjadi per pasti patah. sekian yg saya tau jika saya ada kesalhn mohon di koreksi lg saya hanya bocah yg baru masuk di dunia otomotif. salam 3 pedal dr pengguna colt diesel ps 120 th 90 (ps cumplung)

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:54h, 07 June Reply

      Topik ini hanya memaparkan bagaimana mensiasati per daun bagi yang merasa kurang nyaman dengan kerasnya bantingan dan/atau instabilitas atau ketidakstabilannya. Sama sekali bukan meragukan kekuatan per daun. Alasan menulis topik ini karena saya sering jumpai teman-teman yang:

      (1) Mengganti anting tinggi (karena pakai ban besar) tapi makin merasakan mobil limbung
      (2) Mengurangi bilah supaya empuk tapi bolak-balik ngepress
      (3) Menceperkan dengan mengurangi bilah tapi ada rasa sempoyongan ketika mobil digeber
      (4) Membaliknya di atas as (pikul) dan mengurangi bilah supaya empuk tapi ada rasa sempoyongan ketika mobil digeber

      Nomor 3 dan 4 sangat berbahaya!!! Rasa sempoyongan ketika mobil digeber adalah gejala wrapping. Mobil bisa benar-benar terbalik lho. Oleh karena itu perlu kita siasati dengan. Tetapi bagi kita yang menyadari dan menerima apa adanya, saya rasa itu lebih baik 🙂

  • Marsa Prathama Kusnandi
    Posted at 19:00h, 13 June Reply

    saya mau tanya mass… mobil saya chevrolet trooper suspensi belakangnya kan masih per daun waktu itu daun dari per daunnya di kurangi tapi malah cepet rusak shockbrekernya nah sudah di tambah lagi ke standart pabirknya tapi kenapa shockbrekernya cepet rusak juga yaa?

    nah saya juga mikir apa karena parkiran mobil saya engak rata soalnya saya parkir di tempat yang lumayan bergelombang

    jadi salah di suspensinya apa di lahan saya parkirya….? mohon pencerahannya terimakasih???

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:34h, 13 June Reply

      Umur shockbreaker adalah sekian ribu kali kocokan. Makin lama pemakaian, makin banyak kocokan. Makin sering lewat di jalan rusak atau offroad juga makin banyak kocokan. Intinya sesuai pemakaian.

      Namun sayang sekali kadang mobil jarang dipakai juga cepet rusak. Malah lebih cepat. Shockbreaker yang masih baru, diam bertahun-tahun di toko nggak masalah. Tapi begitu kita pasang, dipakai beberapa kali, trus nganggur lama malah rusak. Pasalnya, ketika masih baru, logam liner-nya terlindung lapisan pelicin dan antikarat. Setelah dipakai, lapisan tsb aus. Jika nganggur terlalu lama, karet seal maupun logam lain yang bertempelan menjadi lengket oleh karat. Begitu dipakai lagi, mirip diamplas. Sehingga bocor dan kompresinya menurun dan daya redamnya habis. Bisa juga macet sehingga suspensi terasa keras.

      Prinsip kerusakan karena lama nganggur juga berlaku untuk piston mesin, plat kopling (clutch), sepatu rem, karet-karet seal maupun ganjal, lager (bearing), klep dll. Sehingga yang terbaik, kendaraan bermotor, sebaiknya setiap hari dipakai, tapi tidak digeber atau konyol di tempat macet. Jika aktivitasnya tidak tiap hari, usahakan jangan sampai seminggu nganggur. Memanasi hanya dengan menghidupkan mesin hanya menolong mesin. Memanasi yang harus jalan, sehingga semua komponen kerja.

  • Ewin
    Posted at 02:55h, 18 June Reply

    Terima kasih banyak mas…. kmrn sy tunggu2 jawabannya…. baru ini jg sy search ulang …bermanfaat sekali utk saya…. kalau coba mobil lain (kijang kapsul lgx) sy blm pernah… cuma dulu sy prnh pake mobil dinas ortu ….kijang super G tahun 96… rasanya kalau dibandingkan jauh beda ( fokus pd limbungnya)… lbh stabil kijang super G ortu… entahlah krn mobilnya baru ya… ( saat itu baru dibeli dari showroom) …. 3 hari lalu sy coba minta pndpat bengkel lain … dia cek bagian kaki2 depan…ternyata temuannya adalah “ini udah pernah terbentur as pikulnya…. lihat sdh tdk rata besinya…” bgtu kata mekanik bngkel tsb…sy lihat mmg as pikulnya sdh tdk mulus lagi kelurusannya… terutama sebelah kiri….lalu dia jg blng kalaupun dispooring takkan hilang gejala oleng/limbungnya (saat kcptan di atas 60 kph dst)…. mobil sy tdk prnh insiden/ tabrakan sblumnya mas… mekanik sy udh cek hal itu…sarannya as pikul tsb hrs dibawa ke bengkel khusus utk diluruskan….baru kapak2 nya diganti baru…. mnrut mas deru ada cara lain nggak utk menstabilkan as pikul tsb? Kalau sy lepas setir pelan2 mobil lari ke arah kiri….Sy tanya biaya jasanya lumayan besar utk perbaiki as pikul tsb….kisaran 800 rb – 1.5 jt….dananya blm ready…apakah kl sy spooringkn sj mslh bisa teratasi dgn siasat trtentu dari bengkel spooring?… apakah kalau mobil tsb sy bawa jalan keluar kota ( mudik) aman? Sy takut juga mas… mana tau ban/ rodanya lepas waktu saya bawa agak kencang dikit….ball joint…lahar….tie rood serta tie rood end udh diganti….moga mas deru bisa kasi pencerahan…. tentu sj sy ucapkn terima kasih atas masukannya…. dan hanya Dia yg di atas yg akan memberikan balasan atas kebaikan mas deru….. salam kenal dari saya mas….

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 04:00h, 18 June Reply

      Temuan bengkel itu hanya yang kasat mata, ada bekas benturan. Kita belum tahu cacat lain yang tidak kasat mata. Jika ternyata sasisnya sudah genjang atau mlintir, meskipun hanya beberapa millimeter, sumbu as diperbaiki 1.5juta juga tidak ada jaminan bakal sembuh.

      Sebelum lari ke struktur lebih serius, saya ada pertanyaan lain. Apakah ada rasa manggut-manggut ketika dibawa lari? Jika ada, boleh jadi kopel cardan bengkok dikit atau tidak balance. Mem-balance kopel tentu lebih ringan biayanya.

  • Ewin
    Posted at 05:07h, 18 June Reply

    Trims sblumnya mas…. maaf kmbli meminta waktu dan pikiran mas deru…. saya udh prnah bawa mobilnya sampai 100 kph (keluar kota wktu mobil ini baru saya beli)……saat itu mmg sy udh rasakan mobil agak liar….limbung….cuma saya tdk pedulikan….nah…. mslh kaki2 baru ketauan wktu saya ganti kampas rem depan saat kmbli dari luar kota….orang bengkel bilang lahar… tie rood….dst minta ganti… mobil saya bawa dgn kecepatan sedang juga sering (sekitar 30 -50 kph dlm kota)….rasa saya tidak ada kesan manggut-manggut nya pada mobil…..biasa saja dan lancar jaya…. prnh juga saya pakai persnelling 2 at 3… pedal gas tdk saya injak… mobil jln sesuai stationer/ idle nya saja… manggut2 nya jg tdk ada….kecuali waktu saya turun gas ….. tentu saat itu ada engine brake…. rasanya wajar juga kok mas…. tdk manggut2 kali…. kalau yg tak kasat mata kira2 pd komponen yg mana mas?…. krn kmrn waktu dicek oleh orng bengkel (yg bilang as pikulnya udh kena) menurut saya dia teliti betul…. saya malah disuruh gerak2kan setir ke kiri dan ke kanan (mesin hidup) sementara dia mengamati dari kolong mesin…..baru setelah itu dia simpulkan as pikulnya udh kena. (Setelah pengamatan dari kolong mesin sambil posisi berbaring sekitar 15 menit)
    ..demikian mas deru…. selamat menjalankan ibadah puasa……

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:12h, 18 June Reply

      Kalo gak manggut-manggut, berarti kopel masih OK. Berarti ini lumayan serius. Sekali lagi, sebelum melangkah lebih serius ke struktur, bagusnya dicoba pasang lagi anting standardnya dan rasakan bedanya. Anting tinggi itu bikinan tangan, kadang tidak melalui pencermatan teknik yang memadahi.

      Saya percaya bengkel sangat teliti. Tapi selama hanya menggunakan visual, tidak ada jaminan semua masalah bisa terdeteksi. Dugaan bengkel as pikul karena ada cacat di situ. Btw, saya gak tahu apa itu as pikul?

      Jika bengkel berani garansi hanya komponen itu (as pikul?) yang cacat, mungkin 800rb – 1.5juta tidak percuma. Begitu beres langsung jual, dan beli lagi yang tidak cacat. Tapi saran saya anting standard dikembalikan dulu.

      Yang saya kuatirkan, sasisnya juga sudah kena. Jika sasisnya genjang atau bengkok atau mlintir beberapa milimeter, saya yakin gak kasat mata. Tapi efeknya luar biasa. Karena ini masalah struktur.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:16h, 18 June Reply

      OK, berarti bukan masalah kopel. Sekali lagi, sebelum melangkah lebih serius ke struktur, bagusnya dicoba pasang lagi anting standardnya dan rasakan bedanya. Anting tinggi itu bikinan tangan, kadang tidak melalui pencermatan teknik yang memadahi.

  • Ewin
    Posted at 00:56h, 19 June Reply

    Malam mas… saya lupa sampaikan kemarin…. antingan per sdh diganti standar sblumnya…. baru stlah itu mekaniknya bilang as pikulnya udah kena…. as pikul itu yg ada di bagian depan lho mas….besi yg menghubungkan antara besi rangka kanan dan kiri …. dan dia merupakan tempat dudukan kapak kapak bawah…..waktu diganti ayunan /anting per dgn yg standar limbung atau olengnya berkurang sedikit…. tapi msh terasa di kecepatan 80 kph…bagusnya bgmana ya?… rencana saya mau sy sporingkan dulu… krn setir narik ke kiri waktu dilepas….saya suka dgn mobil ini…. jadi mau saya benahi pelan2… sekarang ini menurut saya ketidaknyamanannya adalah pada kaki kaki saja… utk msalah mesin insyaAllah tidak ada kendala…..sebaiknya saya cek kemana ya?… menurut mas apa perlu saya kumpulkan dulu beberapa pendapat bengkel?… pernah juga ada mekanik yg bilang bos kapak2nya udh kena… kmdian mekanik lainnya bilang as pikulnya kena…. cuma sepanjang ini sepertinya pendapat mas deru lebih komprehensif… bantu lagi ya mas…. sudah 2 mekanik atau bengkel tempat saya “curhat” utk masalah ini… lewat mas deru saya dapat masukan lainnya…. trims mas… salam hormat saya…..

  • Ewin
    Posted at 01:04h, 19 June Reply

    O ya mas… saya tambahkan lagi…. keinginan saya pada kaki-kaki mobil ini adalah supaya kaki-kakinya lebih “lengket” lagi ke tanah…. menapak dgn mantap…..mekanik yg bilang bos kapak-kapaknya minta diganti kemarun itu jg sekalian menspooring kan secara manual mobil saya…. katanya tdk usah dispooringkan lagi…. sementara mekanik yg bilang as pikulnya udh kena mengatakan bahwa tegak roda depan tdk bagus…udah miring… makanya mau sy coba sporingkan dulu…. biaya spooring si pekanbaru berkisar 100 -110 ribu…. (mudah-mudahan stlh dispooringkan masalah teratasi)…. trims mas deru…. wassalam….

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:54h, 19 June Reply

      Oh.. as pikul itu anak-tangga (cross member) sasis? Trus kapak-kapak bawah itu apa? Lengan ayun bawah (lower arm)? Ataukah torsion bar (pegas torsi) yang nyambung dengan lengan ayun bawah?

      Btw, untuk mengkerucutkan masalah ginian, spooring dan balancing hukumnya wajib. Malah balancing juga sebaiknya depan belakang.
      Coba kita timbang dari proyeksi vetikalnya… Caranya, pastikan dulu 4 ban yang terpasang sama. Depan kanan dan kiri harus sama tekanan anginnya. Belakang kanan dan kiri juga harus sama tekanan anginnya. Di dalam jangan ada beban atau muatan apapun. Parkirkan mobil di tempat yang benar-benar datar rata dan keras. Lantas tandai titik pijak roda depan kanan sebagai FR, kiri FL, dan roda belakang kanan RR dan kiri RL seperti pada gambar. Selanjutnya pindahkan mobil dan ukur jarak FL-RR dan FR-RL seteliti mungkin seperti garis merah pada gambar.

      Jika ternyata jarak FL-RR dan FR-RL sama, berarti tidak ada genjang dari proyeksi vertikal secara visual. Tapi genjang horizontal masih belum ketahuan. Sulit kalo sasis tidak dilepas. Tapi setidaknya masih ada rasa optimis untuk memperbaiki cross member yang bengkok.

      Jika ternyata jarak FL-RR dan FR-RL gak sama, jual saja.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:26h, 19 June Reply

      Selanjutnya menimbang genjang dari proyeksi horizontal cara sederhana. Namun cara ini hanya akurat jika pegas per kanan dan kiri masih sama tegangannya. Susahnya untuk mobil yang sudah dipakai tidak ada jaminan tegangan pegas per kanan dan kiri masih sama.

      Parkirkan mobil kembali di tempat tsb. Ukur tinggi sasis dari landasan. Mengukur tinggi harus benar-benar tegak lurus. Untuk menjamin tegak lurus, gunakan dongkrak saja, gak perlu pakai meteran. Pilih satu titik di sasis bagian belakang kanan, lantas tempatkan dongkrak di bawahnya. Pompa dongkrak tsb sampai menyentuh titik yang telah ditentukan tadi. Jangan sampai mengangkat. Jika dongkraknya kurang tinggi, ganjal dengan balok yang benar-benar berbangun balok.

      Setelah ujung dongkrak mencapai titik, ambil dongkrak tsb tapi jangan dikempesin. Tempatkan dongkrak tsb (beserta ganjalnya) di titik lawannya di belakang kiri. Nah, harusnya ujung dongkrak juga menyentuh titik sasaran seperti yang kanan tadi.

      Ulangi untuk bagian depan kanan dan kiri dengan cara yang sama.

  • Ewin
    Posted at 04:01h, 19 June Reply

    Trims mas…. nanti saya coba lakukan seperti saran mas…. ntar saya laporin lagi hasilnya ya mas…. kalau pun hasilnya tdk spt yg saya harapkan saya pastinya juga laporkan pada mas deru…. semoga ilmu yg mas deru bagikan pada forum ini terutama pada keluhan saya dibalas dengan pahala dari yang di Atas…. amin….selamat bersantap sahur mas…. saya baru mau sahur nih…..

  • aryo dimas suwarso
    Posted at 19:55h, 24 June Reply

    Kalimatnya terlalu bertele tele susah dimengerti…..

  • Hana
    Posted at 18:47h, 02 July Reply

    Mas Deru, izin bertanya ya….

    Saya pengguna kijang LGX 2003. Yang ingin ditanyakan, secara visual nampak jika roda belakang kiri posisinya lebih kedalam sedangkan roda belakang kanan lebih keluar, itu kira-kira kenapa ya? Sama satu lagi, juga secara visual posisi roda kanan belakang posisinya lebih dekat ke sepakbor bagian belakang (tidak center di tengah), sedangkan roda kiri masih center. Setelah diukur pake mistar, ternyata posisi ujung kiri dan kanan gardan tidak sama (ada selisih kurang lebih 5 mm diukur dari posisi kaitan statik). Kira-kira apa penyebabnya? Mungkinkah bisa disetel kembali agar sejajar? Terima kasih sebelumnya…

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:17h, 03 July Reply

      Roda tidak simetris kanan dan kiri secara visual bisa karena rangka sasis bengkok atau genjang. Tapi karena visual bisa tertipu, bisa juga sebenarnya bodi yang sudah tidak simetris. Biasanya bodi yang sudah banyak tambalan, kadang tukang bodi mementingkan kelurusan bodi, tidak berpatokan pada roda.

      Namun pada umumnya mudah dibedakan. Jika bodi yang mencong, dibawa jalan tidak terlalu terasa. Paling-paling ada rasa kecenderungan ke kiri atau ke kanan, bila mencongnya sudah berlebihan. Tapi ada kalanya sama sekali tidak ada rasa aneh.

      Tapi jika sasis yang mencong atau genjang, dibawa jalan terasa lebih limbung dan tidak stabil. Makin besar genjangnya, makin parah limbungnya. Nah sekarang bagaimana rasanya? Ada rasa limbung?

      Untuk lebih meyakinkan, lakukan pengukuran seperti reply saya kepada mas Ewin tertanggal 2017/06/19 at 1:54 am di atas.

  • Hana
    Posted at 03:45h, 03 July Reply

    Terima kasih penjelasannya, mas Deru.
    Saya sudah membaca penjelasan sebelumnya untuk mas Erwin. Sejauh ini yg saya rasakan tidak ada gejala limbung, baik kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi. Pernah waktu itu setir membawa ke kanan tapi teratasi ketika dilakukan spooring. Jadi ini masalahnya memang secara visual saja dan ketika dilakukan pengukuran ada selisih jarak antara ujung gardan dengan posisi kaitan statik.
    Oiya lupa disampaikan, sejauh ini bodi juga tidak mecong, mas. Hehehe.
    Nanti saya akan coba ukur jarak FL-RL dan dibandingkan dengan FR-RR.
    Terima kasih sebelumnya mas…

  • MUNANDAR MAMUN
    Posted at 15:25h, 05 July Reply

    Maaf Pak Deru sudibyo,

    Mohon pencerahannya. Mobil saya ford everest 4×4
    saya perhatikan belakangan ini posisi roda belakang sebelah kanan lebih menonjol keluar padahal ukuran dan ofset velg sama semua bahkan ukuran ban juga sama.

    Q : apakah mungkin letak Gardan belakang tsb bergeser ?
    jika bergeser apa solusinya pak.

    terimakasih penjelasannya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:23h, 06 July Reply

      Bumbung as/gardan tak mungkin bergeser ke kanan/kiri kecuali braket per-nya somplak atau baut clamp pernya lepas. Untuk yakinnya sebaiknya diintip. Namun bisa juga bila anting per doyong ke kiri/kanan. Itupun gak terlalu kelihatan kecuali anting tinggi. Anting doyong pasti karena bushingnya rusak.

      Nah… jika semua itu tampak normal, satu-satunya kemungkinan adalah as kanan geser keluar. Inipun mustahil terjadi untuk jenis as yang dikancing dengan c-clip di gardan. Ini hanya mungkin untuk jenis as yang hanya dipegang oleh bearing kuncup (taper) seperti pada mobil-mobil bikinan Amrik. Mobil Jepang jarang yang seperti itu. Berhubung Ford bikinan Amrik, barangkali model asnya seperti itu. Maka coba didongkrak dan digoyang rodanya. Jika goyang, berarti bearing rusak dan harus diganti.

      Jika tidak goyang, coba dilepas rodanya dan tromolnya. Siapa tahu tidak goyang karena keganjel tromol. Jika bearingnya memang sudah rusak, tanpa tromol pasti sangat terasa jika as digoyang ujungnya.

      Ini juga jawaban alternatif untuk mas Hana dan mas Ewin, meski mobil mereka Kijang.

      Namun demikian, bearing rusak, gejala utamanya adalah suara gemuruh. Ketika rusaknya sudah parah, maka ada gejala ngerem. Ini akibat tromol terdorong ke atas karena bearing sudah longgar. Sehingga tromol bertumpu pada sepatu rem.

      Jika semua analisa di atas tidak ada yang masuk, boleh jadi sasis genjang atau bodi mencong. Silakan simak jawaban saya untuk mas Ewin soal sasis genjang dan bagaimana mengukurnya.

      Sasis genjang bisa jadi karena musibah. Sedangkan bodi mencong mungkin karena penyok dan reparasinga tidak simetrik. Atau bisa jadi karet bodi rusak.

  • Agung Herdianto
    Posted at 05:46h, 06 July Reply

    Salam kenal P Deru. Maaf Pak, mobil sy kijang super short th 91. Karena sy pengen tampilan kijang kelihatan gagah, makanya mobil sy naikan dg mengganjal perdaun blk dan menaikan torsi depan. Velg sy tetep pakai std 14″ yg sy padu dg ban Forceum tapak offroad. Yg ingin sy tanyakan. Apakah shockbeker dpn dan blk perlu diganti dg yg lebih panjang travelnya, krn klo sy lihat posisi stdby, shockbekernya tinggal sekitar 2cm travel naiknya sdh mentok. Naikannya pun jd sedikit ginjal2/mumbul2 dan limbung. Kira2, shockebekrnya perlu diganti apa tidak, jika perlu pake apa dan bagaimana supaya naikannya bisa kembali empuk/nyaman lagi baik dijalan aspal maupun makadam.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:42h, 08 July Reply

      Sockbreaker memang harus sesuai panjangnya langkah suspensi, untuk menghindari posisi roda menggantung ketika harus mencapai landasan. Gejalan serasa mumbul itu akibat roda tidak mencapai landasan yang legok, sehingga mobilnya ikut turun/jatuh ke landasan tsb.

  • Ade gombloh
    Posted at 01:54h, 08 July Reply

    Assalamu’alaikum om daru. Salam kenal dr kalimantan. Mohon pencerahanx. Q punya jimkat th 92 , klo per depan yg asli per daun diganti dg per keong berikut lower armnya kr” yg pas punya mobil apa ya. Trs kisaran hargax berapa. Mksd sy biar perx bs independen, ga rigid lg

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:43h, 08 July Reply

      Walaikum salaam. Ini maksudnya mau mengganti per daun ke per keong apa merobah total menjadi independent. Saya pertanyakan hal ini karena banyak salah pengertian soal per keong dan independent. Rigid jadul memang semua per daun.

      rigid vs IFS

      Sejak tahun 90an, banyak rigid yang per keong, seperti pada gambar (1). Contohnya LC80 VX/GX depan-belakang, LR Defender depan-belakang, Patrol Safari 90 up depan-belakang, Jeep XJ depan, Jeep TJ/JK depan-belakang dll.

      Sedangkan independent modelnya sayap melintang seperti gambar (2). Contohnya Kijang, Avansa, Rush, Fortuner, Pajero sport, Taft/rocky 96 up dll. Umumnya hanya depan yang independent, makanya sering disebut IFS, independent front suspension. Perlu dicatat pula bahwa independent juga tidak semuanya per keong. Malah paling banyak menggunakan torsion bar.

      Mobil tahun 2000 up umumnya kombinasi, depan IFS dan belakang rigid dg per keong. Contohnya LC100, Fortuner, Pajero Sport dll

      Jimny Katana konstruksi sasisnya untuk rigid. Harus ada perubahan total untuk menjadi IFS. Mungkin akan lebih baik pinjam sasis mobil lain yang seukuran dari jenis IFS.

  • Ade gombloh
    Posted at 21:34h, 08 July Reply

    Mksh jawabanx om daru. Seandaix dibikin ifs dg chasis masih punya aslinya kira” cocokz mengaplikasi punya apa. Dan kira” total habisx brp

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:47h, 08 July Reply

      Wah sori tidak tahu. Harus survey dulu. Tapi kalo bukan 4×4 sih lebih mudah, karena tidak memasang gardan di depan. Mungkin kalo ada sasis copotan Avanza atau Suzuki Carry bagian IFSnya dilepas dan ditemplokin ke sasis Jimny. Resiko yang mungkin adalah lebar sumbu depan tidak sama dengan belakang. Soal biaya sangat relatif.

  • ade gombloh
    Posted at 12:56h, 16 July Reply

    Om daru seandaix suspensi depan dibikin double wishbone dg menggunakan punya suspensi depan L300 set (upper + lower arm, knuckle, spindle, whell hub ). Bisa ga ya, untuk masalah cross member tempat dudukan swing arm dibikin sendiri. Dan untuk recoil springx menggunakan suspensi cabin truck. Sementara untuk bagian belakang tetap menggunakam gardan asli, gardan kita ikat diantara chassis biar permanent atau tidak bergerak seperti punya gardan mobil mobil yg berpenggerak roda depan. Axle kita potong kanan kiri. Dan agar ayunan double wishbone berfungsi dg baik maka shaft penghubung whell hub kanan kiri kita pakai drive shaft penghubung transmisi dan gardan dengan tetap menggunaka spider joint agar panjang dr shaft tsb dpt kita sesuaikan. Untuk knuckle set kita pakai knuckle berpenggerak roda depan yg sdh mengaplikasikan double wishbone. Mohon pertimbanganx, kira” apa kelebihan dan kelemahan pemikiran sy ini. Sebab sy begitu cinta buta dg jimkat saya ini, smpai begitu butax ingin agar jimkat sy punya tampilan macho buat harian tanpa blh kena lumpur. Dan yg lbh pasti rasa sedan. Thax…..salam wushzt wushzt wushzt…..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:11h, 17 July Reply

      IFS-nya L300 rasanya akan terlalu keras karena bobot Jimny jauh lebih ringan. Ada spindle an nempel gardan di cross member, apa Jimny-nya 4×4?

  • antonbrc
    Posted at 08:12h, 17 July Reply

    salam sejahtera .
    Mas untuk memperkuat kaki jeep cj7 pada per yang lemah gimana ya soalnya udah berkali keluar masuk tukang per hasilnya nol apa harus ganti baru, kalau ganti baru dipasaran apa masih ada + rencana akan menggunakan ban ukuran 31 biar tidak ngepres dengan slebor. mohon pencerahan trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 09:01h, 17 July Reply

      Per Jeep CJ7, terutama belakang, memang konyol. Bantingannya terasa lebih keras (ketimabng depan) tapi mudah sekali menjadi ceper. Dulu saya juga bolak balik ngepress, paling setengah tahun sudah ceper lagi. Bukan saja jadi makin keras, tapi tampilan juga “mendongak” jelek. Tapi kalo ditambah bilahnya akan semakin keras.

      Akhirnya yang saya lakukan adalah mengganti bilah nomor 4 dengan yang lebih tebal. Terbukti sampai sekarang lengkungnya tidak berubah. Bantingan sedikit tambah keras. Tapi masih lebih empuk ketimbang Taft/Rocky. Untuk menjamin jeep tidak mendongak, anting belakang diganti anting tinggi. Terbukti lama pakai ban 31 tidak masalah. Sekarang pakai ban standard, karena di mata saya Jeep CJ7 kurang gagah jika kegedean ban.

  • antonbrc
    Posted at 10:45h, 17 July Reply

    mengganti bilah nomor 4 dengan yang lebih tebal, maaf itu punya cj7 juga ya atau pakai lainya soalnya kalu pakai panther misalnya lebar daun per selisih 0,5 cm.
    untuk ban standar ukuran berapa ya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 11:26h, 17 July Reply

      Bukan. Entah punya apa lupa. Pilih bahan dan ngukur sendiri di tukang per. Kebetulan nemu yang cocok lebarnya tapi ebh tebal. Lantas potong dan dilobangi sendiri. Ban standard yang saya maksudkan diameternya standard, yaitu 28″. Aktualnya bisa 235/70-R15 atau 225/75-R15 atau yang lain lagi jika ada. Asal tidak melebihi 30″ saya rasa masih gagah buat Jeep CJ7, YJ atau TJ. Kalo ada justru yang tapaknya tebal (245 ke atas). Makin tebal makin gagah.

    • antonbrc
      Posted at 11:31h, 17 July Reply

      mengganti bilah nomor 4 dengan yang lebih tebal, maaf itu punya cj7 juga ya atau pakai lainya soalnya kalu pakai panther misalnya lebar daun per selisih 0,5 cm.
      untuk ban standar ukuran berapa ya
      untuk tinggi anting per berapa cm mas, matur nuwun.

  • Ewin
    Posted at 02:38h, 24 July Reply

    Asslmkm mas deru….semoga sehat2 selalu ya…. mau lapor kembali nih mas… ternyata keluhan2 saya kemarin penyebabnya adalah pada as pikulnya mas… itu lho mas….besi yang merupakan tempat dudukan/tautan kapak2 bawah (lower arm) kanan dan kiri…. kalau di sini disebut as pikul….rupanya as pikulnya itu sudah tidak lurus lagi alias sudah penyok karena menghantam benda keras… tak taulah apa yg dihantam sama pemilik sebelumnya…. mungkin batu besar yg keras…mungkin trotoar…atau mungkin juga aspal yg mencuat di bagian tengah…. jadi saya bawa ke bengkel las khusus konstruksi mobil dan as pikulnya dibenarin kembali… diluruskan…. untunglah mekaniknya berpengalaman….hasilnya tidak mengecewakan walapun ongkosnya mahal….td saya test sampai 100 kph insya Allah limbung dan liarnya sdh tidak ada lagi mas…. alhamdulillah….trims ya mas atas masukan2nya kemarin…. sukses selalu mas dan sehat2 selalu juga….. salam hormat saya…..

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:33h, 24 July Reply

      Alhamdulillaaah… yang penting problem sudah solved. Terimakasih feedback-nya. Semoga perjalanan cerita yang tuntas dari awal hingga solved ini bisa menjadi rujukan pembaca lain yang memiliki keluhan serupa. Teori bisa dibaca, sumbernya banyak. Tetapi pengalaman hanya bisa didapat setelah mengalaminya sendiri atau dari orang lain yang mau berbagi.

      Intinya, karena palang dudukan sayap bawah (lower arm atau lower wishbone) bengkok, titik jejak 4 roda menjadi genjang (tidak saling siku). Teori mengatakan pasti stabilitas terganggu. Tentang bagaimana “rasa” gangguan itu hanya mereka yang benar-benar pernah mengalaminya saja yang tahu, seperti mas Ewin.

      Karena fakta di lapangan mungkin saja terkontaminasi dengan efek lain seperti misalnya salah satu atau kedua sayap macet karena arah ayunan tidak akur dengan arah as-nya. Terlebih yang menggunakan torsion-bar, bisa ada kecenderungan membengkokkan bar tsb. Boleh jadi pula tie-rod menjadi ketarik/kedorong setiap kali sayap berayun.

  • Ewin
    Posted at 19:21h, 24 July Reply

    Sip mas…ngomong2….selain “suhu” pada kaki-kaki…..bisakah mas deru jadi “suhu” juga utk urusan dapur pacu?…..he…he…. jadi di forum tanya jawab ini bisa saling tukar menukar pendapat…..utk urusan mesin mas….

  • januarry
    Posted at 17:21h, 20 August Reply

    Maaf boss.. Klo goyangan/ayunan terlalu berlebihan pada panther 2,3 itu karena per daun apa karena shockbreakernya boss..?? Makasih sebelumnya…

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 18:57h, 21 August Reply

      Maaf baru balas. Kalo tidak ada perubahan tiba-tiba goyangannya berlebihan, yang paling mungkin shockbreaker sudah terlalu lembek atau mati (keras). Coba diperiksa dulu.

  • Nanang sy
    Posted at 09:38h, 13 September Reply

    Utk modifikasi per daun suspensi belakang kijang diesel dganti spiral apakah memungkinkan dan gimana faktor keselamatanny pak…

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 14:10h, 13 September Reply

      Lihat jarak antara rangka sasis dengan roda. Yang ideal jika rangka sasis dekat dengan roda. Artinya, ada ruang cukup di balik rangka sasis untuk memasang dudukan per bagian atas.

      Jika tidak cukup ruang, maka dudukan per bagian atas dicangkok di batang rangka sasis itu sendiri. Supaya langkahnya cukup panjang, maka dudukan bawah jangan di tube (bumbung) as, tetapi di lower arm. Bisa di depan atau di belakang bumbung. Sayangnya, posisi per jadi terungkit-ungkit. Jika barang kawe, per akan cepet bengkok.

  • anton
    Posted at 10:40h, 18 September Reply

    Asslmkm mas mohon pencerahan,
    posisi anting per Cj7 yang Depan sebelah kanan tidak tegak lurus (miring)
    1. apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya ?
    2. kalau itu biarkan apakah dapat menyebabkan patah pada per ?
    mtr nwn.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 12:18h, 18 September Reply

      Maksudnya miring ke kanan/kiri? Kalo iya, berarti ada yang salah. Bisa salah pasang, bisa salah barang, atau bisa karena kerusakan.

  • anton
    Posted at 12:41h, 18 September Reply

    miring ke keri mas kira apanya ya kalaau harus ganti per apa harus semua atau yg no 1 aja trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 12:50h, 18 September Reply

      Coba dicopot pernya kanan dan kiri, diukur di bawah apakah masih sama. Mudah2 beda, sehingga tinggal dicariin yang sama. Nahasnya kalo ternyata sama, berarti rumah/bumbung gardan bengkok atau sasis bengok.

      Ujung rangka sasis Jeep CJ7 termasuk sangat lemah jika dibanding TLC hardtop maupun Daihatsu Taft/Rocky/Rugger. Cross membernya hanya lembaran plat 3mm tanpa siku ke bawah.

  • Gustav
    Posted at 15:02h, 03 January Reply

    Bagaimana aplikasi di toyota kijang 1995?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:39h, 05 January Reply

      Kijang suspensi depan independent, sehingga secara umum sudah termasuk stabil. Yang perlu ditingkatkan adalah suspensi belakang, karena per daun, yaitu dengan memasang track bar. Hanya saja, yang perlu diperhatikan, bodi Kijang tahun 1995 bukan bikinan Toyota. Rangka sasisnya masih tersusun dari kanal C dengan struktur lurus seperti truk. Sehingga per daun (belakang) ‘terpaksa’ harus model pikul, yaitu per di atas gandar, yang tentunya menambah kelimbungan. Sehingga pemasangan track bar hanya sekedar mengurangi kelimbungan, bukan meniadakan.

  • adhy nugroho
    Posted at 10:16h, 04 January Reply

    salam kenal mas deru, mau tanya tanya mas, di per daun truk khususnya isuzu, itu ada tanda + , – , dan o, itu maksutnya apa ya mas..??
    apakah sama saja/ ada maksud lain dengan adanya tanda tersebut, terima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:47h, 05 January Reply

      Saya belum pernah lihat mas. Boleh bagi fotonya?

      • adhy
        Posted at 11:34h, 06 January Reply

        sudah mas deru, saya sudah dapat jawabannya, ternyata itu hanya kode dari vendor per tersebut, terima kasih, maaf sudah merepotkan,

  • Farhan
    Posted at 09:27h, 07 April Reply

    Om maunanya mobil saya katana 92 rencana ppengemndiceperin pake ban 65 ring 15,, kira2 apa aja yg harus dilakukan ?? Maklum masih awam banget makasih om deru

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:06h, 19 April Reply

      Maaf baru baca, maklum ada kesibukan.
      PenCEPERan, umumnya yang dikorbankan suspensi. Katana karena per daun lebih mudah, cukup dengan di-press pernya supaya lempeng. Kalo masih kurang, bilah per dikurangi. Kalo masih kurang, di-press lagi lengkung ke atas, sehingga suspensi nyaris gak main sama sekali. Tentu lingkar roda disesuaikan.

      Saran saya, gak usah lah… Ada 2 kerugian, yaitu (1) merusak mobil dan (2) mengganggu kendaraan lain yang di belakangnya ketika di jalan rusak atau banyak polisi tidur.

  • Rahmad arif
    Posted at 23:19h, 16 April Reply

    Assalamualaikum
    Bang deru, semoga Allah selalu memberi rahmatNya..
    Saya rahmad bang mau nanya apa track bar itu cukup dipasang 1 sisi aja apa 2 sisinya perlu ditrack bang?
    Mobil saya panther new higrade..
    Bntu pencerahannya ya bang deruu ☺

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:11h, 19 April Reply

      Maaf baru baca, maklum ada kesibukan.
      Walaikum salaaam. Aamiiien YRA, terimakasih 🙂
      Track bar harus dari satu sisi saja. Kalo 2 sisi dipasang trackbar berhadapan, akan membentuk penyangga “X” dan mematikan suspensi.

  • FACHRUDIN FANANI
    Posted at 18:08h, 18 April Reply

    Salam kenal dari malang mas deru, saya punya kijang super 96. Ada rencana untuk merubah sistem suspensi seperti kijang innova. Mohon saran dari mas deru, karena saya rasa kijang innova adalah mpv ternyaman saat ini, atau ada saran lain dari mas deru. Terima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 22:35h, 19 April Reply

      Maaf baru baca, maklum ada kesibukan.
      Mau diganti per keong? Pada dasarnya semua rigid axle bisa diganti per keong, baik konfigurasi 3-link maupun 5-link, selama bisa menempatkan kedudukan per dengan benar. Kalo mau nyontek Innova atau Fortuner, berarti per duduk di lower arm dan topinya nempel di bawah rangka sasis. Ini paling mudah, tidak merobah struktur rangka.

      Kalo nyontek LandCruiser atau Jeep JK, per duduk di songsong as dan topinya di sisi dalam rangka sasis. Topi sedikit lebih tinggi dari rangka sasis supaya panjang per memadahi.

      Jeep TJ, per duduk di songsong seperti LC dan JK, tapi topinya nempel di bawah rangka sasis seperti Fortuner/Innova. Lengkung rangka sasis lebih tinggi supaya panjang per memadahi.

      Nah … yang perlu diukur lebih teliti adalah seberapa panjang per yang bisa diadopsi berhubung (kalo gak salah) Kijang super rangka sasisnya lurus dari bahan kanal c. Dengan per daun saja, posisi per harus di atas as dan rangka sasis pun harus nungging. Ini semua harus dipertimbangkan supaya tidak buang uang percuma.

  • Arun Chang
    Posted at 16:07h, 29 May Reply

    Selamat sore Mas Deru,, Salam kenal dan Hormat Mas.
    Saya Arun dari Pekanbaru..
    mau konsultasi Mas , saya punya CJ7 Laredo 81,, Bensin.4.2L
    Rencana Arun mau swap engine pakai 14B ( Kebetulan 14B nya sdh ready berikut BPKB ).
    Pertanyaannya..
    1. Apakah 14B bisa dikombinasikan dengan transmisi asli CJ7.. Apakah Transmisi CJ7 cukup kuat untuk menerima putaran Mesin 14B dan meneruskannya ke Gardan.
    2. Apakah Gardan standart Cj7 yang terpasang juga cukup kuat untuk menerima tenaga dari paduan 14B+ dari Transmisi standart CJ7.
    3. Kebetulan saya ada 2 set Gardan Hiece rasio 7:37,, apakah itu akan lebih baik jika di padukan dengan 14B bertransmisi standart CJ7
    4. Bagaimana cara meredam getaran dari mesin 14B serta mereduksi suara mesin diesel khas Truck tersebut. agar kabin bisa lebih senyap…
    5. Terakhir… Saya di tawarkan sama teman, mesin Ford ranger 2500cc include transmisi 4X4 nya plus BPKB . Nah apakah alternative swap engine pakai Ford ranger ini akan jauh lebih baik dari pada pakai 14B dengan kususnya untuk masalah Getaran dan kebisingan dan kenyamanan.
    Mohon pencerahannya Mas Deru..
    Salam sukses selalu Mas..
    Thanks.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:15h, 29 May Reply

      Mas Arun, saya jawab satu per satu ya…

      1. Tenaga dan torsi 14B sedikit di atas mesin asli AMC 4.2L, tetapi top RPM di bawah AMC. Jadi saya rasa transmisi asli mampu. Yang akan jadi masalah jika bikin adaptornya kurang presisi, akan menjadi penyakin laten yang menjengkelkan.

      2. Gardan AMC20 juga tidak masalah. Yang sering bermasalah as-nya yang two-piece. Sebaiknya ditukar dulu dengan yang one-piece. Kalo ada sih full floating jauh lebih baik.

      3. FG 7:37 (Hiece) terlalu tinggi. Mesin 14B tidak perlu ditolong dg FG segitu kecuali untuk menarik trailer 5 ton di tanjakan atau pake ban 37″ ke atas.

      4. Suara mungkin bisa diredam. Tapi getaran tidak. Getaran 14B sama dengan 13B dan kalo sudah jalan nggak jauh beda dengan diesel 4 silinder yang lebih kecil. Masalahnya mungkin ketika start dan stop, mungkin tidak cocok dengan konstruksi rangka CJ7 yang tidak dirancang untuk mesin diesel sebesar 14B. Sebaiknya diperkuat dengan menambah cross-member di depan dan tengah dan dipertebal mulai dari depan hingga tengah.

      5. Toyota tentu jauh lebih tangguh ketimbang Ford. Khususnya ketangguhan 14B dipastikan sangat jauh di atas Ford apapun. Tetapi… kalo saya… Asalkan sama-sama normal, saya pasti pilih mesin Ford ranger 2.5L turbo intercooler yang sudah lengkap dg trans dan tc 4×4. Mesin lebih kecil, lebih ringan, lebih halus, lebih bertenaga dan torsinya lebih tinggi. Tinggal bikin dudukan yang pas. Tidak perlu perkuat rangka sasis. Setelah terpasang, di medan offroad OK, di tol juga imbang dengan mobil lain. Kalo 14B di tol minder.

      Semoga manfaat.

  • Abu Zahid
    Posted at 04:58h, 31 January Reply

    Mas Deru,
    Menarik tulisannya, saat say punya katana yg juga menggunakan per daun. Awal saya beli katanya, per daun nya udh pernah di rol (dilengkapkan kembali) karena udh turun tinggi mobil. Tapi setelah digunakan suspensi terasa keras. Kemudian saya coba ganti per daunnya dengan yg baru (bukan original alias KW) tinggi mobil udh ok tapi ternyata rasanya masih gak empuk. Saat ganti per kw ini, shock breaker juga saya ganti dgn type gas Merk K*y*b* ultra. Pikiran saya mungkin per KW ini terlalu keras. Karena type shock breaker yg sama sy gunakan di Terios ok ok aja empuknya. Untuk mengurangi kekerasan per daun KW ini saya berencana akan mengkombinasikan. Antara per daun Baru yang KW ini dengan. Per original yg sudah lemah tadi. Saran Mas Deru kira kira yg bagus kombinasi nya antara yg baru (KW) dan yg lama(ORI) biar dapat empuknya bagaimana susunan pernyataan mas?

    Penggantian per baru dgn yg KW tadi adalah yg bagian depan ya mas. Rencananya setelah pengkawinan per KW dan ORI pada bagian depan berhasil bikin “empuk’ sisa lapisan per daun KW yg gak kepake dari suspensi depan tadi akan saya kawinkan lagi dengan. Per daun yg bagian belakang sehingga per kW yg keras tadi bisa membantu mengangkat tinggi mobil di bagian belakang. Karena per orinya udh lembek banget (mobil belum dinaikin aja per daun yang udh terlihat hampir rata (lengkungan per hampir tidak terlihat) demikian pertanyaan saya semoga dapat pencerahan

    Oh iya tambahan info sebelum ganti per kW tadi semua shockbreaker nya udh “KO” semua dan suspensi mobil juga terasa keras. Alias tidak ada rasa ayunannya.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:22h, 01 February Reply

      Sebenarnya hal ginian perlu trial-and-error, kecuali jika kita tahu ukuran tegangan per ori yang masih standard. Untuk mengurangi panjangnya trial-and-error, hemat saya roll/press ulang per ori dan jangan dirakit dulu. Kita berasumsi setelah roll ulang, tegangan per ori ini sangat mendekat standardnya.

      Lantas kita aduin bilah per bilah dengan yang kawe berhadapan seperti () tapi horizontal dan dipress dengan dongkrak. Titik penekannya harus seimbang. Jika yang di atas ditahan dengan balok kayu, maka yang di bawah juga harus dijaga dengan balok yang sama, jangan langsung mata dongkrak.

      Jika yang ori kalah semua, jelas per kawe tsb terlalu keras. Jika ada kalah ada menang, semua bilah per ori yang menang kita pertahankan. Bilah per kawe yang kita pilih hanya yang “sedikit menang”. Yang terlalu menang jangan dipilih, karena bilah itulah yang bikin keras.

  • Aan
    Posted at 09:46h, 22 April Reply

    Selamat pagi mas,

    Saya tertarik tentang kaki2, dan sudah beberapa kali trial eror untuk katana. mohon verifikasi pengalaman saya
    Awalnya untuk meninggikan mobil katana, saya memajukan per nomor 1 belakang ke depan, dan mengganti per belakang nomor 1 nya dengan taft kebo fj50. selain itu juga menambahkan selembar per nomor 2 sepanjang hampir per nomor 1 nya karena kata tukang per nya, per yang ada sudah pada lemah dan cenderung akan berkurang tingginya. sekalian juga saya ganti shock kayaba ultra, nggak apa-apa keras, karena beban memang mayan berat. lalu saya offroad ringan dan melakukan perjalanan kurang lebih 2500km (terus menerus) dengan kondisi manggul ban serep 31, bensin cadangan 30 liter sepanjang jalan nempel di belakang, penumpang 2 orang (sekitar 130kg), walau di beberapa kondisi penumpang nambah 3 orang krn di beberapa kota yang disinggahi ada yang ikut2 jalan juga. kondisi mobil dengan roll cage luar dan roof rack berat (semua pakai pipa seamless), Nah, yang ingin saya tanyakan

    1. saya melihat ada penurunan tinggi bagian depan dan belakang setelah pulang dan semua muatan diturunkan sekitar rata-rata 2cm, apakah normal hasil roll nya berkurang dalam jarak tempuh yang menurut saya masih pendek itu? (2500km dalam 4 hari)?
    2. saya pernah dibilang kalau shock membantu menahan tinggi mobil. agar per tidak gampang melar, apakah itu benar? karena menurut saya hal tersebut tidak terlalu membantu.
    3. saat ini per depan belakang ada 5 bilah dengan nomor 3 cukup tebal, jika dengan kondisi seperti tadi, apakah yang bermasalah itu per nya yang tidak baik lagi kondisinya sehingga mudah melar lagi? dan apa yang mas Deru bisa sarankan untuk itu?

    Terima kasih mas. ditunggu jawabannya.
    Salam

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 08:58h, 23 April Reply

      Saya coba jawab sesuai nomor pertanyaannya mas:

      1. Per dirancang untuk suspensi sehingga tegangan pegasnya tidak mudah lelah. Jika ternyata lelah dalam hitungan hari, mungkin disebabkan oleh salah satu, dua atau tiga-tiganya hal berikut ini:
      a. Kualitas di bawah standard (kelewat umur atau kawe).
      b. Bebannya melebihi kapasitas maximum.
      c. Shock absorber tidak bekerja sebagaimana mestinya.

      2. Tidak sepenuhnya benar shockabsorber menahan tinggi mobil. Dia hanya menghambat dan mengurangi lentingan kejut per, bukan memperpendek langkah/ayunan per. Seharusnya tinggi mobil tidak berubah ketika shock absorber dilepas. Sehingga efek samping dari peredaman kejut mungkin per jadi lebih awet.

      3. Lembar master, biasanya lembar 1 atau 1 n 2, sebaiknya orisinil. Karena panjang dan titik tengahnya memang dirancang sesuai mobil. Kalo lembar tsb sudah lelah, cari yang baru. Lembar selanjutnya bisa dicarikan yang sesuai dengan selera kita.

  • zonajimny
    Posted at 21:16h, 11 May Reply

    Saya pemakai jimny dan terinspirasi sekali dengan inovasi ini, tapi apakah sudah diterapkan di mobil? kalau sudah sedikit kasih bocoran hasilnya dong. sy mau aplikasi juga

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:59h, 24 May Reply

      Maaf baru sempat membalas. Maklum sibuk.

      Seperti yang saya tuliskan di artikel tsb, dulu memang pernah dicoba untuk Jeep CJ7. Stabilitas jauh lebih baik dari per daun murni, karena adanya track bar (panhard). Empuknya juga terasa lebih menyenangkan. Sulitnya mencari dan merekayasa per keongnya yang pas. Dan ada sedikit was-was jika langkahnya terlalu jauh, per keong bisa lepas dari tempat duduknya.

Post A Comment