Pompa Pendukung Pompa Injeksi

12 Jun Pompa Pendukung Pompa Injeksi

BBM diesel atau solar weton Pertamina sekarang sudah banyak ragamnya.    Kasta yang paling rendah adalah Biosolar, paling murah karena bersubsidi.   Kasta menengah Dexlite dan kasta tertinggi Dex.      Mobil-mobil pribadi bermesin diesel yang baru rata-rata dirancang untuk meminum Dex atau setidaknya Dexlite.    Biosolar diperuntukkan bagi mobil-mobil niaga.   Selain tuntutan ekonomi, juga mesin mereka rata-rata masih berteknologi lama, meskipun mobilnya baru.   Mungkin supaya lebih awet, tahan lama dan jika rusak cukup dibawa ke bengkel kampung.

 

Sayang sekali masih banyak mobil yang di negeri kita dianggap berkelas yang juga harus menahan malu ikut mengantri biosolar yang bersubsidi itu.   Contohnya Toyota LandCruiser seri 80 (seperti foto ini) dan seri 100.    Karena betapapun dianggap mewah, mobil tersebut lahir ketika BBM diesel belum ada yang sekelas Dex maupun Dexlite.   Mesinnya, 1HZ,  1HD-T, 1HD-FT maupun 1HD-FTE tidak dirancang untuk meminum solar dengan kadar cetane tinggi.

 

Jika dipaksa minum Dexlite atau bahkan Dex, mesin akan terasa lebih cepat panas.   Bahkan jika minum Dex, tenaganya pun berkurang.   Pernah ada yang memposting, konon mengalami patah kruk as gegara minumannya selalu Dex.   Entah ini hoax atau memang pengalaman nyata, tetapi yang pasti, mesin-mesin diesel tua memang tidak dirancang untuk minum solar sekelas Dexlite apalagi Dex.

 

Kenapa minum Dex atau Dexlite rusak?

 

Secara awam kurang lebih begini…     Pembakaran pada mesin diesel bukan disulut dengan busi, melainkan njeblug sendiri karena ditekan oleh piston.    Makin tinggi kadar cetane, makin galak mudah meledak.     Yang merusak adalah manakala kabut solar meledak sebelum piston mencapai titik maximum atas (TMA).    Akibatnya, gerakan piston belum rampung sudah ditolak.     Sehingga bukannya menambah tenaga, malah menghambat dan membebani stang piston dan kruk as.    Suara menjadi sangat kasar dan terasa berat mirip kita nyetel timing terlalu voor.    Sehingga masuk akal jika ada yang pernah mengalami patah kruk as.    Dampaknya mirip dengan mencampur solar dengan minyak tanah berlebihan.

 

Biosolar bukan yang terbaik.   Terlebih sekarang ini kadar bionya sudah 30%, makin loyo tenaganya.    Tetapi seloyo-loyonya tidak merusak.    Yang terbaik tentu solar murni sebelum ada biosolar.    Berhubung sekarang tidak ada lagi solar murni, mungkin yang terbaik adalah mencampur biosolar dengan Dex atau Dexlite dengan komposisi yang tepat.     Itulah susahnya.      Bagi mobil yang bermesin besar seperti LC80 atau LC100, loyonya biosolar tidak terlalu terasa.    Maka mending biosolar saja, tidak usah pusing mikirin komposisi.      Meskipun ya harus menguatkan mental, karena kita akan merasa semua mata mengarah ke kita.    Layanannya pun agak berbeda.      Sebelum mengisinya, terlebih dulu ditanya nomor hapenya.    Entah buat apa, yang pasti akan terasa kurang nyaman.    Tapi apa boleh buat, dari pada mesin rusak.

 

Hati-hati, Biosolar SANGAT KOTOR

 

Meski sudah mampu menenangkan diri tahan mental mengisi biosolar di SPBU, bukan berarti masalah sudah selesai.     Biosolar sangat kotor.     Pernah ada yang bilang bahwa lumutpun bisa tumbuh di dalam biosolar, karena ada unsur bio.     Mungkin seperti minyak jlantah 😀     Sehingga umur filter menjadi jauh lebih pendek.    Dan tidak mustahil, mobil akan mogok jika kita lengah mengganti filter.     Mogok di jalan tentu sangat menyusahkan.     Membawa filter cadangan dan mampu bongkar pasang sendiri pun, tetap saja bikin kesel yang namanya mogok.     Tapi masih jauh lebih mendingan ketimbang harus turun mesin gegara minum dex atau dexlite.

 

Ada nasihat bijak, untuk mengindari mogok, selain harus sering ganti filter, usahakan umur biosolar dalam tanki tidak lebih dari 3 hari.     Usahakan ketika mobil parkir lama, tidak ada rongga udara di dalam tanki, alias harus selalu penuh.     Karena rongga udara memungkinkan dimasuki uap air dan uap ini ketika malam akan menjadi embun dan jatuh ke dasar tanki.     Semakin menyuburkan lumut.     Untuk truk atau bus tidak masalah, karena memang beroperasi terus setiap hari.     Boleh jadi malah mengisi tanki tiap hari.      Tapi untuk mobil pribadi agak sulit.    Terlebih mobil yang tidak dipakai harian.

 

Pasang filter ganda

 

Untuk mobil pribadi terlebih yang tidak dipakai harian, akan lebih bijak dipasangi filter tambahan.      Tambahannya boleh satu atau dua.    Boleh benar-benar filter atau sekedar sedimenter (pengendap).     Namun apapun tambahannya, sebaiknya dipasang pada posisi sebelum filter standardnya.     Tujuannya, supaya pompa solar dan pompa injeksinya awet.     Karena ketika filter kemasukkan kotoran yang lengket seperti lumut, sebagian yang lolos akan memasuki kapiler pompa dan setelah terkumpul banyak akan mengeras seperti batu.     Sehingga pompa tidak bisa dibersihkan dan harus diganti baru.

 

Jika posisi pompa pada filter terakhir, lumayan.     Setidaknya lumut sudah terjaring di filter atau sedimenter sebelumnya.     Resiko memasuki kapiler pompa bisa diperkecil.

 

Permasalahannya, indikator filter tambahan agak ribet kalo harus dirangkai dengan indikator filter standard.     Sehingga lebih baik filter yang tanpa indikator.     Namun ketika mampet, memang indikator tidak nyala maupun bunyi.     Tetapi mestinya sih terasa.     Filter mampet gejalanya agak mirip dengan “masuk angin”.

 

Perlu pompa tambahan untuk filter ganda

 

Yang harus diketahui, makin banyak filter makin berat pula kerja pompa injeksi (injection pump atau IP).     Ini tidak kalah merusaknya dengan IP kemasukkan lumut.     Tidak kemasukan kotoran pun, bawaannya berat, mengurangi tenaga.    Makin banyak filter tambahan, makin berat kerja IP.     Makin kotor filter juga makin berat kerja IP.     Terlebih jika semua filter sudah kotor, makin terasa berat tarikannya.

 

Untuk menolong keadaan itu, IP perlu dibantu dengan pompa tambahan.    Tetapi kekuatan tekanan pompa tambahan ini harus berimbang dengan IP.     Kalau terlalu jauh lebih lembek, sia-sia, malah menghambat.     Jika terlalu kuat juga akan menekan IP seperti digelonggong.    Ini berpotensi malah merusak IP.      Karena IP tidak dirancang untuk digelonggong.

 

Pompa tambahan ini juga harus model pompa yang jika berhenti tidak menutup saluran.    Sehingga yang paling tepat adalah produk semacam yang saya pasang di mobil saya, yaitu Facet Posi-flow.    Untuk mesin 1HZ, sebaiknya pompa tambahan ini berkekuatan antara 5 sampai 9 psi.   Karena 1HZ jenis indirect injection yang tekanan IP-nya di bawah 10 psi.    Sedangkan 1HD, karena direct injection, perlu pompa tambahan 10 psi atau lebih.

 

Pemasangan pompa tambahan harus dirancang sedemikian rupa supaya pompa tersebut hanya bekerja ketika mesin hidup.     Jangan sampai pompa aktif ketika mesin mati.    Karena IP akan digelonggong paksa, malah makin cepat rusak, karena menahan sumburan pompa.     Sehingga arusnya yang paling mudah dicangkok dari kabel soleniod kran solar.    Karena solenoid ini hanya nyala jika mesin hidup.     Namun karena arus solenoid itu hanya 10A, sebaiknya diperkuat dengan relay supaya pompanya normal.     Sodetan dari solenoid disambungkan ke kaki 85, dimana kaki 86 ke massa.    Pompa tambahan disambung ke kaki 87, dimana kaki 30 langsung dari baterai.

 

Pompa tambahan dikendalikan dengan pedal gas

 

Lebih bijak lagi jika pompa tambahan itu jangan kerja terus-menerus, kecuali filter tambahannya lebih dari satu.    Jika filter tambahannya hanya 1 unit,  maka ketika RPM masih rendah, IP belum perlu dibantu.    Biarkan saja dia bekerja sendiri.     Tapi mulai di RPM tertentu, barulah pompa tambahan bekerja.     Untuk mendapatkan mekanisme seperti ini, kabel massa di kaki 86 pada relay harus dipasangi switch pemutus yang dikatikan dengan mekanisme pedal gas.

 

Gambar ini menunjukkan posisi switch pemutus massa yang saya pasang ujung kaitan kabel sling penarik aktuator gas.    Ketika pedal tidak diinjak, swith tertekan dan arus massa putus.    Sehingga pompa tambahan tidak bekerja.    Tetapi ketika pedal gas diinjak, tekanan pada switch semakin melemah, kontak switch makin mendekat dan pada posisi tertentu arus massa akan terambung.    Dalam posisi ini pompa tambahan mulai bekerja.

 

Kerenggangan switch bisa disetel dengan mur pengatur.     Lantas kita pilih pada posisi mana pompa tambahan mulai kerja.     Tentu kita sesuaikan dengan kebiasaan kita membawa mbil tersebut.      Saya umumnya mulai menggerakkan mobil pada RPM 1000-1200.      Maka saya bikin setelan supaya pompa tambahan mulai bekerja pada RPM 1200.

 

Filter tambahan, pompa tambahan, switch pemutus massa dan semua tambahan lainnya saya pasang tanpa merubah komponan aslinya.    Sehingga ketika semua itu dicabut, kondisi akan kembali standard, tidak ada yang berubah.     Ini penting jika kita ingin nilai orisinilitas mobil kita tidak turun.

 

Memilih pompa tambahan

 

Sebelum membahas pompa tambahan, kita perlu memahami lebih dulu situasi ideal bagi sistem suplai BBM.   Terlepas sistem itu injeksi ataupun karburasi, situasi yang paling ideal pastilah manakala suplai BBM datang tanpa hambatan.   BBMnya bersih, tankinya dekat dan berada lebih tinggi dari mesin.   Sehingga BBM seolah datang sendiri tetapi tidak memaksa seperti peternak jahat menggelonggong sapinya.

 

Untuk sepeda motor memang umumnya tanki ditempatkan lebih tinggi dari mesin.   Bahkan ada yang persis di atas mesin.   Sayang sekali situasi ideal tersebut sangat sulit dicapai untuk mesin mobil.   Tanki BBM mobil umumnya ditempatkan di kolong, yang pasti lebih rendah dari mesin.   Sehingga dibutuhkan tenaga untuk melawan gravitasi ketika BBM harus mencapai inlet di mesin.   Makin jauh posisi tanki di bawah mesin, makin banyak energi yang dibutuhkan.   Dipasang filter juga makin berat untuk mengantarkan BBM ke inlet mesin.   Makin menumpuk kotoran BBM di filter tentu makin menambah beban lagi.   Sehingga dengan dipasang pompa tambahan akan membantu memudahkan suplai BBM ke inlet mesin.

 

Perlu diperhatikan bahwa pompa tambahan ini bukan pompa injeksi (IP). Umumnya disebut fuel transfer pump (FTP).   Ada beberapa jenis FTP dan kekuatannya bervariasi.   Demikian pula harganya.

 

Jenis FTP yang paling umum adalah FTP yang mengandalkan piston.   FTP ini banyak digunakan pada jenis mobil bermesin bensin.   Gambar ini menampilkan diagram FTP jenis ini.   Cara kerjanya mirip kompresor AC merek Sanden.   Rotasi motor listrik digunakan untuk menggerakan piston guna menghisap BBM dari lobang inlet dan menyemburkannya melalu lobang outlet.   Karena piston, maka pompa semacam ini semburan outletnya tidak mentolerir hambatan kecuali kekuatan pistonnya kalah dan hancur, atau motornya yang tidak kuat melawan hambatan tersebut.

 

FTP ini lebih murah, tetapi kurang bagus.   Semburan outlet yang tanpa kompromi lebih berpotensi merusak IP ketika BBM yang disemburkan melebihi yang dibutuhkan IP.   Lagi pula alat ini akan menutup saluran BBM manakala rusak atau sedang tidak bekerja.   Sehingga alat ini harus benar-benar mulai bekerja sejak mesin dihidupkan dan tidak boleh berhenti sepanjang mesin hidup.

 

Jenis yang kedua adalah FTP berbasis plunger seperti diagram yang ditampilkan pada gambar ini.   Semburan outlet lebih kompromi ketika tertahan.   Dan karena model plunger inilah, maka BBM tetap bisa mengalir ketika alat tidak sedang bekerja.   Alasan inilah kenapa saya pilih FTP jenis ini.

 

Dengan kelebihan itu, maka alat ini bisa kita atur supaya aktif mulai di RPM tertentu.   Maka kaki 86 relay saya sambungkan ke switch yang menyesuaikan tarikan kabel gas yang saya setel baru kontak ketika RPM mencapai skala 1200.   Artinya, sebelum putaran mesin mencapai 1200 RPM, alat FTP ini belum mulai bekerja.   Silakan simak kembali di par sebelum ini.

 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memilih kekuatan semburan outlet FTP.   Tugas FTP bukanlah untuk menambah debit inlet pompa injenksi atau IP.   Melainkan hanya sekedar membantu IP dari hambatan filter, apa lagi bila filternya ganda.   Karena filter makin bagus makin rapet, tentu makin menghambat.   Terlebih manakala filter mulai kotor.   Nah… keberadaan FTP ini seolah mendekatkan tanki ke mesin tanpa menggunakan filter.   Sehingga upayakan memilih FTP dengan kekuatan seserasi mungkin dengan daya sedot inlet IP.   Daya sedot inlet IP mekanik umumnya berkisar dari 5 sampai 15 psi tergantung putaran mesin.   IP elektrik pun untuk mesin sebelum common rail juga tidak terlalu jauh dari kisaran tersebut.   Maka FTP yang diperlukan hanya sekitar itu.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
No Comments

Post A Comment