Perlukah NSI Dikembangkan Serius?

02 Feb Perlukah NSI Dikembangkan Serius?

Bisnis industri software bisa bermodalkan dengkul seperti NSI. Berawal dari khayalan dengan modal kemampuan teknis, maka cukup dengan 2 unit komputer, dalam 2 tahun terwujudlah 3 produk otomasi yang tanding dengan produk weton vendor bergengsi seperti IBM, CA, BMC dan ASG. Namun, untuk mewujudkan 3 produk tersebut perlu “topo broto” 2 tahun bekerja keras 18-20 jam setiap hari tanpa mengenal libur maupun cuti. Terlebih selama 2 tahun tersebut tanpa penghasilan sepeserpun tentunya. Sehingga ditambah modal nekat pun sangat sulit dicapai kecuali ada lumbung yang cukup untuk dikuras selama 2 tahun, semester 2 tahun 2004 hingga akhir semester 1 tahun 2006.

Otomasi seperti zJOS/Sekar (system events management) dan zJOS/Puspa (workloads scheduler) merupakan system-level atau kernel-level software yang termasuk kelas menengah ke atas. Terbukti tidak setiap industri besar IT mampu memproduksinya. Artinya, siapapun yang mampu membangun software otomasi, bisa dipastikan sangat mampu membangun produk fungsi lainnya. Nah… bisa dibayangkan jika setelah Juli 2006 NSI terus membangun produk-produk lain…, barangkali saat ini (masuk tahun 2013) sudah terkumpul puluhan produk-produk software mainframe seperti yang dimiliki para vendor kelas kakap. Bahkan bisa jadi merambah ke platform lain untuk memenuhi kebutuhan solusi enterprise.

Kenapa tidak saya lakukan? Lumbungnya sudah ludes dari awal 2006, pas banget dengan peluncuran zJOS/Sekar dan zJOS/Puspa. Lebih-lebih kegiatan kamuflase penyulingan minyak nilam gulung tikar dengan kerugian ratusan juta rupiah. Disitulah saya benar-benar bertemu dengan sebuah “batas” yang tidak bisa saya lompati. Jadi saya harus mengalah untuk melakukan kegiatan lain untuk menolong dapur yang nyaris tidak ngebul.

Jika “topo broto” 13,680 jam (2 tahun) dikonversikan menjadi model kerja normal 40jam/minggu, maka akan memakan waktu 342 minggu atau 6.5 tahun. Dan itupun hanya jika kemampuan teknis dan semangat SDMnya seperti yang saya lakukan. Artinya, akan lebih panjang lagi waktunya jika kemampuan dan/atau semangat SDMnya di bawah. Umumnya membangun software kelas system-level atau OS-level atau kernel-level, melibatkan banyak SDM dan semuanya harus memiliki kelihaian di low-level programming language seperti C, bahkan assembly dan sangat nemahami arsitektur jeroan OS yang ditekuninya. Padahal SDM seperti itu sangat jarang. Jangankan OS komersil termahal seperti z/OS, yang tentu jeroannya sangat dirahasiakan. Wong Linux yang open source saja, jarang nemuin SDM yang benar-benar mampu ngoprek kernel-nya. Buktinya, sejak kehadirannya hingga hari ini, yang berkembang hanya seputar software aplikasinya. Contoh kecil, tahun 2009 muncul kasus Linux Ubuntu tidak mampu mengoperasikan keyboard dan mouse berbasis bluetooth pada komputer Apple iMac. Ternyata kasus tersebut masih bergulir hingga hari ini. Padahal Linux kan sourcecode-nya tersedia. Itu merupakan indikator bahwa dari sekian juta manusia yang mengaku jago Linux, khususnya Ubuntu, ternyata sangat sedikit yang bermain di tingkat kernel. Hampir semuanya bermain di tingkat aplikasi. Andaikan kasus serupa terjadi di z/OS, mungkin NSI sudah bikin dan sudah jadi sebelum 2010.

Memang bermain di tingkat kernel kurang menarik. Kebanyakan menyerah sebelum berperang. Karena mempelajari jeroan OS memang tidak mudah. Selain harus mempelajari arsitektur hardware, juga bergulat terus dengan low level programming yang tidak seramah PHP atau Java. Meskipun programming-nya kadang cukup dengan C, tapi harus dilandasi pemahaman assembler yang paripurna. Oleh karena itu, apa yang telah terwujud di NSI tidak bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk membangun industri software, khususnya kernel-level atau system-level atau OS-level. Juga tidak bisa hanya mengandalkan satu orang SDM saja tanpa backup seperti NSI saat ini.

Namun bukan berarti kernel-level tidak layak untuk diseriusi. Buktinya, sejumlah industri besar memilih hanya bermain di tingkat kernal. Justru hari gini kalau mau serius membangun industri software, pilihan yang tersisa hanya kernel-level. Belum banyak saingannya. Solusi otomasi seperti produk-produk NSI di pasaran yang populer hanya CA, IBM, BMC dan ASG. Ini merupakan indikator bahwa NSI masih memiliki masadepan yang cukup menjanjikan jika digarap dengan serius. Memang sepertinya tidak kebayang bagaimana mencari SDM yang layak untuk berkiprah di kernel-level.

Mencari di kalangan praktisi, di luar wilayah Amrik bisa dibilang nyaris mustahil untuk mendapatkannya. Yang mengaku “pernah” tahu assembly sih banyak. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa menyentuh jeroan OS masih merupakan indikator bahwa ybs adalah orang IT sejati. Lucunya, tahu assembly juga dianggap sebagai indikator bahwa ybs tahu jeroan OS. Sekaligus sebagai indikator untuk membedakan praktisi IT yang berlatarbelakang pendidikan komputer dari yang lain. Memang masih terkesan di masyarakat bahwa jurusan komputer atau informatika di kampus-kampus merupakan wahana untuk mencetak calon pakar industri IT, bukan pengguna IT. Karena kalau cuman untuk menjadi pengguna IT, sejak SD pun anak-anak sekarang sudah menjadi pengguna IT. Lantas apa bedanya menjadi sarjana IT atau diplom IT (atau bahkan S2 atau S3 IT) dibanding sarjana atau diplom lain yang sama-sama kerja di lingkungan IT? “Pernah” tahu assembly 🙂

Namun kata “pernah” itu sendiri sekaligus merupakan excuse. Maksudnya, jangan membahas itu, karena sekarang sudah lupa. Kalau dengar ada kawan yang ngomong begitu jadi pengen ketawa 🙂 Boro-boro yang cuman sekedar tahu… Mereka yang sehari-hari bikin program dengan assembly pun belum tentu mampu kernel-level programming. IBM juga buka pelatihan assembly. Berarti instrukturnya pasti jago assembly kan? Tapi workshop-nya hanya seputar bikin dokumen laporan berdasarkan input dari file maupun console. Apakah alumni weton pelatihan semacam ini bisa diharapklan untuk mendukung NSI? Jauh panggang dari api 🙂 Sang instruktur pun belum tentu pernah melakukan kernel-level programming. Paling-paling bikin exit-routine dengan merubah-rubah dan mengotak-atik contoh yang tersedia di system library. Exit-routine kadang merupakan bagian dari kernel jika main module-nya berada di kernel. Tetapi pernah meng-customize exit-routine bukan indikator kemampuan kernel-level programming.

Adakah PTN atau PTS yang memproduksi lulusan IT yang layak dalam hal ini? Rasanya semakin mustahil. Bekal dari kampus justru sangat tidak cukup untuk kernel-level programming. Karena menurut dosen yang pernah ngobrol dengan saya, kampus hanya memberikan teori dasar saja. Selain itu, dosen OS juga kebanyakan bukan benar-benar pakar praktek kernel OS. Namun demikian, lulusan baru IT terpaksa menjadi pilihan terbaik. Tentu mereka yang terbaik dan weton PTN terbaik. Meskipun bekalnya minim, dengan kecerdasan dan idealisme yang memadahi, mereka siap dibentuk menjadi SDM yang hebat. Itu semua tergantung bagaimana memotivasi mereka untuk menekuni kernal OS. Sangat memerlukan bimbingan pakar yang benar-benar pernah mengalaminya. Dan kabar baiknya, NSI memiliki pakar tersebut. Kurikulum pelatihannya pun sudah disiapkan.

NSI perlu dukungan?

Namun demikian, 3 produk NSI yang telah terwujud, XDI/AutoXfer, zJOS/Sekar dan zJOS/Puspa sudah membuktikan kualitasnya di lapangan. Meskipun pemakainya baru satu klien, BNI, tetapi kebetulan klien tersebut sudah berpengalaman memakai produk-produk rival, terutama dari CA. Mereka kini cukup puas dengan stabilitas dan kemudahan pemakaian 3 produk NSI. Sehingga bisa diasumsikan bahwa dari sisi teknologi, 3 produk NSI tersebut bisa disetarakan dengan produk-produk rival dari vendor kelas kakap seperti IBM, CA, BMC dan ASG. Meskipun saya menyadari sepenuhnya dari sisi brand masih entry-level di kelas teri. Alangkah disayangkan jika perjalanan ini tidak dilanjutkan.

Namun demikian, untuk melanjutkan bukanlah hal yang mudah. Bagi saya lebih mudah merancang-bangun produk ketimbang mengembangkan bisnisnya. Saya tidak ada bakat pemasaran. Juga tidak ada dana buat membayar pakar pemasaran agar bekerja untuk NSI. Memang selama ini NSI berpenghasilan dari yearly maintenance dari BNI, satu-satunya klien. Boro-boro untuk mbayar sales…, untuk biaya operasional saja senen kemis. Operasionalnya hanya 24×7 support sebagai wujud komitmen bushido pada klien. Sejauh ini hanya digotong oleh 3 SDM termasuk saya sendiri, dimana 2 SDM berada di level-1 yang standby di siang hari, sedangkan saya level-2 yang piket di malam hari tanpa mengenal libur. Meskipun level-1 dihimbau untuk mencoba memasarkan, tapi pada kenyataannya belum mampu melaksanakan. Kualitas mereka belum cukup untuk menjadi sales di kelas mainframe. Sehingga NSI beroperasi selama ini hanya technical support, tanpa pemasaran sama sekali. Pemasaran ke BNI saya lakukan sendiri, karena ketika itu (tahun 2003) kebetulan kasusnya darurat. Produk rival yang terpasang disana bermasalah dan support-nya bertele-tele, yang akhirnya memberi celah saya untuk masuk tanpa sales process yang lazim. Cukup memasang trial dan setelah klien puas lantas buka tender.

Selanjutnya NSI hanya bisa menunggu barangkali ada kasus darurat lagi seperti BNI. Ternyata belum ada lagi. Memang kami pernah mencoba memberanikan diri ke BRI, BII, Asyst dan KPTI DKI. Tapi semuanya mentog seperti menabrak dinding. Di BRI hanya berhenti di depan pintu, karena keangkuhan pejabat disana. Di tempat lain, meskipun kehadiran kami disambut bersahabat, tapi ujung-ujungnya sami mawon, belum ada jodoh. Akhirnya NSI tidak kemana-mana lagi, ibarat jalan di tempat.

Lantas bagaimana memacu NSI supaya berjalan atau bahkan berlari? Perlu dukungan! Terutama dukungan dana untuk membenahi dan melengkapi kru dengan SDM yang berkualitas. Juga untuk membenahi peralatan. Sementara lumbung sudah ludes. Lantas dana dari mana yaa? Pinjaman sepertinya tidak mungkin, karena tidak ada agunan yang sepadan menjamin manakala NSI tidak bisa mengembalikan. Menunggu sampai ada nasabah lain, sama juga seperti sekarang ini 🙂 Menunggu ada kasus darurat lagi di tempat lain 🙂 Entah sampai kapan harus menunggu?

Satu-satunya dukungan yang diharapkan adalah pemodal yang mau berbagi bersama. Saham NSI adalah 3 produk NSI yang ada sekarang dan kapasitas intelektual yang saya miliki. Nilainya bisa dirembug secara bijak. Saham pemodal adalah dana. Jika beruntung kita berbagi hasil secara proporsional dan jika rugi, NSI tidak menanggung hutang. Namun harus bersabar menunggu kehadiran sang pemodal yang bijak. Karena NSI tidak akan menerima kehadiran pemodal yang beranggapan produk-produk NSI kapiran semata untuk menekan nilai teknologi dan kekayaan intelektual demi mengunggulkan perannya dalam perkongsian. Yang saya mau hanyalah pemodal yang memiliki visi dan misi bersama yang proporsional.

Pembenahan SDM dan penampilan NSI

Yang paling urgen harus segera ada adalah sales yang profesional. Tapi bagaimana caranya seorang sales profesional mau bergabung dengan NSI yang benderanya saja masih nebeng PT Agrisoft di Sentul. Nah… hal ini sepenuhnya diserahkan kepada penyandang dana untuk mengemas tongkrongan NSI agar tampil menjanjikan, sehingga orang-orang profesional mau bergabung. Berarti mungkin harus mengkarbit NSI agar menjadi perusahaan (PT) sendiri yang sekaligus memenuhi persyaratan menjadi rekanan pengguna mainframe yang umumnya perusahaan kelas berat seperti BNI, BCA, BII, BRI, Garuda, KS dan KPTI DKI.

Menyusul setelah sales adalah SDM teknis. Mereka tidak harus dari kalangan profesional yang mahal. Cukup fresh graduates tetapi dari latarbelakang pendidikan yang tepat dan berkualitas serta memiliki talenta yang memadahi. Mereka akan saya latih sendiri untuk menjadi level-1 dan level-2 support, serta developer untuk platform mainframe yang terampil. Materi pelatihan sudah disiapkan lengkap, silakan simak disini.

Untuk mewujudkan impian bermain di kancah enterprise, NSI tentu memerlukan sejumlah SDM terampil dari sejumlah platform non-mainframe, misal Linux, Unix, Mac OS dan Windows. Sehingga pada saatnya NSI juga harus siap merekrut orang-orang ini.

Pembenahan peralatan NSI

Selama ini NSI hanya mengandalkan 2 unit komputer x86 sederhana dengan emulator seadanya untuk coding dan menyusun paket (zJOS-XDI) langsung dari source codes yang telah dienkrip. Assembling, system generation dan testing dilakukan langsung di mesin pengguna. Untungnya NSI menggunakan taktik yang cukup jitu dalam menyusun paket, sehingga source codes dalam keadaan enkrip bisa langsung di-assembling. Silakan simak posting yang ini. Andaikan harus didekrip terlebih dulu, tentu paket zJOS-XDI sama saja dengan paket open source yang memungkinkan untuk dicopet dengan mudah oleh para vendor yang belum punya produk-produk otomasi untuk melengkapi katalognya.

Bermain dengan peralatan yang serba terbatas seperti ini sangat menyulitkan. Tidak setiap orang mampu dan telaten mengatasi keterbatasan yang sangat minim. Memang memiliki mainframe sendiri tidaklah mungkin. Harganya sangat tidak terjangkau. Tetapi IBM menyediakan zPDT (Personal Development Tool for System z) yang lengkap dengan OS mainframe dengan harga terjangkau, khusus diperuntukkan bagi para developer. zPDT inilah yang sangat diharapkan NSI. Kondisi finansial NSI hingga saat ini belum mungkin untuk memiliki zPDT. Untuk operasional 24×7 support saja masih compang-camping. Beli satu zPDT saja sangat tidak mungkin. Padahal yang diperlukan 2 unit. Sementara, zPDT tidak bisa di-copy. Sehingga untuk mensimulasikan mainframe network diperlukan setidaknya 2 zPDT.

Meskipun terjangkau, membeli zPDT tidak mudah. Harus mendapat persetujuan IBM setempat sebagai independent software vendor (ISV). Disitulah pentingnya NSI tampil serius sebagai ISV yang memiliki masadepan. Disitu pula lah diperlukan dana untuk menuntaskan pembenahan disana-sini.

Berharap dukungan pemerintah

Jika pemerintah ingin bangsanya menjadi bangsa maju dan memiliki peran aktif dalam industri hulu, khususnya, maka harusnya memberi dukungan nyata bukan sekedar retorika himbauan pepesan kosong. Membebaskan pasar untuk menentukan pilihan seperti Amrik tidaklah bijak. Bagi Amrik, ekonomi liberal mungkin tidak masalah, karena sebagian besar produk yang bersaing di pasar adalah produk-produk mereka juga. Lagi pula kematangan mereka dalam berindustri memang sudah tidak diragukan lagi untuk bersaing di pasar.

Tetapi akan menjadi sebuah kebodohan yang sangat merugikan jika liberalisme pasar diselenggarakan di negeri ini. Karena 99% lebih produk yang beredar disini adalah produk asing. Sisanya 1% produk lokal yang rata-rata weton industri yang belum matang. Sehebat apapun kualitasnya, karena referensi dan garansi korporasinya belum ada, tentu akan sulit mendapat tempat di pasar, khususnya untuk produk berteknologi menengah ke atas. Sehingga tanpa keberpihakan pemerintah, sulit produk karya bangsa ini akan mendapat tempat di pasar. Boro-boro menjadi tuan rumah, jadi tamu pun sulit sekali.

Dukungan atau keberpihakan pemerintah seperti apa yang diharapkan NSI? Ketimbang duit rakyat dibagi-bagikan untuk pesta politik, apa sulit mengalokasikan barang sekian permil untuk memodali NSI? Sehingga NSI tidak lagi harus menunggu hadirnya pemodal perorangan atau swasta. Mungkin pemerintah bisa mengaudit produk IT apa saja yang telah dihasilkan oleh instansi teknologi seperti Kominfo dan BPPT (bidang IT) ditakar dengan biaya yang telah dikeluarkan setiap tahunnya. Lantas dibandingkan dengan produk-produk NSI yang hanya bermodalkan dengkul. Barangkali berangkat dari sudut pandang ini akan sangat bijak untuk memulai memupuk NSI dan industri-industri gurem yang senasib dan setara.

Selain dukungan materi, juga diperlukan dukungan aturan main, entah PP atau UU yang memberikan jaminan moral bagi pejabat-pejabat pemerintah, BUMN maupun swasta yang memilih memakai produk lokal. Saya sangat mengerti kenapa BRI dan instansi lain yang pernah kami datangi menutup pintu. Alasan yang paling klasik adalah tidak adanya garansi korporasi yang memadahi. Yang paling dikawatirkan, manakala produk lokal yang dipilihnya gagal beroperasi dan vendornya tidak mampu mengatasi dengan cepat, maka jabatan mereka dipertarohkan.

Akan lain ceritanya jika ada UU atau PP atau peraturan sejenis yang menjamin sang pejabat tidak terkena sanksi ketika memilih produk lokal dan gagal beroperasi. Mungkin pejabat IT BRI, BCA, BII, Garuda dll akan lebih welcome pada produk-produk NSI maupun produk lokal lainnya, kecuali mereka yang sudah merancang kong kali kong dengan vendor tertentu. Dengan demikian, dukungan aturan main semacam ini dampaknya akan lebih nyata ketimbang dukungan pendanaan. Jika harus memilih salah-satu, tentu dukungan semacan ini yang lebih diprioritaskan.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
2 Comments
  • Daya setiawan
    Posted at 10:32h, 14 July Reply

    Heran, kagum, mangkel, sengit, kok yo ono wong koyo kowe , idup lagi…gulet jagoan (arthur lu tantang duel), pinter banget, arang2 wong nekat doyan duel kok yo genius… mudah2an gusti Allah maringi kesehatan prima, supaya gak meledak otakmu…paling gak sampe lu transfer abis semua yang ada di otakmu itu jan ajaib tenan wong iki. jaga kesehatan lahir bathinmu… wassalam

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 17:01h, 14 July Reply

      Maturnuwun dukungane bro… 🙂

Post A Comment