UFO dan Aliens, Nyata atau Halu?

23 May UFO dan Aliens, Nyata atau Halu?

Cerita tentang UFO dan aliens sudah banyak beredar dari dulu.     Kita menyebutnya “piring terbang” karena bentuknya seperti piring.     Filem lakon UFO dan aliens juga banyak dari dulu.    Bahkan kalau mau menyimak di internet juga banyak foto maupun videonya, baik rekaman penampakannya maupun sekedar diskusi.

Bukan hanya pesawatnya yang dihebohkan.   Pengendaranya pun rame di berbagai publikasi tak resmi, termasuk filem.   Ada pula yang tewas dan berhasil dievakuasi oleh manusia seperti yang tampak di gambar sebelah kanan ini.

Makluk pengendara UFO ini lazim disebut alien.    Sebenarnya istilah alien diambil cerita filem yang disutradari Ridley Scott dan ceritanya ditulis oleh Dan O’Bannon.    Kita tidak terlalu peduli soal istilah.   Dari pada kepanjangan menyebut “makluk penguasa planet lain“, mending alien, singkat.    Justru yang penting telaahnya.   Kebenaran dari fenomena itu dan jika benar, apa kira-kira misinya datang ke bumi.  

Masalah apakah semua itu hoax atau ada yang memang benar, sangat sulit untuk diyakini, setidaknya bagi saya sendiri.    Mirip seperti orang cerita melihat hantu.    Melihat beneran atau tidak, kita tidak tahu, kecuali kita ikut melihatnya sendiri.   Kita melihat sendiri dan menceritakannya ke orang lain, si orang lain itu akan berpikir yang sama.

Yang bikin sulit untuk dipercaya, karena yang membahas UFO dan alien justru mereka yang di luar keantariksaan.   Temuan-temuannya sangat menarik, ada foto-foto jasad alien seperti gambar di atas salah satunya.   Pantesnya menjadi sebuah temuan ilmiah terbesar dan seiring dengan perjalanan waktu yang sudah cukup panjang, tentu sudah tersaji di bidang keilmuan tertentu.   Minimal ke ruang publik sebagai informasi yang dapat dipetanggungjawabkan.   Temuan benda seperti roket di laut dipublikasi ramai kok.   Namun kenyataannya, kalau temuan-temuan terkait alien dan UFO susah ditelusur sumber resminya.   Lantas ada upaya pembenaran dengan alasan rahasia pertahanan negara.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya penasaran.   Toh kenyataannya, temuan baru tidak selalu ditemukan oleh pakar di bidangnya.   Protokol HTTP yang digunakan untuk menyimpan dan mendistribusikan tulisan ini juga bukan temuan ilmuwan IT, melainkan fisikawan.   Meskipun akhirnya menjadi pakar IT yang mendapat banyak penghargaan.   Jadi supaya penasaran kita tidak magel, sebaiknya memaklumi keadaan dulu.

 

 

Hantu ada yang cakep, alien semua jelek

 

Ngomong-ngomong soal cerita hantu dan alien kadang geli sendiri.    Dua-duanya sama-sama berperan antagonis dan sama-sama tujuannya bikin takut.     Namun, hantu masih ada yang cakep, seperti “Si Manis dari Jembatan Ancol”.      Sedangkan alien rata-rata jelek dan menjijikan.    Ada yang mirip manusia tapi jelek banget seperti pada gambar di atas.    Ada pula yang mirip reptil berlendir yang sangat menjijikan.     Sangat tidak relevan dengan kecerdasannya maupun kecanggihan teknologi yang dimilikinya.     Bayangkan komodo yang mundur saja susah, bisa bikin pesawat seperti piring yang mampu melayang-layang di langit tanpa roket maupun jet, apalagi baling-baling.

 

Apakah jenglot alien?

 

Yang berujud mirip manusia, kadang kalau kita cermati mirip jenglot.   Sempat kepikiran, jangan-jangan jenglot yang sering dihebohkan masyarakat kita sebenarnya alien yang tewas.    Entah karena pesawatnya mengalami kecelakaan, atau karena baju jirahnya bocor ketika dia keluar dari pesawat, sehingga akhirnya tewas karena kehidupan dia tidak kompatibel di bumi.

Menurut kepercayaan sebagian orang di masyarakat kita, jenglot itu hidup.   Karena kematian mereka tidak diterima bumi.   Kadang agak masuk akal jika kita hubungkan dengan alien.     Kehidupan dan kematian, selain urusan pisahnya nyawa dari jasad, juga ada proses kimiawinya.    Makluk hidup perlu metabolisme untuk hidup.    Ketika mau mati juga ada tahapan kimiawi untuk melakukan shutting down.    Nah, alien, jika metabolismenya tidak kompatibel di bumi, maka proses kematiannya pun tidak kompatibel pula.     Sehingga tidak bisa mati meskipun tidak hidup.    Wallahu alam bisawab.

 

 

Apa misi alien datang ke bumi?

 

Saat ini banyak para ahli dari NASA dan lembaga antariksa negara-negara maju lainnya yang sedang mengkaji planet Mars.    Misinya rata-rata mencari tahu seberapa prospektif Mars untuk menghijrahkan sebagian penghuni bumi kesana mengingat bumi sudah sangat padat dan bencana semakin sering.    Nah, jika kita yang belum pernah ke planet lain saja bisa punya misi expansi seperti itu, apa lagi mereka yang sudah sampai kesini.    Jadi perkiraan yang paling pas ya expansi, bukan sekedar tamasya.

 

Iptek manusia bumi belum cukup

 

Soal misi mendarat ke Mars harus diakui belum banyak yang tahu.    Sehingga meskipun sering diberitakan di TV atau media lain, tidak banyak yang menyimak.    Jangankan mendarat di Mars, mendarat di bulan saja masih banyak yang tidak percaya, bahkan ada pula yang belum tahu sama sekali.   Mars itu makanan apa juga masih banyak yang belum tahu.    Karena ilmu keantariksaan kita masih seperti awang-awang.

Dilingkungan para pakarnya juga belum tahu secara pasti planet-planet di keluarga bintang (tatasurya) kita sendiri.     Itu baru urusan menghitung dan menamai lho… bukan menjelajah.     Kalau soal menjelajah, jangkauan kita baru sampai rembulan, satelitnya bumi.    Yaitu anjing dari Uni Soviet dan Nail Armstrong dari Amerika Serikat.      Kalau planet, hingga hari ditulis artikel ini, belum pernah ada pendaratan makluk hidup bumi di planet lain.

Jika alien yang datang ke bumi ternyata berasal dari planet Proxima Centauri (keluarga bintang Alpha Centauri) yang berjarak 4.2 tahun cahaya, maka alangkah ketinggalannya iptek antariksa kita.     Namun tidak perlu terlalu minder.    Siapa tahu mereka sudah ada jutaan tahun sebelum manusia purba.    Padahal, jika Nabi Adam adalah homosapien pertama (bukan manusia purba lho), berarti keberadaan manusia di planet bumi belum 400,000 tahun.   Masih sangat muda untuk skala alam raya.   Tapi mungkin saja ada alien yang lebih muda dan lebih bodoh dari kita, entah dimana.    Karena alam raya juga sangat dinamik.    Setiap saat ada yang hancur dan ada yang timbul baru.

 

Baru robot yang didaratkan manusia di Mars

 

Jangkauan manusia hari ini baru hanya sampai planet Mars, planet tetangga terdekat bumi.    Itupun baru robot yang mendarat disana.     Beberapa negara kaya sedang berlomba menjangkau planet Mars.   Konon akan dijadikan target untuk manusia bila bumi sudah mulai tidak memadahi.   Entah karena terlalu pada, ataupun bencana.

Baru-baru ini China berhasil mendaratkan robotnya di Mars.    Dari foto-foto yang diperoleh, baik oleh pesawat China maupun pesawat negara lain, sepertinya yang tampak hanya gurun kosong kemerah-merahan.    Tidak ada pepohonan, binatang maupun makluk setara manusia yang ikut tertangkap kamera.

Bahkan di lab-lab yang mengkajinya pun baru sampai kesimpulan bahwa unsur-unsur kimiawi di Mars mirip dengan bumi.   Tapi faktanya berdasarkan peralatan sensor didaratkan disana belum ditemukan air.    Artinya, unsur H ada, unsur O juga ada, tapi senyawa H2O belum ditemukan.    Atmosfir juga ada disana.   Tetapi udaranya sangat tipis, hanya 1%-nya udara bumi.   Segitu pun didominasi asap (CO2).   Gas oksigen ada tapi hanya 0.13% dari udara yang setipis itu.    Sehingga sulit dibayangkan kita bisa bernapas disana.

Namun para ilmuwan optimis, bisa menciptakan kondisi seperti di bumi karena unsur-unsurnya tersedia disana.    Entah kapan optimisme itu bisa direalisasikan, kita tunggu saja.

 

 

Jika UFO dan alien hoax, adakah makluk hidup di luar bumi?

 

Andaikan semua cerita tentang UFO dan alien ternyata hoax, sebenarnya apakah ada makluk hidup di luar bumi?    Saya pribadi yakin seyakin-yakinnya bahwa bumi bukan satu-satunya tempat bagi makluk hidup.    Lebih dari itu, saya justru yakin setiap planet pasti ada kehidupan di sana, termasuk di Mars.     Meskipun dari hasil perekaman di Mars sepertinya masih kosong, hanya gurun yang tampak, saya yakin ada makluk hidup disana.     Nah … ini dia inti persoalannya.

 

Tidak tampak tidak selalu berarti kosong

 

Ada tapi tidak tampak, bisa karena terhalang benda lain, atau karena ukurannya sangat kecil, di luar kemampuan alat perekam.    Karena tidak ada jasad makluk hidup yang benar-benar bening seperti kaca, terlebih invisible seperti angin.    Ubur-ubur ada yang bening tapi tidak seperti kaca.    Malah ada yang bercahaya, seperti konang, malah semakin kelihatan.

Mungkinkah makluk jasmaniah invisible?   Jika Tuhan mau, why not?    Invisible kan tidak harus bening seperti kaca atau angin.   Jika panjang gelombang warnanya di bawah warna ungu dan/atau di atas warna merah, pasti mata manusia tidak akan mampu melihatnya.    Mata manusia hanya mampu melihat warna merah – jingga – kuning – hijau – biru – nila – ungu, yang sering disingkat mejikuhibiniu.    Jadi tidak ada yang tidak mungkin.

 

Metabolisme makluk luar bumi belum tentu sama dengan makluk bumi

 

Kehidupan ditandai dengan adanya senyawa pendukung utama metabolisme seperti air, oksigen dan karbohidrat.    Semua ini adalah parameter sains manusia dalam mengindikasi “kehidupan di bumi“.    Unsur besi ada, namun dalam komposisi yang sangat kecil, sehingga tidak termasuk indikator kehidupan.    Apalagi sianida yang jelas-jelas racun.

Apakah kehidupan di planet lain, katakanlah Mars, harus sama dengan di bumi?    Nah disinilah poinnya 😀 😀 😀      Lah wong uraian unsur-unsur kimiawinya saja belum tentu sama dengan bumi kok.    Sejumlah unsur tertentu boleh saja sama.    Tapi tidak ada jaminan semua sama.    Bisa saja ada unsur bumi yang tidak ada di Mars.   Dan boleh saja sebaliknya.    Yang menjadikan makluk hidup itu Tuhan.    Di bumi, emas adalah bahan perhiasan.    Jika Tuhan mau, bisa saja emas (Au) dijadikan penyedap rasa makanan bagi makluk hidup di Mars 😀 😀   Intinya, hidup dan kehidupan dari satu planet dengan planet lain tidak harus sama.   Dan itulah mungkin cara Tuhan untuk mencegah invasi antar planet.

Kita boleh saja berharap ada planet yang seperti bumi.    Atau berharap semoga impian para ilmuwan untuk merobah Mars menjadi bumi kedua terwujud dalam waktu dekat.    Tetapi kita harus mengakui bahwa proses metabolisme, proses reproduksi, kehidupan dan kematian adalah kekuasaan Tuhan.   Di bumi saja, sesama perlu oksigen, mekanismenya bisa berbeda.      Manusia hanya bisa mengambil oksigen dari udara dan ikan hanya dari air.     Sesama dari udara, manusia harus menyedot oksigen hampir setiap detik.    Buaya bisa puluhan menit menyelam.    Beda kan?     Sesama di bumi saja tidak seragam, apa lagi bumi dengan planet lain.

 

 

Alien sudah sering ke bumi, kok nggak ngapa-ngapain?

 

Berdasarkan berbagai kesaksian, alien dengan tunggangan UFO-nya sudah sering bolak-balik ke bumi sejak puluhan tahun lalu.   Jangan-jangan sudah sejak beberapa abad lalu.    Bahkan crop-circle yang tiba-tiba muncul seperti yang terjadi di Sleman DIY beberapa tahun lalu, merupakan garapan alien dalam rangka kirim pesan kepada makluk bumi.    Tapi kok nggak ngapa-ngapain?     Lantas mau apa mereka?     Pertanyaan semacam itu sering terlontar dalam berbagai diskusi.    Terutama dari pihak yang kurang atau tidak meyakini soal alien dan UFO.

Namun, sebaliknya, malah bikin rasa kuatir bagi orang-orang yang meyakininya jika tiba-tiba mereka muncul menjajah bumi dan memperlakukan manusia seperti manusia memperlakukan binatang.    Rasa kekhawatiran itu banyak dipaparkan dalam berbagai cerita filem.   Mungkinkah itu terjadi?

 

Mungkin sering, mungkin tidak

 

Karena yang sering muncul di filem, kalau tidak seperti reptil berlendir ya seperti jenglot, lantas muncul pengertian awam seoleh alien adalah ya mereka-mereka itu yang bolak-balik ke bumi.   Padahal bisa saja mereka adalah kontingen yang berbeda dan bahkan tidak saling tahu.   Bisa saja yang datang tahun ini di Gresik adalah alien dari Mars dan belum ketahuan akan datang lagi apa tidak.    Beberapa tahun sebelumnya yang datang di Jepang makluk dari Jupiter dan tidak datang lagi karena alasan tertentu ..   tidak ada yang tahu.   Mestinya ujudnya pun berbeda-beda.   Tidak cuman jenglot dan komodo berlendir.

Tetapi jika ujud jenglot dan komodo berlendir itu memang kesaksian yang nyata, boleh jadi mereka memang hanya 2 kontingen yang bolak-balik kesini.   Atau banyak kontingen tapi hanya 2 kontingen tersebut yang warna peralatannya, warna pakaiannya dan warna jasadnya interseksi dengan mejikuhibiniu.   Yang lain frekwensi gelombang warnanya di inframerah ke bawah atau ultraungu ke atas, sehingga mata kita tak mampu menangkap.

 

Bisa datang belum tentu bisa tinggal

 

Jika ternyata bumi tidak kompatibel dengan planet asal mereka dan teknologi mereka tidak mampu mengemulasi, tentu mereka tidak bisa hidup di bumi.     Mirip para penyelam, bisa datang ke dasar laut, tapi tidak mungkin tinggal disana.    Andaikan bisa tinggal disana, pasti banyak perumahan baru di dasar laut mumpung tanahnya masih gratis, ketimbang menghuni daratan yang sudah padat banget.

Seberapa lama mampu bertahan di dasar laut, tergantung kelengkapan peralatannya.    Jika hanya mengandalkan tabung oksigen, mungkin hanya beberapa menit.   Jika di dalam kapal selam, mungkin bisa beberapa hari.     Makin lama makin besar biayanya dan mau tak mau harus kembali ke darat, karena ada beberapa sumberdaya yang hanya bisa didapatkan di darat.

Demikian pula alien yang mendarat di bumi.    Bagi mereka yang mendapati bumi tidak kompatibel dengan metabolisme mereka, maka mereka tidak akan bisa lama di bumi dan segera pergi.   Jika masih optimis bisa mengembangkan teknologinya untuk mengemulasi bumi seperti planet asal mereka, tentu mereka akan datang lagi setelah teknologi tersebut dibuat.    Manusia bumi pun akan mengalami hal yang sama kelak setelah mampu mendarat di Mars.    Pendaratan pertama akan sangat sebentar.    Pendaratan ke 2 mungkin bisa lebih lama berdasarkan pengkajian pendaratan pertama.

 

Manusia bumi optimis dengan Mars, kenapa alien belum ada yang mampu hidup di bumi?

 

NASA optimis bisa menyulap atmosfer Mars bisa untuk bernapas bebas.    Padahal belum pernah sekalipun kesana.    Apa iya alien yang sudah mampu hadir di bumi, bahkan mungkin ada yang beberapa kali bolak-balik kok belum mampu hidup di bumi?

  1. Soal optimisme tidak bisa disamakan antara analisis awang-awang dengan analisis yang realistik.    Alien X sudah benar-benar mendarat di bumi.   Andaikan bukan hoax, cara mereka menganalisis kondisi bumi sudah jauh lebih realistik ketimbang NASA menganalisis Mars.
  2. Kita tidak tahu persis seberapa optimis dan langkah apa yang sudah dan sedang dilakukan oleh kontingen alien tertentu yang optimis.   Bahkan boleh jadi kita tidak tahu jika ternyata beberapa alien tertentu sudah lama hidup di bumi, jika mereka invisible di mata kita.
  3. NASA optimis bisa bikin atmosfir Mars seperti atmosfir bumi, berarti pasti ada tahapan-tahapan yang sudah dirancang untuk dilakukan.   Namun kemungkinan belum bisa menghitung secara detil efek sampingnya bagi kondisi planet Mars itu sendiri seandainya komposisi densitas atmosfirnya diperrapat seperti atmosfer bumi.   Mungkin baru mampu menghitungnya kelak setelah benar-benar berhasil mendarat disana.

 

Apa efek samping mengubah kerapatan atmosfer?

 

Planet adalah benda langit berukuran besar bermassa besar dan berpusing pada porosnya sekaligus beredar mengelilingi bintangnya.   Bumi dan Mars mengelilingi bintang yang bernama Matahari.   Bumi berjalan anteng tapi diam-diam ada pemanasan global yang mencairkan gunung es kutub dan ada lempeng-lempeng litosfer yang mlorot menyebabkan gempa tektonis, ada badai angin ngamuk dan sebagainya.    Konon kata para pakar karena adanya kesetimbangan yang terganggu.   Pemanasan global dipicu oleh komposisi udara troposfer (lapisan atmosfer terbawah) terganggu polusi yang efeknya merusak ozonosfer.    Diperparah lagi dengan penggundulan hutan di berbagai kawasan.    Akibatnya panas sinar kosmik sampai ke kulit bumi.   Badai juga merupakan fenomena perubahan tekanan pada lokasi tertentu di troposfer yang extrim dan mendadak yang berakibat terjadi penyedotan atau penghembusan udara yang sangat kuat.    Ini juga konon ada kaitannya dengan pemanasan global.

Dari uraian awam di atas bisa kita bayangkan bahwa, meski polusi itu kehadirannya tidak mendadak, namun efeknya ada dan berupa bencana.   Sialnya, iptek kita belum mampu menanggulanginya.

Nah…  Mars saat ini dari kamera tampak gundul dan konon atmosfernya sangat tipis, hanya 1% dari kerapatan udara atmosfer bumi.   Namun tampaknya memang kondisi itulah kesetimbangan bagi Mars, planet kecil gundul yang massanya hanya 15% bumi, gravitasinya hanya 37% bumi, rotasinya lebih lambat 30 menit dari bumi dan revolusinya 2 tahun (1 tahun lebih lambat dari bumi).    Mars tidak memiliki katulistiwa, karena yang menghadap ke matahari salah satu kutubnya, bukan tengahnya seperti bumi.     Sehingga semua air disana terjebak beku abadi di kutub yang membelakangi matahari.     Lantas apa jadinya jika tiba-tiba atmosfernya menjadi 100 kali lebih rapat (seperti bumi) dan dipaksa ada air serta tumbuh hutan menggantikan kegundulannya.    Membayangkan momen putar naiknya bobot atmosfer 100 kali lipat saja terbayang seperti mengalungkan ban vespa pada baling-baling kipas angin.     Itupun andaikan manusia benar-benar mampu.    Semuanya akan terbukti setelah mampu mendarat disana.

Kira-kira alien pun ada yang mengalami hal serupa.   Semula optimis, giliran sudah mendarat beneran di bumi, ceritanya menjadi lain.   Setelah dihitung ulang berdasarkan fakta di TKP, hasilnya pesimis dan langsung goodbye.  

Tidak mustahil pula ada penasaran dan mencoba menerapkannya.   Namun ternyata benar, hanya menjadi bencana alam, lantas akhirnya menyerah pergi mencari planet lain yang lebih prospektif baginya.   Boleh jadi ada kontingen yang justru terjebak oleh bencana alam ciptaannya, kendaraannya hancur dan alien tidak bisa kembali, lantas menjadi jenglot yang tidak hidup dan tidak mati 😀

 

Apakah Covid-19 merupakan indikasi alien?

 

Tidak mustahil.   NASA konon optimis mampu membuat atmosfer bumi di Mars.    Andaikan terwujud beneran, tentu manusia tidak akan serta-merta bisa hidup disana gegara bisa bernapas.    Mau makan apa?    Tentu harus ada sumber pangan, alias menanam tanaman pangan dan beternak.    Semua makluk hidup membutuhkan makluk hidup lain untuk membantu metabolisme dan siklus kehidupannya.    Kita manusia butuh bakteri untuk membusukan ampas makanan perut.   Binatang dan tumbuhan juga demikian.   Supaya tanaman bisa hidup, tumbuhan perlu dukungan virus, bakteri, lumut dan jamur tertentu yang mampu menyiapkan tanah untuk bisa ditanami.   Maka menghadirkan virus, bakteri, lumut dan jamur pendukung harus dilakukan di tahap awal.    Tahap berikutnya menghadirkan benih tanaman dan ternak.    Ini bisa makan waktu yang lama.    Terlebih jika ada faktor trial-n-error.      Setelah semua sukses barulah para muhajirin diboyong kesana.

Nah … alien pun kurang lebihnya seperti itu.   Kontingen alien yang sudah mendarat di bumi juga harus melakukan site-preparation seperti itu di bumi sebelum memboyong masyarakatnya kesini.    Boleh jadi tahapan-tahapannya sebagian sudah dilakukan.   Dan tidak menutup kemungkinan hadirnya virus-virus aneh yang semula tidak ada di bumi seperti antrax, ebola dan covid-19 merupakan tahapan yang sedang mereka lakukan.

Kenapa menjadi penyakit bagi manusia bumi?    Bisa jadi itu efek samping yang tidak direncanakan.    Atau boleh jadi memang untuk menghabisi penguasa bumi tanpa merusak fisik bumi.       Semuanya serba mungkin, karena belum pernah ada komunikasi yang jelas antara mereka dengan kita.    Bahkan informasi yang ada pun masih belum bisa 100% dipercaya.    Pasalnya fenomena kehadirannya banyak yang mengaku menyaksikan.

 

 

Mungkinkah sudah ada alien yang menghuni bumi?

 

Mungkin saja.    Mondok di bumi tidak harus menjadi parasit atau musuh manusia.    Ruang kehidupan di bumi tidak hanya daratan.    Hidup berdampingan juga tidak selalu harus bermusuhan jika tidak ada yang diperebutkan.   Boleh jadi malah saling memanfaatkan (mutualisme) tanpa harus kontak langsung.    Jika mereka populasi kecil dan makanan pokoknya karat besi dan tidak butuh oksigen dari udara, boleh jadi mereka cukup nebeng di dasar laut yang banyak bangkai kapal.

Atau, makanannya karbohidrat dan protein seperti makluk bumi, juga perlu oksigen seperti makluk, tapi tidak butuh udara untuk bernapas, juga bisa tinggal di dasar laut.   Makanan berlimpah gratis.   Terlebih jika di planet asal mereka memang hidupnya dalam tekanan tinggi, tentu dasar laut lebih baik ketimbang di daratan.   Tanah gratis, bisa bikin istana megah dengan warna di luar mejikuhibiniu.   Sehingga seumur-umur manusia tidak akan melihat, meskipun mungkin ada ikan tertentu yang bisa melihat.

Bisa jadi warnanya visible.   Tapi teknologinya canggih bisa mendadak invisibel ketika ada kehadiran manusia, atau berpindah lokasi dalam sekejap dengan memanipulasi ruang dan waktu, malah dikira hantu laut bagi yang sempat melihatnya.   Jadi bukan mustahil mitos “Segitiga Bermuda” di Amerika, “Segitiga Dragon” di Jepun, “Kerajaan Atlantis” di samudera Pasifik ataupun “Nyi Ratu Kidul” di samudera Indonesia dan mungkin mitos lain di lautan lain, sebenarnya alien yang menghuni laut.   Wallahu alam bisawab.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
No Comments

Post A Comment