Mantrawedha Kidung Sunan Kalijaga

05 Jan Mantrawedha Kidung Sunan Kalijaga

Mantrawedha adalah kidung karya Kangjeng Sunan Kalijaga. Kidung ini mantra dan wejang yang terdiri dari 10 pupuh dhandhang gula. Karena kidung ini murni berisikan doa atau mantra, maka umumnya dilantunkan dalam suara lembut, hening tanpa diiringi gamelan alias macapat. Berikut ini contoh sajian macapat 10 pupuh Mantrawedha.

Pupuh 1-5: Inti Mantrawedha

Inti mantrawedha hanyalah yang tersurat dalam 5 pupuh pertama, yaitu doa kepada Allah SWT. Sehingga jika seseorang ingin berdoa dengan mengidung atau membaca mantrawedha, maka yang diperlukan hanya pupuh 1 sampai dengan 5 saja. Isi dari doa adalah memohon keselamatan, baik terhadap gangguan kejahatan maupun penyakit dan hama, baik dari sumber biologis dan fisik maupun dari metafisik. Pupuh-pupuh selanjutnya menggambarkan wejang dari Kangjeng Sunan Kalijaga tentang isi dan misi 5 pupuh pertama.

Beberapa bahasa daerah, tidak sepenuhnya bisa dituliskan dalam aksara Latin, terutama yang termasuk bahasa alam. Ada beberapa vokal maupun konsonan yang tidak terwakili oleh aksara Latin. Terlebih bahasa Jawa, bahkan aksara Jawa pun menjadi tidak konsisten. Contohnya vokal “a”. Ada “a” yang diucapkan tegas ada pula yang di antara “a” dan “o”. Penulisannya yang benar tetap “a”, baik dalam aksara Latin maupun Jawa. Untuk memudahkan pembaca, setiap pupuh kidung ini ditulis 2 kali. Yang pertama adalah penulisan yang seharusnya, dan yang kedua adalah menurut pengucapannya. Namun karena tidak ada aksara Latin untuk menyatakan vokal di antara “a” dan “o”, maka disini dicoba dituliskan dengan “o”.

Pupuh 1

Ana kidung rumeksa ing wengi,
teguh ayu luputa ing lelara,
luputa bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
peneluhan tan ana wani,
miwah panggawe ala,
gunaning wong luput,
geni atemahan tirta,
maling adoh tan ana ngarah mring mami,
guna duduk pan sirna.

Pengucapannya

Ono kidung rumekso ing wengi,
teguh ayu luputo ing leloro,
luputa bilahi kabeh,
jin setan datan purun,
peneluhan tan ono wani,
miwah panggawe olo,
gunaning wong luput,
geni atemahan tirta,
maling adoh tan ono ngarah mring mami,
guno duduk pan sirna.

Terjemah bebas

Ini doa penjaga malam,
semoga semua aman, luput dari penyakit,
dan luput dari petaka,
jin dan setan tidak akan (mengganggu),
teluh (santet) tak akan berani (beraksi),
sekalian niat jahat,
(dan) tipu daya luput,
api akan tertangkis air,
maling menjauh tak berani menyatroni ku,
(dan) segala bentuk santet sirna

Penjelasan

Ini doa penjaga malam memohon kepada Allah akan keselamatan dan perlindungan dari berbagai kejahatan, baik yang dilakukan manusia, jin maupun setan, ataupun persekutuan antar mereka. Kejahatan-kejahatan tersebut akan luput atau gagal bagaikan api bertemu air.

Pupuh 2 dan 3

Sakabehing lara pan samya bali,
kehing ama pan sami miruda,
welas asih pandulune,
sakehing braja luput,
kadi kapuk tibaning wesi,
sakehing wisa tawa,
sato galak lulut,
kayu aeng lemah sangar,
songing landhak guwaning mong lemah miring,
myang pakiponing merak.

Pagupakaning warak sakalir,
nadyan arka myang segara asat,
temahan rahayu kabeh,
apan sarira ayu,
ingideran mring widadari,
rineksa malaikat,
sakathahing rasul,
pan dadi sarira tunggal,
ati Adam uteku Baginda Esis,
pangucapku ya Musa.

Pengucapannya

Sakabehing loro pan samyo bali,
kehing omo pan sami mirudo,
welas asih pandulune,
sakehing brojo luput,
kadi kapuk tibaning wesi,
sakehing wiso towo,
sato galak lulut,
kayu aeng lemah sangar,
songing landhak guwaning mong lemah miring,
myang pakiponing merak.

Pagupakaning warak sakalir,
nadyan arko myang segoro asat,
temahan rahayu kabeh,
apan sarira ayu,
ingideran mring widodari,
rinekso malaikat,
sakathahing rasul,
pan dadi sariro tunggal,
ati Adam uteku Bagindo Esis,
pangucapku yo Musa.

Terjemah bebas

Semua penyakit akan kembali (ke asalnya),
semua hama akan menyingkir,
semua melihatku penuh kasih,
semua serangan senjata (yang tertuju padaku) akan luput,
bak kapuk jatuh di atas besi,
semua racun (bisa) akan netral (bagiku),
(semua) biatang buas akan tunduk (padaku),
pohon angker, tanah gersang –
bulu landak, goa di tebing miring –
maupun sarang merak (baca: kawasan perburuan harimau) –

(dan) kubangan badak dan sebangsanya (baca: kawasan jorok sumber penyakit) –
termasuk teriknya matahari (arka) yang sedemikian hebatnya sehingga mampu mengeringkan laut (baca: kemarau panjang),
semua segera menjadi nyaman,
dan membahagiakan,
bak diiringi bidadari,
dijaga malaikat,
dan segenap para rasul,
semua bak manunggal sejiwa (denganku),
perasaan(ku) (adalah Nabi) Adam, pemikiranku (adalah Nabi) Sis,
(dan) ucapanku (adalah Nabi) Musa.

Penjelasan

Pupuh 2 dan 3 ini menunjukkan sebuah hasrat untuk beraura “pencerah”. Semua penyakit, hama maupun serangan senjata tidak ada artinya. Ganasnya binatang buas berbalik menjadi kepatuhan. Kawasan-kawasan angker, gersang, berbahaya, jorok seram dan gawat serta kekeringan (peceklik) berubah menjadi indah, damai, subur, nyaman dan penuh kebahagiaan.

Semua itu berkat keimanan kita sehingga dari dalam diri kita terpancar aura para malaikat dan para rasul. Semua manunggal dalam sanubari, dimana perasaanku seperti Nabi Adam, pemikiranku seperti Nabi Sis, dan ucapanku seperti Nabi Musa.

Apa istimewa perasaan Adam? Jelas, Nabi yang satu ini adalah satu-satunya lelaki yang pernah hidup di Syurga sebelum turun ke bumi. Beliau juga manusia pertama bumi versi jaman ini. Bahkan ada kisah bahwa beliau turun ke bumi karena dosa. Semua ini menunjukkan kondisi extrim. Ketika di syurga mendapat kenikmatan extrim. Setelah berbuat dosa dan diturunkan ke bumi, menjadi penyesalan extrim, namun harus mengatasinya dengan tawakal extrim. Sehingga tentu apa yang dirasakan Adam tidak bisa dibayangkan oleh manusia lain dan manusia lain tidak mungkin mengalami hal yang seperti dialami Adam.

Pemikiran Nabi Sis dan ucapan Nabi Musa, sepertinya merupakan kemenonjolan yang disimpulkan oleh Sunan Kalijaga. Hal-hal seperti ini akan dilanjutkan dalam pupuh 4 dan 5.

Pupuh 4 dan 5

Napasingun Nabi Isa luwih,
Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
Yusuf ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Hyang Suleman kasekten mami,
Ibrahim nyawaningwang,
Idris ing rambutku,
BagendAli kulitingwang,
Abu Bakar getih daging Umar singgih,
balung Bagenda Usman.

Sungsum ingsun Patimah linuwih,
Siti Aminah banyuning angga,
Ayub ing ususku mangke,
Nabi Nuh ing jejantung,
Nabi Yunus ing otot mami,
Netraku ya Muhammad,
panduluku rasul,
pinayungan Adam Sarak,
sampun pepak sakhathahing para Nabi,
dadya sarira tunggal.

Pengucapannya

Napasingun Nabi Isa luwih,
Nabi Yakub pamiyarsaningwang,
Yusuf ing rupaku mangke,
Nabi Dawud swaraku,
Hyang Suleman kasekten mami,
Ibrahim nyawaningwang,
Idris ing rambutku,
BagendAli kulitingwang,
Abu Bakar getih daging Umar singgih,
balung Bagendo Usman.

Sungsum ingsun Patimah linuwih,
Siti Aminah banyuning anggo,
Ayub ing ususku mangke,
Nabi Nuh ing jejantung,
Nabi Yunus ing otot mami,
Netraku ya Muhammad,
panduluku rasul,
pinayungan Adam Sarak,
sampun pepak sakhathahing poro Nabi,
dadyo sarira tunggal.

Terjemah bebas

Napasku Nabi Isa
penampilanku Nabi Yakub,
wajahku Nabi Yusuf,
suaraku Nabi Dawud,
kesaktianku Nabi Sauleman,
nyawaku Nabi Ibrahim,
rambutku Nabi Idris,
kulitku (sahabat) Ali,
darahku (sahabat) Abu Bakar,
dagingku (sahabat) Umar,
tulangku (sahabat) Usman,

Sumsumku Fatimah,
cairan tubuhkan Siti Aminah,
ususku Nabi Ayub,
jantungku Nabi Nuh,
ototku Nabi Yunus,
mataku Nabi Muhammad,
penglihatanku bak rasul,
diteduhi oleh Nabi Adam dan Siti Sarah,
sudah lengkap semua nabi,
manunggal dalam jiwaku.

Penjelasan

Sepertinya menggambarkan sekujur tubuh kita luar-dalam penuh dengan aura para nabi, para sahabat dan para isteri Nabi Muhammad. Entah ini benar-benar permohonan supaya aura para manusia istimewa tersebut masuk menjadi aura kita, atau sekedar kiyas ataukah punya makna lain, saya sama sekali belum tahu. Yang jelas, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang umumnya tingkat ilmu dan pengetahuannya sudah makrifat. Seperti yang pernah saya tuliskan di laman Bima Suci, seorang makrifat adalah orang yang jenius, sehingga tidak selalu pola pikirnya bisa diikuti oleh orang awam. Kejeniusan Sunan Kalijaga sudah terbukti, selain melalui pengembangan seni dan budaya, juga tata kota dan teknik bangunan, meski beliau bukan insinyur sipil.

Pupuh 6-7: Wejang Sunan Kalijaga tentang Mantrawedha

Pupuh 6 sampai dengan 10 adalah penjelasan atau “wejang” dari Sunan Kalijaga tentang inti Mantrawedha yang tersurat pada pupuh 1 sampai dengan 5 di atas. Namun sepertinya wejang ini bukan menjelaskan arti dari setiap pupuh, melainkan cenderung khasiat atau manfaat dan cara mendapatkannya.

Pupuh 6

Wiji sawiji mulane dadi,
apan pencar sak indenging jagad,
kasamadan dening dzate,
kang maca kang angrungu,
kang anurat kang anyimpeni,
dadi ayuning badan,
kinarya sesembur,
yen winacakna ing toya,
kinarya dus rara tuwa gelis laki,
wong edan nuli waras.

Pengucapannya

Wiji sawiji mulane dadi,
apan pencar sak indenging jagad,
kasamadan dening dzate,
kang moco kang angrungu,
kang anurat kang anyimpeni,
dadi ayuning badan,
kinaryo sesembur,
yen winacakno ing toyo,
kinarya dus roro tuwo gelis laki,
wong edan nuli waras.

Terjemah bebas:

Benih apapun yang tumbuh,
akan menyebar ke seluruh dunia,
mendapat restu dari Dzat yang Maha Kuasa,
yang membaca (dan) yang mendengar,
(dan) yang menulis (dan) yang menyimpannya,
semua akan mendapat manfaat (pahala),
sebagai (kemampuan memberi) petunjuk.
Jika (kidung ini) dibaca dekat air,
gadis tua lekas dapat jodoh,
(dan) orang gila segera sembuh.

Penjelasan:

Sebuah ilmu yang bermanfaat, baik pengetahuan maupun keterampilan, akan diridloi NYA untuk menyebar ke segala penjuru dunia. Semua pihak akan mendapat manfaatnya, baik yang membaca, yang mendengarkan (orang membaca), yang menulis maupun yang sekedar menyimpannya. Demikian pula kidung ini (pupuh 1-5), jika dibacakan di dekat air, maka jika air itu untuk mandi gadis tua, dia akan lekas mendapat jodoh. Jika utuk mandi orang gila, dia akan segera waras.

Pupuh 7

Lamun ana wong kadhendha kaki,
wong kabanda wong kabotan utang,
yogya wacanen den age,
nalika tengah dalu,
ping sawelas wacanen singgih,
luwar saking kebanda,
kang kadhendha wurung,
aglis nuli sinauran,
mring Hyang Suksma kang utang puniku singgih,
kang agring nuli waras.

Pengucapannya

Lamun ono wong kadhendho kaki,
wong kabondo wong kabotan utang,
yogya wacanen den age,
naliko tengah dalu,
ping sawelas wacanen singgih,
luwar saking kebondo,
kang kadhendho wurung,
aglis nuli sinauran,
mring Hyang Suksmo kang utang puniku singgih,
kang agring nuli waras.

Terjemah bebas:

Manakala (seseorang atau kamu) kena denda,
atau terikat terjerat hutang,
sebaiknya segera baca kidung ini (pupuh 1-5),
di tengah malam,
jam 11 (pm) bacalah dengan khusuk,
jeratan akan segera lepas,
denda akan segera urung,
Tuhan yang akan membayar hutangnya,
(dan) jika sakit segera sembuh.

Penjelasan:

Bagi yang sedang terancam kena denda atau hukuman atau terbelit hutang atau terjerat dalam kekonyolan, kidung ini (pupuh 1-5) bisa menjadi doa ampuh untuk memohon pertolongan Allah, terutama jika dibacakan jam 11 malam dengan khusuk. Ancaman denda akan segera urung, jeratan segera lolos dan belitan hutang segera lunas. Tuhan akan memberi jalan yang mudah untuk melunasi hutangnya.

Karena ini mantra seorang wali, tentu tidak mungkin untuk menyelamatkan orang yang sengaja berbuat salah. Kita boleh jadi berbuat salah tanpa sengaja berniat kriminal. Misalnya perkelahian, atau karena ulah kawan kita, yang berakibat cukup fatal sehingga sepertinya kita melakukan kesalahan. Kita juga bisa terbelit hutang tanpa ada niatan ngemplang. Misalnya, gara-gara kena PHK, maka sebagian atau semua hutang macet. Niatnya tidak ngemplang. Tapi karena tidak ada uang untuk membayar, maka akan tampak seperti orang yang ngemplang. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang akan dimohonkan dalam kidung mantrawedha untuk mendapat pertolongan Tuhan.

Bagi orang-orang yang benar-benar bersalah, semisal penjahat atau koruptor, doa kidung ini tidak ada manfaatnya. Mereka mesti mencari mantra dari setan atau iblis bila ingin lolos dari hukuman. Kidung ini justru mustajab untuk menaklukkan mereka, karena masuk dalam kategori sebagai pelaku “guna” yang “luput”. Bahkan bisa jadi orang-orang jahat seperti ini dianggap sebagai penyakit atau hama.

Catatan: “Ping sawelas” – “ping” disini bukan berarti “kali”, melainkan jam atau pukul, dari asal kata “tabuh kaping”.

Pupuh 8

Lamun ora bisa maca kaki,
winawera kinarya ajimat,
teguh ayu tinemune,
lamun ginawa nglurug,
Mungsuhira tan ana wani,
luput senjata tawa,
iku pamrihipun,
sabarang pakaryanira,
pan rineksa dening Hyang Kang Maha Suci,
sakarsane tinekan.

Pengucapannya

Lamun ora bisa moco kaki,
winawero kinaryo ajimat,
teguh ayu tinemune,
lamun ginowo nglurug,
Mungsuhiro tan ono wani,
luput senjoto towo,
iku pamrihipun,
sabarang pakaryaniro,
pan rinekso dening Hyang Kang Moho Suci,
sakarsane tinekan.

Terjemah bebas:

Jika (kamu) tidak bisa membaca,
hapalkan saja seperti jimat,
niscaya akan aman,
jika (kamu) bawa meluruk (perang),
musuhmu akan takut,
luput dari (serangan) senjata (apapun),
itulah manfaatnya,
segalanya akan dijaga oleh Tuhan yang Maha Suci,
(dan) apapun yang kau inginkan kabul.

Penjelasan:

Bagi yang tidak bisa membaca (buta huruf), tetap bisa mendapat manfaatnya dengan menghapalkannya. Kidung ini tetap akan menjadi doa untuk keselamatan dalam peperangan maupun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Pupuh 9

Lamun arsa tulus nandur pari,
puwasaa sawengi sadina,
iderana galengane,
wacanen kidung iku,
kehing ama samya bali,
yen sira lunga perang,
wateken ing sekul,
antuka tigang pulukan,
musuhira rep sirep tan ana wani,
rahayu ing payudan.

Pengucapannya

Lamun arso tulus nandur pari,
puwosowo sawengi sadino,
iderono galengane,
wacanen kidung iku,
kehing omo samyo bali,
yen sira lungo perang,
wateken ing sekul,
antuko tigang pulukan,
musuhiro rep sirep tan ono wani,
rahayu ing payudan.

Terjemah bebas:

Jika (kamu) akan bertani padi,
berpuasalah semalam sehari,
(dan) beredarlah di setiap pematangnya,
(sambil) membaca kidung ini,
(niscaya) semua hama akan kembali (ke asalnya),
jika (kamu) akan pergi ke medan perang,
bacalah (kidung ini) dekat nasi,
makanlah 3 suap,
(niscaya) musuhmu ketakutan tak akan berani,
(dan) kamu selamat dalam peperangan.

Penjelasan:

Bagi yang akan bertani padi, kidung ini juga menjadi doa ampuh untuk memohon keberhasilan ketika panen kelak. Akan lebih afdol jika dibaca ketika sedang berpuasa sambil beredar di setiap pematang. Ini akan menjadi doa ampuh untuk memohon supaya tanamannya terbebas dari hama.

Bagi yang hendak pergi ke medan perang, kidung ini dibaca di dekat nasi dan dilanjutkan dengan memakannya 3 suap. Ini akan menjadi doa ampuh untuk memohon keselamatan dan kejayaan di medan tempur.

Pupuh 10

Sing sapa kulina anglakoni,
amutiya lawan anawaa,
patang puluh dina bae,
lan tangi wektu subuh,
lan den sabar sukuring ati,
Insha Allah tinekan,
sakarsanireku,
tumrap sanak rakyatira,
saking sawabing ngelmu pangiket mami,
duk aneng Kalijaga.

Pengucapannya

Sing sopo kulino anglakoni,
amutiyo lawan anowoho,
patang puluh dino bae,
lan tangi wektu subuh,
lan den sabar sukuring ati,
Insha Allah tinekan,
sakarsanireku,
tumrap sanak rakyatira,
saking sawabing ngelmu pangiket mami,
duk aneng Kalijogo.

Terjemah bebas:

Bagi(mu) yang suka berprihatin,
mutih-tawarlah (baca: puasa dan hanya makan nasi putih dan minum air putih),
40 hari saja,
bangunlah setiap subuh,
dan utamakan sabar dan syukur,
insha Allah terkabul,
apa saja yang kamu inginkan,
bagi kerabat dan rakyatmu,
oleh pengaruh keimananku,
(yang kudapat) ketika di Kalijaga.

Penjelasan:

Bagi yang biasa “lelakon” atau bertapa, bisa mendapat manfaat kidung ini lebih sempurna. Syaratnya adalah dengan melakukan puasa mutih atau tawar selama 40 hari. Puasa “mutih” artinya puasa dan ketika berbuka hanya makan makanan yang berwarna putih atau tak berwarna. Puasa “nawa” artinya puasa dan ketika buka hanya makan makanan yang tak berasa. Disini disyaratkan puasa mutih dan nawa selama 40 hari.

Selain itu juga disyaratkan untuk bangun setiap subuh dan menengadah dengan penuh kesadaran kepasrahan dan kesabaran berucap syukur kehadlirat Allah yang Maha Kuasa. Insha Allah, akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan berkah yang melimpah bagi segenap kerabat dan rakyat. Karena cara ini benar-benar sesuai dengan cara sang wali mendapatkan ilmu ini ketika di Kalijaga.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
23 Comments
  • supriyono
    Posted at 23:53h, 23 May Reply

    mhn mf,mungkin untuk puph 10 bait terakhr,sekiranya mungkin artinya “doa nya sunan kalijaga(duk aneng kalijogo)

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:37h, 24 May Reply

      Bukan mas. Duk = ketika, aneng = di (petunjuk lokasi). Sehingga “duk aneng Kalijaga” artinya “ketika di Kalijaga”. Dalam hal ini terpaksa Kalijaga menjadi nama lokasi. Mungkin benar ketika itu ada lokasi bernama Kalijaga. Mungkin juga hanya “pasemon” atau simbolik untuk menyebut lokasi tepi sungai dimana ketika beliau (Raden Mas Said atau Lokajaya) diminta menunggu Sunan Bonang yang tak kunjung tiba, diibaratkan bagaikan “menjaga sungai” (“jaga kali”).

  • Muhammad Teguh Wahyu Hidayat
    Posted at 16:05h, 27 May Reply

    Se-orang pujangga dari zaman lama………pernah berkata,ONO BANTHENG KEDHATON KANG BISO DI GENGGEM TRUS DI BUNTHEL GODONG SINOM TRUS DI SUNDUK ALU BENGKONG …..kemudian apakah arti dari tutur se-orang pujangga tersebut.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:49h, 29 May Reply

      Mohon maaf mas Teguh, saya tidak tahu. Namun kalau boleh ada sedikit komentar tentang tata penulisan Bahasa Jawa, khususnya perbedaan antara D dan DH, juga T dan TH. Dalam huruf Jawa, mereka memang beda huruf. D dan T berada pada bait ke-2, DA TA sa wa la. DH berada pada bait ke-3, pa DHA ja ya nya. TH berada pada bait ke-4, ma ga ba THA nga.

      DH dibaca seperti huruf dal (Arab), misalnya GODHONG, GADHING, GENDHING, GEDHONG, DHALANG dll. Sedangkan D divokalkan mirip huruf dzal (Arab) tapi tanpa ada unsur desis, misal DALAN, DIPAN, DAMAR, DOLAN dll. Kacau dalam penulisan bisa kacau artinya. Misalnya WEDI dan WEDHI. WEDI artinya takut, sedangkan WEDHI artinya pasir. Contoh lain DODOL dan DHODHOL. DODOL artinya jualan, sedangkan DHODHOL adalah nama makanan.

      T dan TH mirip D dan DH untuk konsonan T. Sehingga jangan membayangkan TH dalam THE bahasa Inggeris. Justeru sebaliknya, THE dalam bahasa Inggeris lebih dekat ke T dalam lidah Jawa, terdengar empuk, misalnya BUNTEL (bungkus), BENTENG (tempat bertahan), SATE (makanan) dll. Sedangkan TH terdengar mirip ada benturan benda keras, misalnya BANTHENG (sejenis sapi), BATHARA (sebutan untuk dewata) dll. Kacau dalam penulisan bisa kacau artinya. Misalnya, BATANG dan BATHANG. BATANG artinya menebak, sedangkan BATHANG artinya bangkai. TUTUL dan THUTHUL. TUTUL adalah motif seperti bulu macan tutul, sedangkan THUTHUL adalah gerakan paruh unggas mematuk makanan.

  • Bowo
    Posted at 19:51h, 23 September Reply

    Klo kidung dewa /nabi sulaeman ad g mas

  • Ubaidillah
    Posted at 23:38h, 04 December Reply

    Nabi sis atau yang tertulis esis itu yang di maksud sunan kali jaga nabi yang mana tolong bang pengertiannya trima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:51h, 04 December Reply

      Mungkin Nabi Syths anak Nabi Adam yang lahir tidak punya kembaran 🙂

  • Djalu Ahmad
    Posted at 09:12h, 05 December Reply

    Matur Suwun smg boleh di pelajari dimaknai oleh saya Mas… mohon ijin mas Deru.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 09:20h, 05 December Reply

      Monggo mas, maturnuwun 🙂

  • Edo
    Posted at 08:16h, 17 March Reply

    Terimakasih Pak Deru, , ,

  • Sudirman
    Posted at 13:25h, 28 August Reply

    Assalamu’alaikum kang mas Deru Sudibyo, Mohon ijin untuk di print & untuk di baca.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 18:07h, 28 August Reply

      Monggo den 🙂

  • rio arek pacitan
    Posted at 12:18h, 14 January Reply

    mas maaf. tapi kalo boleh saya minta kelanjutanya. kan ada juga darma wedha. sekalian buat pembelajaran. seingat saya ada juga jiwawedha. terimakasih.

  • Bagus Adi Sukamto
    Posted at 09:23h, 29 October Reply

    Pengen pempljari kidong tanpa hrus tirakat puasa.. Angsal boten mas.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:42h, 29 October Reply

      Saged mas. Kidung itu isinya do’a. Keyakinan saya, do’a bisa kita lakukan kapan saja di tempat-tempat yang tidak dilarang untuk berdo’a. Sambil berpuasa tentu akan mempertajam do’a kita.

  • candra wahyu
    Posted at 14:09h, 26 November Reply

    Halo om , saya ingin bertanya. Teman saya ada yang punya buku
    Serat Kekidungan , Kaserat Dening : Kanjeng Raden tumenggung Agus Panji Saputro (Ki agus)
    Inii isi nya apa ya? apa pernah membaca nya?
    Kalau ada info tentang apa mohon dikabari ya om. Makasih sebelum nya,

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:05h, 27 November Reply

      Belum tahu mas. Iya nanti kalau ada kesempatan tahu, saya infokan.

  • Bagus Adi Sukamto
    Posted at 21:24h, 10 January Reply

    matur suwun mas Deru sudibyo kulo tertarik mempelajari dan mendalami mohon izin dan do’a nya semoga jadi ilmu yang bermanfaat.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:30h, 13 January Reply

      Monggo mas Bagus

  • Didin
    Posted at 11:35h, 04 October Reply

    Mohon maaf mas deru saya mau tanya untuk pupuh ke 1-5 bisa di bacakan ketika seseorang kesurupan atau kena guna”?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:24h, 04 October Reply

      Waah… gak tahu mas. Dicoba saja. Namun saya punya pengalaman sedikit aneh. Suatu malam, anak tiba-tiba biduran (alergi bentol-bentol gatel). Ketika itu Minggu malam hampir jam 24:00. Tidak ada satupun apotek yang buka. Mungkin karena Minggu malam. Anak menangis sejadi-jadinya. Saya pun stress, panik dan bingung meskipun tetep sambil berdo’a.

      Tiba-tiba mulut saya berdendang kidungan Mantrawadha itu. Mungkin karena dari semenjak bayi, setiap mau tidur saya gendong dan saya kidungi “Lela ledhung”. Cuman kali itu kidungnya Mantrawedha Sunan Kalijaga. Tujuannya sama, supaya tertidur, sehingga lupa dengan rasa gatalnya.

      Ternyata, belum sampai pupuh ke-10, anak sudah terlelap. Saya ambil lampu senter, saya soroti sekujur badannya. Ternyata semua bentolan sudah kempes, yang tersisah hanya kemerahan tipis saja. Apakah itu karena hebatnya kidung tersebut? Wallahu a’lam bishawab. Yang pasti, Allah berkenan menyembuhkan anak saya.

  • M. Amin
    Posted at 10:57h, 08 October Reply

    Assalamualaikum Mas deru, nderek tangklet.
    Jenis kidong niku npo mwon nggeh, ugi kasiat ipun?
    Kulo og tertarik mlajari nipun.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:23h, 08 October Reply

      Walaikum salaam Mas Amin. Ngapunten, wangsulanipun radi panjang mas. Jinisipun gumantung ing perangan ingkang pundi. Larasipun werni kalih, slendro lan pelog. Pakeming tembang maskumambang, mijil, kinanthi, pucung, gambuh, sinom, asmarandana, durma, dhandhanggula, pangkur lan megatruh. Pakeming gelar swara macapat (tanpa karawitan) lan gendhing (mawi karawitan).

      Menggah isining kidung, gumantung ingkang yasa. Kidung yasaning para pujangga limrahipun wulang reh babagan kautaman lan kabudayan. Kala-kala ndongeng sejarah minangka tepa tuladha. Contonipun kidung *”Gethek sinangga bajul”*. Punika sekar megatruh yasaning pujangga ingkang nyariyosaken lampahipun Jaka Tingkir nalika bidhal dateng Demak Bintara nedya suwita ngarsa dalem Prabu Trenggana.

      Kidung yasaning para wali limrahipun pitutur kautaman utawi donga anut piwulanging agama suci. Contonipun kidung *”Mantrawedha”* ingkang kaserat ing inggil. Punika sekar dhandhanggula yasanipun Kangjeng Sunan Kalijaga ingkang isinipun donga nedha keslametan.

Post A Comment