Mbah Dikin, Anggota LINMAS yang Pandai Sulap

06 Aug Mbah Dikin, Anggota LINMAS yang Pandai Sulap

dikinEntah belajar dimana, kenyataannya Mbah Dikin memang dikenal pandai bermain sulap. Meski belum pernah sekalipun mengkomersilkan permainan sulapnya, namun nyatanya, Mbah Dikin sudah berkali-kali mendemonstrasikan berbagai permainan sulap yang dia kuasai pada setiap kesempatan.

Bahkan sambil begadang bersama saya, sering ujug-ujug dia memegang sesuatu, lantas teman-teman diminta menebak tangan mana yang memegangnya, dan… ternyata di saku. Kadang iseng membungkus tusuk gigi atau buah korek dengan ujung bajunya, lantas teman-teman dia minta untuk mematah-matahkannya dalam keadaan terbungkus. Rasa dan suara kliknya sangat meyakinkan bahwa tusuj gigi tadi memang patah beneran. Bahkan kadang saking gemesnya ada yang mematahkannya berkali-kali dengan harapan benda itu hancur lebur. Namun setelah dibuka, benda tersebut masih utuh.

 

Menyulap uang

Pasti hal semacam itu sangat sepele bagi para pemain sulap. Tapi di depan mata kami tetap saja ajaib. Maklum kami orang awam. Entah tipuan ataupun ilusi, kami tidak tahu. Di mata kami, dia melakukannya begitu polos tanpa ada sarana apapun dan tanpa jarak.

Percaya atau tidak Mbah Dikin ini meremas-remas beberapa lembar kertas putih di depan kami sekeluarga dalam rangka menghibur anak saya. Tak lama kemudian lembar-lembar kertas itu berubah menjadi uang kertas. Karena tangannya ketika meremas tidak terlalu rapat dan memakan waktu cukup lama (video dipotong), sehingga beberapa dari kami, terutama anak kami mengaku melihat perubahannya. Jumlah lembaran uang kertas yg muncul kayaknya lebih banyak dari kertas putih semula. Sayangnya uang tersebut lantas dilipat dan dimasukkan ke saku, tidak dibagi-bagi.

 

Bukan sulap

Soal permainan uang yang ditayangkan di atas, menurutnya bukan sulap. Sulap uang seperti itu baginya sangat sulit, karena dia harus membawa uang beneran sebanyak itu, sekitar Rp 4 jutaan lebih. Uang siapa yang harus dia bawa? Bisnis dia hanya makelar atau lebih tepatnya buruh pengangkut batu-bata, dimana kalau ada orang pesan, dia akan ambilkan di supplier. Bata diantar kepada pemesan, lantas pemesan membayar, lantas dia bayarkan kepada supplier.

Paling banyak dalam sehari dia mengantongi Rp 200 ribu. Itupun jika dia mampu mengusung 2000 batu-bata. Sekali usung hanya 200 bata. Maklum dia hanya menggunakan sepeda motor bodong yang telah didobel shockbreaker-nya. Sehingga 10 kali usung adalah maksimum yang bisa dia lakukan seharian.

Pangsanya terbatas hanya mereka yang tinggal di gang-gang kecil dimana mobil bak tidak bisa masuk dan tidak melewati jalan raya. Meski hanya butuh 1000 bata, jika harus melintasi jalan raya, pasti bukan rejekinya Mbah Dikin. Tak urung akan disemprit polisi karena membawa sepeda motor bodong dengan muatan yang membahayakan kendaraan lain. Meski hanya butuh 1000 bata, jika mobil bak bisa masuk, tentu bukan rejekinya Mbah Dikin. Orang kampung lebih tergiur selisih Rp 100 ribu ketimbang peduli dengan orang-orang seperti Mbah Dikin.

Jadi intinya, agak mustahil secara spontan di saku Mbah Dikin ada uang lebih dari Rp 200 ribu. Terlebih malam hari yang pastinya sudah disetor kepada bini. Lantas uang lebih dari Rp 4 juta tersebut dari mana? Itu uang beneran lho! Kami masing-masing sudah memeriksanya cukup cermat.

Menurut Mbah Dikin, uang tersebut adalah pinjaman. Pinjam kepada siapa? Ruaaaarrrrr biasa di kampung ada orang yang membolehkan uangnya jutaan dipinjam hanya untuk mainan. Wong cari penjaman Rp 20 ribu saja nyaris mustahil. Nah… itulah rahasia Mbah Dikin. Dia tidak menjelaskan secara gamblang. Dia hanya bilang bahwa dia pinjam kepada pihak yang banyak uang dan harus segera dikembalikan sebelum pemiliknya menghitung.

Saya lantas bertanya, “apakah yang ditampilkan di youtube, seseorang tangannya bisa mengeluarkan uang hingga bertumpuk-tumpuk itu juga pinjaman?”. Sambil terkekeh-kekeh dia menjawab: “mungkin saja…”. Saya bertanya lagi, “apakah mungkin uang itu palsu?”. Dia pun menjawab; “mungkin saja”. Namun dia juga memberi catatan, bahwa bikin uang palsu kan kriminal yang sangat memungkinkan akan dilacak polisi. Berarti sebuah kebodohan uang palsu ditampilkan di depan publik tanpa menyembunyikan identitas. Saya bertanya lagi; “apakah mungkin uang itu palsu itu uang mainan?”. Menurutnya; “mungkin saja jika ada uang mainan yang sangat mirip. Yang jelas jika harus menggambar sendiri atau memfotokopi (maksudnya scan) uang beneran, selain biayanya besar, juga bisa kena salah”. Eh pinter juga jawabannya. Maklumlah… dia anggota LINMAS teladan, yang tentu sering mendapat pengarahan dari kepolisian.

 

Uang Ghaib

Terakhir kali saya bertanya; “apakah Mbah Dikin juga bisa mengeluarkan uang bertumpuk-tumpuk banyak sekali seperti yang Kyai Dimas di youtube?”. Dia jawab; “Insha Allah saya juga bisa, tapi harus meminjam uang ghaib”. Namun dia tidak mau menjelaskan secara rinci apakah uang ghaib itu. Dia hanya menjelaskan secara ringkas.

Menurutnya, di alam ghaib sono juga ada peredaran uang yang sama persis dengan uang yang sedang beredar di jagad nyata kita. Kehidupan disana juga sangat mirip dengan kehidupan kita disini. Bahkan kenapa uang kita ada disana, karena memang banyak transaksi finansial antara dunia nyata dan alam ghaib. Siapa yang melakukan transaksi dan jenis transaksi seperti apa, dia tidak mau menjelaskan.

Sepertinya hanya dongeng ngibul yang tak masuk akal. Namun sudah menjadi sifat saya, tidak akan pernah meremehkan sesuatu yang saya belum tahu. Sehingga meski sulit dipercaya, otak saya berkembang ke peristiwa memalak thuyul yang pernah saya post di blog ini. Barangkali uang yang kami palak dari thuyul yang lewat ketika itu merupakan salah satu contoh nyata transaksi finansial antara dunia nyata dan alam ghaib, allahu a’lam bisawab.

 

Siapa Mbah Dikin

Namanya Sodikin dan sehari-hari saya memanggilnya Om Dikin. Karena Mbah Dikin (45) memang paman saya, anak dari adik kakek saya. Saya hanya menggunakan sapaan “mbah” manakala ada anak saya. Namun, meski dia paman, dia memanggil saya mas, karena saya lebih tua. Bahkan ketika masih anak-anak dulu, saya memanggilnya hanya Dikin saja. Jangan heran di generasi kakek, banyak paman atau bibi lebih muda dari keponakan. Maklum, orang jaman itu anaknya banyak, sehingga cucu sudah besar, si nenek masih saja melahirkan paman atau bibi he he 🙂

Kesibukannya sehari-hari adalah mengangkut beban, terutama batu-bata.    Mbah Dikin dipercaya teman-temannya menjadi ketua paguyuban pengangkut beban.     Namun dasar sangat menyukai aktivitas lingkungan, Mbah Dikin juga aktif sebagai komandan LINMAS (hansip) di kampung serta anggota Tim SAR Pemalang.    Di dunia LINMAS, dia juga mendapat penghargaan sebagai anggota teladan.     Meski tidak ada bayaran yang jelas, Mbah Dikin tidak pernah absen, tiap malam berpatroli keliling kampung seorang diri.     Tidak seperti anggota LINMAS pada umumnya yang hanya nongol ketika ada upacara atau event khusus seperti Pemilu dll.    Mbah Dikin benar-benar menjiwai dan merasa berkewajiban untuk mengamankan lingkungan meski tidak dibayar.

Sejak usia SD, Mbah Dikin selalu tekun belajar beladiri. Jaman saya masih SMA, hampir setiap sora saya latihan sparring di rumah bersama kawan-kawan sebaya dari berbagai aliran beladiri. Mbah Dikin pun dengan tekun menyimak. Namun setelah beranjak remaja, saya pergi kuliah, dia lebih menekuni silat yang memang padepokannya ada di kampung kami. Dari silat itulah dia belajar mengenali hal-hal yang ghaib.

Setelah mengenal dunia ghaib, rupanya dia tidak berhenti sebatas perguruan itu. Lulus SMP, bukannya berlanjut ke SMA, malah dia mulai bertualang menggali kanuragan kemana-mana. Singkat cerita, setelah dewasa, di kampung dia lebih dikenal sebagai orang sakti yang cukup mumpuni.

Bukan seperti preman yang menggosipkan kehebatan dirinya untuk menakuti orang lain sambil memamerkan tato dan mulut bau alkohol. Om Dikin tetap ramah, supel dan rendah hati. Tetapi seabreg bukti sempat disaksikan banyak orang di kampung. Yang menceritakan pun orang lain, bahwa Mbah Dikin pernah beberapa kali menangkap penjahat sendirian, melerai tawuran sedirian. Bahkan konon pernah kena sabetan pedang anak-anak tawuran tidak mempan. Dan yang paling riil saya percayai adalah pujian dari beberapa kawan saya yang mantan penjahat kelas kakap di ibukota. Mereka rata-rata sangat respek kepada Mbah Dikin dan sering memujinya di depan saya. Yang mereka kagumi, Mbah Dikin sehebat itu sejak muda, tapi sama sekali tidak tergiur untuk mencari kesenangan dengan melakukan kriminal di kota besar seperti yang mereka lakukan.

Kelebihan lain Mbah Dikin adalah pandai bermain sulap. Tidak ada satupun orang yang tahu sejak kapan dia pandai bermain sulap dan belajar dimana. Dianya pun tidak pernah berterus terang. Penjelasan yang pernah saya dengar adalah bahwa dia memiliki topeng dan 2 alat sulap lain yang berbasis kartu didapat dari seorang pemain sulap beneran asal Pemalang yang hidup di Jakarta. Peralatan itu didapatkan bukan sebagimana seorang guru memberikan tanda kasih kepada murid. Melainkan sebagai hadiah karena dia bisa bermain sulap.

Menurut beberapa kawan, Mbah Dikin ini memiliki kemampuan menyadap orang lain. Hal ini mirip ilmu penyadap bahasa yang pernah ditayangkan di TV beberapa tahun lalu, dimana di sebuah ponpes para santri setelah merapal doa lantas bisa nerocos dalam bahasa asing dia kehendaki meski sama sekali belum pernah dipelajarinya. Bahkan ada yang sengaja memilih bahasa dari negara yang sangat asing bagi kebanyakan kita, seperti bahasa Kongo, Nepal dll. Percayakah? Bagi saya sedikit masuk akal. Ketika saya mendemonstrasikan memutar bandul dengan kekuatan pikiran, dalam tempo kurang dari 30 menit diapun bisa melakukannya, bahkan hingga sekarang.

Namun, meskipun tetap murah senyum, rendah hati dan hidup sangat sederhana sebagai pengecer / pengantar batu bata (dan beban berat lain), Mbah Dikin cukup disegani di kampung. Bagaimana tidak? Ketika kondisi gawat, tetangga merasa terlindungi oleh kehadirannya. Bahkan Mbah Dikin juga dikenal mampu menyembuhkan orang sakit, baik sakit biasa maupun gangguan ghaib seperti santet, modong, teluh dll.

Selain kesederhanaan yang cenderung memprihatinkan, Om Dikin yang sudah 45 tahun ini ternyata belum punya momongan. Meski tidak pernah ke dokter, dia sudah memvonis bahwa dirinya mandul.     Tetapi semua itu tidak mempengaruhi sikap optimisnya dalam kehidupan keseharian.

Ada hal yang sama-sekali tak terduga dari sosok Mbah Dikin yang rajin ibadah itu… ternyata dia juga playboy. Banyak ibu-ibu terlebih janda yang mulutnya lebih sering berucap “Om Dikin” ketimbang kata-kata lain. Saya pernah nggak sengaja membuka hapenya,… masya Allah… banyak sms tak senonoh numpuk disana. Istilah-istilah mengerikan yang sempat saya baca sebelum dihapus, antara lain, “om mrene rah.. bch wis k skolah”, “om skali2 aku diperkosa dong”, dan masih banyak lagi yang lebih vulgar. Meski hanya membaca sekilas, saya yakin kumpulan sms tsb lebih sahih ketimbang hasil survei yang dilakukan oleh tim UI maupun UGM.

Sempat saya iseng menanyakan; “apakah order vulgar sms tersebut sempat ada yang pernah dilayani?”. Dia hanya menjawab; “waahh lupa mas he he he :)”.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
9 Comments
  • Ahmad solihin
    Posted at 19:01h, 29 August Reply

    Hebat ,dan bersahaja ,
    salam hormat
    mbah dikin apa bisa diminta nomer 4 angka ?????

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:30h, 31 August Reply

      Saya sudah tanyakan,jawabannya TIDAK.

  • ndar warsito
    Posted at 06:22h, 24 November Reply

    Wah,,sulit sekali menemukan sosok seperti beliau di masa sekarang ini.kalau boleh minta alamatnya.saya pengen bersilaturahmi ke t4 beliau

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:46h, 25 December Reply

      Terimakasih komennya pak Ndaru. Wah mohon maaf sebanyak mungkin nih… komen sudah lama banget ketelisut. Maklum jarang buka blog. Soal mbah Dikin, bukan tidak mungkin untuk ditemui pak.. asal njanjian dulu. Maklum, harus ngejar setoran. Siang hari biasanya ngobyek ngusung bata atau apasaja. Malamnya keliling kampung jaga keamanan. Tinggalkan aja nomor hp bapak, nanti saya sms nomor dia.

  • hanes
    Posted at 00:49h, 18 April Reply

    pak sy minta nomer hp nya mbah dikin boleh

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:25h, 20 April Reply

      Nanti saya kontak dia dulu. Tempo hari sempat ada yg saya kasih nomor dia, rupanya dia kurang suka entah apa alasannya.

  • Harjo
    Posted at 21:31h, 27 September Reply

    Hebattt

  • Erni tumiwa
    Posted at 17:05h, 24 October Reply

    Maaf boleh saya minta alamatnya Mbah Dikin ? Makasih sebelumnya Mas Deru Sudibyo.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 18:57h, 24 October Reply

      Alamatnya di desa Cibelok, kecamatan Taman, kabupaten Pemalang. Mampir saja ke kantor kepala desa dan tanyakan disana semua orang kenal karena dia aktif sebagai komandan Linmas.

Post A Comment