Memalak Thuyul

08 Jan Memalak Thuyul

Bincang-bincang soal palak-memalak, pasti refleks kita tertuju kepada oknum aparat/petugas atau preman.   Karena palak-memalak sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya, dan pelakunya kalo bukan preman ya oknum petugas.    Karena memang mereka lah yang memegang aturan dan kekuasaan di tempat-tempat umum di negeri ini.

Yang mengatur pasar, bukan saja demang pasar dan aparat pemda setempat, tapi juga preman.   Yang mengatur terminal bus, pangkalan angkot maupun truk dll, bukan saja polisi dan petugas lainnya, tapi juga preman. Yang mengatur dan mengamankan jalan Pantura misalnya, bukan saja polisi dan LLAJ, tetapi juga kelompok Gajah Oling, Singa Pantura dll.   Mereka bekerja sama dan sejauh apa kerjasamanya, sudah bukan lagi rahasia umum.

Dampaknya tentu finansial.   Ujung-ujungnya, rakyat harus mbayar 2 macam pajak. Selain pajak kepada negara, juga “pajak” kepada oknum dan preman, alias “palak”. Pajak untuk negara pun konon masih kena palak lagi… Lah itu Gayus dkk.

Thuyul pun Kena Palak

Thuyul konon adalah makluk “halus” yang sering dipelihara orang musyrik untuk memperkaya diri dengan mencuri uang orang lain. Entah apa sebenarnya ada atau tidak, yang jelas penulis belum pernah melihatnya sendiri. Namun ternyata di sebuah desa pinggiran kota Pemalang ada sekelompok orang yang bisa memalak thuyul. Saya pernah mengikuti acara ini 3 kali, belum pernah melihat seperti apa ujud thuyulnya, tetapi yang jelas ada hasil palakannya, yaitu uang. Dari 3 kali yang saya ikuti, sekali nihil dan 2 kali berhasil, masing-masing Rp 300ribu dan 400ribu. Uang hasil palakannya, biasanya tidak dibawa ke rumah, tetapi dihabiskan buat hura-hura rame-rame. Mereka bilang, “ini duwit hitam, jangan dibawa pulang”.

Karena heran, cerita ini saya posting ke milis. Ternyata ada rekan di milis yang penasaran, yaitu pak Riyo Sesono alias begawan Danumurti. Jangan kaget, di milis tersebut antar member saling memberi predikat ala bangsawan pewayangan. Beliau jauh-jauh datang dari Bekasi ke Pemalang membawa kamera untuk menyaksikan acara pemalakan thuyul. Ketika itu pemalakan berhasil mendapat Rp400ribu. Setelah kembali ke Bekasi, kisah tentang pemalakan thuyul ini beliau susun sangat rinci dan dipost 2 kali di milis. Berikut ini salinan posting pak Riyo.

Posting Pertama

Hai, para mahkluk malam hari…

Saya mau lanjut tentang cerita memalak thuyul. Semula saya setengah kurang percaya dengan cerita Den Mas Deru, bahwa di kampungnya ada sekelompok bala-dhupaknya yang bisa memalak thuyul. Penasaran, saya pengin buktikan sendiri. Pikiran saya, masa’ pada zaman serba canggih begini, kok masih ada thuyul dan sebangsanya…Dan apa ya bener thuyul itu ada dan sukanya mencuri uang atau barang perhiasan berharga lainnya milik manusia.

Meskipun sempat tertunda beberapa hari, akhirnya Minggu siang saya meluncur ke Tegal, dan sekitar pukul 11 malam sampai di tempat Juragan Deru. Saya hanya membawa kamera video dengan kelengkapan infrared agar tanpa lampu bisa menangkap gambar2 dan wujud.

Mengejutkan, ternyata begitu sampai di rumah Den Mas Deru – sebelumnya saya dijemput dengan kendaraan jeep perang miliknya- sudah berkumpul baladhupak sekitar 8 orang. Wajah mereka biasa-biasa saja, tak ada yang menampakkan raut muka yang misterius dan aneh. Bahkan mereka justru menampilkan wajah-wajah yang polos lugu dan ramah. “Saya hanya ngobor utk menambah penghasilan utk mencukupi kebutuhan keluarga,” kata Pak Woto, pemimpin ‘ghostbuster’ malam itu, yang sehari-harinya adalah buruh tani di desa itu.

Ngobor adalah istilah untuk acara memalak thuyul. Disebut ngobor, karena pada zaman dulu, mereka menggunakan penerangan obor ketika menuju lokasi pemalakan. Sekarang, tentu saja, sudah menggunakan lampu senter.

Tanpa briefing atau technical meeting untuk menentukan langkah2, (mungkin karena saking biasanya) mereka sudah tinggal berangkat saja ke lokasi. Mereka hanya menunggu kedatangan saya. Tentu mereka sudah mempersiapkan sejumlah perangkat untuk melakukan acara itu. Antara lain, korek api, nampan untuk menampung uang, kertas koran (utk dibakar) dan candu.

Pukul 23.30 kami berangkat ke makam Pompan, Wanarejan Selatan, Pemalang. Ini sebuah area makam yang sudah sangat tua seluas 2 hektar, dan jauh dari pemukiman penduduk. Dengan hati penuh teka-teki sembari menebak-nebak berapa besar peluang thuyul muncul dan menyerahkan uang hasil curian mereka, kami rombongan menuju ke jantung makam itu, yaitu sebuah pohon Waru raksasa yang sudah sangat tua. Diameternya entah berapa, tapi tampak seperti badan bus yang ditegakkan. Mengonggok hitam, dan mengundang rasa seram.

Menurut Pak Woto, the leader of ghostbuster tersebut, dipilih lokasi di bawah pohon itu, pertama, karena di situlah pusat segala mahkluk halus berkumpul. Berbagai macam nama dan wujud mahkluk halus bercengkrama di situ. Saya terkadang merasa geli, apa ya iya..?

Kedua, pilihan lokasi yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk, agar tak mencurigakan masyarakat lain. Bau candu terbakar pada malam hari bisa tercium dari jarak 1 km. Ternyata ada kesantunan dalam hal ini agar tak mengundang pertanyaan. Juga, agar para pemelihara thuyul tak melakukan perlawanan atau perlindungan terhadap mahkluk peliharaan mereka. Sebenarnya, jelas Pak Woto, lokasi yang bagus justru di antara pertokoan atau komplek pasar yang padat – karena medan operasi thuyul ya di tempat keramaian itu.

Ritual dimulai dengan menyiapkan perapian. Ini untuk kepentingan membakar candu dan dupa. Dua orang membakar candu, duduk di kanan kiri perapian, sembari membaca mantra. Saya sudah mencatat dan menghafalkan mantra itu, sebagai password untuk bisa melihat wujud-wujud mahkluk halus di sana. Pak Woto sebagai pakar palak thuyul bergerak berkeliling sembari mengebut-ngebutkan pelepah daun pepaya, di atas nisan-nisan yang bertebaran di area pemalakan. Pak Woto mengaku sedang mempersilahkan para thuyul mendekat – meskipun saya tak melihat apa-apa. Saya sendiri, mengambil posisi pada jarak dua meter sebelah kiri dari perapian. Dan satu meter di depan saya, persis di bawah pohon, diletakkan nampan penampung uang.

Rupanya tak boleh banyak orang dan tak boleh ada lampu di area pemalakan. Wah, deg-degan juga saya – karena terpaksa saya menjadi mahkluk paling asing dengan suasana itu. Belum lagi, saya dilarang membuat banyak gerakan dan suara – dan diharap kuat menghadapi godaan berbagai mahkluk halus yang akan menampakkan diri dalam berbagai ujud, seperti ular besar, macan, kakek tua, peri, dan lain-lain. Kata para pemalak itu, dengan membakar candu dan membaca mantra, seluruh lelembut di situ akan berdatangan. Candu adalah makanan mereka, dan mantra adalah ajakan untuk mereka.

Yang sial, banyak nyamuk dan serangga malam yang mengganggu muka. Saya nggak membawa autan atau sejenisnya. Ya sudah, gangguan itu saya tahan-tahanin, demi mendapat rekaman video shooting thuyul dipalak.

Suara jengkerik malam, kegelapan dan bau candu yang menyengat, membentuk aura yang menyaramkan….

Wah, kok mulai ngantuk ya…Padahal belum sampai pada puncak cerita…Lanjut besok ya Myzelf yang tak mau dijuluki pak kiai?

Salam,
Riyo (bukan Begawan, tapi Begajul..)

Posting Kedua (tamat)

Hai, para mahkluk penasaran…

Wuah, setelah dua hari kurang tidur, dibales bangun jam 1 siang, awak sueegerrr lagi. Aku ojo diantemi Mbak Ayu Dany, mengko thuyulku sing ngrewangi aku lho… hehehe….Den Mas Totok asyik berat, aktif terus di milis….

Sampai mana ya ceritanya..?

Oke, kita lanjut laporan tengah malam…..Udara malam itu sebenarnya cukup dingin, karena Pemalang dan sekitarnya sejak sore diguyur hujan. Tapi badan saya terasa panas. Maklum, dalam pikiranku sudah berkecamuk berbagai imajinasi, seperti apa gerangan thuyul, bentuknya lelaki apa perempuan, apakah kalau meringis giginya juga bertaring, dll. Memang, ketika masih di rumah Ki Gede Deru, rombongan “ghostbuster” memberi sedikit gambaran, bahwa thuyul itu tidak lelaki juga tidak perempuan. Banci? Bukan juga, kata mereka. Yang jelas, yang nampak di antara selangkangan thuyul, mulus halus seperti jalan tol Jagorawi – tidak ada apa-apa di situ. Thuyul ada yang berambut dan ada yang kelimis gundul seperti orang pakai helm ber-SNI. Yang paling mencolok cirinya adalah badannya lemas tak bertulang. Jadi bisa meliuk-liuk kemana angin bertiup. Mungkin bisa dibayangkan bentuknya seperti Casper (kali ya..). Jangan2 pencipta tokoh kartun Casper pernah ke Pemalang ya?

Lima belas menit saya berdiri dengan gerak minimalis. Saya benar-benar menepati SOP yang mereka tetapkan. Kamera infrared sudah saya siapkan, dan sudah saya arahkan ke nampan uang, dua orang pelafal mantra, dan pohon Waru raksasa. Pikiranku terasa agak lamban jalannya. Buktinya, mantra yang kuucap, pertama dan kedua, masih lancar. Lama kelamaan, eh, macet…

Dhemit prekayangan lanang wadon,
Teko’o mrene tak wenehi pangan,
Niyat ingsun ngobong menyan,
Menyanku jenowo sarining geni,
Bromo cemoro menyanku menyan putih,
Gugure kaya segara madu…

Mantra ke tiga, yang terakhir yang harus saya lafalkan, hanya teringat sampai kata…ngobong menyan, terus mejen. Ah, tidak lengkap biarlah. Masih ada satu kalimat mantra yang mesti diucapkan berulang-ulang, tak terbatas. Wiridan gaya Pemalang ….:

Kico-kico sari kico Raja Thuyul, sari kobra….

Inilah “password” untuk masuk ke jagading lelembut. Dengan ucapan berulang, dan ritme yang ajeg, mata akan bisa melihat wujud gaib alam jin, kata mereka. Entah sudah berapa menit aku mengucapkan “kico-kico..”, tiba-tiba saya merasakan datangnya pusaran angin yang lembut, yang menebarkan ganda harum candu terbakar. Wah, jin setan peri perahayangan sudah pada datang pikir saya..

Daun-daun waru kering berguguran, menimbulkan suara gemerisik yang menyobek kesunyian malam. Tiba-tiba, saya merasa banyak mata memandangku. Bulu kuduk, tentu saja, terasa berdiri tanpa perlu diberi aba-aba. Sebenarnya saya ingin membaca Ayat Kursi atau Al Fatihah, untuk sedikit menghentikan jantung yang terasa melompat-lompat di dalam dada. Tapi, karena sebelumnya sudah diwanti-wanti para pemalak, agar jangan membaca ayat-ayat suci, dorongan itu saya tahan. “Kalau mendengar ayat suci, thuyul bisa ngabur ketakutan,” kata Pak Woto.

Saat itu, saya merasa, inilah waktu saya harus mengfokuskan arah kamera. Namun lensa kamera tak menangkap apapun. Rupanya infrared-ku ngadat. Karena jengkel dan penasaran, saya keluarkan Hp, dan saya nyalakan fungsi CAM. Lampu HP yang lembut menyibak kegelapan. Saya tahu, sebenarnya ini melanggar SOP yang menetapkan tak boleh ada sinar yang benderang. Tapi daripada nggak dapat gambar sama sekali, saya gunakan saja fitur kamera HP yang mengeluarkan sinar tak terlalu keras. Saya lihat nampan masih tergeletak dengan dua lembar uang pancingan selembar seratus ribuan, dan selembar 50 ribuan. Belum tampak ada uang yang disetorkan thuyul thuyul di situ. Wah, pertanda gagal nich, pikir saya…Jangan-jangan karena keberadaan saya, thuyulnya benar-benar emoh muncul..

Dengan agak kecewa, saya arahkan kamera HP ke batang pohon Waru. Tapi tetap saja tak ada apa-apa di sana meskipun saya merasa banget, ada banyak “sesuatu” yang mengepung posisi kami. Dan, benar. Di sebelah kanan pohon Waru, di dahan yang menjorok ke langit, saya melihat bentuk seperti kera yang sangat besar, sedang terayun-ayun santai di dahan kecil itu. Hampir tak masuk akal, bentuk sebesar 10x Mike Tyson nongkrong santai di atas dahan kecil. Matanya merah seperti mata kucing terkena cahaya lampu. Saya hampir tak percaya melihat itu. Mata saya ucek-ucek (Boso Indonesianya opo yo ucek-ucek?..), menyangsikan bentuk itu. Sesosok kera besar, yang nantinya saya diberitahu oleh Pak Woto kalau itu yang disebut gendruwo.

Gendruwo rupanya juga senang dengan bau candu, dan sempat tertarik bergabung dengan para pemalak. Bentuk ini tak lama menghilang, dengan meninggalkan suara angin yang menggoyang-goyangkan dedaunan waru. Penasaran, saya perhatikan sudut-sudut batang pohon raksasa itu. Tak ada sesuatu. Pandangan saya kembalikan ke nampan, tapi…masih kosong. Namun keajaiban rupanya terjadi. Di atas makam-makam tua antara posisi saya berdiri dengan nampan uang, terlemparkan gulungan kecil sebanyak empat kali. Gulungan kemerahan, yang ternyata adalah uang 100 ribuan. Ajaib! Ruang itu masih dalam jarak pandang saya. Di tempat itu, hanya ada saya, dua pelafal mantra, dan Pak Woto yang berdiri di belakang saya sejauh 50 meter, yang saya perhatikan tak pernah bergerak dari tempatnya. Siapa yang melontarkan 4 gulungan 100 ribuan itu? Thuyul!

Sayangnya, thuyul tak tertangkap oleh mata telanjang saya. Entah di kamera HP yang saya curigai menangkap bentuk-bentuk aneh (Tapi apa ya perlu diunggah kalau bener gambar thuyul. Nanti Jeng Dany gak wani ke belakang dewe..?).. Meskipun kecewa nggak dapat gambar, saya kagum juga dengan kemampuan mereka itu memalak thuyul. Mereka yakin, kalau pemalakan dilakukan di sekitar pertokoan atau pasar, bisa diperoleh uang curian thuyul sampai Rp 3 juta rupiah. Wah, kalau saben malam mereka NGOBOR, dan rata-rata dapet 1 juta saja, 30 juta rupiah jelas di kantong mereka. Setara dengan gaji sebulan seorang dirjen di kementrian pemerintah.

Manusia memang biang ulah di bumi ini. Manusia memelihara thuyul untuk mencuri dari manusia lain. Kemudian, ada sekelompok manusia yang memalak thuyul2 itu. Kemudian manusia pemalak thuyul itu membelanjakan uangnya ke para pedagang. Uang para pedagang itu dicuri lagi oleh para thuyul, dipalak lagi. Dibelanjakan lagi…Wuah, muter seser…Kepriben?.

Salam,

Ki Alit Riyo

Topik-topik terkait

  1. Dari Assembler hingga Unidentified Power
  2. Mencermati Unidentified Power
  3. Sulap, Benarkah Tanpa Mantra?

Deru Sudibyo
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
No Comments

Post A Comment