Nusantara Tanah Air Ku

28 Apr Nusantara Tanah Air Ku

Dalam berbagai tulisan yang pernah saya bikin, baik sebelum ada internet hingga hadirnya blog ini, sangat jarang saya menuliskan kata Indonesia. Tanpa sadar saya cenderung lebih banyak menggunakan istilah Nusantara. Bahkan ketika bikin produk software zJOS, wadahnya saya namakan Nusantara Software Industry (NSI), dan slogannya “House of Creative and Innovative Nusantaran Software Engineers and Developers“, dimana seolah saya menyebut diri kami sebagai Nusantaran atau Bangsa Nusantara.

Pernah ada kawan yang diam-diam mencermati blog dan website saya, lantas menanyakan kenapa saya lebih banyak menyebut Nusantara untuk Tanah Air ketimbang Indonesia. Ada kalanya saya jelaskan panjang lebar. Ada kalanya saya hanya jawab karena selera. Tergantung keadaanya.

Pernah ada yang menanyakan apakah secara implisit saya berharap negara ini ganti nama Nusantara. Nah yang ini selalu saya jawab YA. Alasannya sangat sederhana. Menurut tuntunan agama, nama adalah doa. Sehingga harus memiliki arti yang baik dan benar, dan jika mungkin, malah diberikan oleh orang yang berjasa dan/atau patut ditokohkan. Dalam konteks ini, Nusantara menang telak ketimbang Indonesia. Berikut ini penjelasannya…

Indonesia

Orang Malaysia tahu arti kata “malaysia” adalah negaranya bangsa Malay atau Malayu. Apakah arti kata “indonesia” adalah negaranya bangsa Indo? Atau Indon? Dalam satu kampung, belum tentu ada satu atau dua orang yang tahu arti “indonesia“. Apa pembaca tahu artinya? Jika anda tidak tahu, bisa dimaklumi karena kata “indonesia” bukan berakarkata dari bahasa Indonesia.

Konon “indonesia” berasal dari kata Yunani, “indos” dan “nesos“. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, “indos” artinya India dan “nesos” artinya kepulauan. Arti keseluruhannya adalah kepulauan di sekitar India? Silakan lacak sendiri dengan google.

Betulkah kita di sekitar India? Mungkin benar. Di sekitar Australia juga benar. Tergantung dari mana kita memandangnya. Bahkan di sekitar Eropa juga benar jika melihatnya dari planet lain. Tapi lebih betul lagi di sekitar Malaysia atau Thailand berdasarkan jarak geografis.

Kenapa dikatakan kepulauan di sekitar India? Siapa yang mengatakannya? Nah… berdasarkan beberapa tulisan yang pernah saya baca, istilah indos nesos pertama kali dicetuskan oleh seorang pakar geografi Jerman yang bernama Adolf Sebastian pada tahun 1884. Bahkan Adolf Sebastian lah yang pertama kali menggabungkan kata indos dan nesos menjadi Indonesia.

Kenapa Adolf Sebastian menyebut tanah kita Indonesia? Mestinya ditanyakan langsung ke orangnya ya? Sayangnya dia sudah mati. Tapi saya yakin, andaikan Sebastian hidup di jaman sekarang dan menamakan kepulauan kita indos nesos, saya yakin pasti desertasinya gagal, kecuali profesornya idiot yang kelewat kumprung.

Memang pada umumnya di jaman itu, para penjajah asal Eropa berebut mencari India untuk digaruk rempah-rempah dan emasnya. Barangkali geografi ketika itu belum memerinci peta Asia, khususnya Asia Timur, sehingga untuk mudahnya mereka latah menyebutnya India. Lah wong yang nyasar ke benua Amerika saja menyebut daratan itu India kok. Bahkan hingga sekarang salah satu suku lokal disana masih disalahsebutkan sebagai Indian, karena dulu tanah mereka dikira India. Saking latahnya, pokoknya selain Eropa yang ada hanya India.

Nah… sekarang tergantung kita, apakah kita tetap membenarkan arti Indonesia seperti yang dimaksudkan Sebastian? Artinya kita mempertahankan kebenaran geografi abad 19. Atau kita bikin pembenaran dengan cara lain. Karena selama Indonesia masih dipakai sebagai nama negara kita, tentu kita tidak boleh menyalahkan artinya. Nama tidak boleh salah arti!

Kata orang-orang tua maupun kata agama, nama sebaiknya memiliki arti baik, bukan sekedar benar dan lebih baik lagi jika diberikan oleh orang yang berjasa. Siapakah Adolf Sebastian? Berjasakah dia bagi kita? Menurut saya, dia bukan siapa-siapa dan tak punya jasa apapun bagi kita. Dia bikin sebutan “indonesia” juga untuk kepentingan dia sendiri dan kelompoknya, bukan untuk kita. Maaf jika saya salah, karena bukan pakar sejarah. Tapi kita mungkin bisa bikin cerita lain agar ada pembenaran bahwa Adolf Sebastian menjadi orang penting dan berjasa bagi kita.

Kenapa memilih nama Indonesia?

Berdasarkan catatan sejarah, nama Indonesia pertama kali dilegitimasi adalah dalam Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Kenapa para pahlawan kita memilih nama Indonesia? Boleh jadi istilah “indonesia” sudah dipopulerkan oleh orang-orang Belanda. Bisa jadi pula sudah dipopulerkan oleh dunia pers internasional di jaman itu. Lantas ketimbang bikin istilah baru, Ir. Soekarno cs memilih yang sudah populer.

Ir. Soekarno ketika itu adalah seorang insinyur yang baru berusia 28 tahun. Masih sangat muda kan? Teman-teman seperjuangannya juga banyak yang sebaya itu. Namanya juga pemuda, umumnya lebih mengagumi hal-hal yang berasal dari negara modern. Jujur saja, kita-kita ini jika disensus, kira-kira berapa persen yang lebih mengagumi budaya tradisional kita ketimbang budaya asing, khususnya Amerika?

Lihat saja kita-kita ini. Lebih banyak mana antara yang menyukai musik barat dan yang menyukai musik tradisional tempat asalnya? Jangankan musik, bahkan nama pun sudah sulit membedakan mana yang orang Nusantara mana yang bule, jika tidak melihat tampangya. Bahkan teman saya, sebut saja Joko, punya pengalaman yang menggelikan. Joko punya teman dengan nama depan “David”. Ketika itu sedang bertiga di Singapura, David, Joko dan satu teman lagi orang Singapura, sebut saja Lee. Lantas ada satu teman lagi, Boyet dari Filipina join, tapi belum kenal si David. David pun lantas memperkenalkan diri dengan menyebut namanya. Lee tiba-tiba bertanya: “Bukankah namamu David?”. Sejenak Tono bingung. Lantas nyadar… si Lee mengenal David dari email, jauh sebelum kopi darat. Sehingga mungkin tidak pernah mendengar bagaimana si David menyebut namanya sendiri. Ternyata David menyebut nama sendiri “Dafit”, sedangkan menurut Lee seharunya pengucapannya “Dewid”. Ini adalah gara-gara sang ayah ingin membulekan anaknya dengan nama David, tetapi tidak mengajarkan cara mengucapkannya.

Ada juga teman lain lagi, sebut saja Arif, punya teman dengan nama depan “Bob”. Suatu ketika mereka check in hotel di luar negeri sama-sama. Seperti biasanya, gesek kartu kredit, lantas sambil menyodorkan dokumen dan konci kamar, sang teller dengan sangat ramah mengatakan: “Silakan Tuan Arif… dan Tuan Robert…”. Arif langsung saja terima apa yg dia sodorkan. Sedangkan si Bob bingung. Lantas dicoleknya si Bob sebagai insyarat agar segera menerimanya. Dia terima tapi penuh dengan keraguan. Di lift dia nanya; “Kenapa saya dipanggil Robert ya?”. Oh rupanya dia tidak tahu bahwa “Bob” itu kependekan dari “Robert”.

Saya juga punya saudara sepupu perempuan yang nama depannya “Devy”. Belum pernah pergokan kasus penyebutan nama seperti David dan Bob. Tapi saya yakin andaikan dia ke luar negeri, pasti akan segera mengalaminya. Pasalnya, dia menyebut namanya sendiri “Defi”. Padahal tulisan “Devy” semestinya diucapkan “Dewi”. Semua itu adalah akibat kita terlalu silau dengan asing, sehingga memberi nama anak dengan nama asing supaya kedengarannya keren.

Namun, saya yakin nama “indonesia” bukan sekedar cari keren seperti ortu si David, Bob dan Devy menamai anaknya. Apapun alasannya, pasti nama “indonesia” adalah pilihan terbaik ketika itu. Dan terbukti Soempah Pemoeda bukan omong kosong. Soempah Pemoeda mirip Sumpah Palapa, sebuah ikrar perjuangan kepahlawanan yang sangat committed. Hasilnya adalah lahirnya negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Disayangkan para penerusnya banyak yang kemasukan dajjal sehingga negara ini sekarang menjadi sakit-sakitan dengan predikat terkorup dunia.

Budak, korupsi, tawuran hingga kesurupan massal

Zamrut di tengah katulistiwa merupakan rangkaian kata-kata indah untuk memuji Nusantara. Apakah itu juga menjadi icon Indonesia? Saya kurang tahu. Yang saya tahu, di satu sisi kita seperti negara kaya yang rakyatnya agamis ketika musim haji. Kuota yang diberikan oleh Arab Saudi seolah sangat tak cukup dibanding antusias bangsa kita dalam beribadah haji, sebuah ibadah yang dikhususkan untuk muslim kaya yang sudah benar-benar berserahdiri.

Namun di sisi lain, kloter-kloter yang sama mengangkut budak, jongos dan bedinde dari negeri Zamrut Katulistiwa nan elok ke negara-negara manca untuk menjadi “gedibal pitulikur” yang bodoh dan bahkan dijadikan budak nafsu syahwat serta dianiaya oleh majikan mereka di tanah orang. Sungguh ironi ya? Wong di Negeri Surga kok gerah malah memilih berbondong-bondong ke negeri orang menjadi jongos. Lebih cilaka lagi, mereka disana selain dibayar paling murah karena paling bodoh dan kendala bahasa, giliran pulang ke Tanah Air disambut berbagai pemalakan terkordinir di bandara. Apakah itu icon Indonesia?

Hemat saya bukan hanya itu. Kita juga mendapat medali emas soal korupsi, kolusi dan nepotisme. Meski tidak ada wajib militer, kita juga sering menunjukkan keberanian kita dalam berlatih perang antar rakyat, antar pelajar maupun antar mahasiswa yang lazim dikenal “tawuran”. Barangkali KKN dan tawuran juga icon kita.

Ada yang lebih dahsyat lagi… KESURUPAN MASSAL. Kayaknya belum pernah denger soal kesurupan massal, meski di negeri yang paling animisme sekalipun. Anehnya di negeri Zamrut nan agamis ini, kesurupan massal sudah bukan berita baru. Hampir setiap kabupaten di se antero Tanah Air telah mengalaminya. Padahal kesurupan adalah kemasukan iblis. Jangan-jangan kedepannya para iblis itu malah menampakkan diri di tempat-tempat umum di siang bolong. Karena mungkin mereka sudah kehabisan kurikulum di negeri ini. Mulai dari kriminal biasa hingga KKN, tawuran, mencampurkan solar dengan minyak sayur, mencampurkan formalin pada makanan, menjual obat dari tempat sampah… semua sudah dilakukan. Pantas jika iblis sudah kehabisan kurikulum.

Apakah semua itu gara-gara memilih nama yang salah? Wallahu a’lam bisawab.

Nusantara

Dalam berbagai tulisan dikatakan kata “nusantara” berarti nusa atau kepulauan yang terbentang di antara dua samudera dan dua benua. Nah kalau yang ini benar banget. Negara kita memang gugusan pulau-pulau yang terhampar di antara benua Asia dan Australia, di antara samudera India dan Pasifik. Gambar sebelah adalah peta Nusantara yang saya sadur dari id.wikipedia.org.

Istilah “nusantara” ditemukan dalam prasasti Sumpah Palapa kalimat paling awal yang berbunyi: “Lamun huwus kalah nusantara, hisun hamukti palapa“. Ini adalah sumpahnya Sri Empu Mahapatih Gajah Mada. Karena tidak ada penjelasan detil siapa yang pertama kali membuat istilah tersebut, maka kita bisa anggap bikinan Gajah Mada sendiri. Istilah itu digunakan untuk menyebut kawasan yang sekarang menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina hingga Taiwan, yang ketika itu ditargetkan untuk dipersatukan dengan Majapahit di Jawa Timur. Rinciannya ada dalam Sumpah Palapa kalimat selengkapnya:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan hayun hamuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara hisun hamukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana hisun hamukti palapa”.

Sejarah menyatakan bahwa Sumpah Palapa dilaksanakan beneran oleh Gajah Mada dan berhasil gemilang beneran. Sehingga keberanan arti nusantara tidak sekedar kebenaran kamus, melainkan kebenaran sebuah sumpah kepahlawanan yang diakui dunia.

Siapa Gajah Mada?

Karena Gajah Mada ikut membangun Majapahit sejak masih hanya seputar Surabaya dan sekitarnya, maka hemat saya Gajah Mada ya orang Jawa Timur sekitar Surabaya. Namun ada sejumlah tulisan yang menyatakan Gajah Mada adalah orang dari suku pedalaman Kalimantan yang mengadu nasib di Majapahit. Ada pula yang mengatakan Gajah Mada berasal dari Sumatra. Ada juga yang mengatakan dari Bali. Bagi saya sah-sah saja selama ada sumber yang bisa dirujuk, dan itu tidak terlalu penting.

Yang penting, Gajah Mada adalah prajurit dari negara Majapahit yang sangat berjasa bagi Majapahit. Jasanya tidak hanya soal pemersatuan Nusantara saja. Gajah Mada juga orang pertama yang membagi prajurit menjadi 3 angkatan, yaitu tentara darat, tentara laut dan bhayangkara atau polisi. Entah apakah ketika itu di luar Majapahit sudah ada organisasi kepolisian. Jika tidak, maka berarti Gajah Mada juga patut disebut bapak polisi dunia.

Kenapa tidak ada yang menyebutnya demikian? Mungkin di negara lain sudah ada polisi ketika Gajah Mada menciptakan pasukan bhayangkara. Atau mungkin saja latah, apa saja yang dari dunia Timur tidak dipopulerkan. Jangankan Gajah Mada yang hanya hidup satu jaman…. lah wong Nabi Muhammad yang ajarannya masih hidup hingga detik ini saja tidak dikenali sebagai bapak demokrasi dunia. Padahal negara yang pemimpinnya dipilih oleh rakyat, pertama kali dicetuskan oleh Nabi Muhammad. Sebelum Muhammad menciptakan sistem kekalifahan, di dunia ini pemimpin yang ada hanyalah raja yang berdasarkan garis keturunan atau hasil merebut kekuasaan (membrontak atau kudeta).

Ganti nama

Di Jawa ada semacam kepercayaan, bilamana seorang anak sakit-sakitan atau nakal kelewat batas, maka salah satu cara untuk memulihkannya pada kondisi normal adalah dengan mengganti nama. Dulu ada salah satu keponakan saya dinamai Sutowijoyo. Anak itu sakit-sakitan melulu. Lantas para pinisepuh menyarankan untuk mengganti nama. Konon alasannya “keberatan nama”. Sutowijoyo itu nama kecil Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram sekaligus raja pertamanya. Walaupun kurang yakin, tapi daripada melihat anak sakit-sakitan melulu, apa salahnya mengganti nama, mumpung belum sekolah. Anehnya, begitu nama diganti, langsung seha wal afiat dan kini sudah menjadi seorang pemuda yang sehat dan gagah perkasa. Apakah itu gara-gara ganti nama? Saya tidak tahu.

Mungkinkah negara ganti nama? Kenapa tidak? Seingat saya, Myanmar dulunya Bhurma, Thailand dulunya Mueang Thai, dulunya lagi Siam dan China dulunya Tiongkok. Bahkan Cambodia beberapa kali ganti dari Cambodia, Khmer, Kampucea dan akhirnya kembali Cambodia. Boleh jadi mereka merobah nama gara-gara negaranya sakit-sakitan.

Namun apakah semua negara menghalalkan ganti nama? Tentu kembali kepada konstitusi masing-masing. Umumnya konstitusi sangat kaku untuk negara-negara bekas jajahan yang kemerdekaannya berasal dari pemberian si penjajah. Penjajah memerdekakan jajahannya namum mempersyaratkan beberapa hal yang dicantumkan dalam konstitusi. Bahkan antar negara jajahan dari penjajah yang sama biasanya juga ada semacam ikatan tertentu semacam commonwealth.

Negara jajahan yang merdeka karena memaksa atau merebut dari tangan penjajah mestinya lebih leluasa dalam menyusun konstitusi. Buktinya, negara kita yang mendapat kemerdekaan dengan merebut, konstitusi UUD 45 diembel-embeli dengan 2 pasal perubahan. Artinya, perubahan, terutama ke arah penyempurnaan sebenarnya diharapkan oleh beliau-beliau yang menyusunnya.

Namun itu juga tidak menjamin keluwesan konstitusi dalam perjalanannya. Boleh jadi ada kepentingan politik ketika itu yang mengharuskan konstitusi dipaksa kaku. Bahkan dari rezim ke rezim berikutnya kadang juga ada perbedaan kekakuan. Contohnya UUD45 kita, di jaman Orde Baru, ibarat Al Quran, tidak boleh berubah sama sekali. Setelah reformasi malah muncul sejumlah perubahan.

Apakah negara kita harus ganti nama Nusantara?

Kini kian marak gagasan mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Bahkan ada seorang pakar metafisika, Dr Arkand Bodhana Zeshaprajna optimis negara ini bakal runtuh jika tidak ganti nama Nusantara. Lima alasan metafisika dia beberkan di merdeka.com.

Namun seperti biasa, setiap ada pro ada pula kontra. Pihak-pihak yang kontra sebagian besar sekedar menganggap tidak ada perlunya mengganti nama nagara. Namun ada juga pihak yang merasa terusik karena menganggap nama negara adalah sesuatu yang sakral. Bahkan ada yang menudingnya tahayul bahkan musyrik. Ada pula yang mengkawatirkannya akan kehilangan sejarah. Dan masih banyak lagi alasan lain dari pihak-pihak yang menanggapinya.

Hemat saya, pro kontra adalah hal yang wajar. Dari argumentasi yang mereka ungkapkan, toh akan nampak kualitas mereka dan kita bisa menilai. Namun yang perlu dikhawatirkan, justru semangat pro kontra berlebihan yang berakibat munculnya caruk-maruk dan sengketa horizontal yang tidak penting. Karena tanpa moderasi yang jitu dan sangat bijak, pihak yang kontra merasa pada posisi semangat bela negara. Sedangkan para pihak yang pro (sealiran dengan saya), merasa pada posisi mencari kebenaran logis, bahwa nama harus memiliki arti benar dan baik karena nama adalah doa. Sama-sama kuat kan?

Tetapi yang kontra karena mengkhawatirkan akan kehilangan sejarah, kayaknya perlu mendapat pencerahan. Karena sekali tercatat, sejarah tidak akan pernah hilang. Dari Mulawarman ke Purnawarman ke Sanjaya ke Sailendera ke Seriwijaya ke Singasari ke Majapahit ke Mataram Surakarta, lantas Hindia Belanda dan akhirnya kini menjadi Indonesia, toh tidak ada sejarah yang hilang. Bahkan sejarah yang salah karena dipelintir pun sulit diluruskan kembali karena sudah telanjur tercatat. Contohnya, kita masih latah bahwa kita pernah dijajah Belanda 350 tahun. Padahal sudah berapa doktor sejarah yang kita miliki? Toh tetap saja sejarah keblinger itu masih kekal. Jadi kekawatiran kehilangan sejarah hemat saya terlalu berlebihan.

Nah… yang cilaka adalah mereka yang menganggapnya tahayul. Itu tandanya mereka kurang meyakini agamanya dan/atau budayanya. Nama adalah entitas yang dipentingkan dalam agama maupun budaya apapun. Bahkan adanya baptis, adanya gelar kebangsawanan, adanya gelar akademik, adanya gelar kepangkatan militer, semuanya adalah sebuah nilai tambah yang dikaitkan dengan nama. Jika lantas dianggap tahayul, maka seluruh dunia jadi tahayul semua.

Lebih cilaka lagi yang menudingnya musyrik. Saya masih memaklumi jika yang dianggap musyrik adalah ramalan Dr Arkand bahwa negara kita akan bubar jika tidak ganti nama Nusantara. Tapi jika yang dianggap musyrik soal ganti namanya, mungkin ini kualitas terendah dari kalangan muslim. Sudah berapa lama memeluk Islam kok tidak tahu arti musyrik. Musyrik adalah pelaku syirik. Syirik adalah perbuatan menyepelekan Tuhan, misalnya menyekutukan atau mensetarakan Tuhan dengan makluk (apapun). Menganggap Tuhan tidak tahu lantas berani mengingkari janji atau menipu, juga termasuk syirik. Menganggap Tuhan tidak mampu lantas minta tolong pada Genderuwo, juga syirik. Tetapi tidak ada satu ayatpun yang menyatakan merubah nama termasuk syirik.

Meramal dalam konteks sok tahu juga bisa dianggap menyepelekan Tuhan alias syirik. Tetapi meramal menggunakan argumentasi ilmiah, hemat saya bukan syirik. Kasihan para statistikawan kita donk… 🙁 Mereka sehari-hari meramal menggunakan regresi, deret waktu, ARIMA dsb menuju neraka donk. SAS, SPSS, BMDP dll juga menjadi software cilaka donk .. 🙁 Untuk membedakannya biasanya dipilih istilah prakiraan. Intinya sama saja, membeberkan sesuatu yang belum terjadi.

Bagaimana meramal dengan metafisika seperti yang dilakukan Dr Arkand? Dia doktor metafisika. Berarti metafiska sudah dianggap sebuah ilmu akademik. Orang yang bijak, tidak akan meremehkan ilmu orang lain, terlebih ilmu akademik. Karena mereka bisa saja membalas: “emang lo tahunya apa?”. Cilaka lagi kan, jika kita ternyata tidak memiliki ilmu apapun?

Nah… apakah prediksi Dr Arkand benar? Mungkin secara metafisika benar. Namun karena saya tidak tahu soal metafisika, maka saya tidak punya alasan untuk meyakini. Yang saya yakini, jika caranya para politisi berkiprah dipertahankan seperti sekarang ini, sarat koruptor, legislatif menjadi lahan mencari nafkah, demokrasi berbasis politik uang, tentu tinggal nunggu waktu.

Soal akurasi prediksi atau ramalan ilmiah, adalah hal lain lagi. Jangankan metafisika, ilmu yang masih sangat langka, yang tentunya belum banyak yang mendalaminya. Vulkanologi yang sudah banyak pakarnya saja bisa lengah soal gunung Kelud meletus Maret 2014 lalu. Karena ilmu yang sudah dikuasai manusia ibaratnya masih seperti setetes air dibandingkan samudera komplexitas alam nyata (ilmu Tuhan).

Kembali soal ganti nama Nusantara, hemat saya, jika dari sisi konstitusi memungkinkan, apa salahnya dilakukan. Selain mengikuti petunjuk agama, toh nama dalam bahasanya sendiri tentu jauh lebih sreg kedengarannya, serta mudah diingat dan dipahami 🙂

Apalah arti sebuah nama…

Suku Indian yang di Amerika pastinya hari ini sudah tahu bahwa penamaan “indian” itu berawal dari kekeliruan. Karena oleh bule-bule penjajah yang hadir dan menjarah disana ketika itu, tanah mereka dikira India, sehingga mereka dikira orang India. Toh mereka diam saja, tidak ada yang protes? Malah yang protes orang-orang India yang sebenarnya. Memang sebagian orang memilih berpikir praktis. Ketimbang meributkan hal yang tidak jelas manfaatnya, lebih baik biarkan saja berjalan apa adanya. Nama hanyalah identitas supaya dikenali. Jika dengan nama itu sudah bisa dikenali, kenapa mesti dipermasalahkan. Bahkan kita suka dengar ungkapan “apalah arti sebuah nama…”.

Dipikir-pikir iya juga sih… Itu kera ada yang dinamai monyet, ada beruk, ada kunyuk dan bahkan ada pula yang disebut orang-utan, yang berarti manusia hutan. Apakah penamaan itu sudah benar? Sudah pernahkah dikonfirmasikan kepada mereka? Toh nggak ada yang protes. Apalah arti sebuah nama…

Catatan:

  • Gambar peta Nusantara di atas saya salin dari situs id.wikipedia.org. Sedangkan gambar patung kepala Gajah Mada saya ambil sembarangan dengan google image search. Sepertinya tidak terkait dengan hak cipta seseorang. Namun jika ternyata ada pihak yang memiliki hak cipta gambar tersebut dan tidak berkenan saya tayangkan disini, mohon diberitahukan lewat kolom komentar. Saya akan segera menghapusnya. Terimakasih.

PRAHARA  – susulan setelah Pilpres 2014

Saya susulkan tambahan ini pada 12 September 2014 yang menyangkut nama “Prahara” dalam Pilpres 2014. Entah apakah ini juga bisa dikategorikan sebagai kasus kesalahan nama, namun pada kenyataannya kubu Prahara kalah dan sangat menghebohkan sejak sebelum maupun sesudah Pilpres 2014. Bahkan hingga hari ini tim koalisi Merah-Putih masih terkait dengan kehebohan. Setidaknya ada 2 kehebohan utama, yaitu usulan untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD dan mundurnya Ahok, wagub DKI dari partai Gerindra.

“Prahara” dalam bahasa sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, artinya keributan atau tepatnya tragedi. Mayjen TNI Purn Prabowo Subijanto adalah keturunan Jawa, sehingga muskil rasanya jika tidak tahu arti “prahara”. Ir. Hatta Rajasa adalah keturunan Palembang, dimana sebagian bahasanya juga banyak unsur bahasa Jawa, mengingat dulunya Palembang menjadi pusat kerajaan Seriwijaya. Sehingga Hatta Rajasa pun kemungkinan mengerti arti “prahara”. Namun entah kenapa kubu Prabowo-Hatta menamakan dirinya PRAHARA. Kalau tidak salah, konon akronim dari PRAbowo HAtta RAjasa. Prabowo hanya kebagian satu suku kata, PRA dan Hatta Rajasa kebagian 2 suku kata HA dan RA.

Saya ragu Prabowo maupun Hatta tidak mengerti arti “prahara”. Namun setelah muncul hasutan “Perang Badar” dari mulut Sengkuni dan disusul penampilan artis pendukungnya mengenakan pakaian ala Hitler serta kampanye hitam yang begitu ganas termasuk terbitnya tabloid fitnah brutal Obor Rakyat, saya berpikir jangan-jangan nama “prahara” sengaja dipilih supaya terkesan serem. Memang bener… banyak kalangan gurem yang kuatir akan terjadi prahara beneran jika capres nomor 1 itu gagal. Bahkan sempat ada yang menggosipkan di FB bahwa 14 Mei 1998 akan terulang jika Prabowo tidak terpilih.

Ternyata tanda-tanda mirip gejala prahara akhirnya muncul setelah tanggal 9 Juli 2014 ada dua versi quick count yang saling adu kuat. QC di MetroTV ngotot memenangkan Jokowi-JK. Di TVOne ngotot memenangkan Prahara, meski belakangan ketahuan QC abal-abal. Bayangan munculnya prahara sirna ketika kubu Prahara menyatakan menunggu hasil real count KPU. Namun tak diduga, begitu memasuki tanggal 22 Juli 2014 dimana KPU akan mengumumkan hasil final real count, Prabowo mendadak mengumandangkan pernyataan mundur dari Pilpres 2014. Dalam hati… wadouuuh…. prahara dah…

Ternyata benar… Meski bukan tragedi yang memakan korban jiwa atau kerusakan massal, namun kehebohan tak bisa dihindarkan. Prahara memang terjadi… namun prahara politik. Kenapa demikian? Lihat saja… banyak keganjilan yang tak lazim. Awalnya muncul dukun di teras gedung MK yang mengatakan bahwa raja-raja Brawijawa dan para wali konon hadir menemani sang dukun untuk mendukung Prahara. Padahal baik raja-raja Brawijaya maupun para wali yang dimaksudkan sudah lama wafat loh! Bagaimana menghadirkannya ya? Ini sangat tidak lazim di era nano teknologi gini masih ada peran mbah dukun. Lantas disusul orasi histeris yang mengatakan “Prabowo titisan Allah”. Bahkan ada juga makluk cilaka yang dalam orasinya mengatakan akan “mendesak Allah untuk berpihak pada Prabowo”. Ruaaaarrrr biasa!!!

Entah kapan prahara politik ini akan berhenti. Yang jelas kubu prahara juga mengalami prahara di internal mereka… termasuk dalam hati masing-masing personil disana. Apakah semua itu gara-gara memilih nama “prahara”? Wallahu a’lam bisawab.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
1Comment
  • Anodin Nur Alamsyah
    Posted at 01:12h, 27 August Reply

    Agree…keep going.

Post A Comment