Ajaran KeTuhanan dalam Lakon BIMA SUCI

17 Feb Ajaran KeTuhanan dalam Lakon BIMA SUCI

Omong-omong soal ketuhanan, yang tersurat dalam kitab suci sepertinya banyak dijelaskan bahwa Tuhan itu maha esa, maha suci, maha kuasa, maha abadi, tanpa awal maupun ujung, tidak diperanakan dan tidak beranak, lebih dekat dari urat nadi, maha mendengar, maha mengetahui, maha berkehendak, maha pengasih, maha penyayang, maha kaya dsb, pendek kata … maha segala-galanya. Di sekolah, para guru agama juga menjelaskan satu persatu makna istilah-istilah tersebut. Apakah kita paham dengan apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut? Sepertinya tidak ada kesulitan memahaminya.

Namun kenyataannya dalam keseharian kita sering mendengar istilah “yang di langit” untuk mencitrakan Tuhan. Saya juga sering menggunakan istilah itu. Apakah ini menandakan sebuah pengertian bahwa Tuhan berada di “suatu tempat”? Kita bisa saja bikin kursi dan setelah jadi, kita duduk di kursi itu. Kita bikin rumah dan kita huni rumah itu. Kita berada disana berlindung dari panas, angin dan hujan. Apakah Tuhan juga seperti itu? Tuhan menciptakan alam semesta termasuk bumi, antariksa, neraka dan surga. Apakah Tuhan lantas memilih salah satu untuk Dia huni? Mana yang Tuhan pilih? Sebagian orang mengatakan di surga. Kenapa Tuhan nggak pilih neraka? Nggak tahan panas? Bukankah panas itu ciptaan Nya? Kenapa pilih surga? Apa seneng kenyamanan? Bukankah nyaman itu ciptaan Nya juga?

Juga masih banyak di antara kita yang berdoa maupun memuji Tuhan dengan suara keras atau bahkan dengan pengeras suara. Emangnya “tempat” Tuhan jauh dari kita sehingga harus keras agar terdengar? Emangnya Tuhan tidak tahu kalau tidak kita ucapkan? Bukankah kitab suci mengatakan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat nadimu? Berarti Tuhan lebih dekat dari urat nadi setiap makluk. Ada pula sementara orang yang mengatakan bahwa doa lebih afdol diucapkan dalam bahasa orisinilnya. Emangnya Tuhan hanya memahami bahasa tertentu?

Setidaknya seperti itulah pengertian orang awam seperti saya. Padahal kalau kita kaji bener kitab suci (Quran), segala materi dan dimensi yang ada di alam semesta ini, baik yang nyata maupun yang ghaib adalah ciptaan Tuhan alias makluk. Artinya, semuanya itu tidak ada sebelum diciptakan. Tidak seperti kita, ketika mencipta kursi yang pertama kita duduk di batu atau di kursi tetangga atau berdiri di lantai. Tuhan menciptakan bumi tidak perlu duduk atau berpijak di matahari. Tuhan menciptakan gunung tidak sambil duduk di gunung lain atau berdiri berpijak tanah. Artinya, Tuhan terbebas dari dimensi ruang. Tuhan tidak butuh ruang untuk berada. Justru dimensi ruang adalah ciptaan Nya. Sehingga menganggap Tuhan memilih tinggal di suatu tempat (misal surga) sama juga menyepelekan Tuhan, menyamakan dengan makluknya yang terbelenggu dimensi ruang.

Kitab suci juga mengatakan bahwa Tuhan maha mengetahui dan maha mendengar. Artinya, Tuhan tahu apa saja yang belum, sedang dan sudah terjadi. Tuhan juga mendengar apa saja yang bersuara maupun yang diam. Dalam kaitannya dengan doa, Tuhan bahkan sudah lebih dulu tahu hasrat apa saja yang akan muncul dari pikiran kita dan tahu perkembangan setiap hasrat tersebut sedetil-detilnya sampai titik akhir pencapaian setiap hasrat tersebut. Kalau giitu nggak perlu berdoa donk? Tentu perlu!!! Karena kita tidak tahu mana yang hasrat dan mana yang dorongan nafsu iblis. Dengan berdoa, berarti kita sadar mengevaluasi mana yang benar-benar hasrat dan mana yang syahwat Berdoa selalu didahului dengan mohon perlindungan Nya dari godaan setan dan jin. Dari situ kita harus sadar bahwa yang boleh kita mohon hanya hasrat yang tidak tercampur syahwat iblis. Itulah maknanya berdoa dengan ucapan. Bukan upaya untuk didengar seperti kita menyampaikan informasi kepada sesama makluk. Sehingga berdoa dengan suara keras berharap Tuhan mendengar, atau menganggap bahasa tertentu lebih afdol, sama juga menyepelekan Tuhan, menyamakan dengan kita yang hanya mendengar apa yang terucap dan hanya mengerti bahasa tertentu.

Dalam kitab suci jelas-jelas dinyatakan bahwa ujud Tuhan tidak sama dengan makluk dan kita dilarang membayangkan ujud Nya. Karena ujud apapun yang kita bayangkan pasti tidak sempurna. Jika yang kita bayangkan ujud nyata, pasti otak kita mencontek ujud makluk yang ada. Namanya juga makluk, pasti tidak akan sesempurna Tuhan. Sehebat apa pun makluk, tentu ada kelemahannya. Makluk terdekat kita yang paling hebat adalah matahari. Bertera-tera kalori tenaga dipancarkan setiap detiknya. Namun matahari juga memiliki kelemahan. Dia tidak abadi. Pancaran sinarnya juga bisa dihalangi atau ditangkis. Dia juga bisa hancur manakala tabrakan dengan bintang lain. Bahkan dalam ilmu pengetahuan modern, konon matahari (bintang) bisa kebablasan memancarkan enersinya hingga defisit dan lantas menjadi “lobang hitam” yang akan menarik kembali massa di sekitarnya untuk mengembalikan kesetimbangan.

Jika yang kita bayangkan ujud fiktif, pasti otak kita merekayasa “wewujudan” yang menurut kita sempurna. Padahal lebih tidak sempurna lagi. Contohnya “superman”, “spiderman”, “batman” dll. Tampaknya mereka hebat. Padahal sangat banyak kelemahannya. Banyak hal-hal yang tidak konsisten. Superman terbang secepat kilat menembus atmsofir. Yang tidak konsisten, kostumnya yang terbuat dari kain tidak lepas atau terbakar. Spiderman bisa luka oleh senjata. Artinya, tekanan kinetik pelor peluru atau ujung pisau yang menabrak ototnya mampu merobek serat-serat daging pada otot tersebut. Anehnya, spiderman mampu menghentikan kereta dengan memasang badan dimana tangan kanan dan kirinya dikait dengan bangunan dan patok besi dengan jaringnya. Padahal tekanan tekanan per inci yang dihasilkan oleh dorongan kereta tersebut pasti jauh lebih besar dari yang dihasilkan oleh ujung pisau atau peluru. Lebih konsisten Limbat pakar magis kita kan?

Oleh karena itu, kita dilarang membayangkan ujud Tuhan, karena hanya akan memeras otak kita untuk menghayalkan “wewujudan” yang sempurna yang tidak akan tercapai seumur hidup kita. Umur kita diperpanjang jutaan tahun pun tidak akan mampu menemukan khayalan kesempurnaan tersebut. Sedangkan Tuhan adalah maha sempurna yang sama sekali tidak memiliki kelemahan. Pancaran rahmat Nya tidak bisa dihalangi dengan apapun. Tidak ada satu partikel pun di alam semesta ini yang mampu bersembunyi dari Nya.

Keterbatasan platform arsitektur otak manusia

Uraian di atas menunjukkan bahwa ketuhanan ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Dan itu saya alami sendiri. Otak kita tetap maunya terjerumus ke dalam kekangan dimensi waktu dan ruang serta efek kodrat yang kita rasakan dalam mengkhayalkan ketuhanan. Kita tidak nyadar bahwa semua dimensi, baik yang bisa kita rasakan langsung seperti ruang dan waktu, maupun yang hanya bisa kita pikirkan secara matematis, maupun yang sama sekali di luar jangkauan pemikiran kita, semuanya adalah adalah ciptaan Tuhan, alias makluk. Kita juga tidak nyadar efek nikmat dan siksa yang kita rasakan tidak selalu sama dengan yang dirasakan makluk lain.

Maklum, logika otak kita hanya sebatas AND, OR dan NOT. Kemampuan proses otak kita umumnya juga hanya sebatas aritmetika sederhana. Lebih dari itu sudah memerlukan alat bantu, seperti kalkulator atau komputer yang sebenarnya bikinan kita (manusia) juga yang di dalamnya hanya terdiri dari AND, OR, NOT juga, meskipun sebagian dirangkai menjadi ADDER dan SHIFTER.

Oleh karena itu, kemampuan menjelaskan dan mencerna penjelasan juga terbatas oleh platform arsitektur otak kita yang memang sangat terbatas. Mungkin hanya Rasulullah Muhammad SAW yang mampu menjelaskannya secara maksimal . Disitulah kelebihan dari umat yang hidup sejaman dengan rasulullah. Namun dalam catatan sunnah, ada beberapa hal yang rasul tidak menjelaskan. Bisa jadi karena rasul tahu keterbatasan otak manusia. Atau mungkin saja merupakan pancingan atau PR untuk digali oleh kita-kita yang sudah mengenal IPTEK lebih baik.

Selain keterbatasan platform arsitektur otak, bahasa juga merupakan belenggu yang lebih parah. Terlebih bahasa tulisan. Jangankan menjelaskan ketuhanan, wong menjelaskan matematika juga rusak kok. Contohnya, abc(x + y) = abcx + abcy dinyatakan benar. Apakah pernyataan itu berlaku untuk sin(x + y)? Juga log(x + y)? Padahal konon matematika biangnya ilmu pasti loh!!! Trusss dimana kepastiannya kalau sudah demikian?

Lakon Bima Suci

Di Jawa, para wali berusaha keras untuk menjelaskan tauhid agar dapat dipahami oleh masyarakat. Namun sepertinya ceramah atau khutbah saja nyaris tidak efektif. Buktinya, perkembangan populasi muslim tidak signifikan. Beruntung belakangan hadir Sunan Kalijaga, wali sekaligus budayawan yang tidak menginginkan budaya Jawa tergerus budaya impor termasuk budaya Arab sekalipun. Menyadari keterbatasan bahasa dan platform arsitektur otak manusia, Sunan Kalijaga lantas berinisiatif untuk memanfaatkan budaya sebagai alat peraga dalam berdakwah. Setidaknya keterbatasan bahasa bisa disiasati dengan peragaan aktif seperti wayang. Rupanya gagasan Sunan Kalijaga disepakati dan didukung oleh para wali lainnya, dan muncullah sejumlah lakon-lakon wayang “carangan” yang terbukti jauh lebih efektif ketimbang pidato atau khutbah saja.

Salah satu lakon yang paling populer adalah “Bima Suci” yang dibukukan dalam Serat Bima Suci, tulisan Yasadipura I. Lakon ini mencoba menggambarkan bagaimana memahami soal ketuhanan dengan keterbatasan arsitektur otak manusia.

Kemauan keras Bima melambangkan khusuknya doa

Lakon Bima Suci diawali dengan hasrat Bima untuk mengetahui asal-usul kehidupan (sangkan paraning dumadi) dan tujuan akhir setelah kematian (kasedan jati). Digambarkan dalam lakon tersebut, Bima tidak punya siapa-siapa yang bisa ditanya soal kerohanian tersebut. Satu-satunya guru yang dia miliki hanyalah Dronacharya dan Bima tahu persis bahwa Drona adalah guru perang (kemiliteran), bukan guru agama. Namun Bima nekad menanyakan soal asal-usul kehidupan dan target utama setelah kematian kepada Drona.

Melihat hasrat Bima yang menggebu-gebu, Drona tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tidak tahu. Drona menggunakan analogi dalam teknik peperangan, bahwa manakala seseorang sudah terjepit karena kalah kekuatan maupun strategi, maka tinggal kesungguhan dan keberanian lah yang mampu mendatangkan keberuntungan untuk berjaya atau setidaknya selamat dalam peperangan. Dengan analogi ini, Drona lantas menguji sang Bima. Drona berkeyakinan bahwa hasrat yang mulia pasti akan ada jalan jika diupayakan dengan kesungguhan. Ini mirip khi dalam ilmu beladiri. Kepalan tangan kita hanyalah daging (otot) dan puluhan tulang kecil-kecil yang rata-rata lebih kecil dari puntung rokok. Jika kita benturkan dengan tembok atau pohon, secara logika akan rusak. Tapi jika kita sodokkan dengan penuh kesungguhan, ternyata sakit pun tidak. Bahkan jika kesungguhan kita tingkatkan lagi, dinding atau pohonnya yang rusak. Drona guru perang, tentu sangat menguasai ini.

Bima: “Wahai guru, tolong tunjukkan padaku sangkanparaning dumadi dan kasedan jati”
Drona: “Bima, ada 2 syaratnya.. Kamu harus buktikan mampu mendapatkan kayu gung susuhing angin dan tirta pawitra”
Bima: “Dimana aku harus mencarinya?”
Drona: “Di hutan Candramuka. Hutan itu gawat sekali, sering menelan korban. Kalau tidak siap, jangan berangkat.”

Tanpa pikir panjang Bima langsung menuju ke hutan Candramuka yang konon sangat angker. Disana tidak menemukan apapun selain 2 raksasa yang justru memburunya. Singkat cerita, 2 raksasa dibunuh oleh Bima dan ternyata mereka jelmaan dari Dewa Bayu dan Dewa Indra. Dalam Mahabharata orisinil, Bayu adalah dewanya kekuatan dan angin, sedang Indra dewanya kejayaan. Lakon ini meminjam tokoh 2 dewa tersebut untuk melambangkan bahwa kesungguhan Bima mendapat pertanda baik, mendapat kekuatan dan kejayaan. Merasa tidak menemukan “kayu gung susuhing angin” maka Bima bergegas kembali menghadap sang guru.

Bima: “Waaah ketiwasan guru… Hutan Candramuka ludes dan saya nggak menemukan apapun selain membunuh 2 raksasa yang ternyata Bayu dan Indra”.
Drona: “Tidak apa-apa muridku.. Aku bangga, kamu sudah berhasil mendapatkan kayu gung susuhing angin”.

Drona lantas menjelaskan bahwa “kayu” samaran dari “kayun” atau “karep” yang artinya hasrat. Gung artinya besar dan susuhing angin adalah pusat kekuatan. Hasrat yang besar akan memberi kekuatan dan menuntun kita pada kejayaan. Secara simbolik dilambangkan dengan hadirnya Dewa Bayu dan Dewa Indra. Lantas Drona meminta syarat yang kedua.

Drona: “Bima, kamu harus segera mendapatkan tirta pawitra untuk melengkapi syaratnya”
Bima: “Dimana harus kucari?”
Drona: “Di tengah samudera Minangkalbu”
Bima: “Hah.. dimana itu? Aku baru dengar nama itu”.
Drona: “Terserah kamu mencarinya.. Kali ini kamu harus mampu mencarinya sendiri tanpa petunjuk dari siapapun”.

Bima pun bergegas tanpa nanya lagi. Dia artikan Minangkalbu adalah apa yang ada di hati. Maka lari lah dia lurus tanpa memilih arah sampai mencapai tepi laut. Disana Bima sempat maju-mundur. Ada rasa takut dan keraguan. Karena masuk ke tengah laut memang sangat beresiko. Bahkan untuk memperpanjang pagelaran, Bima juga sempat dicegah oleh ibu dan saudara-saudaranya (Pandawa) serta Hanuman sebagai kakak seperguruan. Namun akhirnya Bima bertekad bulat untuk masuk ke tengah samudera. Loncatan Bima yang terkenal bisa dari gunung ke gunung itu, kini diarahkan ke tengah laut dan … byur … Bima pun tenggelam ke dasar samudera.

Awalnya Bima sempat disergap dan dililit secara tiba-tiba oleh ular raksasa bernama Nagabanda. Lilitan itu sedemikian kuat dan merata dari ujung kaki hingga kepala, sehingga sangat sulit untuk melepaskannya. Terlebih itu terjadi dalam air, dimana Bima tentu glagepan karena tidak memiliki insang. Kekuatan Bima yang konon 80 kali tenaga gajah ternyata tidak terlalu berarti menghadapi lilitan kuat ini karena tidak ada ruang gerak untuk meronta. Namun berkat kuatnya keinginan untuk melanjutkan petualangannya mencari tirta pawitra, Bima tidak putus asa dalam kegelapan yang teramat berat itu. Disela-sela lilitan ternyata kedua jempol tangannya bebas. Bima lantas menggerakkan kedua jempol tangannya dengan harapan dapat melukai sang ular dengan kukunya yang panjang dan tajam. Ternyata benar… sang ular terluka sehingga lilitan sedikit mengendor karena kepala sang ular menuju bagian yang terluka. Momentum ini segera dimanfaatkan Bima untuk meronta sekuat-kuatnya hingga mendapat celah untuk menangkap kepala sang Nagabanda. Kuku pancanaka yang sangat tajam itu dihujamkan ke mata dan mulut sang ular sehingga lilitannya makin lemah. Ular itu lantas dirobek-robek layaknya kita merobek daun pisang tak berdaya. Namun Bima pun terhempas oleh kibasan ular raksasa yang sekarat itu dan jatuh di sebuah pulau karang kecil di tengah samudera.

Bagian ini ingin menyampaikan pesan bahwa pada dasarnya yang paling sulit adalah mengalahkan napsunya sendiri. Ketika dicegah dengan rayuan dan nasihat oleh ibunya dan saudara-saudaranya, Pandawa, dengan mudah Bima mampu mengabaikannya. Padahal Bima adalah figur yang sangat penurut kepada ibunya. Namun kali ini ibunya pun dikesampingkan. Lantas dicegah dengan kekuatan oleh Hanuman, kakak seperguruan yang kondang menaklukkan Rahwana sang raja super sakti. Kali ini pun Bima mampu meloloskan diri dalam sekejap dengan loncatannya yang melampaui ketinggian gunung. Yang paling sulit justru Nagabanda yang melilitnya tiba-tiba begitu Bima mencapai permukaan samudera. Ular raksasa ini mengibaratkan napsu. Napsu memang hanya bisa dikalahkan oleh kemauan keras yang disertai keyakinan bahwa dirinya pasti sanggup mengalahkannya.

Bertemu Dewa Ruci

Bima yang jatuh tengkurap di pulau karang lantas merangkak mencari pegangan untuk berdiri. Begitu menengok batu yang dipegangnya, nampak ada manusia kecil yang hanya setinggi mata kaki tetapi seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Manusia kecil ini adalah Dewa Ruci yang berarti ruh suci. Dewa Ruci lantas menyapa Bima lebih dulu.

Ruci: “Wahai Bima, apa yang kau cari jauh-jauh kesini”.

Bima semula agak jengkel karena ada anak kecil menyapa tidak sopan layaknya sapaan teman sebaya. Namun Bima yang cerdas tidak segera mengungkapkan rasa geramnya. Dia amati si manusia kecil yang memancarkan cahaya itu dengan saksama. Ternyata manusia kecil itu seperti miniatur dirinya. Wajah dan proporsi tubuh dan pakaiannya benar-benar mencerminkan dirinya. Dalam hati ini pasti hal yang luar biasa. Maka Bima menjawab sapaan dan menyapanya balik dengan penuh kesopanan.

Bima: “Saya mencari tirtapawitra. Pukulun ini siapa?
Ruci: “Saya Nawa Ruci Marbudyengrat. Tirta pawitra memang ada disini. Tapi untuk apa?”
Bima: “Untuk membayar pengetahuan yang saya inginkan, sangkanparaning dumadi dan kasedan jati”.
Ruci: “Siapa yang akan menjelaskan itu kepadamu?”.
Bima: “Dronacharya guruku”.
Ruci: “Kamu kan sudah tahu bahwa Drona adalah guru perang, dia tidak akan tahu soal kerohanian seperti itu”.
Bima: “Iya, tapi Drona adalah satu-satunya guru yang saya miliki. Maka kepadanya lah tempat saya bertanya.”
Ruci: “Dari mana kamu yakin Drona mampu menjawab?”
Bima: “Dari rasa bhaktiku kepadanya dan ketulusannya kepadaku selama ini. Beliau pernah bilang bahwa orang yang mau bertanya pasti akan mendapat jawaban meskipun bukan dari orang yang ditanya“.
Ruci “Naah.. untuk mendengarkan wejangan gurumu, masuklah ke dalam tubuhku melalui lobang telinga kiriku”.
Bima: “Hua ha ha ha …. mana mungkin saya bisa masuk ke jasad pukulun yang hanya sebesar kelingking”.
Ruci: “Jangan kuatir … kumpulkan segenap tenagamu dan loncatlah setinggi mungkin agar mencapai kupingku”.

Bima pun semakin bingung. Lah wong disuruh masuk ke tubuh yang kecil saja masih bingung kok malah disuruh loncat setinggi-tingginya. Padahal loncatan Bima konon bisa melampaui gunung. Namun berkat hasrat yang menggebu, meski bingung, Bima tidak berpikir panjang. Dia pilih taat kepada perintah itu ketimbang berkutat dengan kebingungannya, karena dia sadar yang sedang dihadapinya adalah sebuah aura yang luar biasa dan seirama dengan apa yang sedang dicarinya dalam petualangannya ini. Maka langsung saja Bima meloncat setinggi-tingginya dengan kekuatan penuh. Dan ternyata benar… Bima harus meluncur ke langit untuk mencapai kuping Dewa Ruci. Dewa Ruci yang hanya sebesar kelingking dan hanya setinggi matakaki, ternyata kupingnya berada jauh di atas awan.

Bagian ini ingin menyampaikan pesan bahwa manakala seseorang berpikir sangat keras untuk mencapai sesuatu dan mengesampingkan hal-hal lain selain fokus pada apa yang dituju, maka sebenarnya dia telah memasuki ambang alam rohani. Yang ada hanyalah interaksi dengan dirinya sendiri. Ketika Bima bertemu Dewa Ruci, sebenarnya Bima sudah memasuki ambang alam rohani. Lakon ini mencoba menjelaskan bahwa di alam ruhani, dimensi ruang sudah tidak berlaku. Besar-kecil, tinggi-rendah, jauh-dekat, arah mata angin sudah tidak berlaku seperti yang kasat mata.

Saya sendiri pernah mengalami fenomena yang mungkin ada kemiripannya. Ketika saya berpikir keras untuk memutar bandul (pendulum), maka bandul itupun berputar tanpa harus saya putar beneran secara fisik. Detilnya silakan simak posting yang ini. Maaf bila ternyata lain. Saya tidak bermaksud apapun selain mengungkapkan pengalaman nyata. Lagi pula pengalaman itu terjadi tanpa sengaja, tidak ada kaitannya dengan lakon Bima Suci, dan bahkan saya pun masih belum mudeng hingga detik ini.

Penjelasan keTuhanan

Setelah memasuki badan Dewa Ruci, maka Bima menjadi bingung. Tidak lagi tahu arah, tidak ada lagi bobot, melayang-layang tanpa arah. Namun tidak ada juga rasa takut ataupun ngeri. Yang ada hanya rasa nyaman yang luar biasa. Karena sepi, Bima diam saja… Namun dalam hati Bima bertanya, apa gerangan yang sedang dirasakannya. Tanpa diduga ada suara menjawab, seperti suara sang Dewa Ruci.

Ruci: “Itulah yang gambaran apa yang disebut sangkanparaning dumadi. Sebelum kamu dilahirkan, kamu berada jagad seperti itu”.
Bima: “Rasanya nyaman sekali, kenapa?”
Ruci: “Karena kamu seirama dengan pusat kekuatan alam, yaitu Dzat Yang Maha Sempurna yang menghidupkanmu di rahim ibumu. Apa saja yang kamu perlukan mengalir sendiri tanpa kamu harus memintanya”.
Bima: “Kenapa saya lantas dilahirkan ke dunia?”
Ruci: “Itu maunya Sang Maha Penguasa, kamu dilahirkan untuk melakukan kewajiban tertentu.”
Bima: “Kemana kelak aku kembali?”
Ruci: “Perhatikan warna-warna cahaya yang mengelilingimu sekarang.”
Bima: “Waaah ini muncul panca warna, kuning, merah, hitam dan putih… semuanya indah dan menyenangkan”

Dewa Ruci lantas menjelaskan tentang arti warna-warni yang indah tersebut. Intinya warna itu melambangkan hasrat dan nafsu. Semuanya tampak indah menyenangkan. Tapi kalau diikuti, dampaknya tidak sama. Bima pun termangu-mangu memperhatikan sambil merasakan kenyamanan tiap cahaya tersebut sampai berhari-hari. Akhirnya muncul cahaya kelima yang warnanya aneh dan menghadirkan kenyamanan yang luar biasa jauh lebih nyaman dibanding cahaya-cahaya yang sebelumnya.

Bima: “Pukulun, ini muncul warna yang aneh, tapi membawa kenyamanan yang luar biasa.”
Ruci: “Warna seperti apa?”
Bima: “Tidak seperti warna yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Sungguh tidak ada yang menyamainya.”
Ruci: “Tentu kamu tidak tahu, karena itulah wujud dari sang Maha Pencipta. Di alam semesta ini tidak ada yang menyamainya, baik yang ada maupun yang ghaib. Kamu hanya bisa merasakan kenyamanannya.”
Bima: “Apa engkau sudah pernah ketemu dengan Nya?”
Ruci: “Belum. Baru kali ini aku bertemu dengan aura itu. Benar-benar bareng sama kamu.”
Bima: “Lho… kok aneh, bukankah pukulun adalah dewata yang tentunya lebih dulu ada ketimbang saya?”
Ruci: “Aku lahir bareng dengan kamu, pada hari yang sama, tabuh yang sama dan saat yang sama.”
Bima: “Waaaahhh … makin bingung… Lah pukulun ini siapa sebenarnya?”
Ruci “Aku ya kamu, kamu ya aku :)”
Bima: “Weleeh… semakin nggak mudeng. Jadi gimana nih? Apa yang sedang terjadi? Sedang ngapain aku ini?”

Rupanya lakon ini juga tidak berani menggambarkan Tuhan lebih explisit. Hanya sekedar kehadiran warna cahaya yang sangat asing tidak ada yang sama, sehingga Bima maupun Ruci tidak mampu menamai warna cahaya tersebut. Penayangannya pun hanya berupa percakapan antara Bima dan Ruci. Tidak ada simbolisasi bentuk wayang maupun permainan cahaya untuk memperagakannya. Dan yang paling penting lagi, lakon ini ingin menyampaikan pesan bahwa Dewa Ruci bukan ilustrasi Tuhan dan bukan dewata seperti dewa-dewa lain dalam kisah Mahabharata. Disini Dewa Ruci adalah Bima itu sendiri. Dia adalah Bima dalam kehidupan alam ruh yang suci.

Bima harus dipaksa keluar dari alam rohani

Bima rupanya sangat menikmati berada dalam lingkaran kenyamanan yang sedang dia rasakan. Memang konon begitulah rasanya orang yang sedang merasa dekat dengan Tuhan. Maka Rasul pun mengingatkan bahwa melakukan ritual tidak boleh egois. Karena ibadah tidak hanya ritual. Bekerja mencari nafkah dan berbuat kebaikan bagi sesama juga ibadah. Bahkan nilainya lebih baik, karena yang didapat selain pahala akhirat juga pahala dunia seperti nafkah, kesan baik, dll. Justru orang yang melupakan kewajiban dunianya bisa menjadi sesat meskipun ritualnya jalan terus. Sengaja melebih-lebihkan ritual juga dilarang (baca; bid’ah) karena bisa berakibat melupakan kewajiban keduniaannya. Dalam lakon Bima Suci ini, Dewa Ruci harus mengusir Bima untuk menghindari kesesatan tersebut.

Ruci: “Bima, rasanya sudah waktunya kamu keluar dari jagadku dan kembali pada kehidupanmu semula”
Bima: “Mohon maaf pukulun, saya sangat krasan disini dan masih ada sejumlah pertanyaan yang belum dijawab”
Ruci: “Jangan gayeng dengan kesenangan dan berharap pengetahuan tuntas digali dalam sekejap. Jagad raya ini tanpa batas dan manusia tidak kenal puas. Tengoklah apa yang terjadi di bawah sana, Bima !”

Begitu menengok ke bawah, tampak pasukan Korawa dipimpin Drona dengan beringas mengobrak-abrik Indraprasta. Sang ibu Kunti dan para isteri Pandawa juga telah di”pikut” menjadi puteri boyongan. Bima yang sebenarnya Pandawa yang paling berangasan, tentu saja geram menyala-nyala disertai rasa bersalah. Karuan saja karena Bima telah melupakan kewajibannya sebagai benteng Pandawa malah berlama-lama bertualang mencari kepuasan pribadi.

Bima: “Wheelahdalah… kurang ajar amat Korawa menyerang kami… apa salah kami? Kenapa guru Drona malah memimpinnya, bukan melerainya?”
Ruci: “Bima, kamu telah sejauh ini belajar bersamaku… mestinya tidak lagi brangasan seperti dulu. Yang kamu cerna jangan hanya yang kamu lihat dan kamu dengar saja… coba rasakanlah dengan kejernihan bhatin mu.”.
Bima: “Iya pukulun, tapi saya harus kembali karena kewajiban saya menjadi benteng Indraprasta belum selesai”.

Bagian ini menyampaikan pesan bahwa Bima sebagai orang yang benar-benar beriman harus bisa menyadari bahwa ibadah tidak boleh egois. Karena menghindari egois juga merupakan ibadah. Ibadah tidak boleh melupakan kewajiban keduniaan. Karena kewajiban keduniaan juga merupakan ibadah, bahkan yang paling utama dan alami.

Dewa Ruci yang kecil bercahaya tiba-tiba muncul lagi di hadapan Bima, lantas mengisyaratkan Bima untuk meloncat ke ujung kaki sang Ruci yang mungil itu. Sekali lagi ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu harus dirasakan dengan cermat, tidak boleh hantam kromo hanya mengandalkan emosi. Apa yang dilihat dan didengar belum tentu sebuah kebenaran. Orangnya saja cuman sebesar boneka barby, kenapa harus meloncat untuk mencapai ujung kakinya?

Ruci: “Segeralah meloncat ke ujung kakiku… kamu akan aku kibas supaya cepat sampai ke tempatmu semula”
Bima: “Sendiko pukulun”.

Begitu mendarat di ujung kaki mungil yang setinggi gunung, kaki sang Ruci berayun kuat dan cepat bagaikan ahli kempo melakukan “ghaesi keri” … wheessss. Bima pun terlontar melayang di udara dan jatuh di pantai yang sama ketika dia hendak nyebur ke samudera. Disana lantas Bima “jugar” dari tafakurnya dan baru nyadar bahwa apa yang dialaminya barusan mirip mimpi.

Begitu jugar … jleg … Bima pun kaget, karena kini berada di tempat semula ketika hendak nyemplung ke samudera. Sikap berdirinya dan madepnya pun persis seperti semula. Mungkin mirip filem diputar balik 🙂 Lebih bingung lagi ketika dia nyadar petualangannya dengan Dewa Ruci yang terasa berhari-hari, ternyata hanya sekejap mata. Kecondongan matahari masih sama dengan ketika hendak nyemplung ke samudera. Andaikan dia membawa arloji, mungkin jarum detiknya saja yang sedikit bergeser. Jadi bukan saja tempatnya, melainkan waktunya pun sepertinya kembali semula.

Bagian ini ingin menjelaskan bahwa dunia rohani terbebas dari kekangan dimensi waktu. Dari pengalaman ini, Bima berhasil memiliki pengetahuan tentang asal-usul kehidupan dan target akhir kematian, sehingga hatinya menjadi tenang dan penuh rasa syukur. Dan yang paling harus disyukuri adalah karena ketuntasannya dalam menunaikan kewajiban agar nantinya seirama dengan pusat kekuatan alam. Rasa syukur ini dilambangkan dengan berganti sandangan. Bima yang semula tampil sangar dengan sandangan lengkap baju jirah dan atribut ksatria yang serba gemerlapan, lantas berganti baju rakyat yang serba sederhana. Kakinya tidak lagi mengenakan gelang keroncong emas. Lehernya tidak lagi mengenakan kalung bertatah berlian. Rambutnya yang gondrong se punggung digelung kuncup di belakang kepala yang dinamakan gelung “minangkara”. Topi baju jirah yang bertatah emas berlian ditanggalkannya. Satu-satunya pertanda ksatria hanyalah gelang candrakirana di tangan kanan-kirinya sekedar untuk mengingatkan bahwa dia harus tetap melaksanakan tugas ksatria bela negara.

Selang beberapa saat setelah Bima jugar, sang guru Drona yang mengkhawatirkan keselamatan Bima hadir tergopoh-gopoh. Melihat Bima selamat dan sudah tampil beda, sang guru sakti itu menengadah ke atas mengucapkan syukur tiada hentinya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Haru melihat kesungguhan sang murid dalam mengejar cita-citanya yang mulia. Bahagia karena kesungguhan itu berakhir dengan keberhasilan. Bima pun tidak mempersoalkan apa yang dilihatnya terakhir kali ketika bertualang dengan Dewa Ruci. Bima yang sudah arif tahu bahwa itu hanya ilusi gambaran apa yang akan terjadi di masa mendatang. Bima sangat menyadari bahwa jagad raya ini tanpa batas dan manusia masih jauh dari kesempurnaan.

Bima lambang keberanian dan kecerdasan

Bima (Bheema atau Bheemasena) adalah anak ke 2 dari lima bersaudara yang populer disebut Pandawa (Pandava) dalam kisah Mahabharata. Kenapa ajaran tauhid meminjam tokoh Bima? Tentu disesuaikan dengan karakter tokoh Bima yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya tokoh ksatria nomor satu dalam kisah Mahabharata orisinil maupun versi Jawa (Bharatayuda) adalah Arjuna. Namun Arjuna mengalami modifikasi dari Mahabharata ke Bharatayuda. Arjuna dalam Mahabharata orisinil merupakan pewaris ilmu Drona yang tuntas, sehingga menjadi andalan nomor satu yang sanggup memecahkan strategi Cakrabyuha yang digelar oleh sang guru Drona. Arjuna juga satu-satunya manusia yang diberi kesempatan melihat langsung ujud asli Shri Krishna sang Mahadewa ketika mendapat wejangan Bhagavadgita di awal perang di Kuruksetra. Dari semua kelebihan dan jasanya, maka keturunan Arjuna lah yang kelak disepakati menjadi pewaris tahta. Sehingga Arjuna merupakan ksatria yang paling diteladani umat Hindu.

Saking hebatnya nilai keteladanan Arjuna bagi umat Hindu, maka dalam Serat Bharatayuda (Mahabharata versi Jawa) Arjuna di-upgrade lagi menjadi manusia yang paling ganteng di dunia dan paling menjadi idaman para wanita cantik dan bidadari. Arjuna bahkan pernah diberi kesempatan menjadi raja kahyangan dan dilayani oleh segenap bidadari dalam lakon “Arjuna Wiwaha”. Sehingga figur Arjuna semakin melekat di hati umat Hindu.

Rupanya bisikan toleransi lebih kuat ketimbang sekedar mencari figur. Terbukti tokoh yang dipilih bukan Arjuna, melainkan Yudhistira dalam lakon “Jamus Kalimusada” dan Bima dalam lakon “Bima Suci”. Yudhistira dipilih dan diberi alias Samiaji karena karakter rendah hatinya. Namun sebenarnya karakter Yudhistira kurang baik karena di balik kerendahan hatinya ternyata ada bakat kesewenang-wenangan terhadap keluarganya, yaitu ketika sukan dadu mempertaruhkan tahta dan keluarga tanpa menggubris usul adik-adiknya. Oleh karena itu ketika hendak memperagakan ajaran tauhid dipilih Bima.

Bima memang tokoh dengan karakter yang paling tepat. Bima memiliki fisik yang paling perkasa dan nyali yang paling pembrani serta rasa tanggungjawab yang paling besar ketimbang Pandawa lainnya. Baik dalam Mahabharata orisinil maupun versi Jawa, Bima tercatat pernah mengalahkan Baka, raksasa kanibal yang paling ganas. Tewasnya Baka memberikan medali bagi Bima sebagai penyelamat manusia dari kanibalisme Baka. Bima juga mengalahkan Hidimba, raksasa sakti yang ketika itu hendak mencelakai Pandawa. Hidimbi, raksasa cantik adik Hidimba mendukung Bima karena selain menyadari kesalahan kakaknya, juga terpikat keperkasaan Bima. Bima juga yang menyelamatkan Kunti, ibunya dan Pandawa dari jebakan Sakuni dalam kebakaran Bale Sigolo-golo di Waranawata. Bima juga satu-satunya ksatria yang mengalahkan Jarasanda raja Magada yang ketika itu sedang menggulung jagad dan telah menaklukkan hampir 100 negara. Selain membebaskan semua jajahan Jarasanda, persitiwa ini juga mempopularitaskan Indraprasta yang ditengarai dengan upacara Rajasuya yang menobatkan kakaknya, Yudhistira, menjadi raja di atas raja yang lain. Dan klimaksnya, meskipun Arjuna sang pemanah ulung ahli strategi perang yang paling hebat, kenyataannya Bima lah yang membantai Duryudana, pemimpin Korawa yang paling jahat. Bahkan dalam Mahabharata orisinil, Bima lah yang membantai seluruh Korawa. Arjuna hanya kebagian Jayadrata yang bukan Korawa asli. Bima adalah seorang pembasmi musuh yang tak kenal ampun, jago duel yang paling brangasan. Mungkin mirip Rambo dalam filem Holywood. Oleh karena itu Bima juga dijuluki Wrekodara (Vrikodara) yang artinya ksatria pembasmi musuh.

Selain keberanian dan kehebatannya yang tak terkalahkan dalam kombat lawan siapapun, Bima juga tercatat merupakan manusia yang paling cerdas. Bima satu-satunya Pandawa yang terlebihdulu curiga ketika diundang pesta Bale Sigolo-golo di Waranawata. Kecurigaan Bima didukung oleh Yama Widura. Bima pula lah yang mencari akal membuat terowongan di bawah lantai untuk evakuasi dan ternyata terowongan tersebut efektif. Bima juga satu-satunya adik Yudhistira yang protes untuk menolak ajakan sukan dadu Korawa. Meskipun didukung oleh adik-adiknya, protes Bima ditentang keras oleh Yudhistira yang bodoh dan akhirnya terbukti bahwa Pandawa kalah oleh keculasan Sakuni dan harus kehilangan tahta serta menjalani buangan di hutan selama 13 tahun.

Dimana-mana, menggambarkan kekuatan luarbiasa yang dimiliki manusia selalu dikaitkan dengan rahasia. Samson memiliki kekuatan luar biasa, rahasianya ada pada rambutnya. Samson Betawi rahasia kekuatannya pada bulu keteknya. Sedangkan di Nusantara, khususnya di Jawa, kekuatan luar biasa itu disebut kesaktian dan konon selalu memiliki kunci rahasia. Kunci rahasia itu disebut “ajian” dan bisa berupa benda maupun mantra (doa khusus). Entah kesaktian itu ada atau tidak, bukan masalah. Namun kenyataannya kita sering menyaksikan kekuatan manusia luar biasa yang ditayangkan di TV.

Untuk menggambarkan kekuatan lahiriah dan bhatiniyah yang sempurna, dalam sejumlah pentas sering diembel-embeli bahwa Bima berhasil meraih 8 tingkat ilmu pambayon dari Dewa Bayu. Ini adalah tingkat paling sempurna di antara semua murid Batara Bayu yang umumnya hanya mencapai 7 tingkat. Salah satu ilmu pambayon yang paling populer adalah ajian “Bayu Bandung Bondowoso” untuk menggambarkan rahasia kakuatan fisik 80 kali tenaga gajah yang dimilikinya. Perlu dicatat bahwa Bandung disini bukan kota Bandung di Jawa Barat. Kata Bandung untuk kota Bandung dalam lafal Jawa harus dituliskan sebagai Bandhung. Sedangkan Bandung pada Bayu Bandung Bondowoso, huruf “d” nya dilafalkan seperti “dl” pada kata wudlu.

Sedangkan kesempurnaan kekuatan bhatin Bima digambarkan dengan penguasaannya atas ajian pambayon tingkat 8 yaitu “Bayu Seto”. Bima lah satu-satunya murid Bayu yang sanggup mencapainya, yaitu pasca lakon Bima Suci. Dengan kekuatan bhatin ini, konon Bima dengan mudah keluar dari jasadnya seperti yang ditayangkan dalam lakon carangan “Bondhan Pakso Jandhu”.

Tidak banyak tokoh pewayangan yang memiliki ilmu atau ajian pambayon. Hanya murid Dewa Bayu seperti Hanuman dan Bima saja yang memilikinya yang dalam pewayangan ditandai dengan kuku Pancanaka di kedua jempol tangannya dan memakai dodot kampuh bintulu yang bercorak kotak-kotak seperti papan catur.

Sertifikasi Bima

Jaman sekarang sertifikasi yang menunjukkan potensi seseorang, antara lain gelar akademis (misal Doktor, master, bachelor), gelar profesi (misal dokter, arsitek, insinyur, akuntan dll), sertifikasi khusus (misal sabuk hitam, wing terjun, wing penembak jitu dll). Bima pun sebagai ksatria “pinunjul” memiliki seabreg sertifikasi. Di dunia pawayangan sertifikasi lazim disebut kesaktian. Bima memiliki hampir semua kelas kesaktian, antara lain kanuragan, pambayon dan tosan atau persenjataan

Kanuragan diperoleh dari Guru Drona, antara lain ajian Carangsewu untuk kekuatan pukulan, Blabag Pangantolan untuk kekebalan terhadap senjata dasar, Gagak Lemboro untuk ketahanan terhadap pukulan berat dan/atau keras, Klunthung Wesi untuk kekebalan terhadap segala macam senjata termasuk senjata bertuah dan masih banyak lagi. Untuk melengkapi kanuragan, Guru Drona juga membekalinya sejumlah jurus pertempuran terutama jurus tangan kosong dan permainan gada.

Pambayon adalah kanuragan khusus yang berkaitan dengan power atau bayu, dan dalam pawayangan sumber kesaktian pambayon hanya satu, yaitu Batara Bayu. Bima mewarisi 8 tingkat pambayon, yaitu ajian Bayu Bandung Bondowoso tingkat I (prakasa jati) dan II (amuji roh) untuk mewujudkan tenaga dasar yang sangat besar (total setara tenaga 80 ekor gajah), Bayu Gulinggangjati untuk melumpuhkan tenaga lawan, Bayu Ungkal Bener untuk melompat setinggi awan dan/atau sejauh cakrawala pandang gajah, Bayu Pancanaka berujud kuku bayangan dari jempol tangan yang jika dimainkan seperti pedang angin (tak tampak) yang sangat tajam, Bayu Maundri atau Mangundri untuk merubah pandangan terhadap benda besar tampak kecil sehingga bisa dicomot atau diremas, Bayu Bajra untuk mendatangkan angin lesus (puting beliung) dan Bayu Seto yang merupakan kekuatan bhatin.

Sedangkan dalam bidang persenjataan, Bima termasuk yang paling minim dibandingkan saudara-saudaranya Pandawa. Mungkin karena fisik Bima sudah seperti senjata sehingga Bima tidak terlalu memerlukan senjata. Senjata Bima yang saya ingat hanya gada Lukitosari yang besarnya melebihi badan manusia dan bobotnya tidak ada yang mampu mengangkatnya selain Bima sendiri.

Di kalangan masyarakat Jawa, ajian-ajian kanuragan maupun pambayon masih populer dan masih bisa dijumpai di sejumlah padepokan silat tradisional. Ajian Carangsewu populer dengan sebutan pecah kemiri karena pendadarannya dengan memukul buah kemiri. Ajian Gagak Lemboro populer disebut anti kepruk, karena pendadarannya dikepruk dengan batu di kepala, setelah terlebih dulu melahap pisang dempet. Ajian Blabag Pengantolan populer disebut anti bacok, karena pendadarannya menahan bacokan senjata tajam, setelah terlebih dulu menghabiskan segeluntung buah kelapa dengan gula merah. Ajian Klunthung Wesi populer disebut anti peluru (armored), karena pendadarannya konon menahan tembakan senjata api dengan badan tanpa pelindung.

Sedangkan pambayon, yang populer hanya ajian Bayu Bandung Bondowoso. Mungkin karena dikaitkan dengan tokoh Bandung Bondowoso dalam mitos Candi Sewu dan Rara Jonggrang. Setelah lulus melakukan segala persyaratan yang ditentukan, konon pendadarannya dengan mengangkat hewan besar seperti kerbau atau sapi dan melemparkannya ke atas pohon. Tentu sulit karena harga sapi atau kerbau sangat mahal. Maka penggantinya adalah dengan mencabut pohon. Meskipun hanya sebesar lengan, belum tentu seorang lifter mampu mencabutnya. Tetapi bagi pemilik pambayon, konon sangatlah mudah. Untuk mencabut pohon yang besar, terlebih dulu pohon harus didorong supaya miring atau roboh agar posisi badan tidak di atas akar, lantas dicabut hingga seluruh akarnya keluar dari tanah. Kekuatan pambayon efektif selama sang pemilik diam tak berucap apapun. Oleh karena itu Bima digambarkan selalu diam dalam pertempuran, tidak mengumpat, memaki atau mengancam seperti wayang lainnya.

Nah… gimana? Percayakah anda? Percaya atau tidak bukan hal penting. Namun dulu ketika masih remaja saya sering menyaksikan praktek-prakteknya. Bahkan guru SMA saya dan beberapa teman sering mendemonstrasikannya di sekolahan. Tetapi saya tidak tahu kekuatan apa sebenarnya yang menclok pada mereka. Yang paling mudah adalah menebak adanya “rewang” sebagsa jin. Namun jika kita baca artikel tentang kekuatan gelombang otak bawah sadar (subconscious), maka bukan mustahil roh kita juga memiliki kekuatan yang bahkan melebihi kekuatan jin manapun. Hanya saja perlu dilatih karena sejak lahir kita sudah terbelenggu dengan kelemahan-kelemahan lahiriyah jasad kita.

Bima hanyalah tokoh fiksi pawayangan. Tetapi menulis cerita fiksi tidak selalu 100% khayalan. Boleh jadi ada porsi yang nyata namun bersifat kontekstual sesuai dengan jamannya. Soal kesaktian, barangkali masih merupakan sertifikasi kemiliteran yang lazim berlaku hingga jaman kerajaan Mataram. Lantas berangsur memudar digantikan dengan teknologi persenjataan modern.

Drona lambang guru sejati

Dalam kisah Mahabharata orisinil, Dronacharya adalah seorang guru yang memiliki kelebihan luar biasa dibanding guru-guru lainnya. Keunikan pertama adalah seorang brahmin yang menjadi guru ilmu perang. Hanya ada 2 tokoh seunik itu sepanjang kisah Ramayana dan Mahabharata, yaitu Parashurama dan Dronacharya, muridnya. Meskipun berlatarbelakang brahmin, ilmu perang yang dikuasainya jauh melebihi ksatria manapun. Parashurama pada jamannya adalah pandekar tak terkalahkan. Demikian pula Dronacharya, kesaktian dan strategi perangnya tak terkalahkan.

Namun demikian, ada keunikan Drona yang tidak dimiliki oleh guru manapun. Drona memberikan ilmu kepada muridnya dengan penuh keikhlasan. Drona mengajar Pandawa dan Korawa bukan karena dilamar atau diminta. Justru sebaliknya, Drona lah yang datang dan menawarkan pelajarannya. Lantas disambut baik oleh Bhisma, sesama murid Parashurama.

Drona memang tidak suka ada orang mencuri ilmunya. Tetapi kepada muridnya, Drona akan memberikan semua ilmunya meskipun kelak bisa mengalahkan sang guru. Drona bahkan dengan senang hati memberi petunjuk kepada muridnya yang ingin menuntut ilmu melebihi yang dia miliki. Arjuna adalah satu-satunya murid yang mewarisi seluruh ilmu Drona.

Dalam mendidik siswa-siswanya, Drona pantang menyerah. Apa yang diperlukan oleh siswa, Drona selalu berusaha keras untuk memenuhinya. Tidak terbatas ilmu yang dia tahu saja. Ilmu yang di luar bidangnya pun, Drona berusaha memberi petunjuk. Tidak dengan berbohong seperti guru yang bodoh. Melainkan dengan mengantarkannya kepada pakar yang menguasainya. Atau seidaknya memberikan dasar-dasar yang dia ketahui yang kelak bisa dilanjutkan kesana. Misalnya dengan mengajarkan konsentrasi kesungguhan tekad. Selain sebenarnya untuk belajar beladiri, khususnya memanah, konsentrasi juga bisa menjadi landasan untuk ilmu lainnya.

Selain sebagai pendidik, Drona juga seorang konsultan yang mumpuni. Bakatnya bersiasat tidak hanya tersalur di bidang kemiliteran saja. Apa saja yang dihadapkan kepada Drona, umumnya solved. Namun solved disini tidak selalu sesuai keinginan yang memberikan order, melainkan solved untuk mendapatkan yang terbaik. Misalnya, ketika diminta mendampingi Korawa menyerang Wiratha, Drona tidak menolak. Tetapi sesampainya disana dia disambut oleh panah “pengabaran” yang ditembakkan oleh seorang priya yang berpakaian wanita, mirip bencong. Dari getaran pengabarannya maupun aura si bencong, Drona langsung tahu bahwa si bencong itu Arjuna. Drona lantas nyadar bahwa hari itu adalah hari terakhir tahun ke 13 Pandawa dalam pembuangan. Dan tahun ke 13 adalah tahun persembunyian dimana jika terungkap, maka pembuangan diperpanjang 13 tahun lagi. Nyadar hal itu, Drona langsung memerintahkan pasukan Hastinapura untuk mundur. Alasanya, si bencong tidak akan dapat dikalahkan selain oleh dirinya, dan ini memang benar. Namun dia tidak sudi untuk bertempur melawan bencong ataupun wanita. Lah.. alasan ini hanya siasat untuk menyelamatkan Pandawa. Walhasil, konflik solved karena pasukan Korawa kalah. Tentu mengecewakan Dristarastra yang memberi order. Tetapi Pandawa selamat dan ini lebih utama demi kepentingan umum. Dalam pewayangan versi Jawa, demi terpenuhinya “Jangka Jitapsara”, semacam kodrat.

Saking lihainya dalam bersiasat, maka Drona sering dianggap sebagai orang yang licik oleh para dalang yang tidak memahami Mahabharata. Tentu 100% keliru. Yang licik adalah Sakuni. Drona adalah seorang guru agung yang sangat mumpuni di bidang kemiliteran dan kesaktian. Jika kita cermat, tanpa harus membaca kitab Mahabharata pun pasti kita tahu. Orang sekuat itu, kenapa harus licik? Merebut tahta raja manapun dia bisa kok. Drona memang berakhir di pihak yang salah. Namun sepanjang perjalanannya sebelum perang besar di Kuruksetra, Drona merupakan mahaguru yang sangat dihormati, baik oleh kawan maupun lawan.

Sifat Drona yang dimikian itu cocok dipinjam untuk memerankan tokoh guru bagi Bima dalam lakon Bima Suci, meskipun Bima dalam kisah orisinil Mahabharata bukan murid terbaik Drona. Karena dalam kesungguhan memberi petunjuk pas dengan karakter Drona yang sebenarnya. Namun demikian, jarang orang yang berani berguru kepada Drona, karena kuatir soal pembayaran yang aneh. Setiap kali ada orang yang menanyakan bagaimana membayar sang guru, maka Drona selalu mengatakan ilmu saya mahal dan saya akan mengambil sendiri bayaran itu. Siapa yang tidak takut? Maklum, Drona merasa memberikan ilmunya dengan ikhlas. Maka dia juga berharap sebaliknya, manakala memerlukan sesuatu, pihak murid juga mestinya memberikan dengan ikhlas tanpa hitungan. Cuman kata-kata “mengambil sendiri bayaranku” untuk seorang Drona yang tak terkalahkan memang kedengarannya sangat mengerikan. Di Hastinapura pun Drona mengatakan hal yang sama ketika ditanya Sakuni. Tentu saja semua ketakutan kecuali Bhisma. Namun kenyataannya, Drona tidak pernah mengambil bayaran itu hingga akhir hayatnya.

Drona memang memiliki sisi buruk dalam hal keadilan. Drona cenderung berpihak kepada yang dia kasihi ketimbang yang benar. Dalam perang Pandawa lawan Korawa, Drona terpaksa berpihak pada Korawa yang jahat karena anaknya, Aswatama, berpihak Korawa. Drona tidak lagi melihat mana yang salah mana yang benar demi kasih sayangnya kepada Aswatama. Namun karena bhatinnya tahu Pandawa yang benar dan kenyataannya dia juga menyayangi Pandawa karena lebih pinter dalam menuntut ilmunya, maka hati Drona tetap berpihak pada Pandawa. Selama perang Drona terus berdoa agar Aswatama selamat tapi Pandawa menang. Sebuah doa yang sulit dikabulkan semuanya. Ternyata Pandawa menang dan Korawa punah. Namun setidaknya Aswatama selamat untuk beberapa hari seusai perang.

Mengkaji keTuhanan perlu tekad dan kecerdasan seperti Bima

Dari keberanian dan kehebatannya dalam pertarungan serta kecerdasannya dalam menyikapi keadaan ini lah Bima rupanya merupakan pilihan karakter yang tepat untuk memperagakan ajaran tauhid Islam. Karena mempelajari tauhid, selain butuh tekad yang bulat, juga kecerdasan yang matang. Tanpa dua faktor tersebut rasanya sulit untuk mencapai pengertian yang diharapkan.

Lantas tekadnya seperti apa? Apa seperti tekad mau perang? Mungkin tidak, tapi mungkin justru lebih berat dari perang. Tekad disini adalah tekad untuk menggugurkan paham yang selama ini diyakini jika ternyata tidak seirama. Bagi sebagian orang mungkin mudah saja menerima penjabaran dan penalaran orang lain meski bertentangan dengan yang sedang diyakininya. Tapi tidak mustahil ada orang yang bersikukuh tidak berani mencoba hal-hal yang bertentangan dengan apa yang sedang diyakini. Takut berdosa, takut sesat dsb. Nggak nyadar bahwa keyakinan soal keTuhanan bukan seperti keyakinan bahwa api itu panas dan es itu dingin, tanpa diberitahu pun kita akan tahu sendiri. Selain rasul dan nabi, keyakinan soal keTuhanan selalu dari orang lain. Namun karena diembel-embeli istilah “keimanan” yang di baliknya mengandung ancaman dosa, akhirnya kita hanya mau mendengar hal yang sama saja. Sedikit saja beda, langsung menolaknya.

Tekadnya ada tapi tidak cerdas juga bisa sial. Ajaran sesat yang laku di masyarakat umumnya dibawakan dengan kecerdasan dan dukungan metafisik atau parafisik tertentu. Sehingga selain sulit dibantah dengan nalar sederhana, juga kadang muncul fenomena-fenomena aneh yang mengagumkan yang bisa menipu kita untuk terjerumus mengimaninya. Nah.. disitulah perlunya kita cerdas. Cerdas menyikapi informasi atau ajaran mana yang perlu dipedomani dan mana yang harus diabaikan.

Lantas cerdas yang seperti apa itu? Nah ini agak sulit menyampaikannya, bisa keliru persepsi. Gampangnya begini… Bagaimana bisa menerima penjelasan bahwa Tuhan terbebas dari semua dimensi termasuk dimensi ruang dan waktu, jika nalar kita nggak nyampe kesana. Bagaimana bisa menerima penjelasan bahwa Tuhan tidak mungkin diilustrasikan dengan apapun, karena apapun yang nyata maupun yang khayal dan yang ghaib adalah ciptaanNya, jika nalar kita nggak mampu mencernanya. Penjelasan soal keTuhanan, baik dengan tulisan maupun lisan juga sangat tergantung kecerdasan yang menjelaskan. Maka dari itu, kita jangan menelan bulat penjelasan seseorang, apapun predikatnya. Karena kadang predikat seseorang tidak selalu sesuai dengan kualitasnya. Terlebih predikat yang diperoleh secara adat dari masyarakat. Predikat yang bersertifikat akademik S1, S2 maupun S3 saja tidak menjamin kualitas kecerdasan seseorang. Lihat saja… berapa banyak tokoh spiritual kaum intelek yang tempo hari meyakini tahun 1999 dan 2012 kiyamat? Yang paling hebat di jagat IT, sebelum tahun 2000, angka tahun 1998 dan 1999 dalam filesystem time stamp bukan lagi dianggap sebagai tahun, melainkan kode jatuh tempo dan siklus. Mungkin saking yakinnya para pembuat OS komputer bahwa dunia tidak akan mencapai tahun itu. Berapa banyak mahasiswa dan sarjana S1, S2 dan S3 yang terjerumus masuk aliran sesat hingga tidak mengakui lagi orangtuanya? Bahkan menjadi teroris yang konon menghalalkan darah orang lain. Lah wong binatang saja nggak boleh dibunuh kecuali untuk dimakan atau karena menyerang kita kok. Semua itu menandakan bahwa mereka sebenarnya sudah bertekad menerima perubahan keyakinan, tetapi kecerdasannya tidak memadahi.

Apakah ini mengisyaratkan umat muslim harus cerdas? Betul!!! Belajar adalah kewajiban yang paling utama dan awal. Karena perintah belajar merupakan perintah yang diwahyukan perdana dalam Quran, yaitu surah Al Alaq. Apa yang harus dipelajari? Diawali dengan belajar membaca. Lantas berlanjut belajar ilmu yang bermanfaat. Salah jika ada orang yang bilang bahwa ilmu manfaat hanya agama. Hukum-hukum agama harus kita pelajari, karena kita diharuskan menempuh kehidupan melalui jalan yang benar. Namun ilmu lain untuk membentuk keterampilan juga tidak kalah penting. Karena mencari nafkah perlu keterampilan dan hukumnya juga wajib menurut Quran. Keterampilan macam mana yang harus kita pelajari? Keterampilan apa saja yang bermanfaat untuk mendatangkan rejeki yang halal. Penerapannya juga tidak boleh menympang dari hukum agama. Ilmu perpajakan, ilmu pemerintahan maupun ilmu politik juga termasuk keterampilan yang bermanfaat. Tapi jika aplikasinya di-boost dengan korupsi tentu dilarang agama. Ilmu IT dan elektro juga termasuk keterampilan yang bermanfaat. Tapi jika aplikasinya untuk bikin situs porno, atau bikin permainan untuk berjudi atau yang menjebak anak-anak menjadi kecanduan, tentu dilarang.

Dari proses belajar, muncul sebuah kecerdasan. Namun kecerdasan tersebut masih mentah, karena belum pernah dihadapkan pada resiko yang sebenarnya. Namun dengan menerapkan apa yang dipelajarinya, muncullah sebuah kecerdasan yang matang. Karena sudah terbiasa menggunakan kecerdasan untuk menuntaskan pekerjaan. Tidak ada nilai 50, 70 atau 90 seperti di sekolah. Yang ada nilai 100 atau berhadapan dengan resiko gagal.

Apakah ini mengisyaratkan belajar agama dan ilmu manfaat atau keterampilan harus beriringan? Betul! Belajar agama tidak perlu tuntas lebih dulu. Karena percuma saja jika kita belum memiliki kecerdasan yang matang, tidak mungkin tuntas mempelajari agama. Tuntas secara formal mungkin saja. Tetapi penghayatannya tidak maximum. Lihat saja contoh dalam kehidupan sehari-hari… Kenapa sudah doktor dan berpredikat ustad, atau bekerja di kementerian agama atau bahkan menjadi menteri agama, tetapi melakukan tindakan nista? Kenapa orang beratribut keagamaan kok malah angkuh, membeda-bedakan sesama manusia, bahkan cenderung mengharamkan orang lain yang tidak sepaham? Pasti semua itu karena ilmunya tidak matang meskipun secara formal tuntas. Ngoceh soal syari’at memang lancar. Tapi penghayatannya tidak sesuai dengan irama nafasnya.

Kenapa demikian? Karena ada bagian-bagian tertentu dalam agama yang sangat mensyaratkan kecerdasan, baik kecerdasan logika maupun kecerdasan rohani. Contohnya soal tauhid. Apa yang perlu dipelajari dulu sambil menunggu hadirnya kecerdasan? Bagian-bagian hukum syari’at sekedar untuk membentuk budi pekerti luhur patut didahulukan. Ini merupakan modal utama untuk tampil bijak dan diterima di masyarakat. Bagian ini biasanya tidak menuntut kecerdasan yang berlebihan. Cukup bisa baca tulis dan berakal sehat. Soal tauhid, cukup dengan iman dulu. Tidak perlu mengupas lebih jauh.

Inilah yang sering disalahkaprahkan bahwa keimanan tidak boleh menggunakan akal. Pernah ada teman yang mengingatkan ayah mertua saya ketika berbincang soal keTuhanan. Karena dianggap tidak menggubris, lain hari dia datang membawa seabreg buku untuk meyakinkan beliau soal tidak boleh menggunakan akal. Tentu menjadikan saya cekikikan ketawa-tiwi dalam hati. Karena saya yakin buku-buku itu tidak akan terwujud jika pernyataan teman tadi benar.

Basis pengetahuan tauhid ada di surah Al Ikhlaas. Tetapi hapal dan sering melantunkan Al Ikhlaas sama sekali tidak mengindikasikan pengetahuan tauhid seseorang. Belajar dari seseorang atau membaca buku, selain kecerdasan kita harus siap, juga sangat tergantung kecerdasan orang yang mengajarinya atau menulisnya. Nonton wayang lakon Bima Suci juga tergantung kecerdasan si dalang membawakannya. Ki Dalang Manteb Soedharsono, menurut saya paling mengena untuk lakon ini. Membaca ulasan seperti blog ini juga tergantung apakah saya cukup cerdas mengulasnya. Bahkan membaca buku aslinya, tulisan Yasadipura I, juga tidak menjamin. Mempelajari tauhid atau keTuhanan sangat memerlukan dan sekaligus membangun kecerdasan logika maupun kecerdasan rohani.

Jangankan orang awam… ahli exakta pun kadang tidak segera mampu menerimanya. Ada yang lambat mencernanya seperti orang awam. Ada pula yang kebablasan. Misalnya, Tuhan maha kuasa dan maha pencipta. Artinya, Dia kuasa atas segalanya dan maha mampu mencipta apa saja tanpa batas. Kalau begitu, apakah Tuhan mampu mencipta Tuhan lain yang seperti Dia? Kalau tidak mampu berarti tidak tepat dikatakan mampu mencipta apa saja donk 🙂 Tapi kalau mampu, maka ada kemungkinan tidak lagi maha kuasa donk, jika Dia mencipta Tuhan lain 🙂 Kenapa jadi begini ya?

Jawabannya … Pertama, kekumprungan saya menyajikan ungkapan tersebut. Kedua, keterbatasan arsitektur otak kita. Yang kedua ini konon memerlukan kecerdasan rohani untuk mengatasinya. Kecerdasan rohani yang sudah mencapai tingkat makrifat konon memiliki kemampuan di atas akal cerdas manusia jenius. Kadang saya penasaran banget pengen berdialog dengan orang-orang makrifat. Jangan-jangan ada operator logika dasar lain selain AND, OR dan NOT. Atau jangan-jangan ada operator aritmetika dasar lain selain kali, bagi, tambah dan kurang. Sayangnya tidak pernah jumpa dengan mereka.

Jika kecerdasan kita tidak pernah siap, apa cukup dengan keimanan saja? Rasullulah menjamin bahwa keimanan tauhid sudah cukup untuk menyelamatkan kita di kasedan jati kelak. Namun konsekuensinya, jangan ngajarin orang lain jika kita belum tuntas belajar. Apakah penulis blog ini sudah tuntas belajar tauhid. Ho ho ho… jauh panggang dari api. Tulisan ini bukan ngajarin orang lain. Blog ini hanya mengulas lakon Bima Suci yang konon berisi ajaran tauhid 🙂

Namun… hemat saya, mencapai tingkatan makrifat (kecerdasan akal dan rohani) adalah fardlu kifayah. Dalam satu kurun harus ada setidaknya satu orang yang mencapai makrifat. Ketiadaan orang-orang makrifat akan membawa agama menuju kecenderungan materialisme alias hanya berkutat di seputar yang kasat mata saja. Teknologi saja sedang menuju nano… Lucu kan jika agama yang sebutanya kerohanian hanya membahas yang kilo dan ton saja he he 🙂

Dalam lakon Bima Suci, setelah keluar dari Dewa Ruci, Bima yang semula brangasan, menjadi arif yang digambarkan dengan berganti sandangan sederhana. Memang kenyataannya dalam kehidupan seperti itu. Dalam mempelajari ilmu, selama hakikatnya belum kepegang, seseorang akan sangat leterleks sesuai yang tertulis di buku atau yang dikatakan guru. Berbeda dikit saja, langsung ditolaknya. Bahkan hawanya cenderung mengarah ke permusuhan. Nggak nyadar bahwa guru itu manusia dan buku itu tulisan manusia, yang belum tentu lebih cerdas dari dia. Lihat saja bagaimana rata-rata sikap karateka atau kenshi yang masih sabuk hijau. Kelak setelah mencapai sabuk hitam, dia akan tahu hakikat jurus-jurus yang dipelajarinya ternyata efektif manakala lawannya tidak menduga. Nah tentu sikapnya menjadi lebih bijak.

Hal di atas tidak hanya berlaku untuk kempo dan karate saja, melainkan hampir semua ilmu, termasuk ilmu keTuhanan. Untuk mencapai pemahaman hakikat diperlukan kecerdasan yang matang dan kemauan keras. Setelah pemahamannya mencapai hakikat, muncul implikasi kecerdasan baru yang disebut kearifan. Sehingga semacam efek timbal balik positif yang seimbang. Berikut ini contoh implikasi tesebut.

Kearifan memahami subyektivitas dan batasan kodrat

Kenapa kita membayangkan Tuhan di surga? Tuhan di atas? Pasti yang kita bayangkan adalah prioritas dan/atau jenjang kedudukan. Bos di kantor saja ruangannya paling nyaman, mobilnya paling bagus kan? Apalagi Tuhan, penguasa alam semesta… Tentu harus mendapat tempat yang jauh lebih nyaman ketimbang bos. Tempat yang paling nyaman tentu surga. Jadi surga lah tempat yang pantas untuk Tuhan. Nah… ini semua akibat pemahaman kita soal keTuhanan belum mencapai hakikat. Sehingga cara kita membayangkan Tuhan menggunakan rasa kemanusiaan.

Setelah nonton wayang lakon Bima Suci, kita mendapat gambaran bahwa apa yang kita rasakan seperti sedih, senang, pengap, nyaman, jauh, dekat, tinggi, rendah, atas, bawah, sekejap, lama, gayeng, bosan dan sebagainya adalah permainan Tuhan. Tuhan memang mencipta segalanya dan menetapkan kodratnya masing-masing. Yang rendah cukup dilangkahi, yang jauh harus dilompati dan yang lebih tinggi lagi harus dipanjat, merupakan salah satu mekanisme kodrat. Tetapi dalam lakon Bima Suci setidaknya sedikit dikuak bahwa kodrat seperti itu tidak berlaku bagi Bima ketika bertemu Dewa Ruci. Bima yang berbadan besar seperti raksasa harus melompat melampau awan untuk mencapai kuping Dewa Ruci yang hanya setinggi matakaki. Bima juga merasa lega bak dalam ruang tak berbatas setelah memasuki badan Dewa Ruci yang hanya sebesar kelingkingnya. Jika kita cermati, muncul implikasi pengertian bahwa penetapan kodrat bagi suatu obyek tidak mutlak, melainkan terkait dengan obyek lain yang akan menerima efeknya. Artinya, obyek yang sama bisa beda efeknya bagi A dan bagi B.

Contohnya, freon adalah gas yang ketika dimampatan berubah menjadi cair dan ketika dibebaskan kembali menjadi gas tetapi menyerap panas dari sekitarnya. Sehingga manusia bisa merekayasa kondrat ini menjadi penyejuk ruangan atau AC. Efeknya, bagi manusia pada umumnya menjadi nyaman. Yang merekayasa AC manusia. Lah yang menciptakan kenyamanan siapa? Jika efek kenyamanan AC bisa dirasakan oleh siapa saja, maka kita bisa katakan bahwa kenyamanan AC itu juga hasil rekayasa manusia. Tetapi apa benar makluk lain juga merasa nyaman? Kita tidak tahu… perlu konfirmasi dulu. Bahkan bagi sesama manusia saja ada yang malah merasa terganggu, semisal ibu saya. Nah… jika demikian, kenyamanan itu hanya sekedar efek dari kodrat, alias ciptaan Tuhan. Berarti kepada siapa kenyamanan itu ditujukan, mutlak menjadi hak dan rahasia Tuhan. Insinyur yang merekayasa AC tidak bisa memaksakannya.

Rekayasa bukan penciptaan. Manusia hanya bisa merekayasa materi ciptaan Tuhan untuk mensiasati dan/atau memanfaatkan kodrat guna menghadirkan sesuatu. Sedangkan Tuhan menciptakan jagat raya, neraka dan surga, sama sekali tidak sama dengan kita merekayasa AC. Seluruh bahannya beserta ketetapan kodratnya masing-masing adalah ciptaan Nya. Efek panas dan pengapnya neraka maupun nyamannya surga juga ciptaan Nya. Efek tersebut ditujukan kepada siapa, juga merupakan hak Tuhan. Bagi manusia, neraka adalah siksa dan surga nikmat. Namun bagi makluk tertentu lainnya boleh jadi sebaliknya, surga lah yang siksa dan neraka lah yang nikmat. Semua itu hak dan rahasia Tuhan.

Susah yaa … membayangkannya? Contoh sederhananya begini… Tidak usah jauh-jauh ke neraka dan surga. Mari kita simak contoh yang paling kasat mata, misalnya antara air dan udara. Bagi kita, udara adalah nikmat dan air merupakan siksa untuk bernapas, meski sama-sama mengandung oksigen. Kita dicemplungin di tengah laut pasti klojotan dan akhirnya mati mengenaskan setelah lelah berenang. Sebaliknya, bagi ikan, air merupakan nikmat dan udara siksa. Ikan dilepas di tengah lapangan pasti klojotan dan akhirnya mati mengenaskan.

Di depan rumah saya ada pohon jambu air yang terus-menerus berbuah dan buahnya manis meskipun musim hujan. Ternyata sebagian akarnya masuk ke septitank. Pohon jambu itu ternyata terus-menerus menikmati sesuatu yang kita anggap kotor dan najis. Masih banyak contoh lain yang berbalikan dari titik pandang nikmat dan siksa yang kasat mata. Jangankan soal extrim seperti nikmat dan siksa. Soal keindahan saja tidak sama antara satu makluk dengan makluk lain. Kenapa kera jantan tidak tergiur wanita cantik? Karena bagi kera jantan, wanita cantik kalah menarik ketimbang kera betina yang mrongos manyun itu. Semua itu secara logika manusia bertujuan membentuk sebuah sistem yang saling berinteraksi berdaur seimbang.

Kita memang sering tidak menyadari soal keseimbangan alam, karena cenderung melihat hanya dari sudut ego kita. Wah.. mobil itu nyaman sekali. Padahal kenyamanan itu terwujud karena adanya bensin yang dibakar atau solar yang digencet hingga meledak, piston yang dikocok dan kruk as yang diplintir hingga 50 kali tiap detik, gas freon yang ditekan sekuatnya hingga menjadi cair dan ratusan siksaan lainnya. Kita juga tidak membayangkan di balik kenyamanan rumah kita ada sejumlah batu yang digencet selamanya di pondasi bangunan kan? Piston dan kruk as masih ada waktu untuk istirahat manakala mobil berhenti. Batu di pondasi bangunan baru istirahat ketika bangunan itu dibongkar 🙂

Nah… pertanyaannya, apakah piston, kruk as, ban, batu pondasi dll itu sedang menjalani siksaan? Apakah pohon jambu yang akarnya masuk septitank juga sedang menjalani siksa? Apakah ikan di dalam air juga sedang menjalani siksa? Akhirnya kita tahu, semua itu subyektif. Dalam kitab suci dinyatakan bahwa semua makluk diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada Nya. Arti ibadah disana adalah mentaati perintah Nya, yaitu menjalankan fungsinya. Dan siapa saja yang mentaati perintah Nya, tentu akan diganjar dengan kenikmatan. Kenikmatan untuk manusia adalah surga. Untuk makluk lain, rahasia Tuhan. Yang penting, kita harus memahami batasan kodrat Nya. Kita tidak boleh mengikuti jejak ikan dalam air kecuali dengan peralatan selam yang memadahi. Ikan juga jangan tergiur ikutan nonton bola di lapangan, kecuali sudah tersaji di atas meja makan.

Dan yang lebih penting lagi… semua batasan kodrat yang ada di alam semesta, baik yang nyata maupun yang ghaib, adalah hukum Tuhan dan hanya berlaku bagi makluk, bukan bagi Tuhan. Tuhan tidak terpengaruh oleh kodrat apapun, baik dimensinya maupun efeknya. Karena semua itu ciptaan Nya dan targetnya pun subyektif. Kita tidak salah membayangkan Tuhan berada di surga, karena Tuhan memang berada dimana-mana. Tapi keliru jika membayangkan Tuhan merasa nikmat di surga sehingga memilih surga untuk tinggal. Kita juga tidak salah membayangkan Tuhan di langit. Tapi keliru jika membayangkan Tuhan merasa tinggi di langit sehingga memilih langit sebagai rumah Nya. Tuhan dimana-mana, lebih dekat dari urat nadiku, urat nadimu, urat nadinya matahari, urat nadiya malaikat, urat nadinya setan, urat nadinya bakteri dan urat nadinya seluruh makluk yang ada di jagat raya ini, baik yang nyata maupun yang ghaib.

Di perkampungan Bogor ada semacam kepercayaan masyarakat, manakala ada burung bence (puyuh jantan) bersiul di malam hari, merupakan pertanda akan ada kemalingan. Sementara teman-teman kalangan intelek dengan sinis mencap itu tahayul. Dengan memahami subyektivitas dan batasan kodrat, diharapkan kita menjadi lebih arif dalam pergaulan, baik sesama manusia maupun makluk lain. Tidak buru-buru menolak atau sinis manakala menanggapi sebuah fenomena yang kita anggap bertentangan dengan logika kita. Kita mesti cari tahu dulu apa penyebab burung bence bersiul. Yang pasti, apa yang dilihat atau dirasakan burung bence boleh jadi tidak sama dengan apa yang kita lihat dan rasakan. Sama-sama menghadapi kehadiran seseorang, di mata kita mungkin hanya nampak orang itu dan pakaian yang dikenakannya. Namun di mata burung bence mungkin lain lagi. Bisa jadi bence melihat “sesuatu” yang tidak kita lihat. Dan sesuatu itulah yang men-trigger bence untuk bersiul.

Apa yang dimasksud “sesuatu”? Apa kaitannya dengan kemalingan? Boleh jadi “rewang”, makluk ghaib yang sering digunakan maling untuk menemani aksinya. Atau boleh jadi sekedar aura seseorang manakala akan melakukan kejahatan, memancarkan gelombang tertentu yang hanya bisa dirasakan oleh burung bence. Burung bangkai juga tahu manakala ada binatang atau manusia yang sudah di ambang ajal. Menurut pakar biologi, mereka mencium bau makluk yang mau mati. Itu ya boleh saja. Tapi apa sudah confirmed dengan burung yang bersangkutan?

Tidak selalu “ukur baju badan sendiri” itu bijak. Untuk sesama manusia dengan latarbelakang intelektual dan budaya yang sama, mungkin benar. Untuk sesama manusia yang berbeda latarbelakang intelektual atau budayanya, boleh jadi menjadi tidak bijak. Apa lagi untuk makluk lain.

Kearifan memahami perbedaan dimensi

Dari Bogor ke Jakarta memakan waktu kadang lebih dari 2 jam, terlebih jika jalanan macet. Itu pun karena kita maik kendaraan yang mampu berjalan jauh lebih cepat ketimbang kita. Kenapa demikian? Karena kita maupun kendaraan kita terbelenggu dimensi ruang dan waktu. Sehingga jarak menjadi kendala. Untuk menuju satu lokasi, kita harus merambat mili demi mili, senti demi senti, meter demi meter untuk mengurangi jarak antara kedudukan kita saat ini dengan tempat yang kita tuju. Setelah jaraknya 0, barulah kita mencapai tempat tersebut. Dalam upaya menempuh jarak tersebut, perlu suatu proses yang memakan waktu. Sehingga, begitu kita sampai ke tempat tujuan, ternyata waktu sudah bergeser.

Kita sering mendengar dongeng konon jin bisa loncat dari Jakarta ke Surabaya kurang dari satu detik. Joko Bandung dalam dongeng Prambanan juga mampu bikin seribu patung Jonggrang dalam semalam. Di kampung saya juga ada semacam mitos, seorang kyai yang sholat jum’atnya ke Mekkah. Mungkin semua itu bisa dianggap rumor atau canda bagi kita yang tidak pernah tahu buktinya. Andaikan beneran, gimana caranya ya? Apa karena saking cepatnya proses merambat?

Namun bagi kita yang muslim, ada persitiwa serupa, bahkan lebih dahsyat, dan harus kita yakini, yaitu Isra’ dan Mi’raj. Nabi Agung Muhammad SAW pernah menempuh perjalanan bolak-balik dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsha di Jerusalem dan lantas melesat ke langit tingkat 7 hanya dalam semalam. Bisakah kita bayangkan? Jarak Mekkah-Jerusalem masih bisa diukur dengan kilometer. Bagaimana dengan langit tingkat 7? Tingkat yang dimaksud lapisan atmosfir? Atau tingkat galaxy? Lapisan atmosfir masih bisa dibayangkan jaraknya. Tetapi tantangan kondisinya dengan suhu yang sangat dingin di puncak stratosfir dan panas seperti las di termosfir serta kelangkaan oksigen sangat tidak memungkinkan ditembus oleh makluk bumi. Terlebih jika yang dimaksudkan tingkat galaxy. Namun semua itu bagi Tuhan hanyalah permainan dimensi dan special effect. Boleh jadi ketika Isra’ dan Mi’raj, Tuhan mengeluarkan Nabi Muhammad dari kekangan dimensi ruang dan waktu serta tidak memberlakukan efeknya.

Bagi kita manusia awam akan tetap sulit membayangkan. Mungkin sekedar gambaran sederhana… sama-sama menggunakan komputer, untuk menghitung perkalian atau perbagian dengan bilangan genap, pakar IT mampu membuat program yang jauh lebih cepat dari program yang dibikin oleh pakar matematika. Kenapa demikian? Soal matematika boleh jadi sang matematikawan lebih jago. Tetapi soal komputer tentu pakar IT lebih tahu. Mereka menempuh dimensi yang berbeda. Pakar matematika akan menggunakan cara matematis dalam menyusun program, sehingga komputer akan benar-benar melakukan proses perkalian dan perbagian.

Sedangkan pakar IT cukup dengan menggeser lokasinya di memori, sehingga jauh lebih cepat. Pergeseran per bit sama dengan mengalikan 2 atau membagi 2 sesuai dengan arah endian yang dianut oleh mesin komputer yang digunakan. Untuk mesin X86 menggeser satu bit ke atas berarti membagi 2 dan ke bawah mengalikan 2. Untuk mesin z (mainframe) berlaku sebaliknya karena menganut big endian. Bagi anda yang orang IT mestinya paham soal ini. Contoh ini hanyalah perbedaan cara, bukan benar-benar perbedaan dimensi. Pakar matematika menggunakan cara matematika dan komputer hanya dianggap sebagai alat. Sedangkan pakar IT memanfaatkan cara kerja mesin komputer yang kebetulan bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan matematika tersebut meski hanya berlaku jika pengali atau pembaginya genap. Namun hemat saya pantas dijadikan contoh untuk menjelaskan perbedaan dimensi.

Ajaran KeTuhanan dalam Mahabharata orisinil

Sebenarnya Mahabharata orisinil juga ada ajaran ketuhanan, namun basisnya adalah agama Hindu. Tuhan disimbolkan dengan tokoh Krishna, dimana Krishna, berperan sebagai Maha Dewa (gabungan Brahma, Visnhu dan Shiva). Disana juga mencoba menjelaskan bahwa Krishna (Tuhan) tidak terbelenggu dimensi ruang maupun waktu. Krishna bisa berada dimana pun di tempat yang membutuhkan meskipun terjadi secara bersamaan dan lokasinya terpencar jauh. Krishna juga merupakan Pusat Kekuatan Alam yang tidak selalu tunduk dalam kelaziman logika manusia yang diperagakan dengan mengubah siang menjadi malam dalam sekejap dan kembali siang lagi, ketika Arjuna mengejar Jayadrata.

Perbedaannya dengan lakon Bima Suci, Krishna dalam Mahabharata orisinil memang menyatakan dirinya Tuhan dan menampakkan wujud aslinya ketika menasihati Arjuna dalam fragmen Bagavadgita. Mungkin ketuhanan versi Hindu memang diperbolehkan mengilustrasikan ujud Tuhan. Sedangkan Dewa Ruci dalam lakon Bima Suci jelas bukan Tuhan, melainkan ruh si Bima itu sendiri yang mengantarkan Bima (dirinya) merasakan kehadiran Tuhan sebagai Pusat Kekuatan Alam. Di bagian ini tentu kedua lakon tersebut tidak sejalan. Namun itulah perbedaan antar agama yang tidak perlu diperdebatkan.

Topik-topik terkait pewayangan

 

 

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
15 Comments
  • Aku Rosi
    Posted at 10:45h, 27 September Reply

    sip mas, matur suwun..

  • dwi panji
    Posted at 10:04h, 02 October Reply

    Matursuwun mas..

  • Jagad-Kahiyangan
    Posted at 01:46h, 03 March Reply

    setahu saya nama ular tsb bukan Nagabanda — tapi Naga-Nemburnawa. Nama Naga Banda memenang ada, tapi bukan di sini konteks-nya. sekali lagi saya tekankan di sini, nama nama ular yg melilit Bhima di SamuderaMinangkalbu, adalah NagaNemburnawa (seingat saya lho)

  • Jagad-Kahiyangan
    Posted at 01:50h, 03 March Reply

    seingat saya, ttg Gendari knapa dapat Destharastra adalah, sbb;

    Pandhu mendapat putri boyongan, salah satu nya yaitu Gendari. Destarastro disuruh milih duluan sama Pandhu, dan dia milih Gendari.

  • Deru Sudibyo
    Posted at 02:20h, 03 March Reply

    (1) Terimakasih koreksinya soal Nagabanda. Maklum daya ingat tergelincir oleh bayangan ular besar menggulung dan mengikat yang dalam istilah Jawa “banda” (baca: bondo).

    (2) Soal Gendari atau Gandhari kayaknya tidak ada dalam topik ini.

  • Admin-KH
    Posted at 10:49h, 16 January Reply

    matur nuwon mas penjelasan nya bagus sekali menambah wawasan
    tentang cerita Bima yg mengalahkan naga yang kemudian muncul sosok bima kecil yg secara hakekat bermakna manusia setelah mematikan nafsu2nya maka akan muncul Tuhan yang di dalam diri yang disebut ruh, nur muhammad, atman, roh kudus, guru sejati.

    ijin perkenalan ketuhanan-hindu.blogspot.com

    trims

  • Deru Sudibyo
    Posted at 17:55h, 16 January Reply

    Sami-sami pak. Saya baca sekilas tadi blog KH, wah… lengkap bener isinya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya dalam postingan ini dan mungkin masih ada beberapa postingan lain dalam blog ini yang sedikit meninggung Hindu. Tidak ada tujuan apapun selain karena pakemnya memang berkaitan.

    Barangkali ada kekeliruan, 100% murni kesalahan saya dalam memahami pakem tersebut, seperti Mahabharata, dongeng Menak Jingga dll. Oleh karena itu saya mohon dikoreksi melalui kolom komentar. Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Matur nuwun 🙂

    Salam Bhinneka Tunggal Ika 🙂

  • ANTON HARI
    Posted at 07:42h, 24 December Reply

    Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah (sesembahan) yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

  • bimo auliarahman
    Posted at 04:56h, 22 July Reply

    matur suwun sanget..

  • H Moch Choir
    Posted at 06:41h, 24 December Reply

    Alhamdulillah, setelah baca Bima Suci, saya semakin faham, dan terimakasih.
    Rasanya pingin sekali kenal dg bpk Deru Sudibyo utk tolabul ilmi, maaf kalao tdk keberatan bisa minta no telponnya
    Ini nomor saya 085727170555. 087717278989

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:36h, 25 December Reply

      Terimakasih komennya pak H Moch Choir 🙂 Maaf baru balas.. maklum aktivitas saya malam pak dan jarang maen blog maupun fb. Wah mau kenalan boleh banget pak… terimakasih banyak pak. Saya catat nomor bapak, nanti inshaAllah kalo pas ada kesempatan saya call. Cuman mohon maaf sebelumnya nih.. saya bukan kyai dan bukan ustadz, cuman seorang tukang… 🙂

  • Wahyu
    Posted at 10:37h, 08 September Reply

    Matur sembah nuwun pak Deru Sudibyo

  • ade heriyanto
    Posted at 11:29h, 18 September Reply

    punten, saya mau tanya…., makna dari ikat pinggang nagabanda yang dimiliki bima menurut islam apa ya pak?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 05:55h, 20 September Reply

      Saya kira yang dimaksud adalah “Sangsang Nagabanda”, yaitu kalung di leher, bukan ikat pinggang. Itu simbol kekuatan. Kalo kita nonton wayang orang atau wayang golek, silakan perhatikan benda yang menghiasi leher Bima. Itulah sangsang Nagabanda. Tapi di wayang kulit tidak ada. Mungkin karena wayang kulit pernah dipinjam walisanga, khususnya Sunan Kalijaga, sehingga simbol-simbol yang terlalu serem dihapus.

  • Hadi Winarno
    Posted at 15:35h, 24 November Reply

    sangat menarik walau agak panjang ulasannya

Post A Comment