Wayang Tidak Sepenuhnya Teladan

13 Feb Wayang Tidak Sepenuhnya Teladan

Wayang adalah salah satu wujud budaya adiluhung yang lahir di Nusantara, terutama di tanah Jawa, Madura dan Bali. Katai Ki Dalang, tontonan wayang merupakan pagelaran seni budaya orisinil yang berisi hiburan sekaligus tuntunan. Artinya, ketika kita nonton wayang, yang kita peroleh tidak hanya kesenangan saja seperti nonton dangdutan. Tetapi juga berbagai pengetahuan termasuk budaya, pergaulan, pendidikan dalam rumah, perjuangan, kerohanian dll yang hampir semuanya orisinil . Kidung-kidungnya, liriknya dan musiknya serta atribut dan penataannya jelas 100% produk orisinil Nusantara (dominan Jawa). Kontennya sebagian orisinil dan sebagian saduran dari bahan impor.

Mahabharata dan Ramayana memang impor. Tapi dalam pagelaran pewayangan, yang dipentaskan biasanya lakon-lakon “carangan” (gubahan) yang direka sedemikian rupa agar nampak smooth dengan alur cerita aslinya. Lagi pula, baik Mahabharata maupun Ramayana yang dipakai patokan juga sudah versi lokal yang disesuaikan dengan falsafah hidup lokal yang cenderung mengaburkan ketegasan batas-batas kasta. Sehingga meskipun yang digelar lakon 18 hari perang besar Bharatayuda, tetap saja akan tampak ada perbedaan dengan versi India.

Gamelan, kidung dan atributnya merupakan teladan

Gamelan merupakan himpunan instrumen musik orisinil yang patut diteladani. Baik instrumen maupun irama dan tangga nadanya orisinil dan mencerminkan sebuah seni budaya yang sangat tinggi. Bahkan kalo mau jujur, gamelan merupakan seni musik nomor satu di dunia, baik dari estetika maupun skalanya. Di dunia ini tidak ada himpunan instrumen musik selengkap gamelan. Di dunia ini tidak ada himpunan irama selengkap “gendhing” (aplikasi gamelan).

Kidung-kidung baku yang dilantunkan diiringi gendhing dalam pagelaran wayang hampir semuanya berisi tuntunan dan falsafah hidup. Cara melantunkannya pun dengan aturan baku yang setiap jengkalnya ada maknanya. Iringan gendhingnya juga mengikuti aturan baku. Tidak ada demokrasi. Tetapi kompak dan taat mengikuti garis komando dimana dalang sebagai kapten dan penabuh kendhang sebagai juru mudi. Tidak ada yang tidak penting. Jika ada satu saja yang menyimpang dari garis komando, rusaklah seketika itu dan penonton yang buta seni pun langsung tahu bahwa ada yang salah. Namun jika semua kompak, gendhing terasa hidup. Sedih, riang maupun semangat tidak hanya tercermin dari ungkapan kidung. Lirk dan irama nadanya pun sudah merupakan kekuatan hipnosis yang luar biasa.

Penataan dan atribut termasuk cara duduk, cara berkomunikasi, cara mengomando dan mengemudikan irama, jenis dan cara berpakaian semua mengikuti aturan etika kesopanan dan estetika seni. Tidak ada yang diperbolehkan berpakaian di luar pakaian budaya. Tidak boleh ada yang berbicara di luar bahasa budaya.

Bagian wayang yang bukan teladan

Disamping yang teladan, dalam pewayangan juga ada bagian yang selalu patut diteladani, yaitu konten ceritanya. Konten-konten orisinil Mahabharata dan Ramayana jelas tidak semuanya patut diteladani, termasuk bagi umat Hindu. Poliandri yang dilakukan Draupadi putri Pancala yang bersuami 5 orang (Pandawa) dalam kisah Mahabharata jelas tidak patut diteladani. Judi sukan dadi juga tidak patut diteladani. Terlebih yang dipertaruhkan isteri dan negara, benar-benar sebuah pengkhianatan terhadap rakyat dan bangsa yang harus dihukum mati.

Oleh karena itu pujangga Hindu ketika itu, Empu Sedah dan Empu Panuluh melakukan modifikasi beberapa bagian Mahabharata yang dianggap tidak patut dalam bukunya Serat Bharatayuda yang kemudian dikenal sebagai Mahabharata versi Jawa. Bagian-bagian yang dimodifikasi antara lain poliandri Draupadi dengan Pandawa. Dalam Bharatayuda, Draupadi bukan lagi isteri Pandawa, tetapi isteri Yudhistira (Pandawa yang tertua) saja. Anak-anaknya yang aslinya 5 orang dari 5 ayah divermak menjadi satu saja dan diberi nama Pancawala. Namun empu Sedah dan Panuluh tidak mengoreksi bagian sukan dadu. Mungkin terlalu sulit karena bisa merubah alur cerita utamanya.

Perang saudara antara Sugriwa dan Subali dalam kisah Ramayana juga sangat tidak patut diteladani. Terlebih untuk membunuh lawannya yang sebenarnya saudaranya meminta bantuan orang asing (Rama) dengan menggadaikan rakyat dan negaranya menjadi budak Rama dalam waktu yang tak terukur. Jutaan nyawa kera rakyat Sugriwa melayang sebagai tumbal memerangi pasukan Rahwana demi kepentingan Rama merebut kembali istrinya dari genggaman Rahwana. Ini adalah teladan keburukan yang paling sesat.

Lakon “carangan” yang perlu dicermati

“Carangan” adalah cerita yang meminjam tokoh-tokoh Mahabharata atau Ramayana dan direka sedemikian rupa sehingga seolah-olah merupakan bagian dari kisah aslinya. Namun dalam pagelaran wayang, justru lakon carangan lah yang paling populer dipentaskan. Oleh karena itu yang lebih dikenal oleh rakyat, justru lakon carangan seperti “Wahyu Topeng Wojo”, “Candi Saptohargo” dll. Jangankan penonton, para dalang pun lebih fasih lakon carangan. Bahkan pernah ada dalang kondang pentas di TV membawakan lakon carangannya sendiri yang salah sekrup. Ketika itu saya nyalakan TV pas yang sedang menayangkan Ki Lurah Semar menasihati Pandawa agar tidak nurut pada bujuk rayu Korawa. Ki Lurah Semar ketika itu mengajak Pandawa untuk mengingat persitiwa masa lalu dimana Pandawa dibuang ke hutan selama 13 tahun akibat kalah judi sukan dadu. Nah.. ini menandakan si dalang kondang tidak tahu Mahabharata. Karena jika masa pembuangan 13 tahun di hutan adalah masa lalu, maka hari ini Korawa sudah tidak ada. Bukankah tahun ke 13 diakhiri dengan perang besar 18 hari di Kuruksetra yang berujung punahnya seluruh Korawa?

Modifikasi konten Mahabharata dan Ramayana yang dilakukan para pujangga Hindu tidak termasuk carangan, karena dianggap sebagai versi. Carangan adalah gubahan yang dikarang oleh siapa saja yang dilakukan setelah terbitnya modifikasi versi pujangga Hindu di Jawa. Tujuannya tentu baik, yaitu menampilkan kehebatan tokoh-tokoh tertentu yang patut diteladani. Tetapi kita harus tahu, tidak semua penyusun carangan orang yang mumpuni. Maka dari itu kita harus pandai memilih dan memilah carangan mana yang patut diteladani dan mana yang tidak. Bahkan sebaiknya ada carangan yang harus dihapus.

Carangan yang dibuat oleh para wali atau pujangga era Walisongo semuanya patut diteladani. Disana dipentaskan bagaimana upaya seseorang untuk menjadi baik dan berguna bagi masyarakat. Semisal lakon carangan “Serat Bimo Suci“. Tokoh Bima dipinjam untuk memperagakan tauhid dan ketakwaan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya ketika itu menjelaskan keesaan Tuhan versi Islam di tengah masyarakat yang masih menyembah banyak Tuhan (Hindu yang terkontaminasi animisme lokal). Ternyata setelah diperagakan dalam lakon Bimo Suci, masyarakat bisa memahami bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Kuasa yang menggambarkan sebuah pusat kekuatan alam semesta yang tidak tunduk pada dimensi apapun termasuk ruang dan waktu. .

Lakon-lakon carangan yang tidak patut

Ada beberapa lakon carangan yang sangat tidak patut dan kelihatannya tendensius. Lakon-lakon yang berbau “anak mencari ayah”, seperti “Antaseno takon bopo”, “Wisanggeni nglari bopo”, Priyambodo mencari ayah dalam lakon “Mustokoweni” dll, rata-rata termasuk kelompok ini. Disana tercermin seolah-oleh laki-laki ksatria boleh mengawini siapa saja yang mau dan tidak memiliki tanggungjawab menafkahinya. Setelah mendapat kepuasan dari sang isteri, dia boleh saja pergi kemana pun tanpa ada komitmen untuk kembali. Paling-paling hanya memesan, kelak jika anakku lahir, berilah nama anu jika laki-laki dan jika perempuan terserah kamu. Lantas pergi lah sang suami. Sang isteri lantas hamil dan melahirkan anak dan anak itu dinamai sesuai pesan ayahnya dulu. Dengan setia dia besarkan anaknya sendirian atau bersama orangtuanya (kakek-nenek si anak) tanpa berharap kapan suaminya akan kembali. Namun dia tetap mengunci diri dari kemungkinan mendekatnya laki-laki lain demi kesetiaannya kepada sang suami yang mungkin hanya berjumpa di malam pengantin dulu dalam seumur hidupnya.

Sang anak pun tumbuh menjadi dewasa tanpa tahu siapa ayahnya. Dengan setia sang ibu dan kakek-neneknya mendidik sang anak agar kelak menjadi manusia yang sesuai dengan harapan ayahnya yang sama sekali nggak kebayang seperti apa rupanya. Giliran ngeh ingin tahu ayahnya, sang ibu pun ngasih tahu. Ketika sang anak bersikeras ingin menemuinya, sang ibu dengan cerewet memesan wanti-wanti agar tidak ujug-ujug datang ke rumah ayahnya dan ngaku-ngaku sebagai anak, dengan alasan belum tentu pantas diakui sebagai anaknya. Maka sang anak disarankan untuk mendekat dengan menyamar sambil mencari kesempatan manakala ketrampilannya dibutuhkan. Misalnya pas ada penjahat sakti yang tidak bisa diatasi oleh pasukan ayahnya. Momentum seperti itulah yang harus dimanfaatkan untuk menunjukkan bhakti seorang anak kepada sang ayah sekaligus mendemonstrasikan keterampilannya yang mungkin saja dibutuhkan lagi oleh ayahnya di waktu-waktu mendatang. Setelah itu barulah boleh mengaku bahwa dirinya adalah anaknya dengan menyebutkan nama ibu dan kampungnya sambil menunjukkan bukti-bukti pendukung lainnya.

He he.. enak bener yaa jadi lelaki ksatria??? Cuman numpang kencing doang tanpa resiko tapi ujung-ujungnya terima banyak. Sepertinya lakon-lakon carangan kelompok ini sengaja digubah untuk kepentingan laki-laki, terutama dari kelompok bangsawan. Tentu untuk membenarkan sepak terjang mereka yang playboy dengan memutarbalikkan citra perbuatan hina menjadi mulia. Sialnya, dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai di masyarakat yang kaum ibunya bekerja keras sepanjang hari, semetara kaum ayah hanya nongkrong di rumah merawat burung kesayangannya. Di pagi hari sebelum berangkat kerja terlebih dulu sibuk masak menyiapkan makanan buat sang suami dan anak-anak. Di sore harinya, sang istri muncul masih gupak keringat bau leteng menggendong sisa jualan atau apa yang diperolehnya dari kerja seharian, masih harus memasak lagi menyiapkan makan malam. Sementara suami sudah wangi perlente. Yang lebih sial lagi, malamnya sang suami minta uang untuk bekal nonton atau bahkan main judi. Jangan-jangan mereka demikian karena meneladani lakon-lakon wayang carangan sesat model ini. Atau jangan-jangan manusia jenis mereka itulah yang membuat lakon-lakon carangan guna membenarkan akhlak buruknya.

Lakon-lakon carangan gaya ini memang diilhami Gatotkaca dan Irawan yang kelahirannya tidak ditunggui ayahnya. Gatotkaca adalah anak Hidimbi dengan Bima yang lahir di rumah Hidimbi di hutan dan ketika itu Bima berada di istana Indraprasta. Padahal teladan buruk dari kisah Mahabharata orisinil ini sudah ditiadakan oleh Empu Sedah dan Panuluh dalam Mahabharata versi Jawa dan dirubah menjadi lahir di istana Pringgondani dan sang bayi dipinjam para dewata untuk ditempa menjadi superman guna mengalahkan Kala Pracona, raja raksasa yang sedang mengkudeta kahyangan Suralaya.

Lakon-lakon carangan lain yang tidak patut adalah perkawinan poligami dimana kakak-adik berbagi suami. Misalnya kakak-adik Pregiwo dan Pregiwati menjadi isteri Gatotkaca. Isteri Arjuna juga ada yang kakak-adik, entah siapa namanya, saya lupa. Lakon-lakon sesat semacam itu ternyata masih ada yang meneladani dalam kehidupan nyata sampai hari ini, meskipun tidak banyak. Padahal dalam KTP, baik sang suami maupun isteri-isternya tercantum judul agama tertentu yang jelas-jelas mengharamkan hal semacam itu.

Pesan Penulis

Sebagai budaya adiluhung, wayang harus kita pertahankan. Harus ada yang mempelajari dan mewariskan dari generasi ke generasi, jangan sampai punah. Mempertahankan budaya, sepanjang tidak bertentangan dengan agama, hukumnya wajib kifayah, seperti halnya membela Tanah Air. Namun demikian, yang perlu kita mengerti, yang dipertahankan bukan cerita atau lakonnya, melainkan seninya. Kualitas lakon sangat tergantung dari kualitas, misi dan visi si pengarang. Ada yang benar-benar berkualitas sebagai tuntutnan, ada yang sekedar hiburan, ada yang mengandung misi politik dan ada pula yang fatal error berimbas negatif bagi para penonton. Namun seni pedalangan, gendhing, dan semua unsur kesenian dan budaya orisinil yang terkait dalam pagelaran wayang, tetap merupakan seni budaya yang adiluhung bernilai tinggi dan merupakan lambang martabat bangsa.

Topik-topik terkait pewayangan

  1. Ajaran KeTuhanan dalam Lakon BIMA SUCI
  2. Yudhistira bukan Pemimpin Baik
  3. Rupa Mencerminkan Watak
  4. Pemerintah Kera untuk Negeri Kere
  5. Bagaspati – Gambaran Kasih Sayang Seorang Ayah
  6. Raja Gemar Mengeluh, Raja Demen Curhat
mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
6 Comments
  • Anonymous
    Posted at 00:09h, 12 May Reply

    WAH WAH BENAR BENAR PENDAPAT YANG SUBYEKTIF MAS… pendapat anda tentang kiskenda dan lakon lakon carangan tidak sepenuhnya benar. meski saya akui ada sisi intelektualitasnya namun lebih pada kesubyektifan itu sendiri. Kayaknya anda butuh belajar banyak lagi tentang wayang. pendapat pendapat seperti bisa menyesatkan generasi muda sehingga enggan mempelajari wayang.

  • Deru Sudibyo
    Posted at 02:32h, 12 May Reply

    Terimakasih komentarnya. Bisa minta tolong tunjukkan kutipan mana mas/mbak yang anda anggap subyektif? Dan… mohon tidak usah sembunyi di balik anonymous he he 🙂

  • ANTON HARI
    Posted at 07:03h, 24 December Reply

    “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

    “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri-diri kalian. Sangat bersedih terhadap apa yang memberatkan kalian dan bersemangat (untuk memberikan hidayah) kepada kalian dan lemah lembut dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128)

    Rasulullah bersabda: “Bukan termasuk dari kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

  • Deru Sudibyo
    Posted at 20:57h, 15 January Reply

    Bung Anton, komentar anda benar tapi exklusif. Karena hanya saya dan umat muslim saja yang membenarkannya. Bagi publik yg majemuk akan lain ceritanya.

    Bagi yg muslim, Quran memerintahkan untuk (1) mencontoh lebah dan (2) belajar ke negeri China. Ini mengisyaratkan bahwa soal keteladanan sebaiknya tidak monoton hanya mencontoh rasul saja. Karena jagat raya ini sangat luas, tidak mungkin semua event bisa dicontohkan hanya oleh rasul. Juga tidak mungkin menutup mata atas event-event yang muncul tapi tidak ada rujukannya dari contoh rasul. Karena akan membikin orang menjadi kaku dan cenderung exklusif.

    Contohlah apa saja yang baik, tapi jangan terkecoh seperti menganggap semua tokoh pewayangan adalah teladan. Karena disana (pewayangan) banyak terselinap kreativitas dalang yg mungkin misinya komersil bukan pencerahan.

    Pentas pewayangan yang dijamin murni bermisi pencerahan adalah lakon-lakon gubahan Sunan Kalijaga. Tapi tidak boleh hanya memfokus para tokoh wayangnya saja. Karena pencerahan justru berada di alur ceritanya.

  • sujarwo
    Posted at 11:14h, 10 July Reply

    mas, bukannya Gatotkaca hanya menikah dengan Pergiwa, sementara pergiwati dinikahkan dengan Samba (putra Kresna) yaa?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 17:56h, 10 July Reply

      Ada banyak versi mas. Selain isteri Gattotkaca, ada juga yang mengatakan isteri Samba, dan ada pula yang mengatakan isteri Pancawala. Namanya juga lakon carangan.

Post A Comment