Hati-hati dengan Rem Mobil Anda

16 Mar Hati-hati dengan Rem Mobil Anda

Rem (brake) adalah salah satu komponen paling penting kendaraan. Bermasalah dengan rem sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Sudah ribuan kecelakaan kendaraan disebabkan oleh rem. Baru-baru ini, beberapa hari sebelum naskah ini ditulis, sebuah bus menghajar puluhan kendaraan lain di Cisarua Bogor dan merenggut puluhan jiwa. Sebelumnya juga ada beberapa berita kecelakaan lalulintas akibat rem blong. Oleh karena itu, kita mesti waspada dengan komponen yang satu ini.

Kalau kita cermati, rem merupakan komponen yang cukup rumit dan terdiri dari onderdil kecil-kecil, ada yang berbahan karet dan ada pula yang logam. Umumnya mengandalkan sistem hidraulik seperti pada gambar di atas, meskipun ada yang dikombinasi dengan pneumatik (rem angin), khususnya untuk jenis-jenis kendaraan kelas berat. Sistem hidrauliknya sangat rentan. Untuk sistem hidraulik, kebocoran sekecil apapun di bagian manapun, berimbas pada turunnya tekanan fluida yang sangat potensial menjadi pemicu rem blong.

Sedangkan sistem pneumatik (kendaraan kelas berat), sebaliknya. Tekanan angin digunakan untuk menjaga agar rem pada posisi bebas. Ketika direm, maka angin dilepas, sehingga tekanan menurun dan rem mengekang roda. Oleh karena itu, kebocoran pada sistem ini bukan menjadikan rem blong, tetapi sebaliknya, justru mengunci. Sistem ini lebih aman, namun butuh ruang sehingga sulit diterapkan pada kendaraan kecil.

Rem mencelakai tidak harus blong

Penyakit rem yang paling sering dituding sebagai penyebab kecelakaan adalah blong. Umumnya, ketika terjadi kecelakaan, tim pemeriksa langsung ngecek remnya. Jika ternyata rem masih pakem, langsung divonis bukan rem. Ini adalah penyimpulan yang kurang bijak. Kenapa? Rem blong bukan satu-satunya horor dalam sistem pengereman (braking system). Karena kenyataannya, rem lebih pakem sebelah juga menyebabkan kendaraan belok ketika direm mendadak.

Masalahnya, selain blong agak susah untuk membuktikan apakah rem aman atau tidak. Karena jika kendaraan melaju lambat (di bawah 40 km/jam), rem selalu tampak normal asal tidak blong. .Jika kendaraan melaju kencang (di atas 70 km/jam), rem sering tampak tidak normal, entah oleng, memelintir, ngepot dsb. Karena memang kendaraan yang sedang laju kencang tidak boleh direm mendadak. Karena faktor arah angin, kemiringan jalan, keadaan muatan dsb, belum tentu resultan gayanya benar-benar lurus ke depan. Belum lagi keragaman kondisi kelicinan jalan dan daya cengkeram ban tidak menjamin resultan gaya gesek ketika direm lurus ke belakang.

Untuk menguji rem, kendaraan harus melaju normal, mungkin antara 40 – 70 km/jam (tergantung jenis kendaraan) di jalan yang rata dan tidak licin, kemudian direm. Rem yang benar, maka kendaraan harus berhenti pada jarak dan jalur sesuai yang diharapkan pengemudi. Jika tidak demikian, pasti ada yang salah. Apa itu? Nah… sebelum kesana, lebih dulu kita simak cara kerja rem.

 

Cara kerja sistem rem hidraulik

Coba kita lihat gambar di atas, cara kerja sistem rem dimulai dari tekanan minyak rem pada tabung sentral (1) karena sodokan tuas (9) akibat injakan kaki pada pedal rem (3) yang diperkuat oleh hisapan vacuum/booster (2). Minyak bertekanan tinggi tersebut lantas terdorong mengalir ke tabung penekan rem roda depan (6) kanan-kiri melalui rangkaian slang distribusi depan (4), dan tabung penekan rem roda belakang (7) kanan-kiri melalui rangkaian slang distribusi belakang (5). Obyek yang ditekan tergantung teknologi yang digunakan. Rem cakram menggunakan penjepit (caliper). Obyek yang ditekan berupa sepasang tapak (pad) yang mengapit cakram. Meskipun tabung penekan berada di satu sisi, namun caliper dibuat sedemikian rupa dinamis sehingga penjepitan terpusat pada cakram, bukan memaksa ke salah satu sisi. Sedangkan rem tromol menggunakan sepasang sepatu dengan lengkungan sesuai lingkaran tromol. Obyek yang ditekan adalah 2 sepatu tersebut, ditekan dari tengah merentang keluar mendesak dinding tromol bagian dalam.

Gambaran garis besar cara kerja sistem rem ini hampir setiap bengkel tahu. Demikian pula dengan penyetelannya di setiap roda. Cairan rem yang dipompa keluar dari tabung sentral tidak banyak. Paling sekitar 3 – 4 cc dan dibagi ke 4 penekan di setiap roda. Artinya tiap roda hanya kebagian paling banyak tambahan 1 cc. Tentu langkah yang dihasilkan sangat pendek. Oleh karena itu penyetelannya harus serapat mungkin asal tidak mengekang putaran roda, agar langkah yang pendek tersebut efektif mengekang roda. Soal ini semua bengkel tahu, sehingga tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Yang perlu dicermati adalah cara kerja lebih detil. Tabung sentral terdiri dari 2 piston seporos, seperti pada gambar sebelah. Kenapa harus demikian? Nah ini baru masalah. Karena itulah saya tulis di blog ini, sekedar berbagi. Pasalnya, banyak bengkel yang tidak tahu. Ada yang mengira jika terjadi kebocoran di salah satu saluran atau roda, minyak rem tidak segera habis. Ada pula yang mengira agar tekanan yang dihasilkan lebih kuat. Bahkan ada yang “kementhus” mengatakan bahwa insinyur yang merancangnya bodoh. Kenapa harus 2 piston? Mending satu piston dan satu saluran keluar di ujung, sehingga langkahnya panjang dan volume minyak yang didesak keluar lebih banyak. Tentu akan menghasilkan tekanan yang lebih kuat dengan langkah yang lebih panjang di tiap roda. Mungkin masih banyak lagi yang berpikiran lain. Namun yang jelas, dari semua bengkel yang pernah membahas soal ini, tidak satupun yang mengerti konsep kerjanya. Rata-rata mereka berpikir soal tekanan saja. Dan sepertinya mereka benar jika sasarannya hanya tekanan.

Susunan 2 piston seporos itu tujuannya bukan seperti yang dikatakan para bengkel di atas. Melainkan supaya pada saat pedal rem diinjak, penekanan terjadi secara bertahap. Garis besar konstruksi tabung sentral seperti terpampang pada gambar di butir ini. Minyak rem dari tanki masuk ke tabung sentral (1) melalui 2 saluran searah (2) agar dijamin tidak balik lagi ke tanki ketika ditekan. Di dalam ruang silinder tersusun 2 piston seporos, piston dalam (4) dan piston luar (5) yang masing-masing dijaga posisinya dengan pegas yang cukup kuat.

Pegas dalam (7) selalu dilengkapi pembatas langkah guna menjamin langkah piston luar (5) tidak melampaui saluran masuk (2) maupun keluar (3) minyak rem. Karena kalau 2 lobang tersebut terlampau, tentu masuk angin dan minyak cadangan mengalir terbuang ke arah booster. Sedangkan pegas luar (8) kebanyakan juga dilengkapi pembatas langkah. Tapi ada juga yang hanya mengandalkan lipatan pegas ulir yang mengkerut. Intinya sama saja, tidak boleh melampaui saluran masuk (2) maupun keluar (3) minyak rem.

Ketegangan pegas dalam (7) dan luar (8) tidak sama. Artinya, ketika tekanan datang dari penyodok (9), piston yang pegasnya lebih lemah akan menghasilkan tekanan lebih dulu. Dan piston yang pegasnya lebih kuat menyusul setelah yang lemah mencapai pembatas. Jadi fungsi pegas tidak semata-mata menjaga posisi piston, tetapi juga menyusun urutan terjadinya tekanan. Nah… pertanyaannya, kenapa harus begitu?

 

Roda belakang direm dulu, dan depan menyusul

Untuk mencari jawabannya, mari kita renungkan seolah kita sedang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan normal. Lantas tiba-tiba kita harus berhenti. Apa yang kita lakukan? Sengaja diambil contoh sepeda motor karena rem depan dan belakan benar-benar terpisah. Apakah kita rem roda depan? Dan menyusul rem roda belakang? Tentu kita jungkir balik. Kalau yang kita rem roda belakang saja, tentu sepeda akan ngepot. Umumnya yang kita lakukan adalah rem roda belakang, lantas disusul rem roda depan.

Demikian pula dengan mobil. Roda belakang harus direm lebih dulu dan depan menyusul. Namun mobil hanya mengandalkan pemicu tunggal, yaitu satu pedal rem. Pasalnya, selain sulit memisahkan, juga untuk menjamin agar depan dan belakang selalu direm. Untuk itulah dibuat 2 piston seporos dengan pegas penghambat yang berbeda tegangan. Mana yang untuk depan dan mana yang untuk belakang, biasanya ada tandanya. F (front) untuk depan dan R (rear) untuk belakang.

Posisi mana F dan mana R tidak sama, tergantung pembuatnya. Ada yang F di ujung dan R di pangkal seperti pada gambar di samping, katakanlah model FR. Ada pula yang sebaliknya seperti pada gambar di bawah, katakanlah model RF. Yang pasti, ketika direm, piston yang berada diposisi R harus menghasilkan tekanan lebih dulu untuk mengekang roda belakang. Piston F bekerja setelah piston R mencapai batas.

Pada umumnya, saluran keluaran F dan R dibuat berbeda untuk menghindari salah sambung dengan slang yang menuju roda. Sayangnya ada beberapa merek yang sambungan F dan R-nya sama. Untuk yang model ginian, anda jangan pasrah bongkokan kepada bengkel manakala menyentuh tabung sentral. Demi keselamatan, telusuri sendiri slang mana yang untuk roda depan dan mana yang belakang, dan diberi tanda yang permanen. Karena jika sampai terbalik, sangat berbahaya. Kita tidak akan tahu sampai melakukan pengereman mendadak pada kecepatan normal. Mobil bisa jungkir balik. Kita cilaka dan orang lain juga bisa ikut cilaka.

Meskipun pangkal sambungan (nipple), tidak berarti sebuah jaminan 100% aman. Jika kita ganti piston dengan barang imitasi, kita perlu waspadai. Barang imitasi bisa saja tegangan pegasnya berbeda jauh dari aslinya. Saya pernah mengalami sendiri, membeli barang imitasi produk China. Maklum selain kondisinya bokek, juga mencari barang orisinil tidak mudah. Terlebih mobil saya jarang ada dan sudah kelewat tua. Produk China tersebut, tegangan pegasnya sangat lemah dan jauh berbeda dari aslinya. Saking lemahnya tidak bisa mengukur mana yang lebih kuat.antara F dan R. Rupanya benda berupa pegas itu hanya sekedar agar mirip aslinya. Pegasnya besi lunak, sehingga setelah ditekan beberapa kali tidak balik lagi. Semoga pengalaman ini tidak dialami oleh orang lain.

Yang paling bijak adalah menghindari barang imitasi. Jika ada masalah dengan piston sentral rem, sebaiknya cari seal saja, karena umumnya yang bikin masalah adalah seal bocor. Cuman kadang konyolnya, mereka tidak jual seal, melainkan lengkap dengan pistonnya. Jika harus demikian, usahakan dapat yang asli. Namun, selain jarang ada, barang genuine kadang harganya lebih sulit dipikir ketimbang assembly programming kalau lagi bokek. Maka setidaknya usahakan cari barang OEM. Jika (saking bokeknya) harus dengan imitasi, ambil saja seal-nya. Piston yang masih baru dan mengkilat itu, buang saja ketempat sampah, atau dikumpulin untuk dikiloin.

 

Hati-hati memodifikasi sentral rem

Bagi rekan-rekan yang seperti saya, seneng piara mobil yang sudah kelewat umur, kadang berhadapan dengan kelangkaan onderdil. Ada yang kuat bertahan terus menerus mencari betapapun jauh dan mahalnya. Ada pula yang seneng jalan pintas, seperti saya. Saya menyukai tongkrongan Jeep model CJ-7 dan saya punya. Apa artinya jika kemana-mana harus naik Kijang atau Panther? Sayangnya Jeep CJ-7 pasti tua dan onderdilnya langka san mahal. Saya nggak mau pusing. Saya ganti semua onderdil yang susah dengan onderdil mobil lain, tapi orisinil dan mudah didapat. Yang penting tidak mempengaruhi tongkrongan. . Berarti yang saya jaga orisinilitas adalah bodi luar dalam dan kaki-kaki (cardan, as dan roda). Rangka sasis pun saya lapis dengan pelat 10 mm karena pasti tidak kelihatan. Beberapa komponan saya transpantasi dengan merek lain, termasuk sentral rem. Di sinilah inti yang ingin saya sampaikan.

Sejak memasuki usia kepala empat, saya tidak lagi suka ngoprek otomotif karena sibuk dengan rekayasa software lokal. Kebetulan sentral rem kebagian di kurun tersebut, karena sejak 10 tahun sebelumnya tidak pernah kena masalah. Bahkan ganti seal sentral pun baru 2 kali selama 10 tahun, meskipun pemakaian Jeep itu benar-benar bagaikan kuda pekerja. Tiga tahun terakhir sepenuhnya di ladang pegunungan karena saya bermain minyak nilam. Giliran kena masalah, saya langsung vonis untuk menggantinya dengan sentral rem mobil lain, dan jatuh pilihan pada Isuzu Panther, karena vacuum booster-nya hampir sama. Pekerjaan lantas saya serahkan kepada bengkel yang paling kesohor di kampung, yang kebetulan kawan sendiri. Sebelum buka bengkel, dulunya dia bekerja sebagai teknisi di pool bus di kota itu. Maka dari itu saya percaya dia.

Nyaris kecolongan… Nipple output sentral rem Jeep maupun Panther sama-sama dibedakan antara F dan R, sehingga tidak mungkin terbalik. Tetapi ukuran slang (kapiler logam) dan drat nipple kedua merek tersebut tidak sama. Terpaksa harus pake nipple-nya Panther. Tentu slang Jeep harus dipotong dan disambung dengan potongan ujung slang Panther. Ketika penyambungan, dia tidak peduli mana F dan mana R. Saya wanti-wanti jangan sampai kebalik. Eh.. dia malah menjelaskan seperti yang saya tulis di butir paling atas. Malah sepertinya dia cenderung ingin dibalik untuk membuktikan bahwa pendapat dia benar. Waah.. terpaksa harus saya tungguin sampai selesai karena saya tidak mau coba-coba dengan kekonyolan.

Dari situlah saya menjadi teringat komentar-komentar bengkel-bengkel soal sentral rem ketika saya berburu sentral rem untuk TLC Commando beberapa tahun sebelumnya. Ketika itu ke bengkel karena saya minta mereka mencarikan barangnya. Gonta-ganti bengkel tidak ada yang berhasil, karena barang yang dipasang imitasi produk China. Kekonyolannya bukan karena posisi F dan R, tetapi pegas pistonnya terlalu lembek dan rem tidak kembali lagi setelah diinjak. Ketika itulah mereka umumnya mencemooh kerumitan 2 piston. Kenapa tidak satu piston saja. Bahkan ada yang saking sewotnya, seal yang menghadap ke belakang dicoba dibalik menghadap kedepan. Saya tahu itu lucu, tapi males komentar dan tidak kuatir karena yakin tidak akan berhasil.

Nah, dari sederet pengalaman tersebut, saya menjadi kuatir, jangan-jangan di antara sekian kecelakaan yang bukan akibat rem blong, sebagian disebabkan karena kesalahan pemasangan sentral rem. Entah kebalik karena modifikasi, ataupun karena memang memungkinkan kebalik (nipple R dan F sama). Mungkinkah ada imitasi yang pegasnya kuat tapi tegangannya kebalik? Jika ada, tentu lebih berbahaya lagi. Karena pemasangannya benar tapi efeknya sebaliknya.

 

Catatan penting untuk aplikasi komponen Non-Orisinil

Di atas saya bercerita telah memodifikasi rem Jeep CJ-7 dengan rem Isuzu Panther.    Di berapa komentar saya selalu menghimbau untuk kembali ke orisinil.   Mungkin tampak seperti tidak konsisten.   Oleh karena itu saya tambahkan catatan ini.

Jika mobil anda tidak termasuk barang langka dan mundah mendapatkan onderdil orisinil, supaya tidak pusing, pilih orisinilnya saja.    Karena barang itu memang sudah dirancang pas secara keseluruhan oleh insinyur yang merancang mobil tersebut.    Tetapi jika sulit untuk mendapatkan barang orisinil, maka bolehlah ditukar dengan komponen mobil lain dengan catatan:

  1. Komponen pengganti harus barang orisinilnya mobil lain.
  2. Upayakan cari yang semerek, jika memungkinkan.   Misalnya, sesama Toyota, atau sesama Mitsubishi.
  3. Komponen pengganti harus memenuhi spec komponen orisinil yang digantikan.
  4. Usahakan tidak ada modifikasi pada dudukan untuk pemasangan komponen pengganti.
  5. Jika terpaksa harus ada perubahan dudukan, gunakan rekayasa adapter supaya dudukan asli tidak berubah.   Kelak jika ingin kembali ke orisinilnya, tinggal melepas adapter tersebut.
  6. Jika adapter tidak memungkinkan, jangan paksakan.
  7. Hari gini sudah tidak perlu lagi modifikasi rem, karena di era online ini, kita bisa beli barang dari luar negeri via online.

Saya mengganti master cylinder rem Jeep CJ-7 dengan punyanya Isuzu Panther, karena tidak ada master Jeep seri lain yang lebih mudah didapat di kampung ketika itu.   Namun sebelumnya sudah saya ukur dulu banyaknya minyak yang keluar dari master orisinil Jeep CJ-7 ketika pedal rem diinjak, baik dari lobang F (depan) maupun R (belakang).     Ditampung dalam botol terpisah dan ditakar dengan teliti.    Kita harus tahu bahwa sejumlah itulah yang harus dikirim ke roda untuk mengerem.     Yang dari F untuk mengerem roda depan dan R untuk roda belakang.    Master pengganti harus bisa menyamai output master orisinil.   Minyak yang keluar dari lobang R harus bener-bener sama dengan orinisinilnya.    Sedangkan yang dari lobang F, yang penting tidak kurang.   Sama boleh, lebih juga boleh, tapi kurang tidak boleh.    Kenapa demikian?

Minyak yang keluar dari piston R harus sama, karena minyak inilah yang harus keluar dulu mengerem roda belakang.    Jika melebihi orisinilnya, maka bisa menyebabkan rem depan tidak pakem atau ngerem bersamaan depan dan belakang, tergantung posisinya.    Jika posisi piston R di depan piston F, maka, ketika pedal diinjak, piston F sudah terdorong sebelum minyak di piston R sepenuhnya mengerem roda belakang.    Karena tidak seluruh minyak di piston R dikirim ke roda belakang.     Kelebihannya tetap berada di master seperti ganjal dan mendorong piston F.   Ini mirip dengan barang KW yang pegasnya sama kerasnya di piston F dan R.    Rem tetap pakem tapi ngeremnya bersamaan antara roda belakang dan depan, sehingga mobil menjadi oleng.   Sangat membahayakan, terutama ketika harus ngerem mendadak dalam kecepatan tinggi.

Sebaliknya, jika posisi piston R di belakang piston F, maka, ketika pedal diinjak, piston F tidak pernah bisa tuntas mengirim minyak ke roda depan.    Karena kelebihan minyak di piston R menghalangi piston F untuk mencapai titik maximum.    Sehingga piston F tidak pernah bisa mengirim minyaknya 100% ke roda depan.   Akibatnya, roda depan tidak pernah pakem.     Karena fungsi rem dominan roda depan, maka, roda depan tidak pakem sama saja dengan tidak pakem secara keseluruhan.

Kedua perkara inilah yang sering bikin kita bingung. Terlebih jika perbedaan takaran tidak terlalu signifikan, mungkin tidak terasa adanya perbedaan ketika pedal rem diinjak. Bahkan, kadang dalam kecepatan rendah, terlebih mesin masih dingin, boleh jadi rem masih pakem. Tapi begitu kecepatan tinggi, mesin sudah panas, roda juga sudah memanas, sudah ada pemuaian, muncullah efek seperti yang saya uraikan di atas.

Tidak aneh juga jika bengkel juga bingung. Bengkel di kita kebanyakan tidak mempelajari sisi engineering-nya. Mereka umumnya hanya coba-coba dibekali dengan kelihaian bongkar pasang. Bahayanya, tidak ada tanggungjawab moral maupun hukum bagi mereka. Sehari setelah rem anda direparasi, lantas anda tabrakan karena rem blong, atau jungkir balik karena rem depan mengunci duluan, bengkel tidak akan merasa berdosa dan tidak akan dicabut SIUP-nya oleh siapapun. Jadi sepenuhnya menjadi tanggungjawab anda sendiri. Maka jangan main-main urusan rem.

 

Topik-topik terkait otomotif

 

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
106 Comments
  • lapakelosbogor
    Posted at 04:57h, 07 March Reply

    salam pak,
    tertarik dengan tulisan bapak yang menyertakan gambar sehingga mudah dipahami.
    kebetulan saya juga pengguna cj 7, dengan gardan fj 40. saya memodifikasi booster rem dengan menggunaka booster rem vx.
    setelah 3-6 bulan pemakaian tidak ada masalah hanya skrg rem sering macet/magel apabila perjalanan jauh dan kondisi macet?
    tahapan apakah yang saya perlu lakukan untuk identifikasi masalahnya?
    thx

  • Deru Sudibyo
    Posted at 07:49h, 07 March Reply

    Salam balik pak 🙂 Magel dikarenakan sedotan vacuum tidak optimum. Penyebabnya bisa beberapa kemungkinan:

    (1) Masuk angin karena kebocoran pada saluran atau pada booster. Ini yg paling umum. Saya pernah mengalami karena booster bagus tapi copotan, pas saya pakai sisa umurnya nggak panjang, terus magel karena check valve-nya bocor. Begitu ganti langsung jos.

    (2) Kebocoran pada aplikasi lain. Ini juga pernah saya alami, saluran ke vacuum idle-up AC bocor. Sehingga booster magel karena daya sedot menurun drastis. Setelah dirapetin jos lagi.

    (3) Saluran/filter udara di bawah pedal mampet. Akibatnya meski pedal diinjak, udara terhambat sehingga diaphragm tidak segera kesedot vacuum.

    (4) Bisa juga karena pompa (compressor)-nya sudah lemah.

    (5) Mungkin juga karena setelan pushrod (penyodok)-nya terlalu panjang, terlalu ngepres dg master piston. Ketika masih dingin nampaknya OK. Begitu sudah panas, terjadi pemuaian, maka rem terasa magel. Nah yg ini sangat berbahaya, karena seperti pedal diinjak, sebenarnya mobil ngerem terus. Karena mobil bermesin besar, kalo paling jalan-jalan jarak pendek dan kecepatan rendah nggak kerasa. Tapi kalo kita jeli, pas parkir kita raba velg pasti terasa panas.

    Silakan dicek satu per satu mulai dari yang paling mudah dan murah.

  • Ardhian
    Posted at 00:44h, 18 April Reply

    Terima kasih pak Dibyo atas ilmunya. Saya Ardhian di Semarangm ingin mohon pendapat dan saran dari bapak. Saya dapat tulisan bapak karena saya sedang punya masalah dengan KIA Carnival saya. Semula hanya mau ganti disc dan kampas, tapi sekalian bersih2 caliper dan piston. Sampai tahap sebelum buang angin, semua lancar. Saat buang angin (mesin hidup), ada gejala angin yang tidak habis2, pedal cukup berat, tapi kalau diteruskan bisa kandas sampai lantai. Padahal dari semua nipple sudah mengalir minyak rem saat dipompa. Terus seperti itu. Sudah 2 malam ini kami coba semua kemungkinan, bahkan mencobakan master rem baru. Saya merasa hampir menyerah, pak, tapi tidak ada pilihan; semua akal dan logika saya sudah saya “kuras”, tapi bingung apa lagi yang harus dicoba.
    Mohon saran dari panjenengan, kira2 apa yang sedang terjadi pada system rem saya dan usaha apa lagi yang bisa saya lakukan… Matur nuwun sanget.
    Ardhian-Semarang ; f_ardhian_k@yahoo.com
    (apakah boleh saya berkomunikasi langsung dengan panjenengan lewat telefon?, supaya lebih mudah bagi saya menerima penjelasan bapak)

  • Deru Sudibyo
    Posted at 21:40h, 21 April Reply

    Mas Ardhian, mohon maaf telat menjawab karena kesibukan…

    Soal buang angin, sebaiknya pastikan dulu tadi ketika buka kaliper, minyak rem di tanki minyak di silinder master (atas) apakah habis atau masih ada sisa. Jika habis, maka buang angin pertama sebaiknya angin yang ada di silinder master, yaitu dengan mengendorkan 2 nipple F dan R sambil mengisi tanki sampai penuh.

    Setelah yakin tidak ada angin di wilayah master, baru buang angin pada setiap silinder slave (kata bengkel master bawah) di setiap roda. Jangan hanya roda yang tadi dibongkar saja. Jika teknik pengocokan anginnya benar, seharusnya kelihatan roda mana yang buangannya masih mengandung angin. Lantas fokus ke roda tsb. Apakah pistonnya macet.

    Karena jika ada piston yg macet, angin yg masuk ke jalur itu tidak bisa pergi. Masuknya tadi ketika tanki minyak rem habis. Lantas bongkar piston tsb dan perbaiki dan/atau ganti komponen yg rusak. Lantas kocok lagi dari awal.

    Namun kita harus yakin teknik pengocokannya benar, yaitu, ketika baut drain plug ataupun nipple dibuka, pedal harus dalam kondisi ditekan dan jangan melepas pedal sebelum baut buangan ditutup rapat. Karena sama saja menyedot angin dari lobang tsb. Cara ini berlaku juga ketika buang angin di silinder master.

    Jika masih tetap ada angin, kita mesti cek pipa, slang dan sambungan slang ke pipa, terutama pada roda yang tadi dibongkar pistonnya, barangkali ada rembesan. Jika ada, berarti benang merah sudah ketemu.

    Jika semua sudah dilalui dan tidak ada lagi buangan yang masih memancarkan angin, namun masih ada gejala ambles seperti masuk angin, berarti piston pada silinder master (atas) tidak bekerja dengan baik. Boleh jadi seal pendorong sudah bocor, tetapi tertahan oleh seal luar sehingga minyak tidak rembes keluar. Hanya looping balik ke tanki lagi. Nah sebaiknya ganti seal piston master.

    Boleh jadi dinding silinder master (atas) sudah aus di bagian ujung. Seal piston tidak bisa memampatkan minyak untuk didorong ke silinder slave, tetapi tidak rembes keluar karena masih terhalang seal pembersih di pangkal piston. Akibatnya minyak yang didorong larinya ke belakang piston dan looping ke tanki lagi. Jika ini yg terjadi, berarti silinder master harus diganti.

    Gejala semacam itu sebenarnya bisa saja terjadi pada silinder slave (bawah). Namun karena tiap piston sealnya tunggal, umumnya rembes. Sehingga mudah menemukannya.

    Demikian jawaban saya, semoga membantu 🙂

  • Ardhian
    Posted at 03:05h, 22 April Reply

    Matur nuwun sanget pak atas penjelasannya di blog. Sampai kemarin malam, saya masih bingung. Apa tumon, masa masalah rem yang sederhana saja bisa bikin mobil ndongkrok hampir seminggu….
    Yang saya sudah pastikan, master sudah resealing dan tekanan dari master saat nipple dilonggarkan sudah kencang. Tekanan ke semua slave master juga sudah bagus, KECUALI roda kiri belakang (LR). Maka kami coba buka nipple di outlet ABS, ternyata supply untuk LR bisa dikatakan kosong, tidak ada sama sekali minyak keluar; sementara supply minyak ke ABS bagus (dari master) dan tekanan pada outlet unit ABS untuk depan kiri-kanan dan belakang kanan bagus.
    Apakah mungkin pak, karena masalah ini akan selalu ada angin antara ABS sampai LR sehingga pedal selalu kandas? Matur suwun..

  • Deru Sudibyo
    Posted at 14:16h, 22 April Reply

    Oh iya.. maaf, saya tidak memperhitungkan ABS pada jawaban sebelumnya.

    Dari sisi konfigurasi sistem hidrolik rem, komponen ABS berada di tengah rangkaian saluran minyak. Maka efek kemacetan klep ABS akan sama persis dengan adanya sumbatan pada saluran atau kemacetan piston.

    Sebelum disentuh tentu tidak ada angin. minyak rem yang terjebak disitu tidak kemana-mana, meskipun sebenarnya rem terasa ampang.

    Namun begitu minyak dibuang, saluran terisi oleh angin. Lantas anginnya terjebak disitu dan tidak kemana-mana. Nah.. kali ini karena yg terjebak angin, volumenya melar mingkus sesuai tekanan dan ketika pedal rem diinjak, minyak rem memilih lari kesitu yg lebih lemah ketimbang harus melawan salve piston. Sehingga rem menjadi kandas dan blong.

  • Ardhian
    Posted at 02:35h, 23 April Reply

    Terima kasih banyak pak Dibyo, atas tanggapan di blog dan saran bapak. Kalau begitu hari ini nanti coba saya bypass dulu ABS-nya pak; langsung dari master ke caliper dan melihat hasilnya. ABS memang kan hanya bekerja ketika ada perbedaan kecepatan antara kendaraan dan roda; dan karenanya sangat-sangat jarang bekerja; maka alangkah sebuah kebetulan yang luar biasa bila ada ganngguan. Kepepetnya, (semoga -dan kalau- memang benar di sana masahnya), saya merasa lebih baik men-disable-kan ABS daripada harus bongkar block valve yang bisa saya bayangkan rumitnya…
    Apapun hasilnya saya ingin sampaikan kepada bapak.
    Matur nuwun dan salam..

  • Damar Wetan Gunung
    Posted at 15:17h, 14 October Reply

    ijin simak postingan dan saran pendapat yg mudah dipahami dan sangat sangat bermanfaat bagi saya dan mungkin juga para pengunjung lainnya.berbagi tak akan merugi matur sembahnuwun sanget.

  • Deru Sudibyo
    Posted at 19:55h, 14 October Reply

    Sami sami mas Damar 🙂

  • untung sudrajat
    Posted at 12:15h, 29 December Reply

    Salam semua,mau ikut tanya ni Mas Dibyo.di terminal pembagi untuk pipa rem belakang dan depan jeep cj6 yg letak nya di chasis itu ada swicht yg ada 2 kabel,apa fungsinya swit tersebut.sementara hanya ini dulu pertanyaan saya,terimakasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:35h, 03 January Reply

      brake prop valve
      Yg saya lingkari merah kan? Itu untuk lampu tanda manakala ada yg macet atau bocor. Tapi mungkin bila terpasang di mobil lain, bukan Jeep. Karena barang tsb sifatnya agak umum, dipakai oleh beberapa merek dan jenis mobil.

  • rudi arianto
    Posted at 08:19h, 02 January Reply

    Mksi y mas ats masuknny….smuaa ny jlas terpapar…..!!

  • Heri Aryanto ssi
    Posted at 16:43h, 24 February Reply

    Dear Om Dibyo

    Mohon pencerahannya, pembagi rem mazda 626 capella saya bocor pas di cup penutup 2 piston, saya coba pakai sealant tetap bocor, apakah ada cara lain untuk memasang topi penutup piston , sepertinya tekanannya tinggi dari master rem jadi gasket nggak kuat nahan tekanan.

    Pembagi rem/DP Valve masih baru, cuma karena barang lama baru dipakai 6 bulan sudah bocor, Terima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 06:39h, 28 February Reply

      Wah, saya gak pernah lihat wujudnya mas. Coba sertakan gambar/fotonya. Yang jelas, tekanan piston master rem cukup kuat. Gaya genjotan bobot kaki dibantu booster dan dikerucutkan hanya pada diameter penampang 1 inci atau kurang, tentu tekanan menjadi berlipat. Kata guru fisika SMA, P=F/A. Setidaknya sesuai dg perbandingan terbalik dg luas penampang booster. Sehingga jika semula tutup tersebut paten, tentu agak kurang logis jika bisa diakalin supaya sekuat semula.

  • qq van much
    Posted at 15:24h, 23 March Reply

    Makasih nambah ilmu. pas accord 82ku centtal remnya los

  • aikart
    Posted at 08:51h, 30 March Reply

    selamat pagi mas, tidak sengaja nemu artikel ini. dan cukup bermanfaat bagi pengetahuan saya.
    singkat cerita gini, saya punya accord tahun 85, kendalanya rem panas banget saat dipakai, dan jadi sering ngunci ketika mobil lama tidak dipakai. kaliper sudah saya cek normal semua, kalau lagi dingin (ga dipakai) kampas rem bagian luar bisa di goyang2kan. tetapi ketika dipakai dan panas jadi rapat.
    piston kaliper juga sudah saya bersihkan dan masih kembali ketika di tekan (keluar 100% masuk kembali sekitar 50% lebih), dan pen kaliper juga sudah saya lumasi dan lancar.
    kecurigaan saya mengarah ke master/boster, ketika saya liat skema masternya beda dengan yang ada di sini (fr atau rf).
    jadi port pertama masuk ke pembagi lalu masuk ke rem depan kanan dan belakang kanan, dan port ke-2 masuk ke depan kiri dan belakang kiri. mungkin apakah ini yang menjadi penyebabnya??

    nb: cakram kanan sudah dibubut karena ngolet, dan kiri belum (masih sktr 90% lempeng). menurut pengalaman mas ini penyebabnya apa???
    rem saat dingin kampas kendor, ketika diputar (posisi ban diangkat) juga ga macet. tapi kalau mesin nyala dan dipake sebentar sudah panas, kadang kalau lama ga dipake jadi ngunci rem nya.

    terimakasih sebelumnya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 15:56h, 01 April Reply

      Rem mengunci atau ngeblok hemat saya karena tekanan tidak berkurang meski pedal rem sudah dilepas. Penyebabnya karena (1) booster aktif menekan terus, atau (2) cairan rem mengalami jalan buntu untuk kembali. Cara yang paling mudah untuk mengetahui (1) atau (2), ketika pada kondisi mengunci, berhentilah di tempat yg datar dan coba doronglah mobil pelan2. Rasakan seberapa berat. Lantas lepaskan master housingnya dari booster (kendorkan baut pengikatnya dan tarik ke depan). Coba dorong lagi mobil pelan2. Bedakan rasanya dengan dorongan yg pertama. Jika dorongan yg kedua lebih enteng, berarti masalahnya ada di booster. Mungkin setelan booster perlu dikurangi. Atau bisa jadi booster sudah rusak.

      Jika dorongan kedua sama beratnya dg yg pertama, berarti bukan booster. Ini bisa saja ada kemacetan entah di piston slave (roda) atau pada salurannya. Harus didongkrak dan ditest rodanya satu per satu.

      • aikart
        Posted at 11:36h, 05 July Reply

        terimakasih atas jawabanya pak, sudah saya cek dan amati. sepertinya memang kerusakan ada di booster rem.
        rem sudah tidak ngunci, tetapi jadi dalam injakanya. ini dikarenakan harus diganjal ring antara master dan booster nya.
        dan masalah baru pun muncul, selain dalam injakanya (tambah dalam ketika rpm tinggi) pedal rem juga mengalami lag saat kembali ke posisi semula. jadi begitu di lepas, pedal tdak segera kembali. kalau rpm tinggi malah seakan2 pedal tertaha di bawah.

        untuk booster rem, demikian apa bisa di ganti seal nya saja? atau harus di ganti 1 set pak?
        terimakasih sebelumnya.

        • mm
          Deru Sudibyo
          Posted at 03:41h, 06 July Reply

          (1) Booster diganjal ring menandakan bahwa booster itu milik mobil lain, atau setidaknya studnya sudah bukan bawaannya. Karena stud ketinggian dan nggak bisa diturunkan lagi, sehingga perlu ganjal. Jadi, mending diganti saja yang ori. Lagi pula, booster sebenarnya bukan barang yg serviceable.

          (2) Pedal rem tidak mau kembali ketika RPM tinggi, umumnya pegas booster lemah, mungkin patah. Sehingga ketika sedotan atau hisapan kuat (rpm tinggi) dan direm, dia nendang dengan baik. Namun ketika dilepas, pegas tidak mampu mendorong membran kembali ke posisi home, meski pedal sudah tak berbeban (dilepas). Akibatnya pedal tetap di bawah dan mobil tetap ngerem.

          Berdasarkan (1) dan (2), kayaknya sudah waktunya ganti booster. Kembali ke ori. Jika ternyata master bukan ori, sebaiknya di-ori-kan sekalian.

        • mm
          Deru Sudibyo
          Posted at 07:23h, 14 July Reply

          Oh yg dulu cakramnya dibubut ya pak? Kalau booster diganjal kan setelan stud bisa dinaikkan untuk ngejar ganjal. Soal akal-mengakal ganti seal booster sih bisa saja asal yg ngerjain bisa. Tapi saran saya mending ganti baru ori, supaya ukurannya pas. Namun karena cakram sudah dibubut, saya kurang yakin rem akan kembali normnal. Minyak jatah piston cakram bisa kekurangan untuk ngejar jarak pad dg cakram yg sudah tipis. Makin tipis cakram makin butuh pad yg tebal.

  • andi
    Posted at 17:31h, 10 April Reply

    artikel yg menarik dan sangat informatif pak. Menambahkan informasi saja pak, ada juga sistem rem yg pembagiannya agak berbeda. misal pada honda accord prestige th 87 saya, 1 piston master rem nekan roda depan kanan dan roda kiri belakang, nah piston 1 lagi nekan roda depan kiri dan roda kanan belakang. keterangan di manual book sih untuk mecegah kegagalan rem depan belakang pada sisi yg sama. karena itu juga bleeding minyak remnya jg harus menyilang urutannya (depan kiri lalu belakang kanan, dan depan kanan lalu belakang kiri).

  • Revan
    Posted at 15:26h, 10 May Reply

    Nice artikel….
    Om mau tanya yaaa
    Punyaku kijang lgx kmaren sama bengkel ganti kampas rem depan dan bubut ulang untuk disknya. Nah ketika selesai dipasang itu roda seret untuk diputer. Dan pedal didorong ngempos sampai lantai. Dipakai jalan 30km velg panas, sudah ganti piston kaliper kanan kiri seal semua diganti termasuk yg di master atas ganti seal 1 set. Boster sudah dicek bagus. Katanya bengkelnya itu harus ganti master atas 1set katanya itu masalahnya. Akhirnya semwntara tetep aku pake jalan dengan seret panas dan g pakem. Mohon pencerahanya. Terima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 15:32h, 10 May Reply

      Supaya lebih utuh, tolong jelaskan kenapa bubut cakram?

  • Revan
    Posted at 16:35h, 10 May Reply

    Krn awalnya bergelombang om klo dibuat ngerem sambil belok bergetar. Gitu kata bengkelnya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 17:39h, 10 May Reply

      Berarti cakramnya yg harus diganti. Cakram dibubut itu tidak ada dalam kamus otomotif 🙂

  • Revan
    Posted at 18:05h, 10 May Reply

    Klo keadaan diam pas ngempos tuh gmn om?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:38h, 11 May Reply

      Dengan dibubut, keping cakram menjadi lebih tipis. Sehingga antara piston (+ brake pad) dengan permukaan cakram tidak lagi nempel. Akibatnya, untuk mendorong piston supaya brake-pad menjepit cakram diperlukan minyak yang lebih banyak dan tidak bisa dipenuhi oleh master. Maka terasa ngempos, karena ijnakan pedal sudah habis, minyak di master piston sudah didorong ke kaliper semua, tetapi permukaan cakram belum terkejar.

      Kalo kurang yakin dengan analisa ini, silakan dicoba dipasang ganjal antara brake pad dengan piston, atau brake pad dipertebal. Pasti rem akan terasa naik. Yang perlu diketahui, bahwa gerakan brake pad maupun sepatu rem adalah gerakan mikron. Karena minyak yang ditransfer dari master ke seluruh roda sangat sedikit. Setiap roda hanya kebagian 1-2 cc. Minyak segitu tidak mungkin mampu mendorong piston slave 1 mm atau lebih. Oleh karena itu, sepatu rem maupun pad harus nempel dengan sasaran (permukaan tromol atau cakram). Sehingga dorongan minyak yg sangat sedikit itu fungsinya hanya untuk mengetatkan pad yang sudah nempel.

      Meskipun brake pad bisa diganjal atau (mungkin) dipertebal, namun itu bukan solusi. Itu hanya sekedar untuk membuktikan analisis di atas. Saya tetap menganjurkan untuk ganti cakram yang masih standard. Utamakan keselamatan anda dan orang yang anda bawa.

  • Revan
    Posted at 19:22h, 11 May Reply

    Siipp om trims pencerahanya 🙂

  • Hendri
    Posted at 08:51h, 30 May Reply

    Mau tanya om, mobil saya bermasalah dengan pengereman, rem nya membanting ke kanan (blokir) dan berbunyi (gruduk2) pada cakram depan sebelah kanan. padahal mobil saya belum satu tahun apa penyebab dan solusinya om Deru Sudibyo?

    tks

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 20:19h, 31 May Reply

      Coba periksa dulu apakah roda depan ada yang oblag. Oblag bisa karena baut roda kurang ketat atau lager (bearing) kendor atau rusak. Efeknya untuk cakram mirip. Permukaan cakram masih rata pun bisa bunyi grudug-grudug. Dan kalo dipaksakan terus-menerus, cakram bisa rusak atau bengkok. Tentu gelombang bengkokan tsb yg akan mengunci putaran roda.

      Permukaan cakram bergelombang tidak harus selalu karena roda oblag. Penyebab lain misalnya karena benturan. Benturan tidak harus nabrak. Batu keinjak melejit dan menghantam cakram, bisa menjadi penyebab. Aliran minyak mampet juga bisa menjadi penyebab.

  • Bori
    Posted at 00:01h, 06 June Reply

    Selamat mlm om DIbyo,
    Mau nanya om tolong pencerahannya,
    Mobil sy kijang Krista 1999 ada masalah dalam pengereman. Yakni klo setiap habis hujan ataw kondisi basah setiap melakukan pengereman itu selalu langsung ngerem tidak ada tahapan .padahal master rem masih Baru .tq om

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:02h, 06 June Reply

      Maaf om, saya belum punya pengalaman spt itu. Secara teori juga belum kebayang.

  • Harris
    Posted at 08:50h, 17 June Reply

    Maaf to the point om,sy px panther 2.3 1995 bermasalah dgn rem bila pagi mobil dipanasi rem lgs blong tp Stlh dipompa 1 kali lgs enak lg.
    Catatan:pdhl master rem (bkn hanya seal master) sdh diganti baru n kampas rem n seal2 jg sdh diganti baru hal ini sama terjadi sblm ganti master kayak tdk ada perubahan
    Mohon pencerahan…trmksh

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 13:05h, 17 June Reply

      Coba dicek apakah brake pad (depan) sudah tipis. Jika iya, ganti dan rasakan bedanya. Tapi cek juga sepatu rem belakang. Apakah sudah tipis atau setelan berubah menurun. Jika iya, ganti dan/atau setel ulang.

      Yg anda rasakan adalah gejala umum rem merenggang tapi belum melewati limitnya. Karena renggang, maka injakan awal hanya untuk mendorong piston dan menahannya pada posisi yg seharusnya. Injakan selanjutnya adalah pengereman normal, karena posisi piston sudah benar. Namun ketika mobil parkir, suhu neurun, minyak menyusut, Sehingga piston kesedot dan kembali pada posisi renggang.

      Jika limit kerenggangan dilewati, maka rem akan tetap blong meskipun pedal sudah meninggi (sudah dikocok). Jika barang2 yg terpasang semua orisinil, maka setipis apapun tidak akan melewati limit kerenggangan.

  • wahdan iptiari
    Posted at 07:10h, 21 June Reply

    Artikel yg benar2 bermanfaat om Deru. Terimakasih share ilmunya.. Maaf om sy mohon pencerahan, sy punya corolla 77, rem daridulu slalu bermasalah (tidak pernah pakem) padahal sudah ganti kampas depan blkg bolak balik, stel ketinggian rem, ganti karer2 di servo, tp tetap saja nihil. Ketika pedal diinjak tinggi, tp tidak empuk melainkan langsung keras trasa sprti bantat. Dan hand rem sudah di stel, ditarik mentok, mobil tidak mau berhenti sama sekali. Bengkel memvonis harus ganti tromol blkg. Apa benar ya om? Mohon pencerahanya suhu…..Matursuwun.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:13h, 22 June Reply

      Karena dibilang dari dulu selalu tidak pernah pakem, maka yang paling pertama sekali adalah periksa semua komponen rem, mulai dari master cylinder, booster, slave cylinder (di 4 roda), kampas, kaliper, tromol, cakram dll, bahkan bila perlu pedal juga dicek. Adakah komponen tersebut yang milik mobil lain? Jika ada, ganti dengan milik Corolla 77 yg ori dan coba rasakan. Jika semua sudah milik Corolla 77 tapi pedal tetap keras dan rem tidak pakem, teruskan baca paragraf selanjutnya.

      Kalo pedal keras, umumnya booster. Bisa karena sedotan vakumnya kurang kuat atau stoutnya ketinggian. Cek dulu sedotannya. Jika kurang kuat, berarti ada yg bocor atau mampet sepanjang jalur vakum dari karburetor s/d slang. Tentu saja rem tidak pakem. Lakukan perbaikan disitu dan test hasilnya.

      Jika sedotannya normal, boleh jadi setelan stout booster ketinggian. Coba turunin dikit setelan booster dulu, supaya pedal rem terasa empuk. Jika tetap keras, berarti booster bocor. Masalah ini jugalah penyebab rem tidak pakem. Solusinya ganti booster baru dan test. Ini perkara rem, sehingga saya anjurkan untuk beli booster baru yg orisinil. Jangan terkecoh dg murahnya barang KW atau rebuilt.

      Yang rumit andaikan setelah diturunin setelannya menjadi empuk tapi tetap tidak pakem. Boleh jadi karena saluran minyak mampet. Kalo yang mampet depan, sepakem apapun rem belakang, mobil direm akan ngeloyor tidak pakem.

      Kayaknya sampai disini dulu, mohon disampaikan perkembangannya. Karena teman2 yg lain umumnya sekali dibalas gak pernah muncul lagi. Saya jadi gak tahu apakah jawaban saya benar atau keliru. Padahal troubleshooting umumnya merambat bertahap.

  • wahdan iptiari
    Posted at 20:31h, 22 June Reply

    Siap suhu… Akan saya cek satu persatu.. Terimakasih banyak om… Sy akan laporkan perkembanganya.. Terimakasih..

  • andi
    Posted at 03:04h, 24 June Reply

    permisi pak.
    saya punya panther 98.ada masalah dengan rem.
    kalau di rem g bisa langsam.remnya dalem.tapi begitu di injak agak dalam dan terasa ringan.langsung berhenti.jd g bisa ngerem secara halus.padahal master atas sudah d ganti baru.trus tanya bengkel katanya di suruh ganti booster.mohon penjelasanya.trimakasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:56h, 25 June Reply

      Benar mas, ada kemungkinan booster yg sudah tidak ngikuti kendali pedal. Apakah anda beli dari baru? Jika iya, ikuti saran bengkel tadi.

      Jika tidak, apakah anda pernah merasakan enaknya rem tersebut? Jika iya, coba ingat apakah pernah mbengkelin rem dan setelah itu menjadi begini? Jika iya, berarti ada kemungkinan salah setel, atau memaksakan komponen yang tidak kompatibel. Gantilah komponen tersebut dengan orisinilnya Panther 98. Jika tidak, berarti memang perlu ganti booster baru yang ori.

      Jika anda tidak pernah merasakan enaknya rem tsb, – sejak beli sudah begitu, maka perlu dicek seluruh komponen dan mana yg bukan aslinya, ganti dg barang ori.

  • andi
    Posted at 23:26h, 25 June Reply

    apa mungkin dari master atasnya ngaruhz mas?soalnya master atas bru d gnti tp y murahan.soalnya kalau buat ngerem seakan akan yang ngrem depan dulu.kalau master atas itu yang bagus merk ap z mas.mhn bantuanya.trimakasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:28h, 26 June Reply

      Coba saja diganti dengan orisinilnya mas. Tanya atau beli ke dealer resmi Isuzu, silinder master rem Panter 98. Intinya, rem dan mesin jangan sampai kemasukan barang KW. Lebih2 yg dari China. Walaupun nipple-nya gak bisa kebalik antara F dan R, tapi tegangan per (pegas) di dalam silinder barang KW bisa kebalik. Jika per piston yg F lebih lembek, tentu roda depan yg ngerem duluan.

  • idin
    Posted at 09:34h, 26 June Reply

    Terima kasih pak Deru atas share ilmunya.
    Artikelnya benar benar memberikan pencerahan.
    Saya punya espass th 97. Ada sedikit masalah dengan rem.
    Jika melewati turunan yang agak panjang dan sering menginjak rem, kadang-kadang rem terasa berat dan kurang pakem.
    Apa yang menjadi penyebabnya?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:23h, 26 June Reply

      Jika anda pakai AC, matikan AC dan coba test sekali lagi di turunan panjang.

      Rem, selama tekanan minyak sampai ke roda dan tidak kebocoran, maka pakemnya relatif sama diinjak berapa kalipun. Adanya gejala kadang pakem kadang kurang, disebabkan oleh injakan yg tidak sama. Kalau kita merasa menginjak pedal dg tekanan dan kedalaman yg sama, berarti booster yang melanjutkannya tidak konsisten.

      Booster memang kadang kurang konsisten, terutama untuk mesin yang tidak dilengkapi vacuum compressor. Mesin yg demikian ini memanfaatkan sedotan intake, dimana lobang inlet-nya dilengkapi lidah yg mangap-mingkem sesuai tarikan kabel gas. Contohnya motor bensin yg masih sistem karburasi. Diesel lawas juga banyak yg model ginian. Sistem ini mengandalkan keniscayaan bahwa ketika pedal rem diinjak PASTI pedal gas dilepas. Sedotan kuat ketika lidah mingkem, yaitu ketika pedal gas dilepas. Jika dicoba kaki kanan injak gas dan kaki kiri injak rem, sedotan melemah atau tidak ada sama sekali dan rem menjadi keras dan tidak pakem. Maka sebaiknya setelan langsam (idle) sekecil mungkin supaya ketika pedal gas dilepas, sedotan ke booster bisa maximum.

      Nah, problemnya jika anda pakai AC dan setelan idle-up nya ketinggian. Pas ketika direm, kebetulan AC aktif dan idle-up narik gas. Tentu sedotan jadi berkurang dan rem terasa lebih keras. Kondisi seperti ini mungkin tidak terasa di jalan datar. Tapi di jalan menurun, apalagi cukup panjang, ketidakpakeman rem bisa dirasakan. Untuk membuktikannya, matikan AC ketika di turunan panjang.

      Jika ternyata AC mati gak ngefek, berarti ada perkara lain. Tolong laporkan disini untuk analisis selanjutnya 🙂

  • andi
    Posted at 23:15h, 28 June Reply

    mksdny slah stel gmn pak?stelan yang d roda pa yang d booster?trus klo seandainya beli sil master atas ada g pak spare nya.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:39h, 28 June Reply

      Kayaknya saya belum menyebutkan salah setelan di jawaban2 saya untuk anda. Mungkin rancu dg jawaban2 untuk teman lain. Fokus ke booster dan master dulu, karena kata anda rem serasa depan duluan. Juga infokan apa yg saya tanyakan di jawaban2 terdahulu. Karena untuk bisa menjawab dengan benar, kadang perlu info yg lengkap.

  • andi
    Posted at 23:48h, 28 June Reply

    trima kasih pak.soalnya ni mobil belinya seken&rem nya ju dah g bres.masternya juga dah gantian dari sananya.wkktu saya beli mobilnya.master atas dh d ganti ma pemilik mobil sbelumnya.saya bingung hrus mana dulu yang perlu saya ganti.trus mau tnya lagi ni pak.mslh stir.klo buat lari kenceng.stir g banting.tp kalo buat lari pelan setir banting ngiri trus.mhn bantuanya.trima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:14h, 29 June Reply

      Ya harus sabar, satu-satu… Utamakan yang paling beresiko keselamatan diri sendiri dan orang (pengguna jalan) lain.

      Soal REM, sebaiknya masternya dulu, karena anda bilang ada gejala kebalik yg ngerem depan duluan. Ini berbahaya! Mobil bisa guling kuming jika direm mendadak dari kecepatan tinggi. Cari master orisinilnya di dealer isuzu terdekat. Bisa jadi semua masalah beres setelah pakai master ori. Jika ternyata masih kurang enak, bisa dianalisa lagi. Yg jelas tidak ada ruginya mengganti barang KW dg ori. Volume minyak yang ada di silinder master sudah dihitung oleh perancangnya sesuai untuk dibagi ke 4 roda. Makanya master silinder tidak boleh KW dan tidak boleh pakai punya mobil lain. Demikian pula silinder di tiap roda, harus ori semua supaya ukurannya pas seperti rancangan aslinya.

      Soal setir ngebanting, ya jelas kalau rem nggak normal efeknya ke setir.

  • andi
    Posted at 03:54h, 29 June Reply

    mslh setir.
    wkt mbanting itu pada posisi g ngerem.jd jlan biasa lama2 mobil belok kiri sedikit dmi sedikit.
    trimakasih ats saranya pak.nt biar sya gnti dlu mster nya.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:59h, 29 June Reply

      Oh… berarti dicoba spooring dan balancing dulu. Kalo sudah spoor dan balance ternyata masih mlengos, berarti ada perkara lain, mungkin ball joint, atau suspensi. Bahkan bisa jadi sasisnya sudah genjang.

  • Dwi narno
    Posted at 00:45h, 30 June Reply

    Salam kenal pak, saya punya truck toyota dyna tahun 2011. Rem terasa dalam tapi tidak pakem. Semua rem setiap roda sudah saya setel. Sudah buang angin. Apabila mobil sudah berjalan lebih 1 jam rem tidak pakem. Master rem bawah tidak ada yang bocor. Apa mungkin boster atau mater silinder atas.

    Mohon pencerahanya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:25h, 30 June Reply

      Oh saya malah baru tahu truk mini ini bukan pakai rem angin.

      Seperti pada temen-temen yang lain, hal terpenting yang harus diikuti adalah, bahwa seluruh komponen utama rem (silinder atas, bawah dan booster) harus orisinilnya. Karena takaran minyak yang sampai ke silinder bawah harus cukup. Jika ada silinder yang bukan ori dikuatirkan jumlah minyak yang dipompa oleh silinder atas tidak cukup untuk mendorong semua piston pada silinder bawah. Jika booster tidak ori, dikuatirkan dorongan stud booster tidak cukup panjang untuk mendorong piston atau kepanjangan sehingga piston cepat rusak.

      Yang kedua adalah setelan, booster maupun rem (yg tromol). Setelan booster harus pas. Meskipun ori, jika setelannya terlalu pendek, akibatnya rem terlalu dalam dan tidak pakem. Jika setelan booster terlalu tinggi, rem bisa ngeblok karena booster nendang terus. Setelan rem (sepatu tromol) juga harus pas dititik sentuh. Untuk rem cakram tidak ada setelan. Tapi kita harus meraba apakah pad masih cukup tebal untuk mencapai titik sentuh dg cakram. Jika salah satu ada yg renggang, baik sepatu maupun pad, maka dia butuh terlalu banyak minyak untuk mendorong piston ketika direm. Sehingga jatah piston lain terkurangi untuk ngisi dia. Sementara minyak yang dipompa oleh master tidak bisa nambah. Akibatnya tekanan pada semua piston lemah, sehingga rem tidak pakem.

      Nah, jika semua persyaratan di atas sudah terpenuhi tapi masih tidak pakem, berarti ada kerusakan. Jika tidak ada yang bocor, maka perlu dicoba mundur dan direm. Ternyata pakem, kemungkinan yang bermasalah rem depan. Coba diperiksa apa ada slang flexible yang sudah melar. Karena bahannya karet, ada kemungkinan melar ketika direm. Tentu minyak rem tidak sampai ke piston. Jika tidak ada slang melar, berarti piston F di silinder master sudah lemah, mungkin seal F bocor. Jika posisi F di ujung, tentu seal bocor tidak ketahuan. Karena minyak tidak keluar, melainkan hanya nyeberang ke R.

      Jika mundur pun tidak pakem, berarti hanya ada 2 kemungkinan, (1) seal master F dan/atau R bocor, atau (2) booster tidak bekerja dengan benar. Anda bilang, tidak ada bocor. Berarti booster yang harus dicermati. Seperti biasa, cek dulu sedotan anginnya. Jika sedotannya lemah, berarti pompa sendotannya yang bermasalah. Tapi harusnya pedal rem berat.

      Jika sedotannya kuat, coba setel ulang stud booster dinaikkan sedikit. Jika tidak ada perubahan, berarti sudah waktunya ganti booster.

  • andi
    Posted at 03:58h, 30 June Reply

    oz pak.mau nanya lagi nih.ni tntang rem kemarin.kl rem nya enteng.berarti bosternya g papa kan.g da mslh kan.jd cuman master atasnya saja.untk tnda tnda boster rusak itu apaya.rem g bisa langsam itu ap ad hubngan nya jg dg boster.mksh dn maaf sebelumnya.ni sya blm gnti master.soalnya lg sibuk krja.mngkin sabtu sya akan gnti boster…PANTHER MIABI 98.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 04:09h, 30 June Reply

      Betul! Master dulu diberesin. Pastikan kembali ke orisinilnya. Karena masalah anda kan bukan tidak pakem, tapi serasa kebalik dan mobil langsung stop.

      Btw, kok oz? Apa anda berlatarbelakang seperti saya? 🙂

  • andi
    Posted at 15:42h, 30 June Reply

    mksdny gmna.ltar blkng pa.

  • Dwi narno
    Posted at 22:12h, 30 June Reply

    Malam pak Deru, master rem atas saya merek JKC kalau saya ganti merek SEIKEN kira kira gimana ya pak, saya coba rem mundur pakem. Kalau muatan sekitar 3 ton pakem tapi kalau 4,5 ton tidak pakem kecepatan 50.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 22:20h, 30 June Reply

      Saya di Bogor pak. Setahu saya, Toyota menggunakan Aisin untuk komponen rem. Apa yang saya sarankan sudah dilakukan? Dicoba direm ketika mundur, dicek slang flexible dll?

  • Dwi narno
    Posted at 22:14h, 30 June Reply

    Pak Deru bertempat tinggal di sumatera atau di jawa

  • Dwi narno
    Posted at 22:59h, 30 June Reply

    Pak posisi saya di palembang, pak deru ada kenalan bengkel rem di palembang kususnya di ogan komering ilir

  • andi
    Posted at 19:28h, 01 July Reply

    pak sy mau bth bantuan lgi.kemarin kn untk selang depan sya blik di selang rem belakang.stlh itu sya cbo ngrem yg berhnti ternyata bellkng dlu.tp msh g bsa langsam pengeremanya.pa mungkin bosternya.mhn untk info nya.trimaksih.ANDI.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:14h, 02 July Reply

      Maaf baru lihat blog. Kemaren seharian bermacet-ria mudik ke jawa, baru nyampe tadi pagi, langsung pulas. Bangun sore, itung2 untuk melupakan kelaparan. Maklum gak sempat sahur krn terjebak macet.

      Rem memang harus belakang dulu. Jangan sampai terbalik. Rem depan tugasnya untuk mematikan putaran roda setelah dihambat oleh rem belakang. Oleh karena itu rem depan selalu dirancang lebih kuat dari rem belakang. Jika masing2 komponen sudah ori dan sudah duduk pada posisinya, tapi masih nggak langsam, maka yg patut dicurigai adalah booster yang langsung nendang (tidak mengikuti irama pedal), dan/atau tromol atau cakram yg tidak rata.

      Untuk mengujinya, sebaiknya dicoba tanpa booster dulu. Booster dicopot dan master dipasang langsung kontak dengan pedal. Lantas dicoba jalan dan remnya ditest. Tentu rem menjadi berat. Tapi setidaknya kita bisa tahu, rata atau tidak. Jika ternyata tanpa booster bisa rata, maka sudah waktunya ganti booster. Ganti booster baru yg ori.

      Jika tetap tidak rata, berarti tromol atau cakram tidak rata. Cakram yg tidak harusnya terasa di setir, ketika direm, setir bergetar dan lari-lari tidak stabil. Lebih2 jika yang tidak rata cuma satu. Jika demikian, cakram harus ganti baru, jangan dibubut. Tapi jika yg tidak tromol, boleh lah dibubut.

  • Dwi narno
    Posted at 20:52h, 01 July Reply

    Malam pak Deru, mobil saya 1 hari enggak jalan remnya pakem, sudah saya coba rem mundur atau rem maju pakem tapi kondisi mobil istirahat 1 hari. Tapi kalau berjalan 1 jam lebih rem tidak pakem. Saya cek selang fleksibel tidak ada yg kembung. Mohon pencerahannya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:07h, 03 July Reply

      Pak, bacaan postingan di atas sudah saya tambah catatan penting. Silakan dibaca dulu, siapa tahu ada kaitannya dengan masalah rem anda.

  • andi
    Posted at 02:38h, 03 July Reply

    mudik ke jawanya daerah mna pak?

  • andi
    Posted at 17:39h, 12 July Reply

    sblmnya minalaidin walfaidin pak.

    ternyata centralnya mnt ganti pak&bosternya jg.skrang dah normal rem sya.trimakasih.

  • Dwi narno
    Posted at 23:46h, 13 July Reply

    Mohon maaf lahir batin pak deru, pak ciri ciri master rem atas kalau bocor apa ketika kita injak,minyak rem di tabung naik.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 07:01h, 14 July Reply

      Sama-sama pak, mohon maaf lahir batin. Saya mungkin minggu depan balik ke Bogor.

      Soal master bocor, tergantung seal mana yg bocor. Master silinder mewadahi 2 piston berderet dalam silinder yg sama, yaitu piston F dan piston R. Posisi F dan R tidak sama untuk setiap mobil. Ada yg F di depan (di dalam) dan R di belakang (di luar), ada yg sebaliknya. Jika yang bocor seal pada piston yang di belakang, maka minyak rembes keluar membasahi booster. Tetapi jika yang bocor seal pada piston yang di depan, maka rembesnya ke piston yg di belakangnya. Sehingga jika bocornya sudah parah, piston depan benar2 terdorong habis ke depan, sehingga lobangnya terbuka bagi piston belakang, dan berbalik ke tabung oleh desakan piston belakang.

  • eko widiantoro
    Posted at 04:43h, 25 July Reply

    saya punya mobil mazda th 90.rem cakram depan belakang.msalah sy.kalo mobil jalan rem y ngerem sendiri kyak kesedot sendiri.apa penyebabny dan bagaimana cara memperbaikinya..trima kasih.mohon pencerahannya.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 09:21h, 25 July Reply

      Ini kayaknya boosternya mas. Coba dicopot dulu masternya dan disetel (direndahin) stud boosternya, lantas pasang lagi. Ulang cara yg sama jika masih ngerem. Jika setelan sudah habis (paling pendek) ternyata masih ngerem, berarti harus ganti booster.

      Ngomong2 ini booster ori apa bukan? Komponen2 rem di roda depan dan belakang ori semua?

  • Hendri
    Posted at 20:23h, 17 August Reply

    Malam pak, mobil saya corolla 78…baru kali ini ada masalah di rem kanan belakang yg mana velg sampe panas dan terkadang ngerem sendiri dan berhenti, kalo mau jalan lagi mobil harus dimundurin dl baru bisa jalan tapi selang beberapa kilometer ngerem sendiri lagi,
    Komponen yg sudah ganti;
    1. Kampas belakang baru
    2. Cylinder tromol kanan-kiri baru merk sanyco

    Mohon sarannya pak, terima kasih…salam,.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 20:47h, 17 August Reply

      Gejala itu biasanya asbes/kampas rem rusak atau ada serpihan asbes atau benda lain. Sebaiknya dibuka lagi dan pastikan semua bersih total. Pastikan pula kampas/asbes benar2 melekat ketat pada tulang sepatu. Tidak ada rasa oblag, tidak ada yang retak dan tidak ada luka semacam bersisik.

      Serpihan atau kampas yang oblag, retak atau permukaan bersisik akan tergusur melipat dan/atau mengganjal ketika tromol berputar. Akibatnya tromol tergencet dan roda seperti direm. Ketika tromol berputar terbalik (mundur), tentu lepas lagi. Tapi kalo mundurnya panjang, ada kemungkinan tergencet lagi setelah arah lipatan atau gencetannya seirama. Gencetan baru lepas setelah mobil bergerak maju. Demikian seterusnya…

  • Hendri
    Posted at 20:57h, 18 August Reply

    Terima kasih sarannya pak,.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:04h, 18 August Reply

      Kalo sdh dibongkar beberkan disini mas. Bila perlu beserta fotonya biar lebih klir. Kalo analisis saya benar biar pembaca lain menyimak. Kalo tidak benar bisa analisis ulang sesuai fakta hasil bongkaran.

      Sangat disayangkan banyak penanya yang tidak kembali lagi, atau kembali tapi dengan pertanyaan lain kasus lain. Sehingga saya tidak tahu apakah jawaban saya benar atau tidak.

  • Suhadi purnawan
    Posted at 08:06h, 21 August Reply

    Om… mau nanya nih saya sudah 2 bengkel saya kunjungi…permasalahannya mobil saya (kijang LGX Diesel th 1999) itu sering mengerem sendiri di ban belakang kanan…dan itu sering terjadi jika di jalan yg bergelombang….tapi kadang seharian normal aja…tapi kemarennya saya baru cuci mobil eh kambuh lagi..di tunggu info nya ya Om…terima kasih
    Oh iya saya dr bandar lampung….

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 08:23h, 21 August Reply

      Sepertinya mirip dg kasusnya pak Hendri di atas. Mohon cermati dulu diskusi saya dg pak Hendri barangkali ada kesamaan, supaya tidak redundant.

  • Basir
    Posted at 17:01h, 27 August Reply

    Super sekali penjelasannya pak.

  • evan haevani
    Posted at 19:55h, 04 October Reply

    Mohon pencerahan Om Dibyo .saya punya kasus .apa yg menyebabkan booster rem trrlalu enteng sehingga kalo di rem langsung berhenti nyentak .terima kasih sebelumnya buat omDibyo

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:48h, 05 October Reply

      Booster memang tugasnya memperenteng rem. Tapi jika entengnya berlebihan dan rem terasa tersentak, bisa jadi karena:
      (1) Per diaphragm-nya lemah. Mestinya setelah pedal dilepas, rem tidak segera lepas.
      (2) Sedotan vakumnya terlalu kuat. Berarti booster-nya di luar spec, alias bukan orinya dan tidak kompatibel.
      (3) Master piston remnya terbalik F dan R-nya, bisa pegasnya bisa juga slangnya, sehingga ketika pedal diinjak, roda depan ngerem duluan. Ini bisa karena salah pemasangan atau master bukan orinya dan tidak kompatibel.
      (4) Mungkin masih ada yg lain yg belum saya ketahui.

  • Riyadi kurnia
    Posted at 08:55h, 15 April Reply

    Salam kenal pa saya adi dan saya ingin berbincang dgn bapak saya merasa klu rem kijang kapsul saya th 97 bermasalah karna saya merasa klu ngerem seperti kurang pakem atau greget lah klu biasanya mobil diinjak rem nya pakai jempol kaki langsung terasa seperti menahan tp klu kijang saya seperti masih nyelonong itu masalahny di mana ya karna saya sudah ke bengkel saya suruh cek master bawahnya dia bilang bagus masih bekerja semua untuk master atas saya sudah ganti berikut servonya atau mungkin kanvasnya yg kw atau dis nya karna disc dpn juga saya ganti yg lama gelombang seperti itu mohon infonya pak trimakasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 02:54h, 17 April Reply

      Setelah menyimak tulisan ini, saya percaya mas Adi sudah paham bahwa rem bekerja untuk roda belakang dulu lantas disusul oleh roda depan. Sehingga mobil tidak terkejut dan limbung bahkan terbalik. Karena, ketika gencetan roda belakang sudah maximum, mobil memang masih ngeloyor maju. Mobil benar-benar tertahan setelah gencetan rem roda depan maximum.

      Saya juga percaya anda paham bahwa makin ketat setelan rem, makin pakem. Karena volume minyak rem di master piston yang akan dikirim ke setiap roda sangat terbatas, tapi volume segitu harus mampu menghasilkan regangan maximun semua piston bawah. Jika setelan kurang ketat, langkah piston bawah terlalu panjang untuk mencapai maximum, maka memerlukan minyak lebih banyak, bisa jadi minyak kiriman dari master tidak cukup. Sehingga tekanan rem tidak bisa mencapai maximum. Akibatnya, mobil masih nyelonong maju meski pedal rem sudah diinjak pol. Demikian pula jika di dalam silinder piston atas maupun bawah masih ada gelembung udara.

      Maka dari itu, sebelum kemana-mana, pastikan dulu setelan rem sudah seketat mungkin dan tidak ada udara tercampur minyak rem. Mengetatkan setelan rem tromol, caranya, disetel sampai roda tidak bisa diputar, lantas kendorkan pelan-pelan sampai roda bisa berputar. Jika pengetatan tidak bisa mencapai titik mati atau ketika mengulir balik setelan terasa cukup panjang, berarti kampas sudah terlalu tipis dan harus ganti baru.

      Untuk rem cakram tidak ada setelan. Cukup pastikan ketebalan kampas (brakepad) tidak kurang dari 70%. Jika sudah kurang dari 70%, copot dan ganti dengan brakepad yang baru. Yang harus diperhatikan, ketebalan kampas brakepad tidak boleh kurang dari 70% dan kampas sepatu rem tidak boleh kurang dari 50%. Jadi benda-benda itu bukan untuk dipakai sampai benar2 habis baru diganti.

      Sedangkan memastikan tidak ada campuran udara dalam minyak rem, caranya dengan mengocok rem sekuat-kuatnya lantas buka nipple buangannya berulang-ulang sampai tidak ada efek semburan angin. Ulangi cara tsb untuk tiap roda.

      Jika ternyata masih ngeloyor, coba cek aktuator boosternya, barangkali kurang tinggi. Ini cukup sensitif, harus tuning seulir lantas test, jika masih kurang seulir lagi dan test lagi. Jangan sampai tingginya melebihi standard, bisa bikin rem ngeblok terus.

      Jika aktuator booster normal, setelan normal dan semua brakapad/sepatu sesuai standard, tapi masih ada gejala nyelonong, berarti ada komponen yang tidak kompatible. Pasti ada komponen yang diganti dengan barang kawe atau barangnya mobil lain.

  • Riyadi kurnia
    Posted at 15:22h, 24 April Reply

    Trimakasih om deru oh ya dan saya pernah ganti pembagi minyak karna waktu itu rembes dan mungkin itu bisa jd penyebabbya karna barangnya kw saat itu kami lg arah ingin pulang ke jkt dan rembesan itu kami lihat pas posisi di purbalingga langsung saya cari bengkel

  • Diding Jamaludin
    Posted at 16:16h, 25 June Reply

    Salam kenal
    Saya diding, mau tanya2 nih.saya punya baleno matic 2001, terakhir kemarin turun mesin karena asap yg keluar dari knalpot luar biasa banyaak. Nah sekarang masalahnnya di rem, setiap dibawa jalan apalagi kondisi macet tiba2 lama kelamaan mobilnya ngerem sendiri sampe ga bisa jalan.mohon solusinya agan2 semuanya kira2 masalahnya dimana ya?
    Hatur nuhun

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:29h, 28 June Reply

      Kemungkinan setelan tonjokan (pushrod) booster rem terlalu tinggi. Coba master rem dilepas dan setelan pushrod booster dikurang satu uliran. Lantas pasang lagi dan jalankan mobil sambil direm berkali-kali. Jika masih ada gejala ngeblok, ulangi cara di atas sekali lagi.

  • Joko
    Posted at 05:54h, 25 August Reply

    Mau tanya pada master2 disini, saya orang awan, mobil saya ketik mesin mati rem bisa pakem normal, tapi ketika mesin nyala rem langsung blong, dicoba pompa berkali2 pun tetel blong, saya lihat gak ada yg rembes minyak rem, dan volume minyak rem juga masih utuh, kira2 apa ya mslhnya, terima kasih atas bantuannya

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:49h, 27 August Reply

      Maaf mas Joko, bukan males, tapi memang belum pernah mendapati kasus seperti ini. Umumnya mesin mati, booster tidak efektif. Jadi kalo mesin hidup saja blong, apalagi mati.

      Ini mobil apa mas? Apa remnya elektrik? Atau rem angin?

  • Iman
    Posted at 02:03h, 31 August Reply

    Mas Deru.. saya ada nissan terrano, kalo di rem injekan pertama kadang2 dalam banget ampir mentok.. injekan selanjutnya baru normal.. sepatu rem depan baru ganti.. apa karena rem belakang aus kah..?

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 03:01h, 31 August Reply

      Sepatu rem aus juga bisa demikian jika masih dalam toleransi. Kalo setelannya tidak dinaikkan, akan ada jarak yang cukup nyata antara sepatu dengan tromol. Injakan pedal rem pertama perlu minyak agak banyak untuk mengejar jarak tsb. Kebetulan pegas yang menahan sepatu sudah lemah, sehingga ketika pedal dilepas, minyak yang kembali ke master hanya yang untuk ngepress tromol. Yang untuk mengejar jarak masih tertinggal. Sehingga injakan berikutnya tidak membutuhkan pengiriman minyak sebanyak yang pertama.

      Keausan semacam ini indikasinya, jika di jalanan jarang menginjak rem, misalnya di tol, maka injakan kedua pun akan dalam seperti injakan pertama. Keadaan semacam ini termasuk kritis. Ketika jarak makin jauh karena makin aus, maka pengiriman minyak dari master menjadi tidak cukup dan rem menjadi blong. Solusinya segera disetel lagi untuk menghilangkan jarak tsb. Atau ganti sepatu jika sudah tipis. Sayang tromol.

      Selain keausan, bisa juga karena adanya gelembung udara. Ini yang lebih umum. Solusinya tentu divakumkan atau kocok buang angin. Umumnya membenahi setelan dan buang angin dilakukan sama-sama terlepas dari masalah yang sebenar.

      Nah, yang perlu diwaspadai adalah kebocoran seal pada master. Disana ada 2 piston satu poros. Yang pegasnya lembek untuk roda belakang agar ketika diinjak ngerem duluan. Kita nggak usah bingung, karena selalu ada tanda F dan R. Jika seal yang bocor piston yang belakang, tentu ada rembesan keluar. Tapi jika yang bocor seal yang depan, tidak ada rembesan. Bocor bisa karena seal sudah aus atau dinding silindernya yang bopeng.

  • Ibnu
    Posted at 10:15h, 31 August Reply

    Pagi mas deru, saya pakai vios tahun 2003 kalau di rem bergetar setirnya apabila kecepatan tinggi, menurut montir cakram depan harus dibubut dan ganti kampas rem depan… namun setelah diganti dan dibubut sekarang malah makin parah mas, mobil kalau di rem..bergetar + ngebuang kanan kiri… kira kira penyebabnya apa ya mas? apakah karena cakram belakang blm dibubut dan kampas belakang blm diganti? trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 10:24h, 31 August Reply

      Pedal rem terasa naik-turun nggak?

  • antonbrc
    Posted at 16:42h, 10 November Reply

    Sore mas mobil panther 25 bila ac diyalakan persneling susah masuknya gigi 1 sampai gigi 4 padahal sudah aku ganti matahari,kampas kopling dan seal master kopling atas bawah tetep susah mohon pencerahan matr nwun.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:33h, 10 November Reply

      Mestinya tidak ada hubungan antara AC dengan transmisi, kecuali berbagi vacuum jika koplingnya pakai booster (transmisi manual). Apakah koplingnya pakai booster?

  • antonbrc
    Posted at 08:42h, 13 November Reply

    posisi AC on rpm naik kalau tidak ada pengaruhnya terhadap trasmisi terus kira kira apa ya? soalnya keterangan dari dari bengkel perneling/ transmisi harus diturunkan lagi.
    maaf mas itu mesin penther 25 + transmisi komplit aku pasang di jeep cj7 pedal kopling menggunakan cj7 soal lari,di tanjakan tidak ada maslah cuman masalahnya pada transmisinya. Mhn Pencerahan Trims

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 11:33h, 13 November Reply

      Kalo perkaranya cuman RPM naik kalo AC on sih sangat sederhana. Itu dikarenakan adanya IDLE-UP yang setelannya kegedean. Setel ulang aja idle-up-nya selangsam mungkin supaya RPM stabil terhadap on off nya kompresor AC. Setel sendiri bisa. Kalo males ya ke tukang AC.

      Idle-up bekerja dengan vacuum, berbagi dengan booster rem. Tanpa idle-up, ketika kompresor AC bekerja, RPM turun karena ada beban tambahan. Bahkan mesin bisa mati jika pedal gas sedang dilepas, misalnya sedang ngerem atau stasioner. Maka ditambahkan idle-up supaya gas ditambah ketika kompresor AC bekerja. Setelan yang paling optimal adalah supaya RPM langsam (tidak turun) ketika kompresor AC kerja. Tapi kadang salah setel, kegedean, sehingga RPM naik ketika kompresor AC kerja.

  • anton
    Posted at 15:53h, 09 April Reply

    Sore mas jeep cj7 as roda 2 kali patah sebelah kanan jika dimodif untuk memperkuat as roda biar tidak mudah patah menggunakan apa mas, mhn pencerahannya matr nuwun.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 21:07h, 19 April Reply

      Maaf baru baca, maklum ada kesibukan.
      Muat apa sampai as patah? Jangan-jangan as kawe bikinan India? Kalo kasus patah, as Jeep CJ7 ori lebih kuat dari as Mitsu L300 maupun Toyota Hiace loh. Umumnya bukan patah, tapi flange (atau nap) roda copot/dol dari as karena penahannya terlalu kecil, dan itupun biasanya karena salah pasang.

  • anton
    Posted at 16:00h, 09 April Reply

    banyak yang menyarankan pakai as roda one pice tapi aku masih ragu

  • Gustaf
    Posted at 23:28h, 05 May Reply

    Malam Om Deru
    Mau nanya pendapat
    Mobil saya Mazda 2 2011

    Saya ada masalah dengan pengereman, jika kondisi mobil jalan dengan AC menyala. Jika jarak sudah agak jauh, rem sering loss, atau ada bunyi gesekan yg sangat mengganggu om, kayak berasa besi ketemu besi. Jika kondisi saya di kecepatan +40km/jam. Jadi kalau rem dadakan. Kayak ada suara gitu om. Uda gitu kalau jalanan lancar ada suara ‘tek…tek…’ bunyi teratur, dan seirama

    Tp jika AC mati, semua sistem pengereman berjalan lancar.
    Saya sudah 3x ke bengkel resmi, tp hasilnya sama aja. Mereka bilang normal, tp setelah saya coba. Masalah yg sama muncul terus.

    Apakah ada pengaruh antara AC ke Master rem?

    Mohon bantuannya mana yg harus duluan saya lakukan? Karena kalau check rem, saya sudah ganti untuk Cakram-nya. Karena katanya kalau ada indikasi gesekan. Katanya cakramnya bengkok. Setelah saya ganti, tidak ada perubahan

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:01h, 06 May Reply

      Hubungan antara rem dengan AC yang paling umum adalah di vacuum compressor. Tugas utama vacuum adalah untuk menyedot booster rem ketika pedal rem diinjak. Sedotan harus dibagi ke idle-up AC jika pas ketika pedal rem diinjak, kompressor AC on. Mestinya gak masalah karena yang ke idle-up AC sangat kecil.

      Tapi jika rangkaian ke idle-up ada yang bocor, ceritanya akan jadi lain. Sedotan ke booster akan sangat kurang, sehingga rem agak los. Jadi saran saya, periksa rangkaian idle-up, yaitu dari slang karet kecil nyambung ke switch (solenoid), nyambung slang kecil lagi hingga aktuator idle-up. Pastikan gak ada yang bocor. Jika ada yang bocor, perbaiki atau ganti dengan yang baru.

  • Sulistiandriatmoko
    Posted at 12:38h, 05 July Reply

    Selamat siang mas Deru Sudibyo,

    Perkenankan saya memperkenalkan diri, saya Sulis domisili di Tangerang Selatan.

    Mohon penjelasan,

    Mobil Toyota LC serie 80 (Tahun 1997) kalau turunan sangat panjang (contoh: turun dari dari kampung Kasepuhan Cipta Gelar di Kawasan Hutan Lindung Gunung Halimun di Sukabumi) terjadi rem los (tidak berfungsi atau ngelos), setelah berhenti cukup lama dan remnya didinginkan dengan cara disiram air baru kemudian setelah dingin remnya berfungsi normal lagi. Mohon penjelasan mengapa terjadi demikian? Apakah cara mengatasi dengan cara mendinginkan cakram rem dengan disiram air itu bisa dibenarkan?

    Terima kasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 01:29h, 06 July Reply

      Supaya enak diskusinya, sebelumnya saya ingin tahu beberapa hal sbb:
      (1) Apakah semua komponen rem masih aslinya dan standard?
      (2) Apakah ketebalan brake pad depan dan shoe/pad belakang masih 75%+ ?
      (3) Belakang pakai tromol apa cakram?
      (4) Jika tromol, apakah setelannya sudah maximum dan nggak bisa dinaikkan lagi?
      (5) Kapan ganti minyak rem terakhir?
      (6) Apakah ukuran ban dan suspensi masih standard?

  • faisol
    Posted at 08:48h, 16 May Reply

    Mohon bantuannya pak..
    kijang lgx 2.0 kalo pedal rem diinjak perlahan maka serasa ambles… namun jika diinjak sidikit lebih cepat maka remnya normal.. dalam artian lebih tinggi dan pakem… sblmnya mksh

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 23:44h, 24 May Reply

      Maaf cukup lama nggak jawab. Maklum sibuk.

      Kelihatannya dinding silinder yang semula tak terjangkau seal piston rem menjadi terjangkau. Artinya, langkah piston rem menjadi lebih panjang. Dinding silinder tersebut biasanya permukaannya sudah jelek karena kotor. Tidak bocor karena kotor, tetapi kompresi sudah melewati maximum sehingga pedal sudah dalam, tetapi tekanan habis buat mengisi ruang tambahan. Ini biasanya terjadi jika cakram atau tromol sudah menipis.

      Untuk tromol bisa diatasi dengan ditambah setelan jika masih ada. Jika setelan sudah habis, tentu harus ganti tromol.

      Untuk cakram, solusi sementara bisa dengan menambah ganjel di belakang breakpad. Ganti cakram tentu lebih baik.

  • Ahmadyani
    Posted at 02:36h, 18 June Reply

    Maaf pak mau tanya, pada saat mesin hidup, boster nekan sendiri tanpa injak pedal. Fungsi per yg di pedal untuk apa ya pak? Mohon pencerahannya pak,terimakasih.

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 15:36h, 18 June Reply

      Berarti klep mampet, sehingga hisapan vakum tidak ternetralisir. Seharusnya klep baru menutup ketika pedal diinjak, sehingga efeknya membran terhisap ke depan dan mendorong piston rem. Ketika pedal dilepas, klep kembali membuka dan daya hisap hilang dan membran terdorong ke belakang oleh per / pegas dan menarik piston ke posisi home.

      Pegas atau per berguna untuk mengembalikan posisi membran ketika hisapan vakum netral.

  • suharman
    Posted at 10:16h, 30 July Reply

    maaf pak mau nanya nich saat ngijak malah gas nya tambah naik apa yah masalah nya mohon penjelasannya trima kasih

    • mm
      Deru Sudibyo
      Posted at 00:55h, 31 July Reply

      Nginjak apa? Jika yang dimaksudkan nginjak pedal rem, mungkin ada bagian pedal rem yang nyangkut pedal gas. Misalnya dinding firewall kropos atau retak sehingga ketika pedal rem diinjak, posisi dinding maju dan sarung kabel gas mundur. Efeknya sama dengan pedal gas diinjak.

Post A Comment