Merekayasa Kelayakan Jeep® CJ-7

01 Oct Merekayasa Kelayakan Jeep® CJ-7

Jeep® sejak generasi Willys hingga Wrangler TJ dan LJ sebenarnya masih mengandalkan rancangan anatomi yang sama, yaitu kendaraan untuk mobilisasi taktis militer di medan tempur. Sehingga selain harus memiliki kemampuan speed offroad, juga harus sekecil mungkin, seringan mungkin, dan mampu mengangkut personil dan peralatan militer secukup mungkin untuk melakukan misinya. Untuk mendukung kemampuan speed offroad tentu harus dengan mesin berteknologi sederhana supaya lebih tahan banting namun dapat menghasilkan tenaga yang layak. Sehingga umumnya dipilih mesin berukuran besar meski untuk mobil sekecil itu. Rangka yang kuat dan kaki harus kokoh untuk menerjang medan berat serta memikul mesin besar dan pasti dilengkapi fitur 4WD. Meski mobil sudah diklaim jauh lebih ringan dari yang semestinya, namun untuk memperkokoh kaki, depan-belakang umumnya mengandalkan as model full floating. seperti nampak pada gambar Jeep® Willys di atas.

Karena mesin, rangka dan kaki berbahan baja, tentu menjadi faktor utama dalam hal bobot. Makin besar mesinnya tentu makin berat. Makin kokoh rangka dan kakinya tentu makin berat. Padahal maunya seringan mungkin. Sehingga harus dibayar dengan bentuk bodi yang sesederhana mungkin. Plat bodi hanya selapis dan hanya setengah bagian bawah saja. Bagian atasnya terbuka, karena selain untuk memudahkan membidikkan senapan ke segala arah, juga sekaligus sebagai pintu sekeliling bodi. Karena pintu dan dinding tidak sesuai dengan taktis militer yang harus serba cepat. Sehingga standarnya tidak ada pintu maupun atap. Jika diperlukan, atap cukup dengan terpal.

Rupanya meminimalkan bodi masih belum cukup ringan. Untuk menguranginya lagi, fender atau spakbor depan selapis plat berbangun genjang sepihak sekedar untuk menangkis cipratan lumpur yang mengarah ke penumpang. Spakbor belakang juga selapis namun dibangun sekaligus sebagai tempat duduk penumpang dan kuda-kuda pengokoh bak bodi. Sehingga bentuknya kotak seperti peti terbalik. Penumpang belakang duduk berhadapan seperti duduk di angkot. Jika penumpang belakang ingin duduk nyaman menghadap ke depan (mungkin perwira), ditambahkan kursi kecil yang di tempatkan di antara kotak spakbor. Konsekuensinya, hanya cukup untuk 2 orang yang berbadan ramping.

Sebenarnya karena dirancang sebagai alat mobilisasi taktis militer, tentu awalnya tidak ada satupun bagian yang layak bagi orang sipil. Mesin besar dengan teknologi sederhana pasti boros BBM. Bodi terbuka tanpa pintu pasti tidak nyaman dikendarai. Suspensi kasar dengan ayunan per daun yang tanpa kekangan contol arm, track bar maupun sway bar menambah ketidaknyamanan penumpang.

Namun, di balik ketidaknyamanan tersebut, ada hal esensial yang kadang juga dibutuhkan orang sipil yang memiliki aktivitas khusus di medan yang tidak dapat ditembus dengan kendaraan biasa. Bahkan ada pula orang sipil yang agak egois tidak mau mengalah ke jalur alternatif manakala terhalang oleh kerusakan jalan, serta gemar potong kompas demi waktu meski harus menempuh jalan yang tidak layak. Maka akhirnya Jeep® secara bertahap makin banyak yang beredar di masyarakat sipil, terutama di wialayah perkebunan dan kehutanan. Inilah yang mengusik pihak pemasaran Jeep® untuk menerbitkan versi sipilnya.

 

Hadir Jeep untuk sipil

Meski jeep versi sipil diproduksi sejak tahun 1944, yaitu Willys CJ-1, namun kita sulit membedakan dimana khas sipilnya. Karena ujudnya masih sama. Yang tampak hanya tidak dilengkapi fitur blackout lighting saja.

Sejak memasuki generasi CJ-3, produk Jeep® versi sipil baru mulai tampak beda. Persisnya setelah kerjasama dengan Mitsubishi di Jepang memproduksi Jeep J3 sejak tahun 1953. Kode J3 tidak berkaitan dengan CJ-3. Namun itupun tidak nampak khas sipilnya, karena ujudnya masih sangat militer banget seperti Willys.

Ujud khas sipil baru nampak setelah Mitsubishi Jeep J3 menghadirkan varian J37 station wagon yang penampakannya seperti pada gambar sebelah. Jeep J37 tetap berbasis bangunan aslinya, mobil militer. Hanya bodinya direkayasa ulang menjadi model wagon ataupun minibus. Rangka sasis dan kaki masih berbahan sama dengan yang versi militer. Sekilas dari belakang tidak mirip Jeep. Terlebih warna-warninya yang sudah jauh keluar dari kekhasan Jeep yang hijau militer. Tapi jika diperhatikan mukanya, masih jibles Jeep® Willys.

Baru pada generasi CJ-7, yaitu di pertengahan dekade 1970an, muncul produk SUV yang benar-benar versi sipil, seperti Cherokee, Wagoneer dan pickup J20 Gladiator serta J10 traktor penarik pesawat. Tidak ada lagi kemiripan dengan Willys dari sudut pandang manapun. Kekhasan sebagai produk Jeep® yang tersisa hanyalah fitur 4WD. Bodi lebih aman dan nyaman bagi orang sipil. Mesin lebih kuat untuk mencapai kecepatan layak di jalan raya. Rangka sasis dan kaki juga kemungkinan lebih kekar, karena selain untuk mendukung bodi dan mesin yang lebih berat, juga untuk memenuhi kategorinya sebagai produk Jeep® yang selalu menjanjikan kemampuannya di medan berat. Sementara orang sipil dianggap tidak terlatih untuk mengatasi masalah mobil, terlebih di medan liar, seperti militer. Sehingga jeep yang dibawanya harus benar-benar handal.

Meski demikian, produk Jeep®, yaitu sederet generasi CJ, dari CJ-1 hingga CJ-8, konstruksinya masih persis sama dengan Willys. Mereka dikategorikan sebagai Universal Jeep yang maknanya adalah share untuk sipil dan militer. Oleh karena itu ada yang bilang CJ singkatan dari Civilian Jeep. Mungkin maknanya, civilian adalah sipil dan jeep adalah mobil taktis militer. Tapi itu info yang tidak akurat, karena giliran XJ (Cherokee) dan WJ (Wagoneer) tidak pernah ada pihak yang menjelaskan singkatan apa pula itu. Lagi pula jeep adalah brand atau merek Jeep® yang disalahkaprahkan menjadi jenis kendaraan 4×4.

 

Kabin tak layak untuk sipil

Kembali ke produk utama Jeep®, sejak sederet generasi CJ milik AMC hingga Wrangler YJ dan TJ/LJ milik Chrysler sebenarnya masih mengandalkan rancang bangun yang mirip dengan Willys. Bedanya, spakbor depan terpadu dengan bodi, meski tutup mesin (hood) tetap sebatas ruang mesin seperti Willys untuk mengurangi bobot.

Kabinnya tak layak untuk sipil, terutama penumpang belakang. Jika mengikuti anatomi bodi, duduk berhadapan kiri dan kanan. Untuk jarak jauh maupun menembus medan terjal, penumpang belakang bisa limbung dan klenger. Setahu saya yang ginian hanya ada di varian CJ-7, yaitu model Spirit. Kelebihannya, penumpang belakang naik-turun melalui pintu buritan yang lebih layak seperti Taft dan LC40, karena tidak menyusahkan penumpang lain dan tidak perlu melipat kursi. Tetapi begitu duduk seperti naik angkot, tentu sangat tidak layak.

Selain model Spirit, penumpang belakang duduk menghadap ke depan. Sepertinya lebih layak. Namun kursi berada di antara kotak spakbor roda belakang kanan dan kiri seperti tampak pada gambar sebelah. Tentu saja kursinya kecil. Untuk penumpang gembrot serba salah, karena satu orang lega tapi dua orang nggak cukup.

Selain itu, senderan pendek setengah punggung sangatlah tidak aman. Entah apa maksudnya, padahal ditinggikan pun sebenarnya masih ada ruang yang cukup. Memang penumpang belakang lebih terlindung terhadap benturan dari samping. Bagian atas terlindung oleh roll bar dan bagian bawah terlindung oleh kokohnya spakbor kotak. Namun jika tertabrak dari belakang, tulang punggung bisa patah karena gentakan spontan. Untuk yang menyadang hardtop, pecahan kaca belakang juga bisa melukai bagian belakang kepala, leher maupun punggung.

 

Kabin layak sejak hadirnya JK

Baru setelah hadir generasi Wrangler JK (sejak 2007), kabin menjadi benar-benar layak sebagai mobil sipil. Jeep® Wrangler JK memang benar-benar sebuah perubahan besar universal jeep. Untuk militer semakin layak, namun untuk sipil juga makin layak pula. Bodi kembali ke model Willys dimana dari pintu depak ke depan meruncing dan spakbor depan tidak integral dengan bodi. Kaki meski mengandalkan per keong tetapi dirancang sangat flexsibel, terutama varian Rubicon yang dilengkapi autodisconnet sway bar, dan sangat kuat meski tidak mengandalkan as full floating. Tenaganya, baik yang versi bensin maupun diesel juga sangat dahsyat. Sehingga JK dinobatkan menjadi SUV teratas dalam dunia offroad.

Di balik kemampuannya sebagai mobil militer yang jauh mengungguli generasi pendahulunya, JK juga memiliki kabin yang lebih layak untuk sipil. Kelayakannya bahkan nyaris tidak kalah dengan SUV sipil sekelas Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport dan lain-lain yang sekelas itu. Kursi penumpang belakang sudah layak, baik yang versi pendek maupun panjang (JK Unlimited).

Pada Jeep® JK versi 2 pintu, kursi belakang hanya untuk 2 penumpang, tetapi lega, layak dan aman. Sehingga secara keseluruhan, JK 2 pintu adalah mobil untuk 4 seater (pengemudi dan 3 penumpang).

Anatomi bodi JK memang sudah jauh berbeda. Bobot bodi sudah tidak menjadi parameter utama seperti generasi sebelumnya. Plat dinding dirangkapi tulang, sehingga spakbor belakang tidak lagi harus kotak seperti peti berfungsi ganda. Lagi pula bodi dan track roda lebih lebar dengan posisi roda 1/2 di luar bodi, maka ruang spakbor bisa dirampingkan. Sehingga ruang untuk kursi lebih lebar. Cukup nyaman untuk duduk 2 orang yang cukup gembrot. Bahkan sebenarnya untuk orang Asia seukuran saya bisa dipaksakan 3 orang, meski tentunya kenyamanan menjadi terganggu.

Kursinya pun dilengkapi senderan hingga kepala. Tentu menjadi lebih aman terhadap benturan spontan dari belakang. Pecahan kaca belakang, bagi yang menggunakan fitur hardtop, terhalang oleh senderan kursi yang tinggi hingga kepala, Benturan dari samping dihadang oleh tiang roll bar dan kokohnya spakbor kotak. Juga disediakan sabuk pengaman untuk setiap penumpang belakang yang tentunya menambah kelayakan.

Sedangkan Jeep® JK versi 4 pintu, kursi belakang untuk 3 penumpang. Kursinya tetap 2 baris, bukan 3 baris seperti SUV wagon Land Cruiser, Fortuner maupun Pajero. Karena memang JK bukan mobil kelas wagon. Panjangnya bodi hanyalah menambah ruang untuk bagasi. Sehingga JK 4 pintu layak digunakan untuk berkelana jarak jauh seperti Cherokee maupun SUV panjang merek lain yang berkelas van, antara lain Nissan Terrano, Toyota Land Cruiser seri 55, 76 dan 77.

Meski kursi belakang tampaknya seperti 2 kursi, namun bagian tengahnya cukup untuk satu penumpang tambahan. Sehingga secara keseluruhan JK 4 pintu dikatakan sebagai SUV 5 seater (pengemudi dan 4 penumpang). Tentu penumpang belakang yang duduk di tengah tidak senyaman yang lain.

Namun demikian, penumpang belakang JK 4 pintu tidak seaman JK 2 pintu dalam menghadapi benturan samping. Karena bagian atas tidak terlindung. Tidak ada tiang bodi, sementara tiang roll bar berada di belakang kursi. Kelak jika ada jodoh untuk memiliki JK 4 pintu, mungkin akan saya cangkokkan tiang roll bar pada posisi penumpang belakang demi keamanan. Sehingga roll barnya menjadi 6 titik.

Meski sebenarnya universal jeep, yang tentunya bisa untuk sipil maupun militer, namun di generasi JK, Jeep® juga merilis JK yang khusus untuk militer yaitu J8. Kabinnya disederhanakan dan kakinya diperkuat lagi dengan Dana 60 depan-belakang yang hampir setara kekuatan kaki Toyota Land Cruiser maupun Nissan Patrol. Sejauh ini Jeep® Wrangler J8 hanya mengandalkan mesin diesel CRD 2.8L dan berbasis rangka JK Unlimited. Suspensi roda belakang menggunakan per daun. Roda depan masih tetap JK, menggunakan per keong berkonfigurasi 4-link. Roll bar macam-macam, ada yang 4 titik seperti JK ada yang 6 titik dan ada pula yang custom sesuai kebutuhan seperti pada gambar sebelah.

 

Kecepatan di jalan raya tak layak hari ini

Kecepatan pacu Jeep® CJ-7 umumnya dikendalikan dengan transmisi manual 4 tingkat kecepatan. Barangnya umumnya Borg Warner (BW) T4 dengan transfer case Dana 300. Ada pula yang menggunakan BW T5 dengan 5 tingkat kecepatan manual, tapi sangat jarang. Ada juga yang otomatik 3 tingkat kecepatan, tapi lebih jarang lagi.

Yang saya rasakan sehari-hari adalah transmisi manual 4 tingkat kecepatan dan menurut saya kurang layak. Kenapa? Karena jika lari di tol paling lemot… temannya rombongan truk. Mungkin hanya sekedar subyektivitas, karena kenyataannya lari 100 km/jam nggak ada masalah, dan di tol kan tidak boleh lebih dari itu. Namun berhubung hampir semuanya memilih di atas 100 kpj, maka CJ-7 terasa lemot. Meski sebenarnya masih mampu dipacu di atas 120 kpj, tapi kurang pe-de mendengar getarnya mesin. Memang aneh… di tol umumnya kecepatan yang diijinkan adalah 60 kpj hingga 100 kpj. Tapi justru semua di luar itu. Truk-truk barang rata-rata di bawah 60 kpj. Sementara mobil pribadi di atas 100 kpj.

Ketidaklayakan kecepatan CJ-7 baru saya rasakan sejak tahun 2000 dimana semua mobil sudah menyandang transmisi 5-speed atau lebih dan bagi yang bobotnya di atas 1 ton tenaganya di atas 80PS. Sebelum 2000 masih ada beberapa mobil lain yang lebih lemot. Terlebih sebelum tahun 1995, nunggang Jeep® CJ-7 di tol boleh dibilang masih bisa kemaki. Banyak mobil yang tidak mampu mengejarnya meski sudah menggunakan transmisi 5-speed. Karena ketika itu mobil persun yang sebobot CJ-7 umumnya bertenaga di bawah 80PS.

Kejayaan legenda Jeep® CJ-7 sudah tinggal kenangan. Kini Jeep® CJ-7 merupakan mobil paling lemot di jalan raya, meski tongkrongannya tak lekang dimakan usia. Itulah resiko yang harus dihadapi bagi produk lintas jaman. Terlebih Jeep® CJ-7 yang faktanya hari ini masih tetap hidup setelah melintasi 3 generasi mendampingi cicit-cicitnya, Jeep® JK dan J8. Sehingga mencermati kelayakan kecepatan Jeep® CJ-7 dengan tolok ukur otomotif hari ini, yang paling adil adalah menghadirkan Jeep® JK atau Jeep® J8 yang lahir sudah dengan transmisi 6-speed manual atau 5-speed otomatik.

Namun harus diakui, transmisi 5-speed atau lebih tentu akan sangat menolong jika disandangkan pada sang kakek buyut Jeep® CJ-7 hari ini, setidaknya jeep saya. Meskipun saya akan selalu mematuhi aturan tidak melebihi 100 kpj, dengan transmisi 5-speed, jeep saya pasti akan terasa lebih nyaman. Ketika kecepatan sudah di atas 70 kpj, beralih ke gigi 5 akan mengurangi deru RPM sekaligus menghemat BBM. Toh torsi dan tenaga masih sangat cukup. Terlebih jeep saya bermesin diesel 3400cc (13B). Tenaga 105PS dengan torsi 240Nm tentu akan terasa jauh lebih padat dan galak di kecepatan 70 kpj gigi 4 dibandingkan versi bensinnya yang 4200cc karena torsinya di bawah 200Nm. Sehingga andaikan ada gigi 5, total jenderal lebih unggul di kecepatan berapapun dan tanjakan seperti apapun.

 

Suspensi tak layak untuk sipil hari ini

Bicara soal suspensi Jeep® CJ-7 hari ini, tentu saja sangat tidak layak. Mobil pendek dengan per daun depan belakang, tentu efek limbungnya akan sangat terasa. Terasa mirip nunggang TLC40 maupunTaft sebelum IFS (1996), hanya sedikit lebih empuk jika per masih standar. Efek ayunan horizontalnya sangat terasa, baik goyangan kanan-kiri ketika belok atau menempuh medan tak rata, maupun ayunan depan-belakang ketika ada perubahan kecepatan. Jadi ketika menembus jalan rokel dengan kecepatan berubah-ubah, penumpang rasanya seperti naik perahu. Bagi militer nggak masalah. Tapi bagi penumpang sipil, terlebih ibu-ibu hamil, mungkin akan mempercepat kelahiran si orok.

Pada generasinya, suspensi CJ-7 tidak dikatakan tak layak. Karena ketika itu semua suspensi mobil seperti itu. Bahkan yang IFS pun, umumnya roda belakang dengan per daun bagi yang menggunakan as rigid seperi Taft IFS, Isuzu Trooper dan mobil-mobil IFS non-SUV. Pendek kata, selama ada per daun, efek limbung tetap terasa, meski tidak sebesar yang rigid depan-belakang.

Suspensi Jeep® CJ-7 baru terasa tidak layak hari ini, dimana hampir semua mobil sudah dikekang efek limbungnya. Suspensi independent memang tidak ada efek limbung. Tapi as yang rigid pun hari ini tidak ada efek limbung berkat ditemukannya track bar. Sama-sama masih per daun depan-belakang, Jeep® Wrangler YJ jauh lebih stabil, karena sudah dilengkapi track bar depan-belakang. Ayunan horizontal depan-belakang mungkin masih sedikit terasa karena per daun tidak sekaku control arm pada per keong. Tetapi ayunan kanan-kiri sudah dinetralkan oleh track bar.

Hari ini Jeep® CJ-7 menjadi mobil yang paling tidak layak suspensinya semata berkat umurnya yang kelewat panjang. Mobil lain segenerasinya umumnya sudah menjadi besi tua dijual kiloan. Tetapi berkat tongkrongamnya yang mempesona, CJ-7 rata-rata masih terawat dengan baik, bahkan masih banyak yang digunakan sebagai kuda harian seperti saya. Sehingga terpaksa harus bersaing dengan cicit-cicitnya yang sudah jauh lebih canggih. Barulah terkuak semua kekurangannya.

Bagi yang tetap fanatik dengan per daun, mungkin bisa mensiasatinya agar lebih layak. Ada juga yang memilih merombak total dengan per keong seperti TJ. Bahkan saya pernah melihat CJ-7 yang suspensi depannya IFS seperti Trooper di Makati, Filipina. Namun saya yakin, yang paling banyak pasti yang membiarkan apa adanya, terutama bagi mereka yang memiliki Jeep® CJ-7 hanya sekedar untuk koleksi dan nostalgia, bukan kuda harian.

 

Merekayasa kabin CJ-7 selayak JK 2 pintu

 

Di sinilah kita mulai memasuki inti cerita. Kali ini adalah renovasi dan pengecatan setelah as belakang diganti dengan model full floater. Ada 5 panel plat yang diganti supaya tidak ada tambalan, yaitu lantai kabin bagian depan (dari kaki roll bar hingga bawah pedal dengan plat 2.0mm dan bodi samping di panel spakbor belakang kanan-kiri dengan plat 1.2mm, serta buritan selain pintu bagasi dengan plat 2.0mm. Super kekar bukan?

Setelah melihat foto-foto disini, mungkin ada yang bertanya-tanya, kok latar belakangnya kebon. Nah itulah hobi saya. Saya lebih memilih bengkel pinggiran yang sederhana seperti ini karena selain ongkosnya miring, pada umumnya mereka tidak keminter. Mereka juga lebih sok akrab sehingga lebih enak dalam komunikasi. Sedangkan bengkel besar, para pekerja hanya tunduk pada bosnya.

Rasanya terlalu bombas mengatakan itu, kasihan mereka yang memiliki JK 2 pintu he he 🙂 Lagi pula saya lakukan rekayasa itu jauh sebelum JK hadir, yaitu awal tahun 1996. Bahkan generasi TJ yang lahir di tahun itu belum ada yang beredar di negeri ini. Sehingga ketika itu hanya jeep sayalah yang kabinnya paling layak. Namun karena dasar pemikiran saya ketika itu ternyata sama dengan JK engineer 11 tahun kemudian, maka tidak berlebihan kiranya jika saya katakan seperti subjudul di atas. Bahkan karena foto kabin jeep saya pernah saya tayangkan dalam iklan online di mobilku.com sebelum tahun 2007, maka boleh jadi Jeep engineer lah yang mencontek ide dan hasil rekayasa saya. Namun mohon maaf, saya tidak sedang menuduh, bahkan sama sekali tidak peduli soal itu. Saya pun tidak murni gagasan daya cipta sendiri. Terus terang saya juga terinspirasi oleh sesuatu yang sudah ada, yaitu kabin Land Cruiser seri 70 yang versi 3 pintu.

Awal pemikiran saya terfokus pada 2 hal yang ketika itu benar-benar saya cermati. Pertama adalah spakbor kotak yang mudah keropos karena menjadi sarang lumpur, terutama yang terjebak di sudut-sudut. Lagi pula ketika keroposnya nampak dari luar, pas di atas fender flare, sehingga tampak menjijikan. Maklum, ketika itu jeep itu adalah satu-satunya mobil yang tentunya dipaksa kerja terus-menerus dan nyaris tidak ada waktu untuk ngantri di cucian mobil. Paling-paling dicuci sendiri yang tidak bisa sebersih yang saya harapkan. Giliran ke cucian mobil, kena tembak air dari bawah, sudut yang sudah mulai berkarat semakin nambah luka untuk merembetnya karat. Kadua adalah kabin yang sempit dan tidak aman untuk penumpang belakang.

Karena jeep saya bersumbu lebar, kolong kotak spakbor nyaris hanya terisi 1/4 roda. Dengan ban standar bertapak 9 inci, 3/4 ketebalan roda berada di luar bodi. Sehingga sempat terpikir untuk merampingkan ukuran kotak seperti yang disandang Jeep® JK 2 pintu 11 tahun kemudian. Namun karena sudut kotak tetap rentan karat, maka akhirnya saya pilih model baskom seperti Land Cruiser seri 70 yang 3 pintu. Lantas muncul dilema, karena dinding belakang CJ-7 tidak bertulang seperti LC70 3 pintu. Dengan spakbor baskom tentu akan menjadi lembek. Terlebih jeep saya pakai hardtop yang tentunya lebih berat ketimbang terpal, bisa-bisa bodi akan mengkang ke luar.

Akhirnya muncullah gagasan untuk menambah tulang pada dinding di atas spakbor belakang. Agar esensi jeep keturunan Willys ini tidak lenyap total, maka tulang saya rancang removable dengan pipa seperti yang tampak pada gambar. Konstruksi tersebut saya yakini jauh lebih kekar ketimbang spakbor kotak aslinya. Dinding bodi juga tidak terancam karat karena bukan lagi menjadi kolong spakbor. Sudah terbukti tidak ada keropos di sekitar spakbor selama 11 tahun. Renovasi kali inipun meski plat dinding saya ganti, tetapi bukan karena keropos. Melainkan menambah ketebalan menjadi 1.2mm. Memang ada sedikit keropos, tapi di bawah pintu, bukan di daerah spakbor.

Karena menjadi lega, maka kursinya pun saya melarkan dengan mengadopsi 2 kursi depan digandeng jadi satu. Tentu senderannya juga tinggi mencapai kepala penumpang. Dengan demikian saya berani bilang bahwa rancangan kabin jeep saya ini secara keseluruhan jauh lebih kekar ketimbang JK 2 pintu yang hadir 11 tahun kemudian.

Sayangnya roll bar masih asli versi CJ-7 yang kurang melindungi bagian atas penumpang belakang karena tiang belakang miring seperti kaki huruf A. Namun untuk merubahnya harus saya pertimbangkan dulu dengan investasi yang sudah ada. Pasalnya gara-gara jeep itu sudah dilengkapi dengan ransel segitiga kanan-kiri yang tidak mungkin bisa terpasang jika tiang belakang roll bar dirobah menjadi tegak seperti Jeep® generasi Wrangler. Dan ransel tersebut bagi saya banyak sekali manfaatnya.

Untuk menambah kenyamanan, dinding hardtop sisi dalam ditutup dengan bahan interior mobil pada umumnya. Sehingga penumpang tidak merasa seperti di balik cungkup hardtop-nya jeep. Dulunya menggunakan bahan berbulu seperti karpet. Ternyata susah dibersihkan. Kali ini dipilih bahan plastik lembut tak berbulu supaya mudah dibersihkan.

Jika dulu interiornya berwarna abu-abu gelap, kali ini dipilih warna abu-abu terang supaya tidak sumpek. Tetap nuansa abu-abu supaya serasi dengan warna sekitarnya. Plat bodi berwarna hijau gurun khas American Army. Jok kursi depan belakang dan trim pintu berwarna two tone hitam hijau. Trim bodi, dashboard dan console box hitam dov. Karpet lantai juga hitam. Sehingga tidak ada warna terang lain yang pas selain abu-abu muda untuk dinding dan atap.

Roll bar pun akan dibungkus dengan bahan yang sama tetapi berwarna hitam dan di dalamnya dibantali dengan karet busa supaya nggak bikin benjol jika ada yang kejedot. Bungkusnya masih aksesori asli bawaannya dengan warna hitam. Setelah terpasang menambah kesan kekekarannya karena menjadi agak bengkak.

Dalam gambar ini, baik roll bar maupun dinding interior masih tampak jelas dari luar. Karena kaca jendela samping masih murni terang benderang. Belum dilapis filem penggelap kaca. Rancananya, jendela samping dan belakang akan dilapis filem hitam atau hijau gelap supaya interior tidak terlalu nampak dari luar.

Selain sebagai aksesori dan penangkis panas (silau), filem kaca juga salah satu sarana pengaman. Kaca kristal tempered seperti itu akan pecah ambyar jika kena benturan. Meski tidak setajam dan sebahaya kaca beling, namun pecahan kaca tempered juga bisa membahayakan penumpang jika kena mata. Dengan dilapis filem, diharapkan pecahan kaca tidak ambyar kemana-mana.

Ada yang bilang filem model cermin akan menambah gaya dalam penampilan. Dengan tegas saya jawab tidak! Itu sama juga si pandir yang bikin lampu rem terang dan berwarna putih. Memasang filem nuansa cermin terlebih di kaca belakang adalah memproduksi dosa sepanjang jalan. Hanya orang bodoh dan egois saja yang melakukan itu. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kendaraan lain di belakangnya. Mereka memang merasa nikmat jika ada orang lain keseulitan. Lebih konyol lagi sudah bikin silau didahului nggak mau. Sebaiknya perlu dibikin satu ayat tambahan dalam hukum lalulintas pasal menabrak dari belakang. Jika ternyata si korban menggunakan asesori penyilau di belakang kendaraan, baik filem kaca nuansa cermain maupun lampu rem warna putih, si penabrak dinyatakan tak bersalah.

Macho tapi sesuai fungsi

 

Jeep® model CJ-7 memang harus tampil macho, lebih macho dari nenek moyangnya, Jeep® model Willlys. Terlebih yang bersumbu lebar seperti tunggangan saya itu. Gagah mengangkang bak seorang jagoan yang sedang kuda-kuda siap tempur. Sebenarnya, di balik penampakannya yang gagah, ada hal yang lebih penting, yaitu stabilitas. Makin lebar sumbu tentu makin stabil.

Namun jika kurang cermat, minusnya pun akan muncul. Dengan ban standar saja, 3/4 ketebalan ban berada di luar bodi. Sehingga fender flare (bibir spakbor) standar sebenarnya tidak memadahi. Kalau pas memasuki medan berlumpur atau becek, cipratan lumpur kemana-mana mengotori sekujur bodi.

Masalahnya bukan semata-mata bodi jeep menjadi kotor saja. Lebih dari itu adalah soal keamanan. Karena kaca spion, baik yang di pintu maupun di ujung depan semuanya menjadi tidak berfungsi karena tertutup lumpur. Satu-satunya yang masih berfungsi hanya kaca spion kabin. Itu pun hanya jika kaca jendela belakang masih tembus pandang. Maklum CJ-7 tidak di lengkapi wiper kaca buritan seperti Jeep® generasi Wrangler. Kelayakan kabin tentu tidak ada gunanya jika mobil menjadi tidak aman gara-gara spion tak berfungsi.

Semula saya ganti dengan flare bikinan sendiri berbahan plat tipis, dibentuk mirip aslinya hanya lebih menonjol 5 cm guna menghadang cipratan lumpur. Memang terbukti efektif. Namun kali ini saya ingin sedikit perubahan. Ada yang nawarin flare model Bushwhacker, produk imitasi berbahan fiberglass. Kemenonjolannya sama dengan flare plat yang saya pakai selama ini. Tetapi modelnya lebih terkesan kaku mirip punya YJ dan TJ, namun model lampu sein (depan) masih model CJ-7. Rasanya jadi naksir setelah dicoba ditempel tampak makin macho.

Sayangnya, flare roda depan tidak ada buntut siripnya ke belakang seperti yang saya pakai selama ini. Lihat saja di foto sebelah, tampak ada celah antara flare roda depan dengan footstep (bancikan kaki). Celah itu jika tidak ditutup akan menjadi sumber masalah ketika melintasi medan becek, dan akan membuat flare tersebut total tak ada gunanya. Sehingga perlu dibikinkan sambungan yang serasi untuk menutupnya.

Juga bumper depan lupa bikin dudukan lampu sudut. Begitu inget sudah dicat rapih. Jadi solusinya sementara ya dibor, bikin cangkok di bawahnya. Tak apalah, kalau pun bikin dudukan juga tidak lama. Yang penting jeep siap dulu. Prenik-prenik bisa ditambahkan belakangan. Karena mungkin saja ada yang lain lagi, baik karena lupa maupun gagasan baru. Yang jelas, lampu sudut di ujung bumper untuk Jeep® model CJ-7 sangat penting untuk menunjukkan kepada kendaraan lawan seberapa lebar jeep ini. Mengingat hampir semua lampu muka jeep ini ngumpul di tengah.

Cagak antena versi militer terpasang di sudut kiri belakang. Gaya dan memang nambah kesan macho. Cagak antena ini dulunya untuk antena HT. Dari tahun 2004 hingga 2007 saya ikutan usaha penyulingan minyak nilam di kaki Gunung Slamet yang kini sedang dalam status waspada. Ketika itu minyak nilam memang bisnis aneh, di pelosok di gunung tapi menuntut agresifitas mirip togel. Di satu sisi, setiap hari harus berburu bahan baku, di sisi lain juga transaksi menjual minyak pada penawar tertinggi. Saya juga membeli minyak dari penyuling lain untuk menambah kuota produksi sendiri, karena kami menjual produk kami langsung ke Jakarta. Sehingga perlu ada komunikasi murah antar armada kami baik yang sedang berburu bahan baku maupun minyak. Maka dipilihlah radio HT versi rig dan pasang di tiap kendaraan kami, salah satunya jeep saya ini. Ketimbang susah di bagian mana antena harus dipasang, saya cari cagak khusus untuk jeep dan saya pasang seperti tampak pada gambar sebelah.

 

Sudah mendekati sempurna

Setelah rampung dicat dan ganti flare gaya YJ kayaknya ban menjadi culun ya? Karena ban itu sangat standar, 235/75-R15 dan pas bener dengan bibir flare. Kayaknya mesti diganti ban rokel model komodo ukuran 30″ MT biar tampak sedikit sangar. Sayangnya ban itu masih bagus meskipun umurnya sudah cukup tua. Ada 1 set ban Bridgestone 31″/10.5″-R15 bekasnya TLC dan kondisinya masih di atas 90%. Umurnya juga belum lebih dari setahun. Sayangnya model kembang AT, kurang sangar, meski sebenarnya daya dukungnya lebih kuat dan lebih tahan panas. Namun karena lebar tapaknya 10.5″ atau 266.7mm, jika dipasang pasti mlentung 32mm di luar bibir flare. Sebenarnya ban menonjol keluar segitu sih malah makin gagah. Cuman bikin kotor kalau melewati tanah becek. Jadi harus rajin nyuci. Yang pas mungkin tapak 245mm. Yang kurang cocok dalam selera seni saya, lingkaran 31″ terlalu gede untuk ukuran Jeep CJ-7. Sehingga mengurangi keserasian.

Sebagai Jeep® model CJ-7, jeep saya sudah tergolong nyaris sempurna, sebagai kendaraan kerja dan rekreasi. Mesin diesel 3.4L yang secara overall kinerjanya tidak kalah dengan versi bensinnya yang 4.2L. Rangka sasis sudah diperkuat dengan melapiskan plat 10mm pada batang sasis kanan-kiri dari depan hingga tengah dan menambah cross member di depan serta memperkuat dudukan transmisi menjadi sekaligus berfungsi sebagai cross member di tengah. Kekekaran rangka ini pernah terbukti ketika menyeruduk bus Miniarta pada tahun 1995. Jeep ini utuh tanpa cacat sedikit pun meski bus tersebut buritannya ambles hingga bangku paling belakang merapat ke bangku di depannya. Musibah tersebut terjadi pas kebetulan ada polisi dan saya dibebaskan karena bus itu berhenti mendadak di tengah perempatan jalan gara-gara dihentikan calon penumpang.

Kaki depan standar Dana 30 sudah cukup dan selama ini memang terbukti tidak pernah ada masalah meski pernah jumping hampir setinggi 1 meter. Kaki belakang yang selama ini ringkih karena mengandalkan AMC20 dengan as 2-piece telah saya konversi ke model full-floater di pertengahan Januari 2014 lalu. Sehingga untuk menanggung bobot CJ-7 saya yakin jauh lebih kuat dari Wrangler YJ maupun TJ. Dibanding Wrangler JK, kaki belakang jeep saya kalah dalam tahanan gandar, tetapi menang dalam umur laher berkat dukungan as full floater.

Bodi samping sudah diperkokoh dengan plat 1.2mm dan belakang dengan plat 2.0mm. Lantai juga sudah kokoh dengan plat 2.0mm. Yang masih plat aslinya adalah semua pintu termasuk pintu bagasi dan semua panel bodi bagian depan. Mau diganti sayang karena tidak ada cacat sedikitpun. Bahkan pengecatan kali ini pun nyaris tanpa dempul. Sehingga selain bagian depan, saya yakin bodi jeep saya tidak kalah kekar dibanding Land Cruiser.

Ditambah kabin yang layak (lega), pedal rem dan kopling yang ringan dan setir yang enteng (power steer orisinil) serta AC yang normal dan di antara 2 kursi depan terpasang console box, jeep saya sudah nyaris sempurna untuk kelas Jeep® model CJ-7. Bahkan dengan hardtop yang sedikit dilebarkan jendelanya dan menyandang aksesori militer seperti cagak antena militer dan jerican militer serta dilengkapi flare model Bushwacker yang macho, tentu penampakan jeep saya jauh lebih gagah dari Jeep® model CJ-7 pada umumnya. Bahkan secara subyektif menurut saya, jeep ini lebih gagah ketimbang Jeep® Wrangler model YJ maupun TJ. Terlebih nanti beberapa hari lagi setelah beberapa emblem dan sticker sudah ditempel… makin mak nyuuuuussss… 🙂

Kalahnya sama JK atau J8. Memang JK bikin ngiler he he 🙂 Oleh karena itu saya sedang mendalami kekuatan telekenesis untuk mengubah jeep tua ini menjadi Jeep® JK Unlimited Rubicon 4 pintu dengan as full floating depan belakang.

Bersambung kesini…

Notes:

  1. Beside my own pictures of my own stuffs, i reallize some others were just collected arbitrarily using Google image search tool without permission from their sources. I apologize if some of them are related to any restricted rights. I would say billions thanks for allowing me to share them here. In case, however, there is any objection, please do not hesitate, just leave your message in comment column and i will remove them immediately. Thank you.
  2. Some parts in this post probably sound like product evaluation for certain vehicle and vehicle component makes. It’s not really true. Some are just user’s testimonies and some others are common sense based personal opinion. I apologize if there is any objection, please do not hesitate, just leave your message in comment column to let me know how to correct it. Thank you.

 

Topik-topik terkait otomotif

 

 

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
6 Comments
  • aden mulyanto
    Posted at 05:58h, 02 October Reply

    Aleem bakal makin suka nih…

  • Deru Sudibyo
    Posted at 17:40h, 02 October Reply

    iye bener he he 🙂

  • Reiza Fairuz
    Posted at 15:08h, 07 October Reply

    Keren jadinya CJ mas Deru itu. BTW di foto terakhir, kelihatan pakai electric extra fan ya? CJ saya pakai juga mas, cuma karena memakan tempat dengan grill, membuatvdudukan radiaor mundur sedikit ke belakang kearah engine fan. Jarak bilah engine fan dengan dinding radiator jadi sempit banget, khawatir jika ada entakan engine, akan mendorong dan merusak radiator. CJ Mas gimana ngakalinnya ya agar jarak radiator dengan engine fan ngga terlalu dekat? Untuk tambahan info, engine mounting CJ saya sih sudah dirubah menggunakan mounting bracket custom mas, jadi diharapkan lebih ridig ‘duduk’di chasis.

  • Deru Sudibyo
    Posted at 20:10h, 07 October Reply

    Thanks berat atas sanjungannya bro 🙂 Extra fan itu saya pasang sejak 1995, pipih sekali. Total ketebalannya hanya 23mm karena sumbunya yg melenthung tidak kejepit grill. Jd ga ada pergeseran apapun. Nanti pada posting lanjutannya saya tayangkan gambarnya dari atas mesin.

  • Your full name
    Posted at 07:05h, 30 September Reply

    CJDW ya mas..

  • amrin
    Posted at 01:53h, 03 July Reply

    mas minta nomor HP yg bisa dihubungi

Post A Comment