ZDNet Asia tantang Gaji SDM IT di Indonesia, Benarkah?

08 Jan ZDNet Asia tantang Gaji SDM IT di Indonesia, Benarkah?

Hasil survei ZDNet Asia mengatakan bahwa gaji SDM IT di Indonesia rata-rata adalah sbb:

Sumber: www.zdnetasia.com/indonesia-it-salary-benchmark-2010-62204816.htm

Pertama sekali adalah sebuah pertanyaan; betulkah atau absahkah angka-angka yang disajikan ZDNet di atas? Memang agak meragukan. Namun untuk menolaknya juga harus dengan survei. Anggaplah jika itu betul, berarti situasinya masih mirip dengan pertengahan dekade 90an.

Urian selanjutnya adalah mencermati kaitan antara angka-angka gaji hasil survei ZDNet tersebut dengan biaya sekolah/kuliah IT di Indonesia. Tapi ini hanya jika angka-angka tersebut absah saja. Untuk memudahkan mencermatinya, kita fokus pada fungsi overall saja. Disana dinyatakan gaji tahunan untuk masa kerja kurang dari 5 tahun sebesar Rp 37,280,311, masa kerja 5 sampai 10 tahun Rp 69,753,784 dan masa kerja di atas 10 tahun Rp 109,768,146. Jika kita tampilkan dalam model linier sederhana. Kita asumsikan ketiga angka overall tersebut adalah angka rata-rata. Artinya, angka Rp 69,753,784/tahun yang terdekat adalah untuk masa kerja 7.5 tahun, nilai tengah dari 5 s/d 10 tahun.

Jika masa kerja kita lambangkan dengan X dan gaji tahunan dengan Y, maka model linier yang didapatkan adalah:

Y = 24,247,307.79 + 5,762,412.71 X

Dengan model di atas, maka gaji yang diterima pekerja baru fresh graduate adalah Rp 30,009,720/tahun. Umumnya dibagi dalam 13 bulan, yaitu 12 bulan kerja + THR, sehingga gaji di tahun pertama sebesar Rp 2,308,440/bulan. Tahun ke 2 Rp 2,751,702/bulan, tahun ke 3 Rp 3,194,965/bulan dan seterusnya seperti tampak pada tabel berikut ini.

Tabel tersebut juga mencoba memberi gambaran tentang kehidupan SDM IT sejak fresh graduate hingga 17 tahun ke depan dari sisi angka tabungan yang terakumulasi setiap tahunnya, ada di 2 kolom terkanan. Tentu dengan berbagai asumsi, antara lain: (1) Biaya hidup konstan Rp 2juta/bulan (tidak ada inflasi maupun devaluasi). (2) Angka-angka yang diperoleh adalah bersih, sudah terkurangi pajak dan potongan-potongan lainnya. (3) Tidak ada kebutuhan tak terencana. Manakala asumsi tersebut gugur, misalnya menikah sehingga merubah biaya hidup, tentu perhitungan ini tidak berlaku lagi.

Bagi mereka yang semua kebutuhan hidupnya masih ditanggung orangtua, maka di akhir tahun pertama sudah terkumpul pengasilan Rp 30,009,720. Tahun kedua gajinya naik menjadi Rp 35,772,133/tahun, sehingga di akhir tahun ke 2 akumulasinya menjadi Rp 65,781,853. Di tahun ke 3 gajinya Rp 41,534,545/tahun, sehingga di akhir tahun ke 3 akumulasinya menjadi Rp 107,316,399. Lihat kolom ke 2 dari kanan. Sepertinya biaya kuliah tertebus di akhir tahun ke 3 bagi lulusan PTN yang masuknya dulu melalui SNMPTN. Tentu ada asumsi lagi yaitu biaya hidup selama kuliah tidak lebih dari Rp 1.5juta/bulan dan total biaya pendidikan (SPP dan seluruh faktor pendukungnya) tidak lebih dari Rp 5juta/bulan, serta selesai persis di akhir tahun ke 4. Sehingga total biaya sepanjang kuliah tidak melebihi angka Rp 100juta. Bagi yang masuknya melalui jalur di luar SNMPTN tidak bisa dihitung disini karena terlalu beragam. Silakan hitung sendiri sesuai dengan pengalaman sendiri.

Yang menyedihkan adalah bagi yang harus hidup atas biaya sendiri. Kelompok ini yang paling banyak. Dengan asumsi tambahan yang sama, kelompok ini tabungannya baru melangkahi angka Rp 100juta pada tahun ke 6, yaitu Rp 122,494,514 pada akhir tahun ke 6. Lihat kolom paling kanan tabel di atas. Jika ingin berumahtangga setelah impas biaya kuliahnya, kelompok ini harus menunda berumahtangga hingga akhir tahun ke 6, kecuali calon pasangannya memiliki penghasilan yang mendukung.

Kilas Balik ke Pertengahan Dekade 80an

Semua angka yang dipaparkan di bawah ini bukan dari sumber statistik yang bisa dipertanggungjawabkan. Info tentang pembiayaan semasa kuliah mutlak berdasarkan pengalaman pribadi dan info kawan-kawan dekat yang ketika itu kuliah di IPB, UI, ITB, UGM dan Undip. Sedangkan info tentang penghasilan setelah lulus juga mutlak berdasarkan pengalaman pribadi dan info kawan-kawan dekat lulusan PTN maupun PTS dari angkatan kerja yang sama atau berdekatan.

Kebetulan saya sendiri lulusan akhir 1984 dan langsung bekerja di jagat IT (bahkan sejak beberapa bulan sebelum lulus). Saat itu SPP sekitar Rp 45,000/semester dan biaya hidup rata-rata mahasiswa termasuk biaya semua faktor pendukung belajar rata-rata sekitar Rp 60,000/bulan. Saya sendiri cukup Rp 35,000/bulan, maklum menghemat … kasihan ortu. Biaya skripsi dan tetekbengeknya rata-rata sekitar Rp750,000. Saya sendiri cuma Rp400,000. Semua itu ditotal dengan asumsi lulus tepat waktu 4 tahun adalah sebesar Rp 4juta.

Setelah lulus dan memasuki dunia pekerjaan swasta, yang paling apes mendapat gaji di tahun pertama Rp 200,000/bulan. Rata-rata Rp 350,000/bulan dan yang mujur bisa mencapai Rp 500,000/bulan atau lebih. Saat itu rit BUMN sekitar Rp 250,000/bulan dan PNS sekitar Rp 90,000/bulan. Ketika itu rata-rata kerja 6 hari seminggu (Sabtu 1/2 hari) dan belum ada THR, sehingga gaji tahunan tinggal dikalikan 12. Biaya hidup di Jakarta ketika itu sekitar Rp150,000/bulan. Jadi yang PNS harus ada sponsor, entah ortu atau cara lain.

Untuk membandingkan dengan hasil survei ZDNet, kita ambil rata-ratanya, yaitu Rp 350,000/bulan atau Rp 4,200,000/tahun. Dengan angka ini saja, bagi yang hidupnya masih ditanggung ortu berarti sudah bisa impas dengan biaya kuliah. Saya sendiri tidak, karena kerja di BUMN.

Bagi yang harus membiayai hidup sendiri Rp 150,000/bulan, bisa menabung Rp 200,000/bulan. Akhir tahun pertama tabungannya Rp 2,400,000 dan dengan asumsi tidak naik gaji, maka di akhir tahun ke 2 tabungannya sudah mencapai Rp 4,800,000. Berarti di pertengahan tahun ke 2 biaya kuliah sudah impas dengan tabungan hasil kerjanya.

Sebuah Kemunduran

Melihat perbandingan antara biaya kuliah dan lamanya bekerja untuk mencapai titik impas di atas, kita melihat sebuah kemunduran yang cukup memprihatinkan. Belum lagi dilihat rata-rata lamanya nganggur sebelum mendapatkan kesempatan kerja. Katika itu rata-rata lulusan S1 harus nganggur dan berburu lowongan paling lama setahun. Sedangkan yang sekarang ini kurang tahu berapa lama rata-rata lulusan S1 harus menunggu kesempatan kerja. Bisa jadi lebih lama.

Sebaiknya Kerja di Luar Negeri

Masih dari hasil survei dan analisis ZDNet Asia, gaji SDM IT di Singapura adalah sbb:

Sumber: www.zdnetasia.com/singapore-it-salary-benchmark-2010-62204813.htm

Semua angka di atas dalam kurs dolar Singapura (SGD). Untuk kelompok fungsi overall, bayaran tahunannya sebesar SGD 41,215/tahun untuk masa kerja di bawah 5 tahun, SGD 63,092/tahun untuk masa kerja 5 sampai 10 tahun dan SGD 91,306/tahun untuk masa kerja di atas 10 tahun. Dengan patokan nilai tukar Rp 7,000/SGD, maka angka di atas menjadi Rp 288,505,000/tahun untuk masa kerja di bawah 5 tahun, Rp 441,644,000/tahun untuk masa kerja 5 sampai 10 tahun dan Rp 639,142,000/tahun untuk masa kerja di atas 10 tahun.

Jika masa kerja kita lambangkan dengan X dan gaji tahunan dengan Y, maka model linier yang didapatkan adalah:

Y = 31,972 + 3,988 X

Dari model tersebut kita simulasikan akumulasi tabungan yang diperoleh dengan asumsi yang sama dengan asumsi pada model Indonesia kecuali biaya hidup SGD 1,500/bulan dan tidak lagi ditanggung ortu, maka diperoleh tabel berikut ini.

Akumulasi tabungan ditampilkan dalam SGD dan Rupiah (IDR). Akhir tahun pertama tabungan sudah mencapai Rp 125,717,863 alias sudah impas dengan biaya sepanjang kuliah bagi lulusan S1 yang masuknya melewati SNMPTN. Sangat menggiurkan bukan? Hanya saja, seberapa jauh fresh graduate S1 kita mendapat kesempatan kerja di Singapura, saya belum tahu. Sejauh saya tahu, ketika dikontrak CA Singapore dari tahun 1997 s/d 2002, lulusan S1 kita dikatakan memiliki 2 kendala, yaitu bahasa dan skill. Tapi itu 8 tahun silam. Apakah kendala tersebut masih sama saat ini, saya tidak tahu lagi.

Kenapa harus ada hitungan-hitungan semacam ini? Tentu tidak harus! Hanya saja, berhubung sekolah sekarang sangat mahal dan sepertinya cenderung dikomersialisasikan, tentu akan lebih fair jika ada hitungan-hitungan semacam ini. Sekolah dihitung sebagai investasi. Dan inipun baru memperhitungkan biaya pendidikan tinggi, tidak termasuk SLTA dan SLTP. Padahal ada sejumlah SLTA dan SLTP di kota-kota besar yang biayanya puluhan juta. Disini SLTP dan SLTA belum dikategoorikan investasi.

Namun demikian, semua hitungan di atas tergantung seberapa akurat informasi yang kita rujuk. Sekali lagi, saya tidak tahu seberapa akurat informasi dari ZDNet ini.

Tags:
, , ,
wpuser
dewi.sekarsari@yahoo.com
2 Comments
  • aris
    Posted at 03:35h, 08 August Reply

    very usefull for me

  • Deru Sudibyo
    Posted at 20:37h, 27 September Reply

    Namun saya tidak tahu apa survei yg dilakukan ZDNET cukup memadahi.

Post A Reply to Deru Sudibyo Cancel Reply