Mainframe zEnterprise Cara Jitu Beternak Server

24 Dec Mainframe zEnterprise Cara Jitu Beternak Server

Enterprise system merupakan tren IT saat ini. Di dalamnya berkembang peternakan server dari berbagai platform mulai dari MicrosoftWindows, Linux, AIX, i/OS atau OS/400 dll. Masing-masing berkembang sendiri-sendiri baik jumlah aplikasinya, datanya maupun jumlah server-nya. Penambahan cacah server ini bisa disebabkan penambahan sejumlah aplikasi baru dimana diharapkan tidak campuraduk dengan aplikasi lama sehingga harus dipasang pada server terpisah. Namun bisa juga karena server yang ada sudah saturasi, tidak bisa di-upgrade lagi kapasitasnya, sehingga terpaksa harus nambah server baru.

Setelah mencapai klimaksnya, pada gilirannya mulai timbul berbagai kesulitan baik pengoperasiannya maupun pengelolaan. Untuk mengoperasikan tentu membutuhkan tenaga operator lebih banyak. Itu sudah wajar.

Yang lebih konyol tentu saja pengelolaannya. Perkara kabel saja, baik kabel listrik maupun data, bisa jadi masalah karena makin banyak server makin semrawut lama-lama mirip bakmi kriting. Belum lagi tempatnya. Manakala sudah penuh, maka harus menyiapkan tempat baru lagi. Kadang terkendala dengan tempat yang sekarang karena jaraknya terpisah jauh melampaui batas maksimum kabel data. Oleh karena itu tidak jarang gara-gara nambah satu dua server, terpaksa semua server harus diboyong ke tempat baru.

Belum lagi kalo harus menyiapkan backup-site. Tentu sama runyamnya dengan production site. Begitulah sukadukanya memelihara peternakan server. Pendek kata, makin berkembang bisnisnya, makin berkembang pula peternakan server-nya, dan makin konyol penanganannya.

Virtualisasi adalah Jawaban Jitu

Satu-satunya cara yang sudah ditemukan teknologi saat ini untuk menyederhanakan pengelolaan peternakan server adalah virtualisasi. Jika server yang kita ternak Windows antau Linux, kita bisa gunakan VMware di server Intel-based yang cukup besar dan cemplungin semua ternak server kita ke VMware tersebut. Mungkin tidak sekligus 1000 server menjadi virtual dalam payung VMware. Namun setidaknya jumlahnhya menjadi lebih sederhana.

Jika server yang kita ternak Linux, maka selain VMware, ada solusi lebih jitu lagi, z/VM. Tentu memerlukan mainframe (MF) z/Series untuk menjalankan z/VM. Kenapa tidak? Jika harga MF kompetitif dengan nilai seluruh server yang akan divirtualisasikan, tentu secara ekonomi bisa diterima. Nilai lebihnya adalah kenyamanan dan keamanan yang kita terima.

Dalam praktek, bisa jadi kita perlu z/VM dan VMware bersama-sama. Tentu jika ternak server yang kita miliki sangat beragam.

zEnterprise Jawaban Paling Jitu IBM

Juli 2010 IBM mengguncang dunia dengan menghadirkan z196, microprocessor 64-bit untuk MF z/Series berkecepatan 5.2 GHz. Selain memecahkan rekor sebagai processor tercepat di dunia hari ini, MF z196 juga hadir dengan pilihan pendamping z bladecenter extension dengan cap zBX dan di generasi ini MF z196 diberi cap zEnterprise.

Di kalangan pengguna, yang ditunggu-tunggu sebenarnya bukan supercepat-nya. Karena meskipun IBM mengklaim 5.2GHz akan mendongkrak throughput hingga 40% di atas generasi pendahulunya, z10, yang hanya 4.4GHz, namun kenyataannya pengguna sudah nyaman dengan throughput z10, bahkan generasi z paling awal sekalipun. Hal ini dikarenakan aplikasi MF umumnya didominasi I/O intensive yang merupakan salah satu esensialitas MF sejak kehadirannya di jagad IT.

Yang dianggap jitu justeru zBX, blade center yang mampu memvirtualisasikan AIX dan i5/OS atau OS/400 serta Intel-based system seperti Microsoft Windows dan sejumlah sistem lain dalam satu box dan terpadu dengan virtualisasi yang ada di MF, baik yang langsung dengan LPAR (PR/SM) maupun yang melalui z/VM. Kejutan ini merupakan sebuah peluang bagi para peternak server dari berbagai platform untuk memasukkan ternaknya dalam satu kandang di zBX dan z196, seperti gambaran berikut ini.

Dengan zBX, para peternak server boleh bernafas lega. Setidaknya urusan kabel dan ruangan tidak lagi menjadi isu. Puluhan ribu Linux server bisa masuk ke z196 tanpa ujud lagi. Server yang lain (AIX, Windows dan OS/400 atau i5/OS) masuk ke zBX, juga tanpa ujud. Kemunikasi antar server ditangani dengan virtual LAN (VLAN). Antar server dalam box yang sama (intranode) benar-benar tanpa kabel karena menggunakan memori. Tentu kecepatannya pun kecepatan memori. Sedangkan antar server antar box, baik z196-zBX maupun zBX-zBX memang masih melalui kabel, tetapi tentu dengan kualitas dan kapasitas I/O channel MF.

Bagi pengguna yang menjalankan aplikasi mission-critical seperti perbankan, pemerintahan, reservasi penerbangan dll mendapatkan manfaat lebih. Banyak di antara mereka yang dulu ikut terbawa arus downsizing kini sulit untuk kembali ke MF karena trauma dengan resiko dan mahalnya migrasi antar platform. Tetapi makin hari makin was-was karena seiring dengan laju pertumbuhan bisnis, tuntutan untuk memenuhi persyaratan mission-critical pun makin mengemuka. Kini mereka bisa bernafas lega. zBX menawarkan kapabilitas MF sebagai satu-satunya mission-critical compliant tanpa harus migrasi platform. Cukup dengan virtualisasi. Dengan di-rehosted ke z196 atau zBX, otomatis server-server tersebut menjadi muatan MF. Sehingga segala urusan pengaturan beban, keamanan dan backup menjadi tanggungan MF.

Khusus mengenai System i

Dari sekian artikel maupun bahan presentasi yang saya baca, tidak ada pernyataan jelas tentang System i, apakah di-support atau tidak. Namun berdasarkan spesifikasi yang ada, PowerVM adalah untuk mem-virtualisasi AIX, i/OS dan Linux. Silakan lihat disini. Memang ada 3 fitur PowerVM yang tidak di-support oleh i/OS, yaitu live partition mobility, workload partitions dan active memory expansion. Tetapi kenyataannya toh di Power system non-zBX i/OS jalan.

Padahal, melihat di lapangan, i/OS tidak kalah urgen dengan AIX maupun Linux. Seperti juga AIX dan Linux, para pengguna i/OS (dulunya OS/400) kebanyakan untuk aplikasi mission-critical terutama banking di negara-negara tertinggal. Mereka dulunya terjerumus slogan downsizing tanpa mengkaji terlebih dulu bahwa aplikasi mereka memerlukan sistem yang mission-critical compliant. Kini sudah waktunya mereka mendapat kesempatan tersebut boyong ke System z tanpa resiko dan biaya merubah infrastruktur. Pengguna i/OS yang sudah menyadari masalah ini, tentu menginginkan kemudahan seperti yang diperoleh para pengguna AIX dan Linux, tinggal me-rehost sistemnya tanpa merubah kontens apapun. Namun entah kenapa belum ada pernyataan yang jelas untuk i/OS.

Mudah-mudahan tak terulang komplexitas sang dominator…

Mungkin saja IBM punya rencana lain. Mudah-mudahan bukan gelagat mau menciptakan komplexitas mentang-mentang ada tanda-tanda mau kembali menjadi dominator. Jika demikian, mudah-mudahan saja ada vendor lain yang bikin zBX compatible dan men-support i/OS. Saya yakin orang-orang IT segenerasi saya sudah kenyang dengan komplexitas yang diciptakan IBM. Di MF saja ada 3 OS, MVS (kini z/OS), VM (kini z/VM) dan VSE (kini z/VSE). Pengguna biasanya memulai sistemnya dari VSE dengan mesin supermini 43XX yang relatif lebih murah. Saat bebannya tumbuh melampau batas kapasitas 43XX, anjurannya naik ke MF 30XX. Apesnya, hanya diberi 2 pilihan, boyong ke MVS atau tetap VSE tapi harus divirtualisasi dengan VM. Apesnya lagi, VM+VSE adalah solusi sementara. Pada titik pertumbuhan tertentu, mau tak mau harus ke MVS. Disinilah pekerjaan yang cukup beresiko dan makan waktu serta biaya yang mahal harus ditempuh. Pengguna tidak bisa meronta.

Di penghujung era 370, sempat hadir CICS/VM. Perlu diketahui bahwa CICS salah satu alasan utama orang memakai MF. CICS adalah sebuah middleware untuk aplikasi transaksi online yang sedemikian rapi dan aman,baik dengan VSE maupun MVS. Namun CICS ikut terjebak dalam isu komplexitas manakala harus boyong dari VSE ke MVS karena alasan skala kapasitas. Dengan hadirnya CICS/VM (CICS versi VM), tentu disambut meriah dengan harapan skalabilitasnya sangat panjang sejak entry level VSE hingga high end MVS. Namun entah kenapa CICS/VM yang baru dihebohkan saat itu tiba-tiba lenyap tidak di-support lagi.

Kini di era z, lakon komplexsitas terutama antara VSE-MVS sudah tak terdengar lagi. Selain skala z/VSE juga sudah berkembang jauh, penggunanya kebanyakan memang sudah menetap. Artinya, pertumbuhan sudah relatif tenang. Mungkin tidak tumbuh, atau karena berbagi beban dengan server-server kecil.

Mudah-mudahan i/OS tidak menggantikan lakon VSE era 370 tempo doeloe. Mereka yang tetap dengan System i mudah-mudahan memang karena pertumbuhannya sudah tenang. Yang masih tumbuh terus mestinya harus dapat kesempatan boyong ke System z tanpa harus meninggalkan i/OS dan seluruh aplikasinya. Mungkin rekan-rekan dari IBM yang kebetulan membaca tulisan ini bisa ikut menjelaskan.

Justru diharapkan Ensemble kelak menjadi satu z-Box

Meringkas peternakan server menjadi sebuah ensemble z196+zBX saat ini merupakan revolusi luar biasa. Meskipun masyarakat tahu miniatur ide ini pernah dilakukan oleh Platform Solution Inc dengan Itanium yang akhirnya dibeli oleh IBM untuk dihentikan setelah sebelumnya naik ke meja hijau. Namun kenyataannya masih harus dengan box terpisah antara MF z196 dan bladecenter zBX. Mudah-mudahan ini hanya langkah awal. Generasi berikutnya adalah mempersatukannya dalam satu box. Artinya, z/VM benar-benar mampu menggantikan PowerVM dan xHypervisor untuk menjalankan semua platform yang ada, setidaknya platform bikinan IBM sendiri. Sehingga intraensemble networking tidak lagi lewat kabel, tetapi memori yang jauh lebih cepat dan ringkas.

Dan mudah-mudahan pula hadir sejumlah kompatibel OEM seperti jaman 370 untuk mencegah dominasi mutlak IBM.

Semoga bermanfaat.. ;:)

Topik-topik terkait

  1. Komputer Mainframe
  2. OS Mainframe
  3. GDPS – Konfigurasi Sistem Komputer Antar Kota Antar Propinsi
  4. Downsize – Manfaat apa Mudharat?
  5. Capacity Planning untukVirtualisasi
  6. Mainframe Solusi Paling Jitu untuk e-Gov
  7. Web Server Sederhana Berbahanbaku Rexx untuk z/OS
  8. Virtualisasi dengan z/VM makin Heboh
  9. Awan Cumulonimbus Hadir di Jagat IT

wpuser
dewi.sekarsari@yahoo.com
No Comments

Post A Comment