Andaikan NSI …

15 Jan Andaikan NSI …

Mudah-mudahan ini tidak dibaca oleh salah orang…

NSI adalah kebanggan saya dan patut saya banggakan. Bagaimana tidak bangga? Tiga produknya, zJOS/Sekar, zJOS/Puspa dan XDI/AutoXfer, mampu menyaingi dan menggantikan produk-produk vendor kelas berat seperti CA dan IBM di BNI. Meskipun produknya masih banyak yang dipakai di BNI, namun CA cukup kehilangan karena semua produk otomasinya di BNI tidak dipakai lagi lantaran digantikan dengan produk-produk NSI. Selain BNI, nasabah CA di Indonesia hanya BII. Kini CA sangat ketakutan dan menyewakan apartemen untuk menanam orangnya untuk menjagai BII jangan sampai tergiur produk-produk NSI seperti BNI. Kalah bersaing dalam tender mungkin masih bisa dianggap lumrah. Tetapi produk yang sudah terpasang tergantikan apalagi karena alasan kinerja atau teknis lainnya memang sangat memalukan. Perusahaan sebesar CA berani rugi demi menjaga agar tidak dipermalukan dari sisi teknologi.

Tahukah anda seperti apa profil NSI yang menendang CA di BNI? Jika anda masuk ke ruang server BNI dan melihat bagaimana produk-produk NSI diandalkan untuk mengotomasikan operasi mission-critical disana, mungkin anda akan mengira NSI perusahaan yang cukup mapan. Siapa saja akan kaget dan tidak percaya jika melihat kenyataan bahwa NSI adalah perusahaan ecek-ecek tak berujud, tak memiliki aset (jangankan aset, tempat aja virtual), tak memiliki modal maupun SDM. Orang akan lebih kaget setelah tahu lebih jauh bahwa pendapatan NSI tidak bisa diandalkan untuk menanggung biaya pemiliknya. Jadi, meskipun produknya sebanding, namun wadahnya, jika dibandingkan dengan CA apalagi IBM, maka NSI ibarat gubug reyot lawan surga.

NSI adalah perusahaan tak berujud. Formalnya nempel sebagai business unit di sebuah perusahaan teman, PT Agrisoft Citra Buana di Bogor. Di dalamnya hanya 2 orang, satu tenaga administratif dan satu orang lagi saya sendiri, pemilik produk yang sekaligus merencana, merancang, membangun, menguji dan mendokumentasikan produk-produknya. Tidak ada kantor. Korespondensi resmi melalui kantor PT Agrisoft. Kami bekerja dari rumah.

Yang lebih membingungkan lagi, lab di rumah saya hanya 2 unit laptop tua. Fungsinya hanya untuk coding dan packaging. Assembling, building executables dan testing serta troubleshooting (jika ada) dilakukan langsung di server pengguna. Entah ini disadari oleh pengguna atau tidak. Meskipun demikian, sekali lagi, fakta membuktikan bahwa produk-produk NSI terbukti mampu mengungguli kinerja produk-produk CA dan manggantikannya. Membanggakan bukan? Lebih membanggakannya lagi, produk-produk tersebut adalah automation tools yang sejauh ini belum lebih dari 10 vendor yang mampu memproduksinya dari 300an vendor terkemuka di dunia.

Apa cita-cita NSI?

Sepertinya “ge-er” banget untuk mengatakannya. Tapi apa boleh buat, memang cita-cita awal NSI selain mencari penghasilan sebanyak-banyaknya sambil membuka lapangan kerja bagi SDM IT yang kreatif dan innovatif, NSI juga ingin menjadi kebanggaan nasional dalam industri IT. NSI ingin mengatakan kepada dunia bahwa bangsa Nusantara ini bukan hanya konsumen, tetapi juga ikut berperan di dalam dapur perindustriannya, teknologinya.

Kedengarannya “ngoyoworo”, mengingat hari ini kita sudah ketinggalan jauh dari tetangga kita India. Namun kalo kita simak lebih rinci, tidak juga. NSI memilih jurus lain, jurus yang benar-benar belum banyak pemain, yaitu OS-level software atau system-level software. Sepintas sepertinya makin “ngoyoworo”, mengingat meskipun jurus tersebut belum banyak pemainnya, tetapi untuk memainkannya butuh orang-orang langka. Namun jangan kaget, NSI bukan sebuah kisah fiktif. Meskipun tak berujud, NSI adalah nyata. NSI telah membuktikan diri dengan memproduksi 3`produk yang semuanya OS-level dan semuanya sudah terbukti kemumpuniannya di mesin produksi nasabah setelah terlebih dulu harus unggul dalam persaingan ketat dengan vendor sekelas CA dan IBM. Jadi tidak “ngoyoworo” kan? Dari kenyataan ini seharusnya NSI memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang. Terlebih produk-produknya termasuk OS-level software yang tidak banyak produsennya, sementara setiap pengguna membutuhkan. Secara nalar NSI mesti tumbuh berkembang pesat.

Keberhasilan 3 produk perdana NSI tersebut mestinya menjadi trigger bagi pasar untuk mulai menengok NSI dan juga trigger bagi NSI untuk memproduksi produk-produk baru yabf lain lagi. Tiga produk perdana tersebut secara teknologi sudah menduduki peringkat di atas security di bawah database engine. Ketiganya dibangun selama 2 tahun siang-malam tanpa hari libur oleh saya seorang diri. Pengalaman ini bisa dijadikan tolok ukur bahwa NSI perlu waktu kurang dari 2 tahun jika harus membangun security tool seperti RACF atau ACF2 dan 2 system tools lainnya yang teknologinya sekelas. Artinya, dalam 5 atau 6 tahun ke depan, bisa jadi NSI sudah mampu menyaingi semua produk system-level software untuk tingkat teknologi event-driven ke bawah. Itu pun jika montirnya tetap saya seorang diri. Padahal cita-cita saya ingin mengajak tenaga-tenaga muda yang kreatif dan innovatif yang memiliki kecerdasan jauh di atas saya. Saya sanggup meng-clone keterampilan system-level programming ini kepada mereka dalam waktu kurang dari setahun. Diharapkan setelah itu dengan kecerdasan yang lebih, mereka mampu berkembang sendiri untuk platform lain. Toh setiap orang yakin bahwa platform mainframe tentu yang paling komplex. Sehingga untuk mempelajari platform lain relatif lebih cepat, asal ada sarana dan prasarananya.

Itulah keyakinan pada waktu itu yang membuat saya akhirnya nekad untuk memulai NSI dengan “topo broto” selama 2 tahun siang-malam tanpa ada hari libur membangun zJOS/Sekar, zJOS/Puspa dan XDI/AutoXfer. Terlebih industri software merupakan industri dengan biaya termurah karena mesin utamanya hanya SDM dan komputer. Tidak memerlukan bangunan fisik dan transportasi fisik yang besar dan mahal. Litbang, lab dan studio bisa ditempatkan di pedalaman pelosok manapun selama terjangkau jaringan internet. Ruang kerja masing-masing SDM litbang juga sebaiknya jauh di luar kota, selain murah juga terhindarkan dari kebisingan dan kemacetan. Bahkan mereka dalam kondisi tertentu bisa kerja dari rumah masing-masing. Yang harus berada di kota hanya tim pemasaran.

Kenapa NSI nggak tumbuh?

Seandainya NSI tumbuh di Jepang, Korea, India, Thailand atau Malaysia niscaya NSI akan tumbuh cepat menjadi besar. Kenapa? Karena bangsa-bangsa itu kurang adil dalam bermain pasar. Produk lokal, terutama buah karya bangsa sendiri selalu dimenangkan. Soal kualitasnya menyusul, yang penting tidak bikin masalah. Dan ternyata benar. Sebagai contoh Toyota. Semula kualitas produk otomotif Jepang hanyalah ecek-ecek. Untuk jenis sedan dan kendaraan penumpang, orang seluruh dunia mengunggulkan Mercedes, Volvo dll. Untuk jenis penjelajah 4WD, orang seluruh dunia mengunggulkan Jeep dan Land Rover. Pasukan Jepang pun menggunakan Jeep. Namun begitu Toyota membikin kendaraan penjelajah mirip Jeep yang dinamakan Land Cruiser, mendadak sontak militer dan instansi lain pengguna 4WD di Jepang mengganti Jeep dan Land Rover mereka dengan Land Cruiser. Tentu saja Toyota menerima berkah yang luar biasa, sehingga mampu membiayai litbangnya untuk mendongkrak kualitas Land Cruiser agar tidak kalah dengan 2 rival kawakannya tersebut. Hasilnya memang luar biasa. Generasi ke 2 Land Cruiser terbukti benar-benar jauh mengungguli Jeep dan Land Rover dalam segala hal. Akibatnya, bukan hanya pasar lokal di Jepang saja yang memborong Land Cruiser, tapi merambah ke pasar global. Di Australia, Land Cruiser mendapat sambutan sangat istimewa. Bahkan saking fanatiknya orang Australia terhadap Land Cruiser, akhirnya Toyota membuat pabrik Land Cruiser disana. Sejak itu hingga hari ini Land Cruiser tetap menjadi “raja 4WD” di pasar dunia meskipun harganya 3-4 kali lipat rival-rivalnya. Dan sejak itu pula produk-produk lain Toyota ikut mendapat tempat di pasar global sejajar dengan produk-produk beken Eropa maupun Amerika. Demikian pula dengan Mitsubishi, Honda dll.

Korea kini beranjak menyusul Jepang. Orang Korea dimanapun berada pantang mengkonsumsi atau menggunakan produk lain selagi padanannya dari Korea ada. Memang tidak semua keberpihakan pasar lokal berimbas positif sehebat Toyota. Namun tetap saja jauh lebih positif ketimbang tanpa keberpihakan. Produk-produk otomotif India hingga hari ini belum dapat tempat di pasar global. Kualitasnya sangat parah. Tetapi industrinya tetap hidup dan berproduksi setiap hari hingga hari ini berkat keberpihakan pasar lokal disana. Produk-produk India yang sudah mendapat tempat di pasar global antara lain seputar produk IT. Semua berawal dari keberpihakan pasar lokal. Produk-produk Eropa dan Amerika pun awalnya pasti karena keberpihakan pasar lokal, jika bukan karena kendala alam.

Sayangnya, di Indonesia tidak ada kamus keberpihakan pasar lokal. Boro-boro berpihak, malah justru sebaliknya. Pasar lokal di negeri ini cenderung berpihak pada produk-produk asing. NSI sudah membuktikannya. Silakan simak NSI dan Suka-Dukanya. Masuk di BNI pun bukan karena dukungan institusional apalagi kebijakan pemerintah. Melainkan berkat dukungan informal individu sejumlah kawan disana yang nasionalismenya cukup tinggi. Sehingga selain harus membuktikan kualitasnya tidak kalah dengan rival-rivalnya, juga wanti-wanti dalam tender harus dengan harga semurah-murahnya dan layanan dukungan purnajual yang sebaik-baiknya. Jika salah satu dari tiga faktor tersebut tidak terpenuhi, kawan-kawan disana yang dulunya mendukung akan kena getahnya yang cukup serius.

Harga semurah-murahnya merupakan faktor utama. Tidak asal lebih murah, tetapi harus ada jarak yang cukup signifikan dengan rival asing yang paling murah. Hal ini sudah saya buktikan. Pernah suatu ketika tender dibatalkan meskipun harga kami termurah, karena cuma berselisih Rp20juta di bawah harga rival. Mereka takut ada masalah dengan tim audit. Sama sekali bukan kesalahan mereka. Ini mutlak akibat tidak ada kebijakan baik institusional maupun pemerintah untuk memberi dukungan. Lebih-lebih pemerintah, selain mereka sibuk dengan berbagai bisnis politik, juga wajib mengutamakan kepentingan bisnis negara-negara donor. Tidak mungkin diharapkan dukungannya dalam beberapa generasi ke depan. Sementara institusi tak mungkin berani melangkahi pemerintah. Apa lagi BUMN yang diharapkan merupakan profit center bagi pemerintah. Ya jelas lah satu sen pun harus diperhitungkan. Jadi dukungan informal adalah satu-satunya harapan bagi NSI yang amat sangat berarti dan sangat membanggakan. Karena tanpa dukungan informal semacam itu, jangankan ikut tender, mendemokan produk saja tidak diberi kesempatan alias tutup pintu rapat-rapat. Ini saya alami dengan BRI yang mengatakan baru akan menimbang jika diberi gratis tis sejak pengadaan hingga layanan perawataan tahunannya tanpa membedakan dengan nasabah lain yang tidak gratis.

BII dulu sudah 3 kali menggali informasi tentang produk-produk NSI. Bukan karena keberpihakan, melainkan tergiur harganya yang sangat murah dibanding rival-rivalnya yang produk asing. Semakin tampak penasaran setelah mendengar sendiri dari orang-orang BNI tentang kinerja produk-produk NSI. Sayangnya, setelah reorganisasi yang terakhir tempo hari, posisi kunci diganti dengan orang yang sudah dipegang CA yang sedang ketakutan menghadapi NSI. Tentu saja semua progres jadi mandeg tak berkutik.

Andaikan NSI apa pula?

Judul postingan ini “Andaikan NSI …”. Kalimat ini memang sulit untuk diteruskan. Ada yang sulit untuk diucapkan. Mungkin akibat stagnansi ini, saya jadi kurang “pede” untuk menyampaikannya.

Sejak tahun 2007 hingga hari ini setidaknya sudah ada 9 perusahaan IT terutama software yang mencoba menggali produk-produk NSI. Rata-rata dari Amerika Serikat. Tapi ada pula yang dari luar Amerika. Bahkan yang terakhir dari Israel. Ada yang ingin memasarkan saja sebagai distributor. Sejauh ini ada 3, yaitu dari Amerika, India dan Israel. Ada pula yang ingin mengakuisisi. Yang ini sisanya, lebih banyak.

Bagi yang melamar ingin menjadi distributor, saya langsung menolaknya. Alasannya sangat mendasar. Produsen wajib memiliki lab dan tenaga level-2 support (support lab) yang memadahi. NSI tidak memiliki keduanya. Lab setidaknya menggunakan zPDT atau produk yang setara. Biaya sewa OS untuk zPDT sekitar USD 5000 tiap tahun. Padahal ada 3 OS, yaitu z/OS, z/VM dan z/VSE, yang totalnya tidak kurang dari Rp150juta tiap tahun.

Sedangkan level-2 support harus siap tempur 24 jam sehari. Untuk memenuhi kelayakan kerja sesuai peraturan yang berlaku di jagat raya ini, berarti harus bergilir 3 shift sehari. Berati setidaknya harus ada 5 orang agar tiap orang bisa libur 2 hari seminggu. Jika saya (pembuat) masuk dalam tim level-2 support, berarti masih kurang 4 orang lagi. Level-2 support haruslah memiliki keterampilan unggulan setara senior engineer yang setidaknya harus dibayar Rp200juta/tahun (termasuk pajak). Maka 4 orang membutuhkan biaya Rp 800juta/tahun. Semua ini tidak mungkin untuk kondisi NSI saat ini. Semua saldo yang saya miliki telah habis dikonsumsi selama 2 tahun semasa fokus membangun ketiga produk NSI siang malam. Sementara pendapatan tahunan yang ada sekarang hanya cukup untuk membayar satu orang tenaga administratif saja. Dengan acuan harga seperti yang berlaku untuk BNI, maka NSI harus menunggu sampai mendapat 5 nasabah lagi untuk mampu bermitra dengan distributor asing. Mau mencoba mencari investor kurang “pede” mengingat empiris yang saya alami sejak 2004 hanya pintu-pintu tertutup yang saya hadapi.

Sedangkan yang arahnya ke akuisisi, semua masih mandeg. Belum berkelanjutan, tapi juga tidak ada pernyataan “tidak”. Feeling saya, mereka rata-rata naksir teknologinya, tetapi menjadi kurang yakin setelah mengetahui nasabahnya cuma satu (BNI). Meskipun mereka mungkin yakin produk tersebut stabil di BNI, tapi mereka ini pemain pasar global. Mereka harus extra hati-hati jangan sampai muncul masalah baru di belakang hari. Mereka butuh keragaman referensi sebelum melangkah ke akuisisi.

Saat ini level-1 dan level-2 support NSI “terpaksa” hanya saya seorang. Untungnya tenaga administratif sedikit bisa mambantu sebagian fungsi level-1 support (support lapangan). Meskipun ketiga produk NSI terbukti stabil, hampir tidak pernah ada gangguan teknis yang serius, namun sebagai level-2 support, NSI tidak boleh menyepelekan komitmen. Terlebih otomasi adalah bagian dari layanan mission-critical. Sehingga terpaksa saya harus tampil mirip level-2 support vendor lain yang siaga 24jam sehari dan 7 hari seminggu. Produk yang bekerja paling padat adalah workloads scheduler (zJOS/Puspa) dan spool distribution (XDI/AutoXfer), karena yang dilayani adalah operasi batch yang berlangsung setiap malam. Oleh karena itu untuk mensiasati kesiagaan support, saya memilih jam tidur di siang hari sekitar 3-4 jam sehari. Biasanya antara jam 8-9 pagi hingga jam 12 siang. Syukur alhamdulillah hingga hari ini masih diberkati fisik yang cukup tangguh untuk menjadi “vampire”.

Kenapa tidak tutup saja?

Nah disinilah gilanya! Wong bisnis merugi yang makan tenaga dan pikiran setiap hari serta harus menjadi “vampire” di internet setiap malam kok diterusin… kenapa nggak tutup saja dan kembali ke kehidupan normal? Jangankan orang lain… diri sendiri saja sering mempertanyakan hal ini. Tapi entah kenapa belum menemukan jawabannya hingga detik ini.

Awalnya sih (maaf) masih memimpikan suatu hari NSI akan sebesar CA atau Microsoft. Seharusnya mimpi tersebut beralasan. NSI satu-satunya industri IT yang memproduksi “system-level” atau “OS-level software” di luar Amerika. India yang sudah menjadi lahan tersubur di jagat software masih belum melangkah ke OS-level. Karena untuk memproduksi produk OS-level seperti zJOS/Sekar dan zJOS/Puspa, diperlukan SDM dengan ketrampilan systems programming yang sangat langka. Tidak ada jaminan tiap negara ada setidaknya satu orang memiliki kualifikasi tersebut. Selain harus ahli assembly, OS yang harus dibedah bukan dari kelompok open source seperti Linux. Sementara internal OS adalah sebuah rahasia dapur bisnis orang. Sehingga tak mungkin kita menemukan dokumentasinya secara lengkap. Kita harus melakukan digging dan trial-and-error puluhan tahun untuk mempelajarinya sendiri. Dengan demikian, diharapkan hingga 30 tahunan ke depan situasinya masih sama seperti sekarang. Dengan demikian jika NSI mendapat perlakuan pasar yang adil, masih lebih besar peluangnya untuk berbisnis ketimbang vendor-vendor yang memproduksi “user-level software”. Jika NSI kelak menjadi besar, NSI akan mampu memancing para industri asing untuk outsource pembangunan software-nya ke Indonesia. Yang disodorkan ke kita hanya yang OS-level. Sehingga tidak bersaing dengan India yang user-level.

Naumn setelah benar-benar ketanggor dengan kenyataan yang menyakitkan di pasar lokal, rasa optimis mulai memudar. Terlebih setelah ditunggu sejak 2004 hingga 2010 belum ada satupun tambahan deal, rasa optimis total berbalik total menjadi pesimis. Kini sebenarnya yang tersisa hanya 6 vendor dari Amrik yang masih belum memberi jawaban YA atau TIDAK. Inipun tidak terlalu optimis. Tetapi jangan sampai giliran salah satu dari mereka mau melanjutkan, ternyata satu-satunya referensi (BNI) sudah tidak ada lagi. Itulah alasan utama kenapa rugi dan capek tapi kok tetap dipertahankan.

Sejujurnya masih ada satu alasan lain, alasan emosional. NSI masih memiliki kesempatan untuk berkoar “pernah mengalahkan teknologi IBM dan menyingkirkan teknologi CA”. Tidak percaya? Silakan lihat di BNI … ha ha ha 😀

wpuser
dewi.sekarsari@yahoo.com
9 Comments
  • ifan
    Posted at 11:27h, 16 June Reply

    saya jadi tertarik untuk mempelajari IBM z/OS, di mana saya bisa mendapatkan referensi self-study yang lengkap pak?

  • Deru Sudibyo
    Posted at 12:56h, 16 June Reply

    Signup di –> https://www.ibm.com/developerworks/university/systemz/ jadi member IBM Academic Initiative. Disana akan dapat bimbingan dan material yg tepat serta akses ke z/OS system yg disediakan.

    Jika kesulitan untuk membership IBM Academic Initiative, bisa download buku2 di –> http://www.redbooks.ibm.com/portals/systemz. Untuk praktek, anda bisa menggunakan situs mainframe publik fandezhi.efglobe.com. Silakan minta akun di http://www.efglobe.com.

    Baik IBM Academic Initiative maupun EFGLOBE, tidak bisa diakses dg telnet biasa. Anda harus menggunakan Telnet-3270. Tanya mbah Google untuk download telnet-3270 yg gratisan.

    Selamat belajar 🙂

  • ifan
    Posted at 04:54h, 17 June Reply

    terima kasih banyak oom, saya sudah buat account di efglobe.com dan sekarang masih bingung dengan menu dan command yang jauh berbeda dengan unix 😀

  • Deru Sudibyo
    Posted at 06:26h, 17 June Reply

    Itulah tantangannya. Saya anggap anda sudah bisa connect dg FANDEZHI.efglobe.com via telnet 3270. Set ke model 4 extended dg ukuran lauar 80 x 43, lantas connect. Layar yg pertama muncul adalah logo system. Di command field, tulis TSO dan hit enter key. Anda akan diminta memasukkan userid. Ketik userid dan hit enter key. Anda lantas akan diminta memasukkan password. Maka ketikkan password dan hit enter key lagi. Bila ini sukses, berarti anda sudah memasuki wilayah sistem melalui TSO. Sejumlah message berwarna merah muncul. Tunggu sampai muncul 3 asterisk di baris paling bawah. Lantas hit enter lagi, maka anda akan memasuki panel menu utama ISPF. Anda sudah benar2 logged-in ke sistem dan siap melakukan apa saja sesuai otoritas akun anda. Menu2 ISPF dilengkapi HELP yg lumayan menuntun. Posisikan cursor pada area yg anda bingung dan Hit F1, maka panel HELP akan muncul.

    Selamat belajar 🙂

  • Firmanto Ruslan
    Posted at 10:30h, 07 July Reply

    Asalamualaikum pak, nama saya firman
    saya sangat menyukai bahasa pemrograman, yang banyak saya pelajari adalah
    bahasa C dan C++. tapi yang ingin saya pelajari lebih jauh adalah bahasa Assembly.
    saya adalah orang yang baru dalam belajar assembly, yang membuat saya memiliki keinginan belajar assembly adalah karena dengan mempelajari assembly secara langsung kita berinteraksi dengan hardware. saya mencoba mencari referensi buku dan artikel tentang assembly tetapi sangat sulit.
    ..
    .. Jika saya ingin belajar kpd bapak apakah bisa ??
    mohon bantuannya dan terima kasih banyak

    E-mail = firman85ruslan@gmail.com

  • Deru Sudibyo
    Posted at 11:05h, 07 July Reply

    Walaikum salam mas Firman,

    Dengan mesin apa anda ingin belajar assembly? Jika mesin Intel atau kompatibelnya, sebenarnya C/C++ sudah sangat mumpuni. Assembly hanya untuk sebagian kecil fitur tertentu yg belum tercakup dalam C dan cukup dengan sisipan asm{}, tidak perlu komplit satu modul. Oleh karena itu referensi assembly untuk mesin sederhana tsb jarang ada. Mesti langsung baca manual dari Intel.

    Assembly baru nampak useful untuk mesin mainframe (MF). Karena MF selain addressing biasa seperti komputer pada umumnya, di mainframe ada pula addressing horizontal karena memorinya berlapis seperti buku. Jadi selain ada address baris (ordinary addressing), ada pula address halaman (extended addressing). Per instance, address baris dari 0 s/d 2**64. Sedangkan address halaman dari 0 s/d 2**14. Ketiks anda mengakses data di address 1000, jika tanpa address halaman, maka yg didapat adalah data di lokasi 1000 pada halaman 0. Jika ternyata data tsb di halaman 1 atau 100, maka halaman haru di address juga. Nah.. yg ginian C belum mampu. Maka untuk system-level programming, harus menggunakan assembly. Silakan baca
    http://deru.blogspot.com/2010/12/komputer-mainframe.html

    • Firmanto Ruslan
      Posted at 11:28h, 07 July Reply

      saya belajar menggunakan mesin intel dual core 2.20GHz desktop PC rumahan biasa. Bagaimana cara awal untuk saya belajar berkenalan, memahami dan membuat sebuah program sederhana dengan Assembly. saya sangat ingin mempelajari bahasa ini lebih jauh lagi. Mohon bantuannya dari bapak …!!!

    • Deru Sudibyo
      Posted at 19:23h, 07 July Reply

      Sayang sekali Assembly utk mesin Intel saya gak punya bahannya. Mesti baca buku-buku Intel Architecture Vol 1 s/d 3. Untuk awalnya, ada baiknya baca tulisan ini http://deru.blogspot.com/2011/10/mengenal-assembly.html. Lantas install assembler di komputer anda, dan mulai mencoba sedikit demi sedikit.

      Kalo gak salah saya pernah lihat gak sengaja ada web yg njelasin Intel assembly. Mungkin bisa googling.. 🙂

  • Firmanto Ruslan
    Posted at 11:25h, 07 July Reply

    This comment has been removed by a blog administrator.

Post A Comment