Agromatika – Konten Utama e-Gov Nusantara

27 Sep Agromatika – Konten Utama e-Gov Nusantara

Nusantara adalah zamrud di katulistiwa, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, kolam susu dimana-mana. Retorika ini jangan sampai menjadi kenyataan bahwa di Nusantara hanya akan menjadi hutan tongkat dan batu yang mrongos terjal dan sangar gara-gara ulah para hama bangsa yang membabat hutan seenaknya, korupsi membabi buta menghisap habis kekayaan alam. Jangan pula jadi kenyataan bahwa semua lautan menjadi kental, lengket dan amis seperti kolam susu gara-gara dikocor kopi dan coklat susu dari sungai Ciliwung, lumpur Lapindo dan sungai-sungai kota besar lainnya. Semoga Tuhan berkenan mengembalikan Nusantara menjadi negeri yang kaya raya dengan bumi subur yang hijau beledu dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Jaman Kolobendu

Yang sedang kita alami sekarang ini adalah jaman “Kolobendu” yang penuh kebuntuan dan kepanikan. Di satu sisi orang ingin segera menjadi kaya raya dan/atau berkuasa. Karena dikiranya kekayaan (dan kekuasaan) akan menyelamatkannya hingga tujuh turunan. Di sisi lain, yang memiliki ambisi yang sama tetapi tidak memiliki kesempatan lantas menghimpun orang-orang frustrasi untuk menebar teror. Jika rakyat tidak segera sadar, himpitan dari dua sisi yang sama-sama ganasnya ini akan segera mewujudkan Nusantara hanya akan menjadi neraka.

Apa ciri-ciri jaman Kolobendu? Meningkatnya emsikinan dan pengangguran, suburnya mafia, premanisme dan kriminalitas, dan bobroknya dunia pendidikan dan mental intelektuallitas. Tidak ada lagi kesantunan, baik dalam kehidupan sosial maupun bisnis. Dan yang lebih ajaib lagi.. kita ini negeri agraris. Kok bisa-bisanya sembako saja impor? Tentu ini efek dari himpitan teror dari 2 arah, teror ekonomi dan teror fisik.

Agromatika pangruwating Kolobendu

Kita sangat membutuhkan beras. Tapi tidak harus impor! Tanah kita sangat mampu memproduksi beras. Jika dengan menanam padi petani bisa beli lauk-pauk, beli pakaian, menyekolahkan anak dan mendapat layanan kesehatan yang layak, tentu mereka akan getol menanam padi. Bahkan expor beras pun mereka mampu. Kita sangat membutuhkan kedelai Amrik. Bukan saja karena kurangnya produksi kedelai di Tanah Air. Tetapi memang ada kekhususan sifat kedelai Amrik untuk mrmbuat tempe dan tahu. Namun jika para pakar pertanian dibayar layak untuk melakukan rekayasa genetik, tentu kedelai tersebut bisa dihadirkan dari tanah kita. Dan jika bertani kedelai mampu memperoleh kesejahteraan, tentu bukan saja memproduksi untuk kebutuhan nasional, melainkan juga expor.

Saat ini petani rata-rata “aras-arasen” bertani. Jangankan kesejahteraan yang mereka dambakan, pupuk saja nggak kebeli. Siapa yang menekan petani? Saat bertani ditekan dengan harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang mahal. Giliran panen harganya ditekan para tengkulak. Jaringan tengkulak ini selain luas juga jalurnya cukup panjang. Bagaimana solusinya?

Solusi pertama dan yang paling urgen adalah memangkas panjangnya jalur tengkulak, atau meniadakannya bila perlu. Hal ini bisa dilakukan dengan menjalin hubungan langsung antara produsen dan konsumen. Kalo dipikir-pikir, setiap wilayah di Nusantara ini pasti merupakan masyarakat konsumen untuk sejumlah komoditas yang sebenarnya bisa diproduksi oleh wilayah-wilayah lain di Nusantara. Bukankah ini merupakan modal utama yang dimiliki Nusantara? Jika ini dikelola dengan cermat dan tepat, keadilan sosial insya Allah bukan lagi mimpi di siang bolong. Bagaimana caranya?

Pertama, harus ada database wrganegara atau penduduk atau apalah namanya. Yang penting database ini terpusat karena akan diintegrasikan dengan database-database lain seperti sumberdaya alam (SDA), perpajakan dll. Aplikasinya rata-rata juga terpusat, seperti e-KTP, e-Pemilu, Perpajakan dll. Jika tidak terpusat, integrasinya akan berbenturan dengan kesulitan temnis dan biaya. Bahkan kompleksitasnya bisa memancing hadirnya hama-hama koruptor di berbagai kesempatan. Dari database terpusat ini, setiap saat kita bisa mengetahui statistik taraf hidup, kebutuhan dan potensi SDM masyarakat secara rinci, dan bisa kita clustering per wilayah geografis maupun administratif pemerintahan.

Kedua, harus ada database sumberdaya alam (SDA) terpusat. Database ini diintegrasikan dengan database warganegara untuk mendapatkan korelasi berbagai parameter perekonomian masyarakat. Dari sana kita bisa mencari potensi produksi dan arah distribusi yang paling efisien menggunakan model-model statistika yang paling tepat. Dengan demikian, kita bisa mengelola interaksi antara produsen dan konsumen secara benar untuk mengurangi bahkan meniadakan impor komoditas, terutama sembako. Penyimpulan-penyimpulan teknis statistik ini juga sangat afdol muntuk memberikan arahan kita untuk mengembangkan ketrampilan SDM. Pada saatnya, bukan hanya sembako yang swasembada, diharapkan meningkat ke komoditas lain, produk jadi, bahkan produk teknologi.

Pengelolaan interaksi konsumen-produsen ini diselenggarakan melalui forum antar perwakilan wilayah atau distrik se Tanah Air melalui media IT yang terintegrasi dengan database warganegara dan SDA agar progressnya terpantau dan terjunrnal rapi dan penyimpulannya lebih exak dan cepat. Inilah Agromatika, pangruwating Kolobendu, sebuah revolusi mental untuk membenahi kultur agro-ekonomi rakyat menuju ekonomi mandiri dan produktif. Secara komprehensif, Agromatika dapat disimak pada paparan berikut ini:

Jika ingin segera ruwat dari Kolobendu, Agromatika harus menjadi konten utama dalam e-Gov Nusantara.

Bersambung

Topik-topik terkait

 

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
1Comment
  • Anonymous
    Posted at 19:53h, 27 September Reply

    Saya kuatir tulisan ini dan bbrp tulisan anda yg lain tentang egov malah mengacaukan mrk yg sedang membangun egov. karena sepertinya mereka hanya berkutet seputar website dan sebatas itu pengertian mereka. yg penting afa proyek dan ada transaksi he he 🙁

Post A Comment