Kejawen, Sekte atau Budaya?

16 Aug Kejawen, Sekte atau Budaya?

kejawen

KEJAWEN, sering kita kaitkan dengan sekte atau aliran kepercayaan lokal di kawasan Jawa. Bahkan bagi kita generasi Orde Baru kesini, tidak jarang yang menyikapinya dengan sinis dan mengkaitkannya dengan hal-hal yang bersifat klenik dan tahayul. Kenapa demikian? Mungkin benar adanya. Mungkin juga memang sifat kita yang buru-buru menyimpulkan, meski belum mempelajarinya. Saya muslim dan bukan kejawen. Tetapi saya tidak mau ikut-ikutan menyimpulkan tanpa mempelajarinya. Oleh karena itu saya berusaha menelisik tentang Kejawen, meski sampai dengan hadirnya tulisan ini belum ada yang bisa disimpulkan. Tulisan ini masih berupa analisis dan hipotesis saja.
Dari sisi bahasa, Kejawen berasal dari kata “ke-jawi-an” atau dalam Bahasa Indonesia “ke-jawa-an”, yang berarti “perihal Jawa”. Tentu artinya menjadi sangat luas, termasuk Bahasa Jawa, huruf Jawa, kebudayaan Jawa, kesenian Jawa, adat-istiadat Jawa, kepercayaan lokal Jawa, bahkan keraton Jawa. Lantas kenapa dipersempit hanya seputar kepercayaan lokal Jawa? Kenapa banyak dikaitkan dengan klenik dan tahayul?

Penyempitan dan penyederhanaan istilah Kejawen kemungkinan berasal dari penyimpulan tergesa-gesa disertai dugaan adanya penyimpangan ajaran Islam yang dibawakan oleh Walisanga, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Mungkin yang menyimpulkan mereka yang hanya menonton pagelaran wayang Kanjeng Sunan Kalijaga, bukan santrinya. Atau bahkan mereka yang hanya menonton pagelaran wayang yang dibawakan oleh dalang lain dengan lakon yang pernah dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Dalang tersebut berusaha meniru Kanjeng Sunan Kalijaga, tapi terjadi penyimpangan. Mungkin karena ulah kreasinya sendiri atau mungkin juga kapasitas logika maupun kecerdasannya tidak mumpuni. Penyimpangan itulah yang akhirnya membawa pemahaman yang beragam bagi penonton. Sulitnya jika penyimpangan tersebut hadir jauh setelah Kanjeng Sunan Kalijaga tiada, tentu penonton tidak lagi melihat aslinya.

Sebagai contoh, lakon pewayangan yang sarat dengan dakwah tauhid adalah lakon Bima Suci. Intinya, Bima bertemu Dewa Ruci dan mendapat wejang tentang “sangkan paraning dumadi” (asal usul kehidupan) dan “kasedan jati” (kehidupan setelah mati). Jika A dan B nonton wayang lakon Bima Suci dari dalang yang berbeda, sangat mungkin A dan B akan mendapatkan pengertian dan penyimpulan yang berbeda. Ada dalang yang menyamakan Dewa Ruci dalam kategori dewata. Bahkan ada dalang yang berkreasi menyusun sendiri silsilah Dewa Ruci, dimana konon Dewa Ruci itu saudaranya Sang Hyang Wenang, dewata di atas generasi Batara Guru. Namun ada pula dalang yang lebih memahami bahwa Dewa Ruci bukan dewata, melainkan si Bima itu sendiri. Kenapa demikian? Padahal lakon itu sumbernya sama.

Kenapa saya kaitkan dengan wayang dan Kanjeng Sunan Kalijaga? Karena Kanjeng Sunan Kalijaga lah penyiar Islam yang paling sukses di Jawa dan wayang adalah cara khas dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga.

 

Kaitan Kejawen dengan aliran kepercayaan lokal di Jawa

Tempo doeloe, rata-rata penganut aliran kepercayaan tercatat di KTP sebagai umat Islam. Kini beberapa aliran kepercayaan sudah disetarakan dengan agama dan dituliskan dalam KTP. Sehingga mereka sudah berhak menolak dikatakan sebagai orang “Islam KTP”. Dan saya harus mengakui, bahwa dari sinilah hipotesis tentang Kejawen mulai saya susun.

Kenapa tenpo doeloe para penganut aliran kepercayaan di KTP dinyatakan sebagai umat Islam? Karena sebagian besar para penggali aliran kepercayaan memang muslim, terutama dari golongan “Islam abangan”. Apa itu “Islam abangan”? Latar belakang sejarahnya ada, bahkan ada yang dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Namun yang penting adalah intinya. Semua ada kaitannya dengan Kanjeng Sunan Kalijaga.

Ada perbedaan yang sangat menyolok pada diri Kanjeng Sunan Kalijaga dari para pendakwah lainnya.  Sunan Kalijaga lebih mengutamakan (1) budi pekerti luhur (akhlak mulia) ketimbang ritual.  Hal ini tercermin dalam beberapa ajarannya, termasuk dalam kidung Mantrawedha, dimana sabar dan syukur sertai jauh dari jin dan setan selalu diutamakan. Juga tentang menolong dan menyelamatkan orang lain, bahkan digambarkan sebagai sanak dan rakyat. Sepertinya, Sunan Kalijaga ingin menekankan bahwa ritual tidak ada artinya jika budi pekerti kita masih konyol.

Memang benar! Apa artinya sholat jika budi pekerti dan/atau perilakunya masih buruk?   Sila renungkan apa yang kita ucapkan setelah takbir setiap sholat fardlu:

Allohu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wasubhanallohi bukrota wa ashila
Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathorosamawati wal ardh hanifa muslima wama ana minal musyrikin
Inna solati wanusuki wamahyaya wamamati Lillahirabbil ‘alamin
Laa syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslimin

Soal terjemahan mungkin pembaca yang muslim sudah hafal.   Referensinya juga banyak, tinggal googling saja.  Namun tahu yang tersurat saja belum lengkap jika belum meresapi apa yang tersirat.   Terutama yang tertulis tebal, intinya kita berjanji (kepada Tuhan dan diri sendiri) untuk berserah diri secara tuntas kepadaNya.   Artinya, kita akan melakukan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.  Berarti:

Dengan melakukan/mendirikan sholat (fardlu) 5 waktu, kita berjanji kepada Tuhan untuk selalu mengikuti perintahNya, melakukan yang benar dan baik, serta meninggalkan larangNya, yang salah dan buruk.

Jika janji ini tidak kita penuhi, berarti dosa dua kali.  Pertama, dosa karena tidak taat kepada Tuhan.  Kedua, dosa karena ingkar janji, terlebih janji kepada Tuhan.    Bahkan ingkar janji termasuk perbuatan syirik loh.  Jadi mending nggak usah sholat.  Inilah barangkali yang kemudian diplesetkan seolah Sunan Kalijaga tidak mementingkan sholat.

Sementara, tokoh agama lain pada umumnya justru memberi pengertian bahwa dengan sholat kita akan mendapat pengampunan. Logika yang salah telak.  Lah wong mengingkari janji kok berharap bisa ditebus dengan mengulangi janji yang sama.  Kacau kan?    Bukan hanya logika yang rusak, akhlak pun bisa makin brantakan.   Bagaimana tidak?    Tuhan saja ditipu berulang-ulang… apalagi sesama makluk 🙁

Tokoh yang demikian itu selain belum mengerti arti sholat, sebenarnya dia juga tidak menyadari bahwa sholat adalah tiang agama.    Tiang agama bukan slogan dan bukan pula atribut.    Sholat sebagai tiang agama, artinya kokohnya Islam hanyalah manakala para muslimin mendirikan sholat.     Artinya…

Jika semua muslim melakukan ikrar atau janji untuk menjadi orang sholeh (bajik dan bijak) 5 kali sehari dan konsisten dipraktekan dalam kehidupan, tentu akan selalu menjadi teladan bagi masyarakat.    Sehingga umat lain yang berdekatan merasa nyaman.   Bukan benci atau ketakutan!     Akibatnya, Islam menjadi agama yang dihormati dan dicintai oleh umat lain.    Bahkan makin hari makin banyak yang tertarik untuk menjadi muslim.   Kokoh kan?   Inilah arti tiang agama yang sebenarnya. 

Sunan Kalijaga juga lebih mengutamakan (2) inti sari Islam ketimbang budaya Arab. Barangkali beliau sudah mengamati kemana-mana bahwa pada umumnya menjadi muslim identik dengan menjadi Arab. Ucapan-ucapannya banyak bercampur ucapan Arab. Baca-tulisnya juga dengan huruf Arab. Pakaian yang dikenakannya juga bergaya Arab. Nyanyiannya juga lagu Arab. Bahkan namapun kadang berubah menjadi nama Arab. Pendek kata, benar-benar menjadi Arab, bahkan tidak jarang lebih Arab dari Arab. Untuk pembenaran, mereka mensubstitusi istilah Arab menjadi Qur’an. Bukan bahasa Arab, tapi bahasa Qur’an. Bukan nyanyian Arab, tapi nyanyian Qur’an. Muslim seluruh dunia akan di-Arab-kan. Ini sangat bertentangan dengan sunnatullah yang mengkodratkan keragaman.

Yang harus dicontoh tentu Rasulullah Nabi Agung Muhammad SAW.    Kenapa yang semula hanya beliau dan istri saja kok lantas berkembang pengikutnya menjadi banyak?    Padahal kaum jahiliyah Qurais mengintimidasi lhoh!    Kenapa di Madinah (di luar Qurais) malah disambut dengan hangat?    Semua itu karena kaum muslimin ketika itu benar-benar melakukan sholatnya sebagai tiang agama.    Kebajikan dan kebijakannya sangat menarik diteladani.     Bisa dibayangkan andaikan ketika itu sholatnya dan ritual lainnya hanya sebagai slogan dan atribut saja, apa kira-kira respon masyarakat yang belum muslim.    Inilah yang menjadi konsen Kanjeng Sunan Kalijaga.

Muslim memang perlu identitas agar masyarakat tahu.    Karena identitas ini salah satu sunnah Rasul.    Namun oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, identitas ini diartikan secara cerdas.    Bukan jiplak identitas fisik yang melanggar sunnatullah soal keragaman.     Melainkan identitas sholat, yaitu sholeh, yaitu bajik dan bijak.    Intinya, identitas muslimin adalah akhlak mulia, yaitu memberi pada yang kekurangan, menolong pada yang memerlukan dan melindungi pada yang lemah.

Sehingga secara cerdas Sunan Kalijaga yakin bahwa Islam adalah ajaran budi pekerti (akhlaq) dan jiwa (rohani).    Bukan ajaran tatabahasa, tataboga, tatabusana dan kesenian. Jika budi dan jiwanya sudah Islam, tentu tatabahasa, tataboga, tatabusana dan kesenian akan disesuaikan.  Tetap berucap bahasa dan huruf Jawa, tapi dengan akhlaq Islam. Tetap berboga cara Jawa, tapi menghindari yang diharamkan Islam.   Tetap berbusana Jawa, tapi menutup aurat. Tetap berkesenian Jawa, tapi tidak keluar dari batasan Islam. Pemikiran jitu semacam itu sudah ada sejak Sunan Kalijaga masih menjadi santri. Hal itu tercermin dari apa yang dilakukannya. Beliau yang sebenarnya bernama Said, nama Arab, juga lebih suka dipanggil Lokajaya.

Apakah berarti Sunan Kalijaga membenci budaya Arab?    Saya yakin budayawan sekelas Kanjeng Sunan Kalijaga tidak mungkin membenci budaya.    Hanya saja, budaya tidak selalu pas untuk diakomodasi.   Misalnya, dalam budaya Arab, bercium pipi ketika berkangenan dianggap wajar, termasuk sesama lelaki.    Sedangkan di Jawa, hanya sesama perempuan yang wajar.    Sesama lelaki bercium pipi sepertinya “agak menjijikan” he he he.    Nah… apakah mentang-mentang Islam dari Arab lantas kita juga harus melumrahkan sesama lelaki bercium pipi?

Dalam budaya Arab, ketika berkangenan, selain bercium pipi, juga kadang nguyek kepala, tidak peduli kepala kakek atau nenek.   Di Jawa sangat tabu memegang kepala orang yang lebih tua.    Ini termasuk tatakrama pergaulan.   Nah… apakah mentang-mentang Islam dari Arab lantas kita mau ikutan nguyeg-uyeg kepala ayah atau kakek kita?

Terlebih lagi soal kesenian.    Kesenian Jawa secara total jauh lebih kaya ketimbang kesenian Arab.    Dari lagu, tari hingga instrumentasi, kesenian Jawa termasuk kesenian paling lengkap dan orisinil di dunia.    Kesenian Arab tentu tidak ada apa-apanya.    Nah… apakah mentang-mentang Islam dari Arab lantas kita mau mengadopsi kesenian Arab untuk merusak kesenian kita?

Sehingga, selain inti sari ajaran Islam, tidak ada unsur lain dari Arab yang layak untuk kita terima.    Oleh karena itu, setelah menjadi wali, beliau lantas menyusun sebuah paket kurikulum ajaran Islam yang serba Jawa. Beberapa ayat Qur’an, tafsir maupun pemikiran atau renungan beliau tuangkan dalam kidung maupun suluk Jawa. Beberapa pelajaran yang lebih komplex beliau tuangkan dalam cerita pewayangan Jawa. Bahkan beberapa ajaran beliau tuangkan dalam pola arsitektur dan tata ruang bangunan.

Misalnya bangunan Pendopo, tempat berkantornya pemimpin dan pejabat, dicontohkan untuk menghadap ke utara. Di depan Pendopo adalah alun-alun dengan pohon beringin di tengahnya. Ini adalah pesan bahwa pemimpin atau pejabat harus berpandangan luas ke depan. Jangan berhenti di tangah dan berteduh di pohon rindang itu. Karena meskipun nyaman untuk sementara, namun akan terjebak tidak menghasilkan apapun. Pohon itu kayunya tidak manfaat, buahnya tidak bisa dimakan, daunnya tidak untuk ternak, hanya kerakusan akarnya yang kemana-mana tidak mengikuti aturan.

Di sebelah kanan alun-alun adalah perpustakaan dan penjara. Ini merupakan pesan, ketika hendak serong ke kanan (berbuat baik), masuklah ke perpustakaan dan bacalah ilmunya. Karena berbuat baik tanpa dilandasi pengetahuan yang cukup kadang tidak menghasilkan manfaat. Bahkan tidak jarang perbuatan baik yang ternyata menyalahi hukum dan berakhir di penjara. Melindungi kerabat adalah perbuatan baik. Tapi jika kerabat tersebut ternyata seorang buron, maka diapun dianggap melawan hukum.

Di sebelah kiri alun-alun adalah Masjid Agung. Ini adalah pesan, manakala ada niatan untuk serong ke kiri (berbuat jahat), segeralah masuk ke masjid untuk bertobat. Berdo’alah dan mohonlah petunjuk disana.

Manakala harus memberi pencerahan kepada publik, beliau tidak berceramah, melainkan menggelar seni wayang kulit dengan lakon yang telah beliau persiapkan. Tentu publik tidak bosan seperti mendengarkan khotbah. Terlebih karena seni karawitannya juga sudah dipersiapkan dengan apik, tentu menjadi lebih semarak dan membangkitkan kesan yang sangat melekat. Semua itu dikemas menjadi semacam paket kurikulum yang luar biasa hebat. Paket ajaran Islam yang serba Jawa, atau ajaran budaya Jawa yang bernafaskan Islam. Karena paket inilah lantas publik menyebutnya “Kejawen” atau “Islam Kejawen”. Hanya sekedar untuk membedakan dari cara konvensional.

Sayangnya, gaya dakwah Sunan Kalijaga ini tidak dilanjutkan oleh para santrinya. Maklum, seni budaya dijadikan dalam satu kurikulum dengan pengkajian agama, tentu masing-masing menuntut konsentrasi tinggi. Kelompok yang lebih tertarik pengkajian agama, mengabaikan pelajaran seni budaya. Giliran berdakwah, kelompok ini memilih cara konvensional, ceramah. Beberapa generasi ke depan, merasa memerlukan seni suara sederhana untuk sekedar melantunkan do’a, malah menggali-gali seni suara gaya padang pasir Timteng, seperti rebana, qasidahan dsb… yang justru dulunya ditangkal Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sedangkan mereka yang lebih fokus ke seni budaya, lupa pelajaran detil pernak pernik agama. Mereka malah menyeberang menjadi seniman. Agama tidak ada lagi dalam kurikulum. Beberapa generasi kemudian, dimana kodrat manusia menuntut pedoman hidup, kelompok ini lantas hanya menggali ajaran yang dipatrikan dalam seni kidung dan suluk oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tentu tidak ada aktivitas syariah ritual seperti sholat dan membaca Qur’an. Maklum, yang cair di otak kelompok ini hanya seputar kidung, suluk, gendhing maupun lakon pawayangan. Ajaran yang terpatri disana hanyalah inti hakikat agama.

Bima Suci

Contohnya, dalam pewayangan lakon Bima Suci, untuk mendapat wejang tentang “sangkan paraning dumadi” dan “kasedan jati“, Bima diperintahkan masuk ke lobang telinga Dewa Ruci. Bima tentu tertawa terbahak-bahak mendengar perintah itu. “Bagaimana mungkin saya yang sebesar raksasa ini bisa masuk ke lobang telingamu? Sedangkan tubuhmu hanya sebesar kelingking saya?“, demikian tanya Bima. Lantas Dewa Ruci menjawab: “Jangan kuatir Bima… melompatlah setinggi mungkin, nanti kamu akan mencapai lobang telingaku“. Wueleeh… makin bingung kan? Namun dalam lakon itu Bima sebagai penuntut tauhid memang digambarkan memiliki kecerdasan yang mumpuni, sehingga akhirnya tanpa banyak nanya, melompatlah dan masuklah Bima ke lobang telinga kiri Dewa Ruci.

Pesan yang ingin disampaikan dalam adegan ini, bahwa membahas ketuhanan adalah ranah kerohanian, tentu terlebih dulu logika kita harus dibebaskan dari ikatan dimensi ruang. Besar-kecil, tinggi-rendah, jauh-dekat adalah parameter dimensi ruang. Alam rohani harus terbebas dari dimensi ruang, untuk mencegah logika kita bertualang membayangkan surga di atas awan dan neraka di kawah gunung dsb. Untuk memahami arti Tuhan lebih dekat dari urat nadimu, pada saat yang sama juga lebih dekat dari urat nadiku, urat nadinya singa, urat nadinya malaikat, urat nadinya bakteri dll, kita juga harus terbebas dari dimensi ruang (bahkan waktu).

Setelah berada dalam tubuh Dewa Ruci, Bima melihat ada cahaya dengan aneka warna. Masing-masing warna dijelaskan artinya. Lantas muncul satu warna lagi yang belum pernah dia saksikan seumur hidup, namun terasa sangat nyaman tiada tara, dan kesempurnaannya tidak bisa digambarkan maupun diandaikan dengan apapun. Dewa Ruci hanya menjelaskan bahwa itulah gambaran dari aura Tuhan sebagai Pusat Kekuatan Alam.

Pesan yang ingin disampaikan dalam adegan ini, adalah bahwa wujud maupun aura Tuhan tidak mungkin digambarkan maupun diandaikan dengan apapun sampai kapanpun. Meski diberi waktu triliunan tahun, logika otak manusia tidak mungkin mampu menghayalkan, menggambarkan maupun mengandaikan kesempurnaan wujud Tuhan. Agama Islam hanya memberitahu beberapa sifat Tuhan.

Setelah semua wejang Dewa Ruci diterima, Bima lantas “diterbangkan” kembali ke tempat semula, di pantai Samudera Minangkalbu.   Tempat dimana Bima tertegun sejenak sebelum akhirnya melompat nyemplung dan bertemu Dewa Ruci. Ternyata, sekembalinya di pantai tersebut, posisi matahari belum bergeser sedikitpun. Bahkan posisi sikap dan berdirinya pun tidak ada perubahan sama sekali. Artinya, meski Bima merasa berhari-hari bersama Dewa Ruci di tengah Samudera Minangkalbu, ternyata sama sekali tidak memakan waktu sekejap pun.

Pesan yang ingin disampaikan dalam adegan ini, bahwa ranah kehidupan rohani terbebas dari dimensi waktu, selain juga dimensi ruang. Ini mengajak kita dalam membahas kehidupan rohani untuk meniadakan bayangan bahwa kita berjalan menelusur garis waktu, dimana sebagian sudah dilewati dan hanya diingat, satu titik sedang dialami dan sisanya adalah masa depan yang belum dialami. Apakah berarti semua hal muncul dalam satu hamparan waktu dan semua jadi ketahuan? Walahua’lam bisawab. Untuk mencegah penasaran ke arah itu, Bima digambarkan berganti busana, menanggalkan busana ksatria dan mengenakan busana rakyat (sederhana). Maksudnya, bagi orang-orang yang sudah mengetahui makrifat dan hakikat ketuhanan seperti Bima, sebaiknya tampil sederhana, jangan mengobral pengetahuannya tersebut. Karena ketuhanan memang inti kerohanian sebuah agama dan bersifat sangat sensitif. Karena tentu satu agama berbeda dengan agama lain. Lagi pula, karena kecerdasan manusia sangat beragam, membahas ketuhanan dalam satu agama pun bisa menimbulkan persepsi yang beragam. Andaikan pengetahuan ketuhanan yang bisa dipelajari diberi skala 0 sampai dengan 100, lebih baik tahu 1 tapi benar ketimbang tahu 100 tapi yang 1 salah. Kesalahan yang satu ini bisa menyesatkan 99 yang lain.

Namun karena kelompok ini lebih dekat dengan pelajaran-pelajaran yang terpatri dalam kidung, suluk, gendhing maupun lakon pawayangan, tentu mereka merasa lebih mengenal yang ginian. Sehingga mereka lebih berkutat membahas soal kerohanian. Bahkan ada yang melakukannya beneran seperti yang dilakukan Bima dalam lakon Bima Suci tersebut. Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya) digambarkan sering tafakur di tepi pantai Selatan hingga akhirnya mampu menundukkan Kangjeng Ratu Kidul, mungkin juga salah satu dari sekian banyak orang yang meniru Bima dalam lakon Bima Suci. Barangkali inilah yang menjadi cikal bakal sekte Kebhatinan Islam Kejawen.

Meski jarang, tapi ada sebagian dari kita yang menduga Kanjeng Sunan Kalijaga memang tidak mengajarkan syariah, melainkan sekte Kebhatinan Islam Kejawen. Saya pernah membaca postingan salah satu dari mereka di maillist tertentu. Saya yakin mereka salah. Sunan Kalijaga adalah arsitek Masjid Demak. Tentu beliau adalah salah satu imam utama masjid itu. Lagi pula syariah juga beliau ajarkan melalui salah satu tembangnya sbb:

Ilir-ilir tandure wus sumilir,
wus ijo royo-royo ndak sengguh temanten anyar,
cah angon cah angon penekna blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira,
dhodhotira dhodhotira kumitir bedhah ing pinggir,
domana jlumatana kanggo seba mengko sore,
mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane,
ya suraka, surak iya

Tembang terebut sebenarnya pesan kepada “cah angon” atau para gembala. Maksudnya adalah para tokoh atau pemimpin, baik formal maupun informal, baik pemimpin negara, daerah, organisasi, maupun pemimpin keluarga. Bahkan termasuk pula para suami pemimpin keluarga dan para orangtua yang memimpin anak-anaknya. Tak terkecuali para individu dewasa yang memimpin dirinya sendiri. Tentu, makin tinggi tingkat kepemimpinannya, makin prioritas, karena makin banyak yang meneladaninya.

Keadaan ketika itu ibarat tanaman yang sedang “ijo royo-royo” (rimbun menghijau indah) bak pengantin baru. Ungkapan tersebut merupakan kiyas, selain memang umat Islam baru tumbuh, memang warna hijau merupakan simbol Islam. Jadi pas gathuk, memang kehadiran Sunan Kalijaga membuat masyarakat Jawa berduyun-duyun menjadi mualaf, dikiyaskan sebagai pengantin baru.

Apa pesan untuk “cah angon” (pemimpin)? Memanjat pohon belimbing untuk memetik buahnya guna mencuci “dhodhot” (pakaian). Buah belimbing memang bisa digunakan sebagai semacam deterjen untuk mencuci. Selain itu, buah belimbing jika dipotong melintang akan berbentuk seperti bintang lima. Selain bintang (dan bulan) memang simbol Islam, lima adalah cacah rukun Islam. “Dhodhot” atau baju menggambarkan kehormatan, yaitu harta dan/atau kekuasaan, yang kemungkinan ada yang “bedhah” (cacat) meski terselinap di pinggir. Semua cacat itu akan tampak setelah dicuci dengan belimbing. Maksudnya, semua cacat, baik harta maupun kekuasaan, akan tampak jelas setelah mendalami rukun Islam. Sehingga bisa kita “dom jlumat” (perbaiki).

Bagaimana melihat dan memperbaiki cacat harta dan kekuasaan dengan rukun Islam? Cacat dalam harta dicuci dengan zakat. Cacat dalam kekuasaan dicuci dengan sholat, karena dalam sholat ada ikrar untuk berserah diri dan hanya melakukan yang baik dan benar serta meninggalkan yang buruk dan salah.

Setelah semua cacat diperbaiki, kita siap untuk “seba mengko sore” (menghadap setelah matahari tenggelam), berarti siap ketika ajal menjemput. “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane” artinya mumpung ada tuntunan dan kesempatan. Tuntunan yang dimaksudkan adalah kehadiran agama Islam. Sedangkan kesempatan yang dimaksudkan adalah hadirnya para wali tempat mereka mengkaji dan menggali tuntunan tersebut.

Nahasnya, tembang ilir-ilir ini sekarang justru sering dilantunkan dengan irama padang pasir. Sungguh tak menghormati penciptanya. Sunan Kalijaga sedemikian getol menyusun kemasan dakwah bergaya Kejawen guna menangkal masuknya budaya Arab, malah kini karyanya dipaksakan untuk berbau irama Arab.

 

Klenik dan Tahayul

Jika anda seorang programmer dan diminta untuk menghitung 1200 dikali 4 menggunakan komputer, apa yang anda lakukan? Tentu dengan sigap anda akan memilih bahasa komputer yang sanggup memproses kalimat “1200 * 4”. Mungkin anda pilih C/C++, PHP atau apapun yang anda anggap cocok. Komputer pun akan mematuhi perintah anda, yaitu menambahkan 1200 kepada 0 hingga 4 kali. Maklum, processor komputer hanya dilengkapi dengan adder dan shifter.

Jika job yang sama diberikan kepada saya, maka yang saya lakukan akan jauh lebih cepat. Bahkan saya bisa bikin job anda jadi error. Meski anda tuliskan “1200 * 4”, saya bisa bikin hasilnya 300. Justru jika anda tuliskan “1200 / 4”, hasilnya 4800. Apakah yang saya lakukan termasuk klenik? Atau tahayul?

Mungkin saya hanya ngibul. Tapi karena semua orang tahu bahwa saya sehari-hari bekerja dengan IT, maka jika kibulan saya ini ada yang mempercayai, tentu akan menjadi tahayul.  Artinya, kebohongan yang dipercayai.   Terlebih jika ada orang yang mengaku pernah menyaksikan saya melakukan hal itu.  Tentu tahayulnya makin produktif.

Namun jika menurut pengertian anda, apa yang saya lakukan tidak masuk akal,tentu anda tidak akan percaya.   Tapi boleh jadi orang lain mempercayainya, karena sudah ditahayulkan banyak orang.   Dengan demikian, kasus ini bagi anda patut disebut klenik.

Ternyata yang saya lakukan adalah dengan menyusun instruksi assembly sbb:

       la   1,1200
       sla  1,2

Dengan demikian, tentu anggapan tahayul gugur. Karena instruksi SLA memang lebih cepat dari instruksi perkalian yang sebenarnya penambahan berulang. Dengan assembly tersebut, yang saya lakukan adalah menempatkan angka 1200 register 1 menggunakan instruksi LA dan menggesernya 2 bit ke bawah atau kiri menggunakan instruksi SLA karena jenis mesin yang saya gunakan menganut big endian. Untuk mesin yang menganut little endian harus geser ke atas atau kanan.

Demikian pula soal membikin job anda error. Jika yang saya lakukan adalah men-zap program anda mengganti instruksi perkalian dengan perbagian, tentu tahayul yang kedua juga gugur. Bahkan jika saya memang benar-benar menguasai arsitektur OS, zapping atau cracking bisa saya lakukan on the fly ketika program anda sedang diexekusi. Sehingga modul program anda tidak ada perubahan. Tapi begitu diexekusi hasilnya salah. Namun, meski bukan lagi tahayul, semua akan tetap menjadi klenik bagi anda yang tidak menguasai pengetahuan systems programming ini.

Klenik adalah sesuatu yang tidak bisa dikupas dengan akal wajar. Umumnya terkait dengan hal-hal yang bersifat ghaib. Sedangkan tahayul adalah keyakinan pada klenik tertentu meski belum pernah ada bukti kebenarannya. Tahayul juga dikaitkan dengan kebohongan atau hoax, karena bukti-bukti yang diajukan bersumber dari kebohongan seseorang. Nah sekarang giliran saya nanya lagi kepada pembaca.

Ada sebagian masyarakat yang percaya, jika ada burung gagak berputar-putar di suatu lokasi sambil berkaok-kaok, maka itu pertanda akan ada yang mati di lokasi tersebut. Jika ada burung bence (puyuh jantan) bersiul sambil terbang di malam hari, itu pertanda akan ada maling, rampok atau kejahatan lain. Jika ada anjing melolong (bukan menggonggong) di malam hari, itu pertanda ada makluk ghaib yang lewat. Apakah semua ini klenikkah? Atau tahayulkah?

Sebagian dari kita sangat skeptik pada hal-hal yang berbau klenik. Maklum, di era IT ini semua harus masuk logika dan yang tidak masuk akal langsung divonis tahayul atau hoax. Sehingga hal-hal seperti kasus gagak dan bence di atas banyak divonis sebagai tahayul atau hoax. Betulkah logika kita hanya sampai disitu saja? Mari kita telusur lebih jauh, siapa tahu logika bisa nyampe kesana.

Soal kasus mengalikan 4 sama dengan menggeser 2 bit ke depan, saya yakin banyak yang tidak tahu, bahkan tidak terpikir. Tetapi jangan sekali-kali mengatakan tidak masuk akal. Kenapa? Jika anda ketemu dengan mereka yang mumpuni, anda akan dikomentari “memang akalmu yang nggak sampai”. Karena di alam raya ini banyak hal yang di luar yang kita ketahui. Untuk kasus yang sama, di kacamata anda mungkin berbeda dengan apa yang ada di kacamata orang lain. Jadi, yang paling bijak adalah tidak komentar, kecuali anda pelajari dulu assembly dan systems programming.

Demikian pula dengan gagak, bence dan anjing. Sebelum memvonis tahayul, ada baiknya diamati dulu. Sebagai burung pemakan bangkai, gagak tahu jika ada makluk yang sudah dekat ajal. Pakar biologi di National Geography sering menjelaskan hal itu. Ada yang mengatakan karena ada bau tertentu akibat pembusukan oleh bakteri. Tentu pembahasan mereka sebatas kacamata biologi. Sayangnya mereka tidak menjelaskan bagaimana bau pembusukan bisa tercium oleh burung pemakan bangkai, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Mereka juga tidak menjelaskan bahwa binatang yang dekat ajal bukan karena penyakit pun bisa diketahui oleh burung pemakan bangkai.

Apa benar yang dikatakan pakar biologi tersebut? Saya tidak tahu karena bukan pakar biologi. Tetapi saya juga tidak menolak meski mungkin tidak puas atas penjelasan tersebut. Yang pasti, yang tahu persis adalah Tuhan dan burung gagak serta kawan-kawannya sesama pemakan bangkai. Sehingga pernyataan bahwa kehadiran burung gagak menandakan akan ada makluk yang mati, bagi saya menjadi masuk akal.

Demikian pula dengan burung bence. Secara tak sengaja saya ikut mengamati, dan faktanya banyak benarnya. Karena kebetulan di lingkungan tempat tinggal saya di Bogor, saya ikut aktif di bidang keamanan. Yang pasti, apa yang dilihat atau dirasakan burung bence boleh jadi tidak sama dengan apa yang kita lihat dan rasakan. Sama-sama menghadapi kehadiran seseorang, di mata kita mungkin hanya nampak orang itu dan pakaian yang dikenakannya. Namun di mata burung bence mungkin lain lagi. Bisa jadi bence melihat “sesuatu” yang tidak kita lihat. Dan sesuatu itulah yang men-trigger bence untuk bersiul.

Apa yang dimasksud “sesuatu”? Apa kaitannya dengan kemalingan? Boleh jadi, seseorang mengeluarkan bau tertentu ketika akan berbuat jahat, yang hanya terbaca oleh burung bence. Seperti feromon anjing betina yang sedang siap kawin hanya tercium oleh anjing jantan meski dari jarak yang cukup jauh. Boleh jadi sekedar aura seseorang manakala akan melakukan kejahatan, memancarkan gelombang tertentu yang hanya bisa dirasakan oleh burung bence. Atau boleh jadi ada kehadiran “rewang”, makluk ghaib yang sering digunakan maling untuk menemani aksinya, dan “rewang” itulah yang men-trigger bence bersiul.

 

Kaitan Kejawen dengan Klenik dan Tahayul

Memang banyak klenik dan tahayul yang beredar di masyarakat Jawa sejak dulu. Tetapi saya belum tahu klenik dan tahayul yang mana yang masuk dalam ranah Kejawen, terlebih jika yang dimaksudkan adalah aliran Kebhatinan Islam Kejawen. Mungkin saja berebut berkah dari air cucian senjata keraton atau bekas gupakan kebo Kyai Slamet pada acara Sekaten merupakan klenik atau bahkan tahayul. Mungkin saja kepercayaan orang bahwa kebo Kyai Slamet konon menghilang di setiap malam Jum’at Kliwon adalah tahayul. Tetapi saya tidak yakin apakah semua itu merupakan bagian dari kurikulum Kejawen, kususnya Kebhatinan Islam Kejawen.

Orang Jawa sebagian memang meyakini banyak klenik dan tahayul. Tapi dari sisi pandang saya, klenik dan tahayul adalah sisi yang berbeda dari Kejawen. Acara Sekaten adalah bagian dari Kejawen, karena itu adalah acara resmi kebudayaan di Keraton. Bahkan Sekaten juga sekaligus bagian dari Islam Kejawen, karena istilah Sekaten konon dari “syahadat ain” dan diadakan setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharam yang memang hari tahun baru kalender Islam. Tetapi berebut air bekas cucian senjata dan kemisteriusan kebo Kyai Slamet mungkin hanyalah efek samping dari acara Sekaten. Kenapa bertahan hingga sekarang?

Mungkin saja efek kleniknya terbukti benar. Klenik memang sulit dianalisa dengan akal. Tapi apa mau dikata, jika memang ada bukti. Benar memang bisa karena dibenarkan oleh jin atau iblis untuk menyesatkan orang. Namun juga tidak mustahil memang hanya tahayul yang sengaja diprovokasi oleh pihak keraton untuk menanamkan kewibawaannya di mata rakyat.

Klenik yang ada kaitannya dengan Kejawen misalnya tentang kanuragan dan kesaktian. Materinya bukan tahayul, karena nyata dan bisa dibuktikan. Meskipun saya mungkin tidak menguasai soal itu, tapi saya banyak kawan yang menguasainya dan sering membuktikan di depan saya, baik dalam acara demonstrasi maupun kasus nyata. Namun tidak berarti selalu berkaitan dengan Islam Kejawen. Karena kanuragan dan kesaktian sudah ada sejak jaman Hindu, bahkan animisme. Hal itu tampak dari tatacara dan bacaan mantranya. Yang bersumber dari Islam Kejawen umumnya mantranya didahului dengan basmallah, dan penggaliannya umumnya dengan berpuasa (tidak makan dan minum di siang hari).

Sedangkan yang mantranya didahului dengan “Hong Wilaheng” berarti di luar Islam Kejawen. Terlebih penggaliannya dilakukan dengan bertapa (tidak makan/minum 24 jam sehari). Mungkin saja semua itu Kejawen, karena kreasinya dilakukan sebagai bagian dari budaya Jawa. Namun tidak selalu Kejawen berarti Islam Kejawen yang berasal dari ajaran Walisanga, khususnya Kangjeng Sunan Kalijaga.

 

Sesatkah Kejawen?

Jika yang dimaksudkan adalah Kejawen secara umum, perihal ke-Jawa-an, tentu tidak relevan dikaitkan dengan sesat maupun tidak sesat. Meski sebenarnya budaya juga ada yang bertentangan dengan agama. Namun budaya yang demikian umumnya berasal dari agama lain yang sudah ada sebelumnya. Misalnya budaya memasang sesaji, berasal dari agama Hindu. Karena dipandang akan menyesatkan tauhid Islam, maka dalam Islam Kejawen dirubah menjadi berkat atau camilan dalam acara slametan atau kendurian.

Jika yang dimaksudkan adalah Islam Kejawen yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, tentu saya yakin sangat jauh dari kesesatan. Justru keagungan ajaran Islam sangat terasa disana, dan saya bahkan ingin mempelajarinya lebih jauh. Tetapi jika yang dimaksudkan adalah aliran Islam Kejawen yang dibawakan oleh mereka yang konon mewarisi ajaran Sunan Kalijaga yang digali hanya dari sisi kebhatinannya saja, mohon maaf, saya ragu.

Sisi kejawen dalam ajaran Sunan Kalijaga hanyalah media, tidak lebih dan tidak kurang. Apakah penjelasan rukun Islam yang ditembangkan dalam kidung ilir-ilir ada yang menyimpang dari ajaran orisinil Islam? Apakah penjelasan tentang tauhid yang diperagakan dengan pagelaran wayang lakon Bima Suci ada yang menyimpang dari ajaran orisinil Islam? Saya rasa sama sekali tidak menyimpang. Hanya lebih jitu ketimbang mereka yang hanya ceramah di panggung. Terlebih penceramah yang tidak memiliki kecerdasan. Sedangkan Sunan Kalijaga yang jenius, pengemasan dakwahnya sangat jitu. Seninya sangat mengena, memancing orang penasaran untuk mengikutinya. Terlebih adanya alat peraga (wayang) dan pembahasannya lebih komprehensif dari syariat hingga hakikat.

Sunan Kalijaga mengajarkan syariat (sarengat), tarikat, makrifat dan hakikat Islam sama dengan ajaran Nabi Agung Muhammad SAW. Hanya saja, media yang beliau gunakan sepenuhnya menggunakan bahasa dan budaya Jawa. Tetapi itu semua tidak membentuk versi pemahaman yang menyimpang dari konsep orisinilnya. Sehingga Islam Kejawen bukanlah sebuah aliran. Bahkan Kangjeng Sunan Kalijaga sendiri tidak pernah menyebutnya sebagai Islam Kejawen. Beliau tentu menyebutnya hanya Islam saja. Penyebutan Islam Kejawen sepertinya hanya untuk mengidentifikasi keunikan dari gaya dakwah Kangjeng Sunan Kalijaga.

Masuknya Sunan Kalijaga dalam ikatan Walisanga membuktikan bahwa ajaran yang dibawakannya diterima dan dibenarkan oleh para wali yang lain ketika itu. Tidak mungkin tingkat kewaliannya diakui oleh para wali yang lain jika beliau membangun sebuah sekte tersendiri. Justru malah yang muncul konflik dengan mereka. Beliaupun tidak mungkin mau (apalagi mendaftarkan diri) masuk sebagai anggota Walisanga jika yang dibawakannya adalah sebuah sekte yang dia bangun sendiri.

Kenapa saya tertarik ajaran Sunan Kalijaga? Tentu karena saya berdarah Jawa, akan jauh lebih mudah memahaminya melalui media Kejawen. Lagi pula, bagi saya budaya, khususnya kesenian Jawa jauh lebih indah dibanding Arab. Mungkin terlalu subyektif, tapi itulah pengakuan saya. Untuk melantunkan do’a, seni suluk Jawa jauh lebih menyentuh. Sehingga lebih khusuk.

mm
Deru Sudibyo
deru.sudibyo@gmail.com
1Comment
  • Aris sutrisno
    Posted at 20:04h, 17 May Reply

    Alhamdulillah,bermanfaat …trima lasih atas ilmu’a kang mas

Post A Comment